DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Malaikat Penolong


__ADS_3

Yafet menginjak pedal rem mobilnya secara mendadak, membuat pengemudi mobil yang ada di belakangnya hampir saja menabrak bagian belakang mobilnya. Pengemudi itu terlihat marah dan memaki-maki Yafet. Hampir saja terjadi tabrakan beruntun di ruas jalur utama di kota Istanbul. Bunyi klakson beberapa mobil membuat riuh suasana di jalan tersebut.


Hazal....


Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak enak. Sesuatu tentang Hazal. Ia melajukan mobil sportnya dengan pelan. Sambil memasang handsfree ponselnya di daun telinganya, ia mencoba menghubungi Hazal.


Ponsel Hazal yang tergeletak di atas meja kerjanya berbunyi berulang kali. Tertera nama Yafet di layar ponselnya.


Tidak ada jawaban dari wanita itu, akhirnya Yafet menutup ponselnya dan melepas handsfree nya. Ia mencari jalan untuk memutar balik arah mobilnya ke arah menuju Perusahaan Fallay.


Langit sudah mulai gelap, kilatan petir mulai terlihat di langit Istanbul. Angin berhembus kencang, menandakan hujan badai akan segera datang. Yafet membelokkan mobilnya untuk masuk ke dalam halaman depan gedung tinggi itu, di dalam mobilnya ia melihat tidak ada satu mobil pun yang berada di sana. Pintu gedung itu juga sudah tertutup dan gelap. Kemungkinan seluruh karyawan perusahaan itu sudah pulang semua. Yafet melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan lewat jam kantor.


Mungkin Hazal sudah sampai di rumah...


Mobil Yafet keluar dari gedung Perusahaan Fallay, selang beberapa detik kemudian mobil Kenan memasuki halaman depan gedung tinggi tersebut.


Kenan memarkirkan mobilnya di depan lobi, karena dia hanya ingin memberikan hasil pertemuan bisnisnya pada Hazal dan segera pulang.


Kenan keluar dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam lobi. Melihat suasana kantornya yang gelap, tidak seperti biasanya, membuat Kenan dengan cepat melangkah masuk ke dalam. Ia memanggil petugas keamanan di kantornya, dan meminta petugas itu untuk menyalakan lampu gedung. Lobi itu kembali terang benderang.


"Baru saja terjadi pemadaman listrik, Tuan Kenan. Membuat seluruh karyawan harus menggunakan tangga darurat, karena salah satu lift sedang rusak," jelas salah satu petugas keamanan gedung itu.


"Kenapa tidak menggunakan genset?"


"Genset kita sedang rusak. Pemadaman tadi hanya sebentar, Tuan. Tapi karena takut ada angin kencang di luar, saya kembali mematikan lampunya," jawab petugas tersebut.


Kenan segera melangkahkan kakinya menuju lift, mencoba menekan tombol naik. Ia melihat salah satu dari dua lift itu lampunya tidak menyala, ternyata apa yang dikatakan petugas itu benar. Beberapa detik kemudian, pintu lift yang lain terbuka, Kenan segera masuk menuju ke lantai delapan.


Apa wanita bar-bar itu masih di ruangannya?


Lift yang membawa Kenan tepat berhenti di lantai delapan. Ia melihat ruangan itu sunyi dan gelap.


Dengan bantuan cahaya senter ponselnya, ia menyalakan lampu di ruangan tersebut. Langkah kakinya membawanya ke depan meja kerja Hazal yang terlihat kosong.


"Kemana dia? Apa dia sudah pulang? Aku menyuruhnya untuk menungguku! Dasar wanita bar-bar!" seru Kenan yang mengambil ponselnya dan berniat menghubungi ponsel Hazal. Ia ingin memarahi sekretarisnya itu.


Kenan terkejut mendengar dering ponsel Hazal yang ada di belakangnya. Benda tipis dengan manik-manik merah menyala itu berdering dengan keras. Manik mata Kenan tertuju pada ponsel dan tas Hazal yang masih ada di mejanya.

__ADS_1


Itu artinya... wanita bar-bar itu masih di sini? Dimana dia?


Kenan membuka ruangan nya, ia tidak melihat Hazal di sana. Ia berjalan masuk ke dalam koridor.


"Hazal...!" teriak Kenan di ruang kosong itu.


"Keluar kau... Putri Aksal!" teriak Kenan di toilet.


"Dimana kau... wanita bar-bar!" teriak Kenan di pantri.


Semua ruangan di lantai delapan itu sudah Kenan masuki, tetapi tidak ia tidak melihat sosok Hazal di sana.


Dengan panik Kenan menghubungi petugas keamanan melalui pesawat telepon yang ada di meja Hazal.


"Apa Hazal sekretaris ku sudah pulang?" tanya Kenan dengan napasnya yang menderu.


"Setahu saya belum, Tuan Kenan. Sejak tadi sore saya belum melihatnya, mobilnya masih ada di tempat parkir karyawan," jawab petugas tersebut.


Kenan menutup pesawat teleponnya, itu artinya....


Wanita bar-bar itu masih ada di dalam kantor ini


"Bagaimana Tuan? Apa nona Hazal masih ada di dalam?" tanya petugas tersebut yang menghampiri Kenan.


Kenan memegangi kepalanya, ia bingung harus mencari Hazal di mana. Ia berjalan mondar-mandir di area lobi itu. Sampai akhirnya ia teringat sesuatu...


"Tunggu...! Kau mengatakan bahwa ada salah satu lift yang rusak sore ini?" tanya Kenan sambil mencengkram kerah seragam dan menatap tajam petugas keamanan gedung itu.


"Betul Tuan."


"Oh shitt...!" umpat Kenan yang segera berlari menuju lift yang rusak.


Ia mendobrak pintu lift tersebut, tak lama kemudian, petugas keamanan itu membawa sebuah linggis dan peralatan yang lain. Kedua orang itu membuka paksa pintu lift, peluh mereka bercucuran. Dengan sekuat tenaga petugas keamanan dan Kenan membuka pintu lift dari sisi yang berbeda.


"Aaakkhhhhh.....!" teriak kedua orang itu menarik pintu lift dengan perjuangan.


Pintu aluminium itu akhirnya terbuka. Belum sempat Kenan mengusap keningnya yang basah. Ia sudah terkejut melihat tubuh Hazal yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Hazal....!" teriak Kenan sambil menghampiri sekretarisnya itu. Ia menepuk-nepuk pipi wanita itu. Tetapi kedua kelopak mata Hazal tetap tertutup.


"Tuan Kenan, dia masih hidup," kata petugas itu yang memeriksa denyut nadi Hazal.


Kenan segera mengangkat tubuh Hazal dan menggendongnya. Ia segera berjalan keluar menuju mobilnya. Dengan bantuan petugas keamanan, ia berhasil memasukkan Hazal ke dalam mobilnya. Angin berhembus kencang, membuat ranting-ranting daun beterbangan.


Putra Harun itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Sesekali ia melihat keadaan Hazal yang ada di belakang. Selang beberapa menit kemudian, Kenan menghentikan mobilnya tepat di depan apartemennya.


Kenan membawa Hazal masuk ke dalam apartemennya. Ia tidak memperdulikan pandangan orang-orang yang melihatnya sedang mengangkat tubuh seorang wanita yang sedang pingsan. Ia membawanya masuk ke dalam ruang apartemennya. Perlahan ia meletakkan tubuh Hazal di atas ranjang tempat tidurnya dan menutupi paha dan kaki Hazal dengan selimutnya. Dilepasnya sepatu bot high heels Hazal dan di letakkannya di belakang pintu.


Ia kemudian melepas jas dan dasinya, membuka sedikit kancing kemejanya, dan menarik kedua lengan kemejanya sampai ke batas siku. Ia terduduk di samping Hazal, memandangi wajah Hazal yang tertidur tak sadarkan diri.


Bunyi bel ruang apartemennya berbunyi, Kenan segera membuka pintu apartemennya.


"Ada apa kau mencari ku?" tanya Mehmet yang langsung masuk ke dalam ketika ia melihat sepatu wanita tergeletak di dekat pintu. Ia penasaran siapa wanita yang sedang bersama sahabat nya itu.


Hanya beberapa langkah, Mehmet sudah berada di samping tempat tidur Kenan. Dilihatnya dengan jelas wanita yang sedang tidur di atas ranjang tempat tidur Kenan.


Alangkah terkejutnya laki-laki berkulit gelap itu, "Bukankah dia adalah Hazal Aksal?"


Kenan hanya menjawab pertanyaan sahabatnya itu dengan anggukan kepalanya.


"Brengsek kau, Kenan! Kau sudah meniduri nya? Aku yang pertama kali bertemu dengannya di pesta ulang tahun Perusahaan Aksal!" seru Mehmet yang merasa di tikung oleh sahabatnya sendiri.


Kenan segera menutup mulut Mehmet dengan telapak tangannya. Ia menyeret sahabatnya itu hingga ke belakang pintu.


"Pelan kan suaramu! Aku tidak menidurinya! Dia bekerja menjadi sekretaris ku. Ia pingsan di dalam lift kantor dan aku menemukannya. Kemudian aku membawanya ke sini," jelas Kenan setelah ia melepaskan tangannya dari mulut Mehmet.


Mehmet hanya memandangi teman masa kecilnya itu. Seakan ia hendak mengatakan lalu kenapa kau memanggilku ke sini.


"Aku curiga, ada yang sengaja merusak lift yang di gunakan oleh Hazal. Karena lift itu baru saja di servis kemarin. Orang itu sengaja memadamkan listrik di kantor ku. Coba kau selidiki siapa yang telah melakukan hal ini!" pinta Kenan kepada Mehmet.


"Serahkan semuanya padaku, aku akan menyelidikinya dalam diam," ucap Mehmet sambil tertawa. Laki-laki ini memang bisa diandalkan jika menyangkut menyelidiki sesuatu, karena dia adalah asisten pribadi Kenan yang tidak terlihat.


"Lalu bagaimana dengan Tuan Putri itu?" tanya Mehmet yang sedikit bermaksud ingin berkenalan dengan Hazal.


"Aku akan menjaganya. Segera kau kerjakan tugasmu!" seru Kenan yang langsung membukakan pintu untuk Mehmet.

__ADS_1


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa setelah baca kasih tip Author ya... tinggalkan like, komentar, rate bintang lima atau vote kalian. Terimakasih 🙏🤗🤩


__ADS_2