
Keesokan harinya...
Udara musim dingin sudah mulai berkurang, bongkahan dan hamparan es sudah mulai mencair di setiap tanah di Istanbul. Pepohonan dan atap rumah sudah mulai menampakkan wajah mereka. Pertanda musim semi akan segera di mulai.
Mert yang sudah bangun sejak subuh tadi, mulai menyiapkan barang-barangnya. Ia sudah tidak sabar dengan pekerjaan barunya yang kelihatannya penuh dengan tantangan dan menarik. Ini adalah tantangan kedua dalam hidupnya, tantangan pertama adalah saat untuk pertama kalinya ia mencuri di sebuah rumah mewah yang berakhir dengan tertangkapnya dirinya.
Teman almarhum Ted Baxter itu tengah menatap dirinya di depan cermin, ia memasukkan kalung pemberian Hazal di dalam kaus hitamnya. Diambilnya sebuah sisir yang ia bawa dari penjara. Ia mulai merapikan dan menyisir rambut coklatnya yang sudah terlihat menyentuh belakang lehernya.
"Hidup baru ku akan segera di mulai!" serunya di depan cermin yang berbentuk persegi panjang.
Mert terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya, sambil menunggu Yafet yang akan menjemput nya. Sebuah pesan singkat yang baru saja di kirim oleh Hazal.
~ Hazal ~
Tunggulah di lobi, jemputan akan segera datang. Mobil sport hitam.
Ia membaca tulisan Hazal yang cukup padat, singkat dan jelas. Tangannya sedang sibuk membalas pesan Hazal. Ditentengnya sebuah tas yang berisi pakaiannya. Tidak terlalu banyak, karena selama ini ia lebih banyak menggunakan seragam tahanan di hotel prodeo itu.
Pagi ini di rumah keluarga Aksal, seperti biasa mereka semua selalu berkumpul di meja makan. Menyantap sarapan pagi mereka yang telah di buat oleh juru masak keluarga. Tak ada pembicaraan di ruang makan tersebut, hanya terdengar suara goresan pisau pada piring mereka.
Emir membuka surat kabar hari ini, ia menyeruput kopi hitam buatan istri tercintanya. Membaca berita tentang malam penobatan Yafet, terlihat foto Yafet sambil memegang trophy terpampang di halaman pertama surat kabar tersebut.
"Selamat atas keberhasilan mu, nak," ucap Emir kepada Yafet sambil melipat kembali surat kabarnya dan meletakkan di atas meja. Kemudian ia menghampiri anak lelakinya itu.
"Kau sudah membawa perusahaan Aksal menjadi seperti ini, Ayah bangga padamu." Emir menepuk pundak anak kandungnya.
Hati Yafet sedikit bergetar, mendengar ayahnya memuji dirinya. Pujian yang sangat jarang ia dengar sejak dirinya masih kecil. Selain ayahnya, seluruh anggota keluarganya juga memberikan ucapan selamat kepada dirinya.
Ketika Hazal memberikan ucapan selamat untuk Yafet, ia memeluk kakak angkatnya itu. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Yafet. "Cepat jemput Mert."
Hampir saja pria itu lupa akan tugasnya hari ini. Ia selalu kalah satu langkah dari Hazal, jika soal daya ingat. Daya ingat dirinya termasuk dalam kategori lemah. Berbeda dengan Hazal, wanita itu mempunyai daya ingat dan pendengaran yang cukup tajam. Entah mungkin karena efek kecelakaan atau trauma yang Hazal alami sejak kecil.
Yafet segera melajukan kendaraannya dengan cepat menuju Hotel AKSAL. Ini masih terlalu pagi untuk masuk kantor. Lima belas menit kemudian, mobil sport hitam itu sudah memasuki halaman depan lobi hotel. Sepasang mata elangnya melihat sosok Mert yang sedang duduk di kursi lobi sambil memainkan ponselnya.
Putra Emir itu membunyikan klakson mobil nya, Mert melihat sebuah mobil sport hitam yang ada di depannya. Ia pun segera bangkit berdiri dan menghampiri mobil tersebut.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Yafet setelah Mert sudah duduk di atas kursi nya.
"Baik, aku sangat bersemangat hari ini!" seru Mert dengan sangat antusias. Tangannya sedang sibuk memasang sabuk pengamannya.
"Apa kau sudah siap?" Yafet memasang kacamata hitamnya di daun telinganya.
"Ya...!" seru Mert dengan antusias nya.
"Dimana rumah Harun Fallay?" tanya Yafet di balik setir kemudinya. Mert segera memberikan ponselnya, membuka sebuah peta digital yang di kirim oleh Hazal semalam.
__ADS_1
Yafet segera melajukan kendaraannya menuju lokasi yang dimaksud.
"Oh iya, aku belum tahu namamu?" tanya Mert.
"Yafet Aksal. Kau?" Yafet mengarahkan sedikit wajahnya untuk melihat pemuda itu. Usia mereka hampir terpaut delapan atau sembilan tahun.
"Mert Vidinli," ucap pemuda itu sambil tersenyum tipis.
Yafet menurunkan kecepatan mobilnya, saat ini ia sedang mencari nomor rumah Harun. Ia pun menghentikan kendaraannya itu di seberang rumah mewah itu. Mert melihat dari dalam mobil, pekarangan rumah Harun yang cukup besar. Deretan rumah mewah ada di lingkungan ini.
"Aku dan Hazal tidak bisa menjamin keselamatan mu di dalam rumah itu. Jadi kau sendiri yang harus menjaga keselamatan mu," pesan Yafet kepada Mert, sebelum pemuda itu turun dari mobilnya. Mert menganggukkan kepalanya, ia sudah mengerti resiko apa yang akan ia hadapi.
Yafet segera menutup kaca jendela mobilnya, ia masih menunggu sampai Mert masuk ke dalam rumah itu. Tak perlu menunggu lama, tampak seorang penjaga rumah dan Kenan keluar dari rumah memyambut kedatangan Mert. Ia segera melajukan kendaraannya untuk menuju hotel AKSAL kembali.
"Kau teman Hazal?" tanya Kenan kepada Mert. Putra Harun itu menyipitkan manik matanya, karena sinar matahari yang menerpa wajahnya.
"Ya. Kau... Kenan Fallay?" Mert mencoba memastikan apa betul ia berbicara dengan orang yang benar, sesuai dengan petunjuk Hazal.
"Ya.. aku Kenan Fallay. Ini adalah rumah ayahku, Harun Fallay," ujar Kenan sambil mengulurkan tangannya ke arah Mert.
"Apa aku bisa langsung bekerja di sini?" Mert tampak mengerutkan kedua alisnya.
Kenan segera membawa Mert masuk ke dalam rumahnya. Rumah itu memang sangat mewah, perabotan kelas atas tersusun rapi di dalam rumah itu. Putra Harun itu membawa Mert ke ruang keluarga, nampak di dalam ruangan itu Harun tengah menikmati secangkir kopi Turki nya.
Harun mendongakkan wajahnya melihat Kenan yang datang bersama dengan seorang pemuda.
"Dia saudara temanku dari desa. Dia akan bekerja di rumah ini." Kenan duduk di sofa panjang, di dekat ayahnya.
Harun melihat penampilan Mert mulai dari atas hingga ke bawah, ia menganggukkan kepalanya. "Siapa namamu?"
"Mert Vidinli," jawab pemuda itu yang masih tetap berdiri di samping sofa Kenan.
"Mert...," ucap Harun yang mengulangi perkataan pemuda itu. "Keahlian apa yang kau miliki?"
"Teknik, mekanik, dan memasak," jawab Mert tanpa gugup sedikit pun, meskipun Harun menatapnya dengan tajam. Beberapa keahlian itu ia pelajari ketika dirinya berada di dalam penjara.
"Oke, bekerjalah di sini. Sekarang kau bisa mencuci mobilku." Harun melempar sebuah anak kunci ke arah Mert. Pemuda itu dengan tangkas menangkap kunci mobil tersebut.
Pandangan mata Harun sudah beralih ke arah Kenan. Tanpa kedua orang itu sadari, Mert telah menjatuhkan alat penyadap seukuran kacang tanah itu ke dalam lipatan sofa. Ia sudah mulai menjalankan tugasnya.
Kenan memanggil pelayan senior yang ada di rumahnya, untuk mengantar Mert ke dalam kamarnya.
Kamar Mert terletak di sisi belakang rumah, kebetulan mereka memberikan satu kamar untuk dirinya seorang diri. Ia meletakkan tas nya di atas lantai. Pemuda itu mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya, ia mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Hazal.
~ Hazal ~
__ADS_1
Aku sudah sampai, biji kacang pertama sudah ku tanam.
Setelah Hazal membalas pesan singkatnya, Mert segera menghapus semua isi pesan masuk yang ada di ponselnya. Segera ia berjalan menuju garasi dan mulai melakukan tugas pertamanya hari ini.
Kenan kembali masuk ke dalam ruang keluarganya, ia melihat ayahnya sedang membaca surat kabar hari ini.
"Kau sudah membaca berita hari ini?" tanya Harun di balik surat kabarnya.
"Pasti mereka membahas tentang penghargaan yang di terima oleh Yafet Aksal." Kenan mendudukkan dirinya di atas sofa sambil meluruskan kedua kakinya yang masih terbungkus dengan sepatu olahraga.
"Jika kau sejak dulu menuruti ayah untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Aksal, tentunya perusahaan kita akan mendapatkan lebih banyak keuntungan!" seru Harun sambil melipat surat kabar tersebut dan meletakkannya di atas meja.
"Aku tidak tertarik menjalin kerjasama dengan perusahaan Aksal, bidang usaha kami berbeda," ucap Kenan sambil mengambil surat kabar yang ada di depannya.
Harun terus menatap wajah Kenan yang sudah tertutup oleh surat kabar. Lelaki paruh baya itu mengusap dagunya yang sudah mulai di penuhi bulu-bulu tipis berwarna putih.
"Jika kau tidak tertarik dengan perusahaan Aksal, Ayah rasa pasti kau tertarik dengan putri mereka. Bukankah putri Aksal sekarang bekerja menjadi sekretaris mu?" Harun sedang berusaha memainkan rencana keduanya.
"Darimana Ayah tahu, bahwa sekretaris ku itu adalah putri Aksal? Bukankah waktu itu Hazal tidak mengatakan nama belakang keluarganya?" Kenan menurunkan surat kabar yang menutupi wajahnya dan menatap tajam wajah Ayahnya.
"Ya... Ayah pasti tahu. Siapa di Istanbul ini yang tidak tahu putri Aksal?" Harun tampak gugup ketika menjawab pertanyaan putranya itu.
Kenan terdiam memperhatikan raut wajah Ayahnya, yang mulai gugup dan sekarang berubah menjadi tenang.
"Bukankah Hazal Aksal itu seorang wanita yang cantik dan menarik? Jika Ayah jadi kau, Ayah akan mendekatinya. Wanita itu berasal dari keluarga terpandang, terhormat dan yang terpenting dia putri pemilik perusahaan Aksal!" seru Harun sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Mendengar perkataan Ayahnya, membuat Kenan tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau tertawa kan, hah?" wajah Harun terlihat serius, ia sedikit tersinggung karena anaknya itu berani menertawakan dirinya.
Kenan menggelengkan kepalanya, ia menatap tajam manik mata ayahnya, "Aku semakin curiga, Ayah sedang mengincar sesuatu yang ada di perusahaan Aksal!"
Putra Harun itu bangkit berdiri menghadap Ayahnya, "Aku memang tertarik dan mendekati putri Aksal itu, tapi bukan untuk mengincar perusahaannya! Tapi karena aku memang sangat mencintainya!"
Harun tertegun mendengar ucapan putranya itu, tetapi kemudian rubah tua itu tersenyum tipis. Ia mengambil secangkir kopinya kembali dan hendak menyeruput cairan hitam itu.
"Asal Ayah tahu, beberapa hari yang lalu ada seseorang yang ingin mencelakai Hazal. Seseorang telah merusak lift yang dinaiki oleh Hazal. Saat ini aku sedang mencari tahu siapa orang yang ingin mencelakai nya!" Wajah Kenan tampak menegang.
Deg...!
Perkataan Kenan membuat Harun tersedak kopinya sendiri. Pria paruh baya itu terbatuk-batuk dengan keras. Ia kemudian mengambil segelas air putih yang ada di mejanya.
"Aku tidak akan membiarkan satu orangpun mencelakai Hazal!" seru Kenan yang langsung pergi meninggalkan Harun yang sekali lagi tersedak setelah mendengarkan peringatan putranya itu untuk yang kedua kalinya.
Ada apa sebenarnya? ❤️ Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima, dan Vote kalian 😊 Terimakasih sudah mampir dan membaca Dangerous Love 🙏🤗