DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Tantangan Emir Aksal


__ADS_3

Di rumah kediaman keluarga Aksal...


Malam ini ....Meral menapaki satu per satu anak tangga yang ada di rumahnya. Hampir satu bulan ini lantai atas di rumah nya tidak berpenghuni, sejak anak-anak nya pergi ke New York.


Istri Emir Aksal ini sudah berada di depan kamar Yafet, dibukanya pintu kamar putra lelakinya itu. Ia pun melangkah masuk dan duduk di atas tepi tempat tidur. Tangannya mengambil sebuah pigura kecil yang berisi foto Yafet, "Kapan kau akan pulang, nak. Ibu sangat merindukan mu. Kembalilah ke rumah ini," kata Meral yang berbicara kepada foto Yafet yang ada di depan nya. Air matanya mengalir perlahan, membasahi kaca pigura yang ada di genggaman tangan nya.


Wanita berusia 50 tahun ini termenung, ingatan nya kembali ke masa lalu. Mengingat bagaimana dulu, Yafet kecil menangis dan berteriak memanggilnya karena ia dan suaminya dengan terpaksa memasukkan Yafet ke sekolah asrama. Awal mula perpisahan seorang ibu dengan anak kandungnya.


Tanpa di sadari oleh Meral, suaminya sudah berada di ambang pintu kamar Yafet.


"Kau sangat merindukan putramu?" tanya Emir. Suara suaminya itu mengejutkan nya, sejak kapan suaminya ada di sini.


Meral menghapus cairan bening yang ada di pelupuk matanya. "Sejak kapan kau ada di sini? Bukankah kau bilang malam ini ada meeting di hotel?" tanya Meral yang langsung berdiri dan meletakkan kembali bingkai pigura foto Yafet.


"Meeting di batalkan. Aku baru saja pulang, dan aku mencari mu di kamar dan ruangan lain di bawah, tapi kau tidak ada. Kata pelayan kau sedang berada di lantai atas." ujar Emir yang menghampiri Meral, memeluk istrinya itu dan mengajaknya duduk kembali di atas tempat tidur.


"Jika kau merindukan putramu, segera hubungi dia, dan minta dia untuk segera cepat pulang ke Turki." ucap Emir sambil memeluk bahu Meral dan memberikan ponsel nya kepada istrinya.


"Tapi...bukankah dia masih menemani Hazal di New York? Tunggulah sampai beberapa Minggu lagi, aku akan menyuruh nya pulang." sahut Meral.


Emir menggelengkan kepalanya, "Tidak sayang, ini sudah hampir satu bulan. Aku rasa itu waktu yang cukup untuk Hazal beradaptasi di New York. Jangan biarkan mereka berdua terlalu lama di sana, karena bisa saja sesuatu terjadi pada mereka."


Meral mengerti maksud suaminya. Kekhawatiran Emir memang beralasan, sejak kedua anak nya itu tumbuh dewasa, dan mereka kembali bertemu setelah dua belas tahun berpisah, sikap kedua anaknya sudah berubah, sudah tidak ada lagi kebencian dalam diri mereka. Kedua anaknya terlihat sangat akrab dan saling membutuhkan satu sama lain. Tidak menutup kemungkinan jika dua anak muda berbeda jenis itu tinggal dalam satu atap, tanpa orang tua...perasaan cinta bisa datang kapan saja. "Baiklah...aku akan menghubungi Yafet."


"Lakukan panggilan video saja...aku juga ingin melihat keadaan mereka di sana." kata Emir kepada istri cantiknya dan mengusap puncak kepala Meral.


Di New York..... pukul 11 siang.


Yafet sedang berada di sebuah restoran cepat saji, ia sedang bekerja paruh waktu di restoran tersebut, sambil mengisi waktu luang nya jika Hazal sedang kuliah.

__ADS_1


Yafet bekerja di restoran itu mulai dari pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore. Ini adalah hal yang baru baginya, putra Emir itu ingin merasakan bagaimana mencari uang sendiri dengan bekerja. Sebelum ia memimpin perusahaan Ayahnya kelak.


Tangan kanan nya membawa selembar kain kecil berbentuk persegi berwarna putih dan tangan kirinya memegang sebuah botol semprot yang berisi sabun pembersih meja. Yafet mulai membersihkan setiap meja yang kotor di restoran tersebut. Setelah ia membersihkan tiga meja yang kotor, Yafet berjalan menuju ke ruang kebersihan untuk mengembalikan alat-alat kebersihan itu ke tempatnya semula.


Tiba-tiba ponsel di saku celana nya berbunyi. Sebuah video panggilan dari Ayahnya. Dia pun berjalan menuju pintu belakang restoran cepat saji tersebut dan membuka ponselnya.


"Hai...Ayah. Hai....Ibu," sapa Yafet yang melihat ayah dan ibu nya di dalam ponselnya.


"Kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Meral keheranan yang melihat seragam kerja Yafet.


"Sambil menunggu Hazal kuliah, aku bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji." jelas Yafet yang melepas topi nya yang berwarna hitam.


"Oh....itu bagus, nak !!" seru Emir kepada putranya.


"Bagaimana bisa kau bekerja sebagai pelayan di sana? Cepatlah pulang ke Turki, ibu tidak akan membiarkan mu bekerja seperti itu." seru Meral.


Ayah dan Ibunya masih sibuk berdebat tentang pekerjaan paruh waktu Yafet di New York. Akhirnya Yafet berteriak memanggil nama Ayah dan Ibunya.


"Ayah...Ibu...sudah !! Ibu tidak perlu khawatir tentang pekerjaan paruh waktu ku ini. Aku hanya mengisi waktu luang ku saja dan ini juga tidak akan berlangsung lama. Ada apa kalian menelepon ku?" tanya Yafet setelah ia meyakinkan Ibu nya.


"Yafet, kapan kau akan pulang ke Turki? Ibu mu sangat merindukan mu. Ayah akan memesankan tiket penerbangan untuk mu Minggu depan," seru Emir yang sedang memeluk bahu istrinya.


"Ayah....aku tidak bisa pulang Minggu depan." tolak Yafet.


"Sampai kapan kau akan di New York?" tanya Emir.


"Setelah aku bisa meninggalkan Hazal dengan tenang di sini." ujar Yafet yang membuat orang tuanya semakin bertanya-tanya.


"Apa maksud perkataan mu? Apa di sana ada yang berbuat jahat pada Hazal ?" tanya Meral.

__ADS_1


"Ayah....Ibu. Aku dan Hazal sedang berusaha mencari identitas pembunuh Paman Erkan dan Bibi Ayla. Ada seorang agen FBI yang membantu kami. Setelah aku mendapat kabar dari nya, dan Hazal merasa aman di sini, aku akan pulang." jelas Yafet.


"Kau jangan becanda putra Emir? Agen FBI? Ayah tak percaya dengan lelucon mu itu. Cepat pulang ke Turki atau Ayah dan Ibu yang akan menjemputmu !!" seru dan cemoohan Emir Aksal.


"Jika Ayah tak percaya dengan apa yang aku katakan, Ayah bisa bertanya pada Hazal." seru Yafet yang kehabisan kata-kata untuk menolak keinginan orang tuanya.


"Bukan Ayah tidak mempercayai perkataan mu. Apa kau pikir mudah menemukan pembunuh itu dalam waktu dekat? Sedangkan pengacara Alfred yang sudah senior, selama dua belas tahun dia mencari pembunuh itu, tapi apa hasilnya ? Nol !!" ucap Emir dengan penekanan.


"Ayah....berikan aku waktu dua Minggu lagi untuk menyelesaikan semuanya di sini. Aku janji, setelah itu aku akan pulang ke Turki." pinta Yafet.


"Baiklah....tepati janjimu, anak muda !!" tantang Emir, Ayahnya.


Mereka menutup panggilan video tersebut. Emir dan Meral masih terpaku memandangi ponsel yang ada di genggaman tangan Meral, pikiran orang tua Yafet itu di penuhi dengan segudang pertanyaan yang mereka tidak tahu apa jawabannya.


❤️ Bersambung ❤️


Maafkan Author yang upload nya agak lama 😉


Setelah baca novel ini, jangan lupa kasih...


🤗 Like


🤗 Rate


🤗 Vote dan


🤗 Komentar kalian yah 😘


Terimakasih 🙏🤗😘

__ADS_1


__ADS_2