
Belum sempat Yafet meneruskan ucapannya, tiba-tiba Meral datang dan membuka pintu ruang ICU. Baru hari ini, Meral bisa melihat kondisi Hazal, setelah hasil tekanan darahnya menunjukkan angka normal. Yafet dan Emir memberikan kursi kosong untuk Meral duduk di samping ranjang Hazal, sedangkan kedua laki-laki itu pergi dan menunggu di luar ruang ICU.
Meral pun mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi kayu yang ada di samping ranjang Hazal, di genggamnya tangan halus putrinya itu. Meral memperhatikan cincin emas yang melingkar di jari manis Hazal kemudian dia berkata, "Cincin yang sangat indah. Begitu cantik bila kau yang memakainya. Apa cincin ini pemberian Yafet?"
Hazal tidak merespon apa-apa. Melihat hal itu, Meral semakin bersedih. Ia mencium punggung tangan Hazal. "Apa kau mendengar ibu, nak? Apa kau lupa jalan pulang kembali ke rumahmu? Apa dunia di sana sangat indah? Sehingga kau betah berlama-lama di sana," ucap Meral sambil meneteskan air matanya membasahi punggung tangan Hazal.
"Bangunlah putriku yang cantik. Bangunlah dari tidurmu yang panjang. Lihatlah pangeran mu, menunggumu siang dan malam. Membisikkan suatu harapannya padamu. Dia menantikan dirimu, nak. Pangeran mu sangat mencintaimu, ibu bisa merasakan hal itu. Ibu tahu perasaan cinta yang kalian rasakan itu sangatlah besar. Bangunlah putriku... bukan demi ibu mu yang sudah tua ini. Tapi demi Yafet, temuilah dia.... Hanya kau yang bisa memberikan dia kekuatan," isak Meral membasahi tangan dan wajah Hazal.
Ketika Meral mendekatkan tangan Hazal di pipinya, jari tangan Hazal yang lain mulai bergerak pelan. Jari telunjuknya bergerak. Meral mengusap kedua manik matanya yang berlinang air mata, "Apakah ini mimpi? Tangannya bergerak," kata Meral yang seolah tak percaya dengan penglihatannya.
"Hazal, apakah kau mendengar perkataan Ibu?" tanya Meral yang berbicara di depan telinga Hazal. Cairan kristal bening itu mengalir dari kelopak mata Hazal yang tertutup.
"Kau mendengar ibu, sayang?" isak Meral yang mengulangi kembali pertanyaannya. Hazal merespon perkataan Meral. Meskipun ia belum membuka kelopak matanya, tapi jari tangannya mulai bergerak , memberikan jawaban.
"Oh Tuhan, ini benar-benar mukjizat," teriak Meral menutup kedua telapak tangannya di depan mulutnya. Segera ibu angkat Hazal ini menekan tombol darurat yang ada di dekat ranjang Hazal, kemudian dia keluar memanggil suami dan putranya.
Belum sempat kedua laki-laki itu masuk ke kamar Hazal, tiba-tiba dokter dan dua orang suster datang dengan tergesa-gesa masuk ke dalam.
"Hazal...Dok, tangannya...," ucap Meral yang tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dokter dan suster tengah berada di samping Hazal.
"Ada apa dengan Hazal?" tanya Yafet dan Emir bersamaan mengguncang tubuh Meral. Kedua laki-laki itu takut kalau-kalau Hazal pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Meral mengatur nafasnya, ia mulai bisa mengendalikan dirinya. "Tangan Hazal bergerak, dia menangis dokter. Dia bisa mendengarkan suaraku," jelas Meral kepada semua orang.
Dokter segera memeriksa kondisi Hazal, membuka salah satu kelopak matanya dan menyinari manik mata coklat itu dengan senternya. Semua orang melihat jari tangan Hazal bergerak kembali, kali ini bukan hanya jari telunjuknya saja, tetapi dua jarinya terangkat ke atas.
Yafet yang dari tadi berdiri di dekat pintu, segera menerobos masuk dan berdiri di samping Hazal. Ia memegang telapak tangan Hazal.
"Hazal, ini aku Yafet. Aku tahu kau pasti mendengar suaraku. Bangunlah... kumohon jangan terus tidur seperti ini. Bangunlah...." Suara Yafet memberikan reaksi ke dalam diri Hazal.
"Teruslah berbicara padanya, lihatlah dia merespon perkataan mu," kata dokter yang berdiri di sisi yang lain dan melihat kelima jari Hazal mulai bergerak.
"Bangun Hazal... Buka matamu.... Apa kau tega melihat kami terus-menerus bersedih? Apakah kau tidak merindukan kedua bintangmu yang ada di langit di rumah kita?" Mata Yafet mulai berkaca-kaca, tapi ia menahan perasaannya agar air matanya tidak tumpah. Tetapi sekuat apapun Yafet menahan perasaanya, cairan kristal itu telah jatuh mengenai wajah Hazal. Bukan hanya satu kali tapi berkali-kali, tetesan air mata Yafet membasahi wajah Hazal.
Kedua kelopak mata yang sudah tertutup lama, mulai mengerjap-ngerjap. Kedua bulu mata yang lentik itu hendak bangun dari tidurnya yang panjang. Semua orang yang melihat hal itu menghela nafasnya yang panjang, bersyukur atas mukjizat yang terjadi hari ini. Manik mata coklat itu tampak malu-malu menunjukkan dirinya, kelopak mata itu hanya terbuka setengah.
Hampir semua jarinya bergerak, dengan suara serak Hazal berkata, "Air...air...."
__ADS_1
Dokter memerintahkan untuk memberi air minum untuk Hazal. Yafet segera mengambil segelas air putih yang ada di atas meja dan memberikannya kepada Hazal. Hampir segelas penuh, air putih itu masuk ke dalam tenggorokan Hazal.
Kini kelopak mata Hazal benar-benar terbuka lebar, manik mata coklat itu telah menunjukkan dirinya. Kedua bulu matanya yang lentik melambai naik turun. Dokter memeriksa kembali kondisi Hazal.
"Kau benar-benar sudah sadar, Hazal." Perkataan Dokter seakan memberikan angin surga untuk seluruh keluarga Aksal. Mereka tak henti-hentinya bersyukur untuk kesembuhan putri mereka.
"Aku akan memindahkan mu ke ruang kamar inap, kau harus menunggu beberapa hari lagi sampai aku bisa melepas perban di kepalamu," kata Dokter yang kemudian pergi meninggalkan ruang ICU.
Hazal hanya tersenyum kecil, tubuhnya masih terasa lemah untuk merespon sesuatu.
Hazal memandangi seluruh anggota keluarganya satu per satu. Meral dan Emir berdiri di sisi sebelah kiri, sedangkan Yafet berdiri di sisi sebelah kanan.
"Apa kau lupa pada kami, nak?" tanya Meral sambil memegang tangan Hazal yang masih terpasang jarum infus.
"Tentu saja aku masih ingat kalian. Ayah... Ibu... Yafet...," sapa Hazal pelan sambil melihat orang-orang baik yang selalu berada di dekatnya.
Di Kantor Polisi....
Sementara itu di kantor polisi, Ted Baxter sudah mendapatkan seorang pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum Turki. Dengan salah satu kaki dan daun telinga yang di perban, penjahat itu berjalan tertatih-tertatih di dampingi oleh seorang opsir Polisi menuju ke ruang interogasi.
Kapten Polisi pun memulai interogasinya. Mulai menanyakan tentang keberadaan Ted Baxter di malam terbunuhnya orang tua Hazal, penjahat itu tidak mengelak karena Kapten Polisi menunjukkan foto dirinya bersama dengan almarhum Max Walden di tempat lokasi kejadian.
"Apa yang kau lakukan di sana, Tuan Ted?" tanya Kapten Polisi yang hari ini memakai rompi seragam birunya.
"Aku hanya turis asing yang sedang berlibur. Itu saja," jawab Ted Baxter dengan ringan.
"Kau yakin dengan ucapan mu?" tanya Kapten Polisi dengan sedikit penekanan.
"Ya, tentu saja. Aku lupa telah melakukan aktivitas apa di Pegunungan Alpen. Lagipula itu sudah dua puluh tahun yang lalu," jelas Ted Baxter dengan sikap santainya yang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan kedua tangannya yang terborgol ke belakang.
Kapten Polisi meminta anak buahnya untuk menyalakan rekaman bukti pengakuan Ted Baxter yang di berikan oleh Yafet beberapa waktu yang lalu. "Kita lihat saja, apa kau akan mengelak dari semua ini," kata Kapten Polisi yang memandang ke arah Ted Baxter.
Bukti rekaman itu pun di putar di ruang interogasi, terdengar suara pengakuan Ted yang sedang mabuk dari speaker aktif yang ada di atas dinding ruangan itu.
"Nuran... !!" pekik Ted Baxter yang terkejut dan meneriaki nama istrinya. Wajah Ted Baxter tampak sangat pucat dan lututnya gemetar. Kini dosanya sudah mulai terkuak.
Kedua petugas polisi itu terus memperhatikan setiap gerak tubuh Ted Baxter. Kapten Polisi itu sangat yakin bahwa pria di depannya ini adalah pembunuh keluarga Danner. Tetapi barang bukti itu di bantah oleh sang pengacara.
__ADS_1
"Kau tidak bisa menggunakan rekaman ini, untuk menetapkan bahwa klien ku bersalah. Tidak ada satu katapun yang di ucapkan klienku, bahwa ia telah membunuh keluarga Danner !!" bantah sang pengacara sambil mengarahkan jari telunjuknya di depan hidung sang Kapten.
"Oh ya? Kenapa kau seyakin itu Tuan Pengacara?" umpan sang Kapten.
"Tentu saja, kau hanya punya satu alat bukti ini. Kasus ini tidak bisa berlanjut ke pengadilan, karena kurangnya alat bukti yang kau punya, Kapten. Kau tidak bisa menahan klienku lebih lama lagi. Aku minta kau segera membebaskan klienku dan segera menutup kasus ini !!" teriak sang pengacara sambil memerintah sang Kapten.
Kapten Polisi mengetukkan kedua jarinya di depan bibirnya untuk berpikir langkah selanjutnya. Terlihat ekspresi kemarahan di wajah pengacara Ted Baxter dan penjahat itu.
"Bagaimana jika ada saksi mata yang melihat kejadian itu? Aku akan mengajukan saksi utama ku," ucap sang Kapten dengan suara penekanan dan memajukan wajahnya di depan wajah kedua laki-laki yang duduk di depannya.
"Saksi mata?" tanya Ted dengan sedikit gugup. "Itu tidak mungkin !! Tidak ada seorang pun yang melihat kejadian ketika aku menembak nyonya dan putri Danner di sana !!" kelakar Ted Baxter yang keceplosan bicara.
Terdengar suara tepuk tangan membahana di ruang kedap suara itu. Sang Kapten merasa sangat gembira.
"Kau sudah membuat pengakuanmu sendiri, Tuan Ted Baxter," ucap sang Kapten dengan tawanya dan memerintahkan anak buahnya untuk segera mengamankan barang bukti dan pengakuan Ted Baxter.
Ted Baxter dan sang pengacara terbengong begitu mendengar perkataan Kapten Polisi.
"Oh ya... satu hal lagi, di ruangan ini terpasang CCTV yang telah merekam pengakuan mu tadi, Tuan Ted Baxter," kata sang Kapten yang segera pergi meninggalkan ruangan itu beserta dengan anak buahnya.
Sang pengacara pun geram, melihat kebodohan yang dilakukan oleh Ted. " Kau telah memakan umpannya, Tuan Ted. Tidak ada saksi mata yang bisa ia ajukan. Dengan pengakuan mu saja tanpa barang bukti, hakim bisa menjebloskan mu ke penjara !!" teriak sang pengacara yang kemudian meninggalkan Ted.
Ted Baxter tampak termenung dengan kedua tangannya memegang kedua jeruji besi. Ia teringat wajah nyonya Danner yang memohon belas kasihan padanya. Tetapi dengan tega ia membunuh wanita itu dan putrinya. Jika bukan karena hutang budinya pada Harun Fallay, ia tidak akan pernah sudi melakukan pekerjaan kotor yang di perintahkan oleh psikopat itu.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih buat kalian yang sudah membaca novel ku ini. Jangan lupa kasih tip ya buat Author, tip kalian bisa berupa...
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar dan
🤗 Vote kalian yah...
Karena makin banyak yang kasih tip, tambah bikin semangat Author untuk semakin berhalusinasi dan menyalurkannya ke dalam tulisan ini 😆🤗🤭
__ADS_1