DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Ambil Hasil Panenku


__ADS_3

Setelah berdebat dengan ayahnya, Kenan segera naik ke kamarnya. Jam dinding di kamarnya hampir mendekati jam masuk kantor, dengan tergesa-gesa ia membersihkan dirinya di kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


Diambilnya pakaian kerjanya dan dasi seadanya yang ada di lemari pakaiannya. Meskipun sebagai Presiden Direktur di perusahaannya, ia tetap tidak ingin terlambat datang ke kantornya sendiri.


Kenan melihat penampilan dirinya sendiri yang masih acak-acakan, tapi dia tidak punya banyak waktu untuk merapikan dirinya. Dia hanya menyemprotkan parfum maskulin di lehernya kemudian bergegas menuju garasi.


"Halo Tuan Kenan, semoga hari Tuan menyenangkan," sapa Mert yang melihat Kenan masuk ke dalam garasi dengan tergesa-gesa. Pemuda itu sedang melakukan kegiatan pertama nya di rumah keluarga Fallay yaitu mencuci mobil milik Harun.


"Kau juga, Mert," balas Kenan. Ia membuka pintu mobilnya, kemudian dinyalakannya mesin penggerak roda empatnya.


Ia sedikit tertawa melihat busa sabun itu sudah hampir memenuhi tubuh Mert. "Kurasa sebentar lagi kau akan berubah menjadi monster busa!"


Mert melihat dirinya sendiri, hampir seluruh pakaian depannya tertutup dengan busa sabun. Pemuda itu segera menyiram tubuhnya sendiri, percikan-percikan air yang keluar dari selang berwarna biru itu sukses membuat tubuhnya menggigil kedinginan pagi ini.


Kenan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Mert. Menurutnya pemuda itu tampak sangat konyol. Ia segera melajukan kendaraannya dengan cepat menuju kantornya.


Suara pintu lift terdengar di seluruh lantai delapan, pintu lift itu terbuka lebar. Kenan melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya. Tapi pagi ini ia tidak melihat Hazal berada di mejanya. Tas wanita itu juga tidak ada.


Apa dia belum datang? Jangan-jangan dia sakit...


Kenan melihat jam tangannya, ia sudah terlambat lima belas menit. Tapi sekretaris nya itu lebih terlambat lagi.


Baru semalam aku menyatakan cintaku padanya, sekarang dia malah berbuat seenaknya di kantor ini. Aku akan menghukumnya, jika dia datang nanti!


Tangan kanannya mengambil ponselnya hendak menghubungi sekretarisnya itu, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk membuka pintu ruangannya. Tidak ada siapa-siapa di dalam. Ia melihat ruangannya itu sudah terlihat rapi dan bersih.


Ia mendekati meja kerjanya, dilihatnya secangkir kopi buatan Hazal dan tiga keping biskuit tertata di atas piring kecil bermotif bunga. Di depan cangkir putih itu bersandar sebuah kertas kecil, tulisan tangan Hazal.


Selamat pagi ❤️


Aku pergi dulu untuk memperbaiki mobilku


Sebentar lagi aku akan kembali...

__ADS_1


Hazal


Kenan tersenyum tipis setelah membaca surat kecil dari Hazal, ia menyesap kopi hitamnya itu dan menghirup aromanya. Seakan kehadiran Hazal ada di dalam ruangannya. Ia membuka laptopnya dan mulai melakukan pekerjaannya.


Kau benar-benar telah meracuni setiap pikiranku...


Hampir satu jam waktu berlalu, Kenan menghentikan pekerjaannya, ia menyandarkan dirinya di sandaran kursi kerjanya. Di hembuskan napasnya dalam-dalam dan di usapnya wajahnya dengan keras. Ia berdiri dan membuka pintu ruangannya. Hazal belum juga datang.


Wajahnya mulai terlihat cemas, "Apa aku harus menunggu nya atau mencarinya?" gumamnya sambil keluar masuk ruangan nya secara bergantian. Ia berdiri sambil berkacak pinggang. Hari ini ia belum melihat Hazal sama sekali, ia sangat merindukan kekasih itu.


"Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi!" Kenan mengambil ponselnya kemudian menghubungi Hazal. Nada sambungnya berbunyi beberapa kali. Ia kembali teringat perkataan Mehmet yang mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin mencelakai wanita itu.


Berkali-kali ia menghubungi Hazal, tetapi wanita itu tidak menjawab panggilan ponselnya. Dengan cemas ia berjalan menuju lift. Pintu lift itu pun terbuka, dilihatnya Hazal yang berdiri di dalam lift. Pandangan mereka saling beradu dalam beberapa detik.


Kenan segera berlari masuk ke dalam lift dan merengkuh Hazal dalam pelukannya. Kejadian itu sangat cepat, membuat Hazal nampak terkejut.


"Kenan," ucap Hazal lirih. Tanpa menoleh ke belakang, tangan Kenan menekan tombol lift pause. Lift itu berhenti di lantai delapan dengan keadaan pintu yang masih terbuka, hanya untuk menunggu mereka selesai berpelukan.


"Syukurlah kau sudah kembali," ucap Kenan yang masih memeluk tubuh kekasihnya itu.


Hazal membalas pelukan Kenan dengan erat. Pria itupun segera menggandeng tangan Hazal untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Apa mesin mobilmu ada yang rusak?" tanya Kenan sambil menutup pintu ruangannya.


"Hanya ganti oli dan kampas rem nya saja. Aku terpaksa meninggalkan mobilku di sana, karena mereka belum selesai memperbaiki," jelas Hazal sambil bersandar di depan meja Kenan.


"Mulai hari ini, aku akan mengantar jemput mu." Kenan berjalan dan menghampiri Hazal. Tapi wanita itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku sudah terbiasa menyetir sendiri, kemudian tiba-tiba aku harus bergantung ...." Jari telunjuk Kenan menutup bibir merah Hazal, membuatnya menghentikan ucapannya. Manik mata coklatnya menatap Kenan dengan penuh ekspresi.


"Ini semua untuk kebaikanmu, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu," jelas Kenan sambil memegang kedua tangan Hazal.


Jika sesuatu terjadi padaku, itu adalah ulah ayahmu...

__ADS_1


Hazal hanya bisa menggigit bibirnya kemudian tersenyum menanggapi perkataan Kenan. "Baiklah, jika itu mau mu."


Kenan melepaskan tangannya dari tangan Hazal, kemudian ia berjalan hendak mengambil buku agenda dan penanya. "Karena kau sudah datang, aku akan pergi ke pabrik untuk melihat hasil produksi di sana."


"Tunggu...!" Hazal menarik lengan Kenan, membuat pria itu kembali mendekat kepadanya.


"Ada apa?" Kenan menaikkan kedua alisnya menatap Hazal.


"Apa kau tadi bangun kesiangan? Lihatlah penampilan mu yang kacau. Bagaimana jika orang-orang di pabrik membicarakan mu?" tutur Hazal sambil membetulkan letak kancing kemeja Kenan yang tidak sesuai lubangnya. Ia membuka kembali kancing tersebut, membuat dada bidang pria itu sedikit terlihat. Kemudian memasukkannya kembali ke lubang kancing sesuai pasangannya.


Jari tangannya membuka kembali dasi berwarna biru yang melingkar di leher Kenan, memasangkannya kembali, dan membuatnya menjadi lebih rapi.


"Selesai...!" suara Hazal terdengar bersemangat, melihat hasil karyanya melekat di tubuh Kenan.


Putra Harun itu tersenyum menawan, ia kemudian mencium kening Hazal dengan lembut. "Aku pergi dulu."


Setelah kepergian Kenan, Hazal mulai membuka komputernya. Ia mulai membaca file-file yang beberapa hari lalu ia ambil dari laptop Kenan. Ia hanya menemukan berkas-berkas kontrak kerjasama perusahaan Fallay dengan perusahaan lain. Tidak ada yang mencuri perhatiannya.


Kemudian ia membuka beberapa galeri foto yang ada di file tersebut. Beberapa foto Kenan sewaktu pria itu masih kecil. Dari beberapa foto yang ada, Kenan lebih banyak berfoto dengan ibunya.


Kelihatannya kau sangat menyayangi ibumu, wajahmu pun mirip dengannya. Tapi buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kau adalah anak Harun, sedikit banyak sifat Harun akan menurun padamu.


Setelah Hazal selesai dengan pencariannya, kini ia kembali mengerjakan pekerjaan kantornya. Mulai menyusun berkas-berkas yang akan di gunakan Kenan untuk rapat dengan beberapa kliennya.


Jari tangannya tampak menari-nari dengan sangat lincah di atas keyboard. Ponselnya tiba-tiba berbunyi, Hazal melihat nama Mert tertera di layar ponselnya. Segera ia menjawab panggilan Mert.


"Halo...." Hazal menyandarkan dirinya di punggung kursi kerjanya.


"Kacang tanah ku sudah tumbuh, malam ini aku hendak memanennya. Jika kau ada waktu, datanglah kemari. Ambil hasil panen ku." Suara Mert terdengar berbisik di belakang ponsel Hazal.


"Secepatnya aku akan mengambil hasil panen mu," jawab Hazal. Ia kemudian mematikan ponselnya, senyumnya mengembang memandang sebuah taman bunga tulip yang tergambar di kalender duduknya.


"Hasil panen siapa yang kau maksud?" Suara Kenan tiba-tiba terdengar.

__ADS_1


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya... Terimakasih 🤗


__ADS_2