DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Badai Besar itu Datang


__ADS_3

Sembari menunggu kedatangan Hazal, tiba-tiba ponsel Yafet berbunyi. Sebuah panggilan dari rumah sakit tempat Yafet dan Selina melakukan tes DNA.


"Ya, halo...." Yafet menjawab panggilan ponselnya.


"Selamat sore Tuan, bisakah saya berbicara dengan Tuan Yafet Aksal?" suara seorang suster rumah sakit yang sedang berbicara dengannya.


"Ya, saya Yafet Aksal."


"Begini Tuan Yafet, saya hanya ingin memberitahukan bahwa hasil tes kehamilan dan tes DNA milik Tuan Yafet Aksal dan Nona Selina Howard sudah keluar. Mohon segera Tuan mengambil hasil tes tersebut di bagian laboratorium rumah sakit," jelas suster.


Wajah Yafet mendadak berubah menjadi tegang, setelah mendengar perkataan suster tersebut. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Yafet.


"Halo Tuan Yafet? Apa anda mendengar suara saya?"


"Oh, ya...ya suster. Saya akan segera mengambilnya." Kemudian Yafet menutup ponselnya.


Setelah selesai menghubungi Yafet, suster rumah sakit juga mengabari Selina.


"Ada apa? Siapa yang yang menelepon?" tanya Emir sambil menyeruput teh 'Cay' miliknya. Teh 'Cay' ini adalah salah satu minuman khas Turki, teh yang di sajikan dengan teko bertingkat dan sebuah gelas kecil yang berbentuk bunga tulip.


"Pihak rumah sakit. Ayah...Ibu... sepertinya kita tunda dulu makan malam hari ini. Aku harus mengambil tes DNA di rumah sakit, sebelum Selina mengambilnya lebih dulu," ucap Yafet sambil mengusap wajahnya dengan salah satu tangannya.


"Kami akan ikut ke rumah sakit!" seru Meral kepada Emir dan Yafet.


"Tidak Ibu, lebih baik kalian tunggu aku di rumah saja. Begitu aku sudah mendapatkan hasilnya, aku akan segera pulang," cetus Yafet yang tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.


"Benar kata Yafet, sebaiknya kita menunggunya di rumah," ucap Emir yang mengajak istrinya untuk kembali pulang ke rumah.


Di perjalanan, Yafet mencoba menghubungi Hazal. Tetapi rupanya Hazal mematikan ponselnya. Yafet mengirim sebuah pesan singkat kepada Hazal, bahwa makan malam keluarganya di batalkan. Pria itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tanpa menghiraukan lampu lalu lintas, ia menerobos setiap lampu merah yang ada. Tak peduli berapa banyak pelanggaran yang telah di lakukannya di jalan raya ini.


Yafet menghentikan mobilnya di depan lobi rumah sakit. Dengan cepat ia keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah sakit. Ia bertanya pada petugas resepsionis dimana letak laboratorium. Setelah mendapatkan petunjuk, Yafet segera bergegas menuju ke ruang yang di maksud. Di perjalanan ia hampir saja menabrak para petugas medis dan pasien yang ada di sana. Ia mendapat caci maki dari pasien yang memakai kursi roda, karena Yafet hampir saja membuat pasien itu jatuh ke lantai.


Dengan napas yang memburu, dan dada yang naik turun ia sampai di depan laboratorium rumah sakit. Di sana ia melihat seorang suster sedang memberikan dua buah amplop kepada Selina. Dengan cepat Yafet merebut salah satu amplop dari tangan Selina, membuat wanita Inggris itu terkejut.


"Kau?" pekik Selina yang terlihat geram, begitu mengetahui Yafet telah mengambil salah satu amplopnya.


Di tangan Yafet ada sebuah amplop yang berisi hasil tes DNA atas nama Selina Howard. Sedangkan yang di tangan Selina adalah amplop yang bertuliskan hasil tes KEHAMILAN atas namanya sendiri. Kemudian Yafet meminta kepada suster hasil Tes DNA miliknya.


Selina hendak membuka amplop yang ada di tangannya. Tetapi Yafet mencekal pergelangan tangannya.


"Aku akan membawa hasil kedua tes DNA ini, kita bertemu di rumahku sekarang juga! Aku akan segera menyelesaikan masalah ini! Jika hasilnya negatif, aku akan melempar mu keluar dari Turki untuk selama-lamanya, kau dengar itu!" pekik Yafet di hadapan Selina.


"Bagaimana jika hasilnya positif? Aku akan tinggal di rumahmu sebagai Nyonya Yafet Aksal!" ancam Selina dengan senyumannya yang sinis.


Tanpa menunggu waktu lagi, mereka berdua segera menuju ke kediaman keluarga Aksal dengan menggunakan mobil mereka masing-masing. Yafet belum membuka amplop yang ada di tangannya. Ia bermaksud membukanya di rumah, di hadapan orang tuanya, ia ingin membersihkan namanya di hadapan orang tuanya dan di hadapan Hazal.


Di dalam mobilnya, Selina menatap tajam setiap ruas jalan yang di lalui nya. Ia melihat mobil Yafet yang ada di sampingnya. Mobil mereka saling mendahului dan saling menghimpit.


Ciiittt......!


Kedua mobil itu sudah berada di depan pintu gerbang rumah keluarga Aksal. Yafet dan Selina membunyikan klakson mobil mereka. Penjaga gerbang segera membuka pintu gerbang kediaman keluarga Aksal lebar-lebar, ketika dilihatnya dua mobil itu terlihat sedang beradu untuk masuk ke dalam rumah. Kedua mobil itupun masuk menuju halaman depan, Yafet dan Selina memarkirkan mobil mereka di depan pintu rumah. Segera Yafet masuk ke dalam rumah di susul oleh Selina.


Emir dan Meral yang sedang ada di ruang keluarga terkejut melihat kedatangan Selina di rumah mereka.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Emir kepada Yafet. Tetapi Selina tanpa rasa malu, lebih dulu menyerahkan hasil tes kehamilannya kepada Emir. Ayah Yafet itu menerima amplop pemberian Selina dan membukanya, dilihatnya hasil tes kehamilan itu ternyata POSITIF.


Emir memandang wajah Selina dengan tatapan tajam, "Aku tahu bahwa kau memang hamil, tapi belum tentu itu anak Yafet, bisa jadi itu anak pria lain!" tegas Emir.


"Anda belum melihat hasil tes DNA nya, Tuan Emir," ucap Selina dengan penuh percaya diri.


"Yafet, berikan hasil tes DNA itu!" pinta Emir. Yafet segera memberikan dua amplop kepada ayahnya. Meral yang ada di belakang Emir terlihat was-was.


Emir membuka kedua amplop itu, dan mengeluarkan semua isinya. Kedua lembaran kertas putih yang berbeda nama itu ada di tangan Emir Aksal. Mata Emir segera melompat ke atas kertas putih itu, begitu ia melihat kata POSITIF di sana. Kecocokan DNA Yafet dan bayi dalam kandungan Selina mencapai 98% yang artinya Yafet adalah ayah dari anak yang dikandung Selina.


Perahu keluarga Aksal bagai di hantam sebuah ombak dan badai yang besar.


Raut wajah Emir mendadak berubah menjadi tegang dan merah meradang. Emir segera melempar kedua kertas itu ke wajah Yafet.


"Anak itu adalah anakmu!" teriak Emir yang murka begitu melihat hasilnya. Dunianya seakan runtuh, melihat anak kandungnya telah menghamili seorang wanita di luar nikah.


Yafet dan Meral benar-benar terkejut, putra Emir itu segera memungut kertas yang jatuh tepat di depan kakinya. "Tidak...ini tidak mungkin!" seru Yafet yang menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.

__ADS_1


"Kau...!" pekik Yafet menghadap ke arah Selina. Kemudian ia mendorong mantan kekasihnya itu hingga terpojok di depan lemari buku yang besar.


"Kau pasti telah berbuat curang! Pasti kau telah menukar hasil tesnya! Aku tak percaya bahwa aku telah menghamili mu!" teriak Yafet yang murka, tangan kirinya mencengkeram lengan Selina, sedangkan tangan kanannya mencekik leher wanita Inggris itu.


"Cukup Yafet! Kau bisa membunuhnya!" cegah Emir yang menarik tangan Yafet agar menjauh dari Selina.


"Aku memang ingin membunuh wanita gila ini, Ayah! Lebih baik aku di penjara, daripada aku harus menikah dengannya!"


Selina memegang dadanya, sambil terbatuk-batuk. "Kau...! Kau benar-benar laki-laki pengecut, Yafet! Kapan aku menukar hasil tes itu? Kau dan aku sama-sama bertemu di rumah sakit."


"Sekarang aku bertanya padamu Tuan Emir, apakah anda akan menikahkan aku dengan anakmu ini? Yafet harus bertanggung jawab atas kehamilanku ini!" teriak Selina sambil menangis di hadapan Emir dan Meral.


Ayah Yafet itu hanya terdiam, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi ia tidak ingin menerima Selina masuk menjadi anggota keluarganya, tetapi di sisi lain putranya itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Kenapa anda diam saja Tuan Emir yang terhormat? Apa anda akan melindungi Yafet? Dimana reputasi keluarga Aksal yang selalu anda banggakan di depan masyarakat, kalau ternyata putra anda sendiri telah melakukan hal yang memalukan seperti ini!" teriak Selina yang menyerang kelemahan Emir dan berusaha menekan kepala keluarga Aksal itu.


Plaakk..... Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Selina. "Jaga bicaramu, Selina!" bentak Yafet yang mengejutkan semua orang.


Meral tak bisa berkata sepatah katapun melihat anaknya yang telah bertindak kasar kepada seorang wanita. Ia belum pernah melihat Yafet se murka ini.


Selina memegang pipi kanannya yang terasa panas dan memerah karena tamparan Yafet.


"Oh, jadi seperti ini keluarga Aksal yang sebenarnya! Berani menyiksa seorang wanita yang sedang hamil. Aku akan memberi kalian waktu 2x24 jam! Jika Yafet tidak mau menikahiku, maka aku akan menyerahkan foto, video dan hasil tes DNA ini ke media dan polisi! Agar semua orang tahu, betapa bobroknya keluarga Aksal yang sebenarnya!" ancam Selina.


Wanita Inggris itu segera meninggalkan mereka semua, ia berjalan keluar dan bertemu dengan Hazal di bawah tangga. Selina hanya mendengus kesal melihat Hazal, dan berjalan melewatinya.


Hazal yang bertanya-tanya melihat kedatangan Selina, segera berjalan menuju ke ruang keluarga. Di sana ia melihat Yafet yang menyandarkan tubuhnya di dinding dengan kedua tangannya menutupi wajahnya. Ayahnya yang berdiri di samping sofa dengan wajah yang menahan amarah. Sedangkan ibunya, ibu angkatnya itu terduduk di atas sofa sambil menangis.


"Ayah...Ibu... Yafet, apa yang terjadi? Kenapa kalian seperti ini? Dan kenapa wanita itu tadi ada di rumah kita?" tanya Hazal yang kurang peka dengan keadaan yang telah terjadi.


Tidak ada satupun suara yang keluar dari ketiga orang anggota keluarganya. Ketiga orang itu diam membisu membuat Hazal tambah bertanya-tanya.


Dilihatnya sebuah kertas tergeletak di atas meja ruang keluarga, Hazal mengambil kertas itu. Kertas itu adalah hasil tes DNA milik Yafet.


Butiran cairan bening itu membasahi kedua pipinya, ketika dilihatnya hasil tes DNA tersebut. Kekasih Yafet itupun jatuh terduduk di atas karpet berwarna coklat tua.


"Yafet....kau...." Isak tangis Hazal yang tidak bisa meneruskan kata-katanya. Tangan nya meremas lembaran kertas itu.


"Yafet, katakan kalau semua ini tidak benar kan? Kau bukan ayah dari anak itu kan? Katakan Yafet?" teriak Hazal sambil menangis di depan kekasihnya itu.


"Aku...aku tidak melakukannya, Hazal. Aku tidak... melakukan itu semua," jawab Yafet yang tersadar akan kehadiran Hazal.


Putra Emir itu menghampiri ayahnya. Ia memegang lengan ayahnya. "Ayah, percayalah padaku. Bukan aku yang menghamili Selina. Aku tidak akan menikahinya, Ayah."


"Cukup Yafet! Kau sudah melakukan kesalahan! Kau sudah memalukan keluarga ini!" pekik Emir Aksal dengan keras.


"Ayah, kumohon dengarkan Yafet," rengek Hazal di depan ayah angkatnya.


"Meral, bawa Hazal ke kamarnya sekarang!" pinta Emir. Meral yang terlihat ragu-ragu, segera menghampiri Hazal dan mengajak putri angkatnya itu untuk naik ke kamarnya.


"Tidak ibu, aku mau di sini. Jangan bawa aku ke atas, ibu," isak Hazal sambil berpegangan pada sofa warna krem yang ada di ruang keluarganya.


Meral membujuk Hazal agar ia menuruti perintah ayahnya. Tetapi putri angkatnya itu tetap bersikeras ingin berada di ruang keluarga. Akhirnya Yafet membujuk Hazal untuk mengikuti perintah ayahnya.


"Naiklah ke kamarmu, aku akan bicara dengan ayah. Jangan khawatirkan aku," ucap Yafet yang menuntun Hazal untuk menapaki anak tangga. Yafet melihat dari bawah, Hazal dan ibunya telah masuk ke dalam kamar.


Yafet kembali menemui ayahnya di ruang keluarga. "Ayah...," ucap Yafet yang berdiri di belakang Emir.


"Apa keputusan mu?" tanya Emir.


"Aku tidak akan menikahi Selina," jawab Yafet.


"Kau?" pekik Emir yang memutar badannya menghadap ke arah Yafet. "Tes DNA itu sudah membuktikan bahwa anak yang di kandung Selina adalah anakmu. Dan kau tidak merasa bersalah atau bertanggung jawab?"


"Ayah, anak itu bukan anakku! Aku berani bersumpah demi kakek dan nenek ku, bahwa bukan aku yang menghamili Selina!" tegas Yafet sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Jangan bawa-bawa nenek moyang mu! Kau tak pantas membawa nama Aksal di belakang nama mu! Nikahi Selina atau Ayah akan mencoret nama mu dari daftar keturunan keluarga Aksal!" ancam Emir dengan menunjukkan jari telunjuknya.


Yafet tetap bersikeras pada pendiriannya, " Coret saja nama ku dari keluarga yang kau banggakan ini, Ayah. Karena aku sama sekali tidak bangga menjadi bagian dari keluarga Aksal! Karena nama Aksal lah membuatku tidak bisa menikahi wanita yang aku cintai!"


"Kau?" teriak Emir yang tidak bisa menahan amarahnya atas penghinaan Yafet kepada dirinya. Dengan kalap, Emir mengambil tongkat rotan yang ada di sudut ruangan dan memukulkan benda berserat itu ke tubuh Yafet.

__ADS_1


"Pukul aku Ayah! Pukul aku! Aku tidak akan menikahi Selina. Aku tidak mencintainya!" teriak Yafet yang menahan rasa sakitnya. Sebuah garis berwarna merah itu telah menghiasi lengan dan wajahnya, dan beberapa bagian tubuhnya yang tertutup oleh pakaiannya.


Teriakan Yafet malah membuat Emir semakin hilang kendali. Ia merasa telah di permalukan dan di tantang oleh anaknya sendiri. Ia merasa telah gagal menjadi seorang ayah.


Hazal yang ada di kamarnya mendengar teriakan Yafet dan ayahnya, berusaha untuk keluar dari pintu kamarnya. Tetapi di halangi oleh ibunya.


"Kumohon ibu, lepaskan aku.... Apa ibu tidak mendengar teriakan Yafet dan Ayah. Suara pukulan itu. Kumohon ibu... aku harus ke bawah," mohon Hazal sambil menangis di depan ibu angkatnya.


Tanpa sadar Meral yang merasa iba dengan tangisan Hazal, melonggarkan pegangan tangannya dari lengan Hazal. Dengan cepat Hazal segera melepaskan tangan ibunya dan berlari keluar menuruni tangga.


"Hazal...," teriak Meral yang tersadar bahwa Hazal telah pergi.Ia berlari mengikuti Hazal.


Setelah Hazal sudah berada di lantai bawah, putri Aksal itu segera berlari menuju ke ruang keluarga. Ia melihat ayahnya yang akan memukulkan tongkat rotan ke arah Yafet untuk yang kesekian kalinya.


Segera Hazal berlari mendekap tubuh Yafet dari depan, pukulan rotan itu tak terelakkan lagi mengenai punggung Hazal.


"Berhenti Ayah...! Jangan pukul Yafet lagi," teriak Hazal yang memberikan dirinya untuk melindungi Yafet dari pukulan ayahnya.


Meral, Emir dan Yafet terkejut melihat tongkat rotan itu mengenai punggung Hazal.


"Hazal...!" teriak Yafet yang memeluk kekasihnya.


Wanita itu hanya bisa menangis dan menyentuh wajah Yafet yang terluka. "Ketika kau sakit, aku juga akan merasakan rasa sakit itu. Ketika Ayah memukulmu, aku juga akan memberikan diriku untuk menerima pukulan dari ayah. Rasa sakit mu adalah rasa sakit ku juga," isak Hazal.


"Kau bodoh... kau sungguh bodoh, Hazal," isak Yafet sambil memeluk dan mengusap punggung Hazal.


Yafet memapah Hazal untuk bangkit berdiri. Ia menggenggam tangan Hazal dengan erat.


"Ayah, aku mohon padamu...Selama hidupku, aku tidak pernah meminta apapun dari Ayah. Aku hanya menerima begitu saja setiap pemberian mu. Kali ini...kali ini saja Ayah, kabulkan permintaan ku. Aku tidak ingin menikah dengan Selina," ucap Yafet dengan lirih. Kedua mata elang itu terlihat memerah. Belum pernah Hazal melihat Yafet seperti ini.


"Ayah, aku juga memohon padamu. Ku mohon jangan suruh Yafet menikahi Selina. Aku percaya Yafet tidak bersalah," isak tangis Hazal.


"Silahkan Ayah pukul aku sampai Ayah puas meluapkan amarah Ayah. Tapi jangan pukul Hazal, Ayah. Jika saat ini Ayah membunuhku, aku tetap pada pendirianku, aku tidak akan menikahi Selina," jelas Yafet sambil terus menggandeng Hazal. Peluh keringat nya bercucuran membasahi wajah dan bajunya.


"Jika itu keputusan mu, pergi kau dari rumah ku sekarang! Anggap saja aku tidak punya anak sepertimu! Bagiku, putraku yang bernama Yafet Aksal sudah mati!" teriak Emir sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Aku akan pergi dari rumah ini, aku juga tidak akan membawa satu sen pun harta kekayaan keluarga Aksal. Ayah bisa mencoret nama ku dari kartu keluarga," kata Yafet yang segera melangkah keluar sambil menggandeng tangan Hazal.


Meral mencoba menghentikan mereka. Wanita paruh baya itu memohon agar mereka tetap tinggal di rumah ini.


"Jika kau pergi, pergilah sendiri! Jangan pernah bawa putriku!" teriak Emir dengan suaranya yang menggelegar, telapak tangannya basah karena keringat. Ia merasakan napasnya mulai sesak.


"Aku akan membawa Hazal pergi dari sini. Karena dia adalah wanita yang aku cintai. Ayah sudah mencoret namaku dari keluarga Aksal, jadi aku tidak perlu ijin dari mu untuk menikahi Hazal," jawab Yafet yang membuka hubungan cintanya dengan Hazal kepada orang tuanya.


Emir terkejut mendengar perkataan Yafet. Pria paruh baya itu semakin tidak bisa mengontrol emosinya, "Berani sekali kau menikahi putri ku! Aku tidak akan memberikan putriku pada pemuda brengsek dan tidak bermoral seperti mu!"


"Suka atau tidak suka. Ayah dan ibu harus menerima kenyataan ini. Kami saling mencintai, dan aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangi hubungan kami. Kami akan pergi dari Istanbul. Selamat tinggal ayah...ibu," ucap Yafet kepada orang tuanya.


"Ayah...Ibu. Maafkan aku, aku sangat mencintai Yafet. Aku akan ikut bersama nya," pamit Hazal kepada kedua orang tua angkatnya.


Meral menangis dan menggelengkan kepalanya, berharap kedua anaknya itu tidak pergi meninggalkan rumah.


Emir mengatupkan rahang tuanya dan mengepalkan tangannya. "Kalian...." kata-katanya terputus begitu tubuhnya ambruk dan jatuh ke lantai.


Kedua anak Aksal itupun berjalan menuju ke halaman depan. Tetapi belum sempat mereka masuk ke dalam mobil.


"Emir...," teriak Meral yang melihat suaminya sudah jatuh ke lantai sambil memegangi dadanya.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih sudah membaca novel ku ini 🙏 semoga kalian menyukai tulisanku ini. Jangan lupa kasih..


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar atau


🤗 Vote kalian ya...


Makasih...

__ADS_1


__ADS_2