
Setelah kepulangan Kenan, Yafet menunggu Hazal di belakang pintu utama. Ia melihat kepergian rivalnya itu dari balik jendela ruang tamu. Pintu utama itu pun terbuka.
"Ikut denganku!" seru Yafet sambil menggenggam tangan Hazal. Ia mengajak Hazal untuk naik ke kamarnya.
"Batalkan perjanjian mu dengan Kenan!" seru Yafet ketika mereka sudah berada di dalam kamar bernuansa hitam putih itu.
"Aku tidak bisa! Aku bukan orang yang ingkar janji. Jika waktu itu, aku tidak menyetujui perjanjian itu, kau tidak akan melihatku berdiri di sini! Mungkin aku sudah menjadi mayat," ucap Hazal sambil memicingkan kedua matanya. Ia berusaha membuat laki-laki itu mengerti.
Yafet menghela napasnya sambil memijit keningnya. Baginya ini bukanlah masalah rumit, hanya saja ia tidak bisa mengubah pendirian Hazal.
Putra Emir itu memegang kedua lengan Hazal. Bukan mencengkeram dirinya, Yafet tidak pernah berbuat kasar kepada wanita yang dicintainya. Tetapi tatapan mata elang yang tajam itu tidak bisa Hazal hindari. Manik mata itu seperti mengunci Hazal saat ini.
"Kau tidak menandatangani berkas apapun! Apa itu yang namanya perjanjian?" suara Yafet penuh penekanan.
"Meskipun aku tidak menandatangani berkas apapun, tapi aku berhutang nyawa padanya. Sudah dua kali Kenan menyelamatkan nyawaku. Ku mohon mengertilah, Yafet!" serunya waktu itu dengan suara yang hampir tidak terdengar karena isak tangisnya.
"Apa yang tidak aku mengerti darimu? Aku selalu mengerti dirimu, Hazal! Aku mengijinkanmu mendekati anak pembunuh itu! Aku merelakan hatiku, melihatmu bersama dengannya menjadi sepasang kekasih. Tapi... aku tidak rela jika dia menikahimu! Ini tidak sesuai dengan rencana kita!" teriak Yafet dengan keras hingga terdengar sampai lantai bawah. Sepasang mata elang itu memerah. Rahang Yafet mulai mengeras.
Tangan Hazal ingin menyentuh pundak tegap itu, tetapi Yafet membalikkan badannya menjauhinya.
"Yafet...," ucapnya dengan lirih sambil menutup telapak tangannya di depan dada. Air matanya mulai mengalir. Ia melihat sosok tubuh tegap itu kini menjadi rapuh seperti kertas karena dirinya.
"Cukup, Hazal! Keluarlah dari kamarku. Sebelum aku tidak bisa mengendalikan diriku!" seru Yafet sambil memunggunginya.
Hazal memundurkan langkahnya menjauhi Yafet, dirinya masih melihat pria itu menengadahkan wajahnya ke atas. Ia melangkah gontai masuk ke dalam kamarnya.
Dijatuhkannya dirinya di atas ranjang. Air matanya mengalir membasahi sarung guling yang ada di dalam pelukannya.
Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku tidak bisa membuat Yafet merelakan ku?
Terdengar suara ketukan dari luar kamarnya, Hazal segera menghapus air matanya. Ia membalikkan badannya dari posisi tengkurap ke posisi telentang.
"Ibu...?" Hazal terkejut melihat Meral sudah berdiri di depannya.
"Maaf, ibu mengejutkanmu. Ibu ingin bicara dengan mu," ucap Meral yang mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. Di samping Hazal.
Hazal bangun dan duduk menghadap Meral. "Ada apa ibu?"
__ADS_1
"Kau habis menangis?" tanya Meral ketika ia melihat manik mata Hazal yang masih merah. Dengan lembut dibelainya rambut putrinya.
Hazal hanya menganggukkan kepalanya kemudian memeluk Meral dengan erat. Ia kembali menangis di pelukan ibu angkatnya.
"Jika ini sudah menjadi keputusanmu, ibu hanya bisa menghargainya. Ibu tahu Kenan adalah pria yang baik, dia sangat mencintaimu. Ibu tidak khawatir kau bersama dengannya," ucap Meral dengan lembut sambil mengusap air mata Hazal.
"A...apa ibu tidak menyalahkan ku? Kenapa ibu tidak membela Yafet?" tanya Hazal keheranan melihat sikap Meral.
Meral menghela napasnya dalam-dalam. "Ibu hanya percaya pada suratan takdir. Jika kau dan Yafet berjodoh, serumit apapun masalah kalian, maka ibu percaya kalian akan kembali lagi bersama. Jika Kenan adalah jodohmu, apa yang bisa ibu lakukan? Tidak ada... ibu hanya mendoakanmu agar kau berhasil menghukum Harun dan kau bisa hidup bahagia bersama Kenan."
"Ibu...," isak Hazal yang kembali memeluk Meral.
"Ibu akan bicara dengan Yafet. Kalian tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri," ujar Meral yang mengusap puncak kepala Hazal. Seperti yang sering ia lakukan setiap kali putrinya itu menangis.
"Terimakasih ibu," sahut Hazal dengan sedikit senyumannya.
Sementara di kamar Yafet, pria itu menatap langit yang tampak kemerahan di ufuk senja. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya menggenggam pagar balkon kamarnya.
Kenapa kau tidak mempercayaiku, Hazal? Jika kau ingin kepala Harun, aku bisa memberikannya untukmu. Jika tadi kau tidak menghalangiku, tentunya aku bisa mengakhiri hidup Kenan dan Harun hari ini! Kau tak perlu terikat oleh perjanjian yang tak masuk akal itu!
Yafet mengatupkan kedua bibirnya, ia tidak tahu harus berbuat apalagi untuk mencegah pernikahan Hazal. Saat ini ia hanya bisa menyerahkan semuanya kepada apa yang tidak pernah ia percayai sebelumya, yaitu takdir.
Yafet tidak menjawab pertanyaan ibunya. Ia masih terhanyut dalam pikirannya saat ini. Meral melangkah masuk ke dalam kamar yang di dominasi warna hitam putih itu.
Meral berdeham ketika ia sudah berada di belakang Yafet.
"Ibu?" Yafet membalikkan badannya ketika ia menyadari keberadaan Meral.
"Ibu ingin bicara denganmu," ucap Meral sambil menuntun putranya itu untuk masuk ke dalam kamarnya dan mendudukkannya di atas ranjang.
"Apa yang ingin ibu bicarakan?" tanya Yafet sambil menatap wajah ibunya. "Apa soal pernikahan Hazal?"
Meral menggenggam telapak tangan Yafet. "Ibu tahu kalian masih saling mencintai."
"Tidak, ibu. Jika Hazal masih mencintaiku, ia tidak akan menerima lamaran Kenan. Ia tidak akan melindungi anak pembunuh itu!" seru Yafet sambil menarik tangannya dari genggaman tangan Meral.
Meral menatap lembut wajah putranya yang tampak kacau saat ini. "Jika ia tidak mencintaimu, ia tidak akan menangis melihatmu hancur seperti ini. Ia bukan melindungi Kenan, tetapi ia melindungimu agar kau tidak menjadi seorang pembunuh. Ia masih peduli padamu."
__ADS_1
Yafet mengernyitkan dahinya menatap wajah ibunya. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran para wanita yang serba rumit.
"Hargai keputusannya saat ini. Ia melepasmu demi membalas dendam atas kematian orangtuanya. Ia melepasmu, karena tidak ingin kau terlibat. Dukunglah dirinya. Meskipun pada akhirnya nanti ia tidak akan bersamamu," ucap Meral.
Perkataan Meral membuat Yafet teringat dengan ucapan Hazal beberapa hari yang lalu, saat di tempat latihan tembak. Ketika dirinya ingin mengaku di hadapan Harun, bahwa ia adalah anak Erkan Danner. Tetapi Hazal mencegahnya, wanita itu tidak ingin Harun mengetahui bahwa kelemahan Hazal adalah dirinya.
🔥❤️🔥❤️🔥
Keesokan harinya di gedung perusahaan Fallay, Kenan sedang duduk termenung di dalam ruangannya. Ia sedang memainkan penanya dengan kedua jari telunjuknya.
Ayah tidak akan berubah. Sekeras apapun aku mencoba membujuknya, ia tetap tidak bisa melepaskan Hazal. Begitu juga dengan Hazal.
Kenan teringat dengan pertanyaan Hazal sewaktu mereka sedang berada di kebun anggur. Ketika Hazal menanyakan kepada dirinya, jika Hazal dan ayahnya terlibat konflik yang tidak ada jalan keluarnya. Ia meletakkan penanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Ternyata ini konflik yang kau maksud, Hazal. Bagiku tetap sama, tidak ada konflik yang tidak ada jalan keluarnya. Aku akan mencari jalan keluar yang terbaik untuk kau dan ayahku.
Kenan mengambil ponselnya dan mencari nama Mehmet di sana. Terdengar suara nada sambung di balik ponselnya.
"Ada apa sobat?" Suara Mehmet langsung terdengar.
"Kau bisa ke kantor ku sekarang?" tanya Kenan sambil berdiri dan memasukkan salah satu tangannya di dalam saku celananya.
"Aku ke sana sekarang," jawab Mehmet dengan cepat. Ia segera masuk ke dalam mobilnya.
Sambil menunggu kedatangan Mehmet, Kenan menyelesaikan pekerjaannya. Ia juga meminta Elif, sekretarisnya yang lama untuk membantunya mengurus pernikahannya.
Beberapa menit kemudian, orang yang ditunggu Kenan akhirnya datang.
"Apa kau yakin akan melakukan hal ini?" tanya Mehmet sambil memicingkan kedua matanya setelah ia mendengar rencana sahabatnya. Ia mengambil sebuah berkas pemberian Kenan dan membacanya.
"Kau akan mendapatkan masalah besar dari pengantinmu nanti!" seru Mehmet yang memeragakan lehernya yang tergorok.
Kenan hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah laku Mehmet.
"Lakukan saja perintahku. Buat dokumennya dan berikan pada ku sebelum hari pernikahanku!" seru Kenan. "Jangan kau beritahu siapapun!"
"Aku sudah seperti bayangan mu," ucap Mehmet sambil tertawa kecil. "Baiklah." Laki-laki berkulit itu keluar dari ruangan Kenan.
__ADS_1
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏