
Setelah kepergian Jaksa Kepala Onur, Hazal masih menghabiskan waktunya beberapa jam untuk duduk di taman itu. Menikmati setiap apa yang ada di taman tersebut. Mulai dari aroma pohon pinus, danau buatan dengan airnya yang berwarna biru, beberapa anak kecil yang bermain kejar-kejaran di taman, dan beberapa pasang muda mudi hingga lansia yang tengah menikmati kebersamaan mereka.
Raja siang sudah mulai masuk ke dalam peraduannya, Hazal ingin menikmati ketika senja itu datang di langit kota Istanbul. Langit itu akan mempunyai tiga warna. Merah, oranye dan kuning. Sebuah gradasi warna yang indah. Ia melihat burung-burung mulai terbang berkelompok menuju ke suatu tempat, anak-anak akan kembali ke gandengan orang tua mereka, seorang pemudi akan kembali ke pelukan pasangannya dan seorang lansia akan tetap tersenyum menatap orang yang di sampingnya.
Hari sudah mulai gelap, Hazal beranjak dari tempat duduknya. Langkah kakinya gontai menuju ke tempat parkir mobilnya. Ia memutuskan untuk mengelilingi kota Istanbul melihat kota kelahirannya itu hidup di malam hari.
Hampir dua jam Hazal mengelilingi kota itu, kemudian ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapai rumah keluarga Aksal, selama dalam perjalanan ia masih memikirkan perkataan Jaksa Kepala.
Hazal menyandarkan kepalanya di kursi kemudi, sebelum ia memutuskan untuk turun dan masuk ke dalam rumah. Ia tampak ragu dengan dirinya sendiri, apa ia telah siap menjadi jaksa kembali. Butuh beberapa menit untuk dia memutuskan keluar dari mobilnya.
Putri angkat Emir itu membuka pintu utama rumahnya. Ia tidak melihat siapa-siapa di sekitarnya, sedetik kemudian ia baru menyadari bahwa ini sudah lewat jam makan malam.
"Mereka pasti telah masuk ke kamar masing-masing," gumam Hazal yang menutup pintu besar rumahnya.
Langkah kakinya terhenti di depan meja ruang tamu, ia melihat kotak CD pemberian Mehmet tepatnya pemberian Kenan tadi siang. Hazal mengambil kotak CD itu, ada foto Kenan dan dirinya di sampul kotak plastik tersebut dan tulisan For My Lovely Wife Hazal. Air mata wanita itu kembali menetes.
Hazal membawa kotak CD itu ke ruang keluarga, ia penasaran apa yang di berikan almarhum suaminya.
Hazal tak menyadari kehadiran Emir, Meral dan Yafet yang masih ada di ruang makan. Mereka sengaja menunggu kedatangan Hazal dan ingin mengajak wanita itu makan bersama. Tetapi mereka justru melihat Hazal langsung masuk ke dalam ruang keluarga.
"Ayah dan Ibu makanlah dulu. Aku akan menunggu Hazal," ucap Yafet yang tahu kalau orang tuanya pasti lapar, karena ini sudah lewat dari jam makan malam.
"Baiklah," sahut Emir dan Meral yang mulai mengambil peralatan makan mereka di atas meja makan.
Sementara itu di ruang keluarga, Hazal menyalakan home teather nya dan memasukkan kepingan CD itu ke dalam mesin player. Hazal berdiri di depan layar besar berwarna putih itu.
Tak perlu menunggu lama, muncullah sebuah tulisan di layar itu. For my beautiful sunshine dengan latar suasana pantai.
Tampilan di layar itu kemudian berubah menjadi foto dirinya dan Kenan di bentuk secara kolase dengan sebuah lagu romantis. Hazal hanya menatap itu semua, tanpa ekspresi.
Gambar pun berubah menjadi sebuah ruangan yang Hazal kenal. Kamar apartemen Kenan.
"Hazal...." Terdengar suara Kenan dan wajah laki-laki itu di layar. Hazal terpaku melihat senyum almarhum suaminya.
"Ketika kau menonton video ini, mungkin aku sudah tidak bersamamu lagi. Mungkin aku sudah tidak bisa memelukmu dan selalu mengucapkan kata I Love You untukmu. Mungkin nama Kenan Fallay hanya tinggal kenangan."
Kenan memberikan jeda untuk perkataannya selanjutnya. Cairan bening itu kembali mengalir di wajah Hazal.
"Kau jahat, Kenan! Kau sudah merencanakan semua ini!" seru Hazal kepada layar tersebut. Ia sudah mulai bereaksi.
"Mungkin kau berpikir aku jahat, aku curang atau apalah karena aku tidak memberitahu rencana ku sebelumnya. Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar aku bisa menepati janjiku kepadamu. Aku sudah mencoba membujuk ayahku, tapi... gagal! Sampai kapanpun, ayahku tidak akan berubah. Tidak ada yang bisa mengubah keinginannya untuk melenyapkan mu."
Hening. Kenan menutup kedua bibirnya dengan tatapan matanya yang lembut untuk sekian detik.
"Kenapa kau baru mengatakan padaku sekarang? Jika kau tak bisa, bukan berati kau harus mengorbankan nyawamu!" teriak Hazal dengan keras. Ia mendekati layar proyektor dan berlutut di sana. Tangannya menyentuh layar besar itu.
Yafet dan kedua orang tuanya yang mendengar teriakkan Hazal segera berdiri di balik pintu. Mereka mendengar setiap perkataan Kenan dan Hazal. Bagaikan dua orang yang sedang bertengkar.
"Sampai kapanpun aku akan tetap melindungi mu dari kejahatan ayahku. Kau bisa melindungi Yafet agar tidak menjadi pembunuh. Maka aku juga bisa melindungi mu agar tidak membunuh ayahku. Aku tidak ingin masa depan mu hancur, sayang. Aku tahu impian mu adalah ingin menghukum ayahku."
Hening. Kenan memberikan jeda agar Hazal menanggapinya. Pria itu tahu bahwa Hazal pasti akan mendebat setiap perkataannya.
"Kau telah menghancurkan rencanaku, Kenan! Seharusnya kau biarkan aku membunuh Harun, setelah aku berhasil membunuh ayahmu, aku akan menembak diri ku sendiri! Itu sebabnya aku telah menyiapkan dua peluru di pistolku waktu itu! Aku juga tidak ingin dipenjara!" seru Hazal dengan keras. Lelehan air mata mengalir deras di sana.
Ketiga orang yang menguping itu terkejut mendengar pengakuan Hazal.
"Aku tidak ingin di posisimu Hazal. Aku tidak ingin menjadi orang yang kehilangan. Itu sebabnya aku memilih pergi, meskipun aku tidak tahu kapan kematianku. Tapi hari dimana ayahku akan membunuhmu itulah hari kematianku**."
"Kau pikir aku mau menjadi orang yang kehilangan? Aku tidak mau!" jerit Hazal sambil memukul layar proyektor itu berulang kali dengan tangannya. Tetapi sepertinya ia lupa, layar itu hanyalah sebuah kertas yang tidak bisa pecah.
"Aku sudah merasakan kehilangan sejak aku masih kecil, dan kali ini kau membuatku kembali ke masa dua puluh tahun yang lalu!" teriak Hazal histeris.
"Lanjutkan hidupmu, sayang. Jangan hancurkan dirimu dengan kesedihan. Kau masih punya impian yang harus kau kejar. Hukumlah ayahku, karena aku tidak sanggup menghukum ayahku."
"Aku tidak bisa! Aku tidak bisa melanjutkan hidupku!" teriak Hazal sambil menyentuh wajah Kenan yang ada di layar proyektor, ia menempelkan wajahnya yang penuh air mata di layar tersebut.
Kenan mengusap lensa kameranya, seakan-akan ia ingin mengusap air mata Hazal.
"Kau bisa. Kau pasti bisa. Kau adalah wanita bar-bar ku. Kau wanita yang kuat." Kenan tersenyum menatap wajah Hazal, tetapi pria itu tidak dapat menyembunyikan kesedihannya ketika ia merekam pesan video itu.
Hazal menggelengkan kepalanya, "Kau pikir aku bisa hidup dengan rasa bersalah ini? Rasa bersalah yang tidak bisa aku ungkapkan, karena aku tidak bisa melampiaskan kemarahanku, kesedihanku, dan kekecewaanku kepadamu!"
__ADS_1
Hazal menumpahkan segala emosi dan isi hatinya. Air matanya mengalir deras bahkan tak terbendung lagi.
"Please honey... Jangan siksa dirimu dengan kesedihan."
Manik mata Kenan nampak berkaca-kaca.
"Kau berhasil membawaku ke dalam jurang kesedihan dan penyesalan yang tidak mendasar! Kau tahu... aku menyesal kenapa aku harus mendekatimu! Aku menyesal kenapa aku harus membuatmu jatuh cinta padaku! Aku menyesal kenapa kau harus menjadi putra Harun Fallay!" teriak Hazal histeris dengan lelehan air matanya melebihi hari-hari sebelumnya.
"Jangan membenciku, Hazal..."
"Jangan mencintai ku, Kenan. Kau membuatku tersiksa seumur hidupku." Hazal meraung meratapi kesedihan dan rasa bersalahnya. Ia duduk tersungkur di depan layar itu sambil mengepalkan tangannya. Ia benar-benar merasa berada di titik terendahnya kini.
Yafet hendak masuk ke ruangan itu, tetapi di cegah oleh Emir.
"Hazal...."
"Kau tahu... setelah kematianmu, sepanjang malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Sepanjang hari aku hanya memainkan pena pemberianmu! Kau berhasil menyiksaku, Kenan! Perasaan bersalah itu selalu menghantuiku siang dan malam. Tapi apa yang kau lakukan? Kau pikir aku akan bahagia dan berterima kasih padamu karena kau telah mengorbankan nyawa mu?"
"Hazal..., please jangan menangis. Berjanjilah padaku untuk melanjutkan hidupmu, berbahagialah dengan Yafet. Aku tahu kau masih mencintainya. Aku yang bersalah karena telah menginginkanmu dan terlalu mencintaimu. Jangan lupa untuk menghukum ayahku. Berjanjilah sayang... berjanjilah padaku. Aku mencintaimu, sayang."
Terdengar lagu Don't Watch Me Cry dari Jorja Smith yang menutup video Kenan.
***
Oh, it hurts the most cause I don't know the cause
(Oh itu sangat menyakitkan karena aku tak tahu apa penyebabnya)
Maybe I shouldn't have cried when you left and told me not to wait
(Mungkin seharusnya aku tak menangis saat kau pergi dan berkata kepada ku jangan menunggu)
Oh it kills the most to say that I still care
(Oh itu paling menyakitkan untuk mengatakan bahwa aku masih peduli)
Now I'm left tryna rewind the times you held and kissed me back
(Kini aku mencoba memutar kembali waktu saat kau peluk dan ciumi aku)
(Aku ingin tahu pernahkah kau berpikir "Apa dia baik-baik saja sendirian?" )
I wonder if you tried to call but couldn't find your phone
(Aku ingin tahu pernahkah kau berusaha menelepon, tapi tak bisa temukan ponselmu)
Have I ever crossed your thoughts because your name's all over mine
(Pernakah aku terlintas di dalam pikiran mu sebab namamu ada di dalam benakku)
A moment in time, don't watch me cry (x2)
(Meski sesaat jangan lihat aku menangis)
***
"Cukup Kenan! Cukup! Jika kau tidak ingin aku menangis, kenapa kau lakukan ini padaku? Jangan atur hidupku lagi! Jangan paksa aku untuk melanjutkan hidupku!" teriak Hazal dengan penuh kehancuran dan keputusasaan.
"Aku akan melakukan rencana ku, kini kau atau siapapun tidak akan bisa menghalanginya!" seru Hazal yang langsung membuka pintu ruangan dan berlari menuju ke ruang kerja ayahnya.
Hazal bahkan tak menyadari kehadiran Emir, Meral dan Yafet yang ada di depannya. Dia melalui mereka begitu saja.
Hazal masuk ke ruang kerja Emir, ia menghampiri brankas yang ada di sudut ruangan. Tangannya gemetar memasukkan angka kombinasinya. Pintu lemari besi itu terbuka. Dia mencari sesuatu di dalam sana. Tetapi tangannya hanya menyentuh berkas-berkas milik ayah angkatnya.
"Apa kau sedang mencari pistol ayah?" tanya Emir yang sudah berada di belakang Hazal. Wanita muda itu membalikkan badannya menghadap ayah angkatnya. Dia hanya terdiam.
"Ayah sudah menyimpannya di tempat yang aman. Baik kau atau Yafet tidak akan pernah bisa menemukannya!" seru Emir sambil menunjuk wajah Hazal.
Hazal berlalu begitu saja melewati Emir, ia tidak membalas perkataan pria paruh baya itu. Suami Meral itu hanya bisa menghela napasnya. Wanita itu kemudian keluar ruangan dan mencari sesuatu yang lain. Ia melihat sebuah pisau buah milik Meral yang tergeletak di atas meja makan.
"Astaga, Hazal! Berikan pisau itu pada Ibu!" teriak Meral yang melihat Hazal akan mengiris pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Hazal!" teriak Emir yang baru saja keluar dari ruang keluarga. Ia melihat Hazal dari arah samping.
"Aku sudah tidak tahan lagi. Aku selalu dihantui perasaan bersalah. Biarkan aku pergi menyusul ayah ibuku dan Kenan. Setidaknya kalian tidak akan sedih kehilangan diriku," isak tangis Hazal yang mulai menekan pisau itu di pergelangan tangannya.
"Hazal, hentikan! Please jangan bertindak bodoh!" seru Yafet yang segera berdiri di depan Hazal, tangannya berusaha mencegah wanita itu.
"Jangan mendekat! Ayah dan Ibu tidak akan sedih jika kehilangan aku, karena aku hanyalah anak adopsi.Tapi mereka akan sedih jika kehilangan penerus keluarga mereka. Jadi biarkan aku pergi!" Suara Hazal hampir tertutup dengan tangisannya.
Mendengar perkataan Hazal, hati Emir dan Meral seakan tertusuk pisau lebih dulu. Putri yang telah mereka besarkan dengan kasih sayang, menganggap bahwa dirinya tidak berharga di keluarga ini.
"Apa yang kau katakan? Mereka tidak akan sedih?" tanya Yafet yang berusaha semakin mendekati Hazal. Jarak mereka sekitar satu meter.
"Itu benar bukan? Siapa yang rela kehilangan anak kandung? Aku hanyalah anak adopsi! Jika aku pergi, setidaknya aku bisa mengurangi beban dan tanggung jawab kalian!" teriak Hazal dengan lantang.
Mati hati Hazal sudah mulai gelap, ia tidak bisa berpikir dengan logikanya. Rasa bersalahnya atas kematian Kenan kian hari semakin membesar.
"Apa kau mau bunuh diri? Silahkan! Lakukan sekarang di depan kami! Iris pergelangan tanganmu!" seru Yafet seakan menantang Hazal.
"Yafet!" pekik Emir yang tidak mengerti jalan pikiran kedua anaknya. Pria paruh baya itu benar-benar takut kehilangan Hazal. Mata tua itu tampak memerah.
Tapi Yafet tak menggubris perkataan Ayahnya. Ia terus menyorot tajam wajah Hazal, tapi tatapan matanya penuh dengan kelembutan.
Mendengar perkataan Yafet membuat hati Hazal semakin tertantang untuk melakukan perbuatannya. Ia semakin menekan pisau buah itu. Terlihat garis merah di pergelangan tangannya dan cairan merah itu mulai keluar.
"Hazal!" teriak Emir dengan keras. Pria paruh baya itu akan menghampiri putrinya tapi di cegah oleh Yafet.
"Kau lihat ini, Hazal!" seru Yafet yang menunjuk wajah ayahnya. Dengan cepat ia memegang salah satu tangan Hazal yang memegang pisau.
"Lakukan rencana mu! Kau lihat siapa yang paling bersedih? Ayah dan Ibu! Kau akan membuat mereka terjun ke dunia orang mati lebih cepat dari yang seharusnya!" Teriakan Yafet sedikit membuat Hazal melonggarkan pisaunya. Ia memandang orang tua angkatnya dengan pilu.
"Mereka rela mengorbankan anak kandung mereka untuk kebahagiaanmu! Kau tahu itu sejak kita masih kecil!" seru Yafet dengan penekanan. Ia mencoba menjauhkan tangan kanan Hazal dari pergelangan tangan kirinya.
"Kau pikir dengan kau bunuh diri, masalah selesai? Siapa yang tertawa atas kematianmu? Si k*parat Harun itu yang akan menertawakanmu! Begitu mudahnya melenyapkan putri Erkan! Tanpa perlu ia turun tangan sendiri!" pekik Yafet sambil menurunkan tangan kanan Hazal yang masih memegang pisau.
Perkataan Yafet yang bertubi-tubi membuat Hazal tersadar. Ia menjatuhkan pisau buah itu ke lantai. Yafet langsung memeluk Hazal dengan erat.
Kau menyadarkan ku waktu itu. Dengan cara yang sama aku akan menyadarkan mu dari kesalahan yang akan kau perbuat.
"Menangislah sepuas mu, aku di sini. Aku akan memberikan pundakku untuk menampung setiap air matamu," ucap Yafet dengan lembut sambil mengusap punggung Hazal naik turun.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak akan pernah, Hazal," bisik Yafet di telinga Hazal.
"Kau bohong!" jerit Hazal yang berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Yafet.
"Kau pasti sama seperti Kenan! Ia juga mengatakan hal itu padaku. Tapi dia memilih pergi!" teriak Hazal dengan manik matanya yang memerah menatap wajah Yafet.
"Aku tidak akan memilih cara Kenan," ucap Yafet yang memegang kedua pipi Hazal dan mengusapnya dengan lembut.
Hazal memicingkan kedua manik matanya menatap wajah Yafet. Ia tidak mengerti.
"Aku akan membunuh Harun," jawab Yafet yang melihat ekspresi wajah Hazal penuh tanda tanya.
"Tapi kau akan di penjara, masa depanmu akan hancur. Aku tidak akan rela, kau menghancurkan dirimu demi aku," ucap Hazal sambil menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik aku di penjara, tapi aku masih bisa melihatmu tersenyum. Aku masih bisa menunggu mu beberapa tahun lagi, sampai aku bebas. Jika aku mati, siapa yang akan menjadi sandaranmu? Siapa yang akan menopang dirimu di saat kau tidak kuat untuk berdiri sendiri? Kau akan menjadi seperti ini."
Perkataan Yafet seperti tamparan keras di pipi Hazal yang mampu menyadarkannya untuk keluar dari jurang keputusasaan. Pria itu seakan menarik tangan Hazal dari lautan rasa bersalah yang menghantuinya.
"Maafkan aku," isak Hazal sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Yafet.
Yafet mengangkat dagu Hazal, ia mengusap cairan bening itu. Kemudian menggandeng tangan Hazal dan membawanya menghadap ayah dan ibu mereka. "Minta maaf lah pada Ayah dan Ibu."
"Maafkan perkataan ku...," isak Hazal dihadapan orang tua angkatnya. Emir dan Meral langsung memeluk Hazal bersamaan.
"Jangan tinggalkan kami, Hazal." Meral meneteskan air matanya.
"Lakukan pesan terakhir Kenan. Tetap jalani hidupmu dan hukum Harun. Hanya kau yang bisa menghukumnya, bukan jaksa lain," pesan Emir kepada Hazal.
Hazal menghela napasnya dan menganggukkan kepalanya di hadapan Emir. Pria paruh baya itu memeluk putri kesayangannya dan mencium puncak rambut Hazal.
"Buat Erkan dan Ayla bangga padamu. Jangan kecewakan mereka," bisik Emir tepat di telinga Hazal.
__ADS_1
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏