
Setelah Kapten Ismail menangkap Harun, kepala polisi itu segera memborgol dan membawa ayah Kenan ke kantor polisi. Kerumunan wartawan mulai membidikkan lensa mereka ke pengusaha paruh baya itu.
Tatapan sinis, hujatan dan cemoohan keluar dari mulut setiap orang yang melihat kejadian itu. Mereka tak menyangka bahwa pengusaha yang terkenal dengan tulisan Autobiografi nya adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Bangkai busuk Harun mulai tercium dan tersebar luas. Tidak ada seorangpun yang bisa menutupi kebusukannya.
Sementara itu di tengah keramaian, Lee Hideaki segera mengajak istrinya untuk segera keluar dari gedung pernikahan.
"Kita akan kemana?" Carina berusaha menahan langkah suaminya. "Aku ingin menolong Hazal!"
"Masuklah!" seru Lee yang menyuruh istrinya untuk masuk ke sebuah taksi yang parkir di depan gedung pernikahan. Pasangan suami istri itu akhirnya masuk ke dalam taksi.
"Hotel Aksal!" seru Lee kepada sopir taksi tersebut. Pengemudi taksi itu segera melajukan kendaraannya menuju hotel bintang lima tersebut.
"Kenapa kita pulang ke hotel? Hazal pasti sangat sedih saat ini." Carina menepis tangan Lee yang sejak tadi memegang tangannya.
"Aku mau mencari si budak cinta itu! Entah dimana dia saat ini?" Lee mengarahkan pandangannya ke depan, melihat belasan mobil yang berjalan lambat di depannya.
"Maksudmu Yafet?" tanya Carina sambil menyipitkan pandangan matanya.
"Tentu saja! Ikut aku untuk menenangkannya!" seru Lee.
Di dalam gedung pernikahan, Hazal segera menghampiri Kenan dan menggenggam tangan suaminya, "Bertahanlah, kumohon. Jangan tinggalkan aku...."
"Tolong panggil ambulans!" jerit Hazal dengan panik kepada semua orang yang ada di dalam gedung.
"Masukkan Kenan ke mobil pengantin, kita akan membawanya sekarang ke rumah sakit!" seru Emir yang tidak sabar menunggu kedatangan mobil Ambulans.
Mehmet, Emir, dan paman Kenan serta beberapa orang laki-laki menggotong dan memasukkan tubuh Kenan yang berlumuran darah ke mobil pengantin. Hazal membuang mahkota, slayer dan sarung tangannya, dia tidak peduli hari ini adalah hari pernikahannya. Ia segera berlari mengikuti orang-orang yang membawa Kenan ke mobil yang sudah dihiasi oleh bunga hidup itu.
"Minggir! Biarkan aku masuk ke dalam!" teriak Hazal yang berusaha menerobos kumpulan orang-orang yang sedang melihat kekacauan yang terjadi. Ia ingin segera masuk ke dalam mobil pengantin.
Mobil pengantin itu langsung membawa Kenan dan Hazal ke rumah sakit terdekat. Hazal membaringkan Kenan di atas pangkuannya. Mereka saling berpegangan tangan.
"Kumohon jangan pergi, bertahanlah," isak tangis Hazal. Salah satu tangannya mengusap kening dan rambut hitam suaminya.
Kenan hanya menatap wajah Hazal sambil tersenyum. Ia hanya membuka bibir dan matanya, tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Ayo cepat! Suamiku sedang sekarat!" teriak Hazal kepada sopir mobil pengantin tersebut.
"Baik, Nyonya." Sopir itu berusaha mencari jalan untuk menghindari kemacetan.
Mobil pengantin itu melaju dengan kencang. Selama dalam perjalanan, bunyi klakson selalu terdengar hampir setiap menitnya.
Hotel AKSAL
Taksi yang membawa Lee dan Carina berhenti di depan lobi hotel. Pria Jepang itu menghubungi ponsel Yafet sambil berjalan masuk ke dalam hotel.
"Bagaimana?" tanya Carina dengan perasaan tak menentu. Lee hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah sayu. Akhirnya Carina berinisiatif menanyakan keberadaan pemilik hotel itu kepada petugas.
"Apa kau bisa bahasa Inggris?" tanya Carina kepada salah satu petugas resepsionis hotel.
"Ya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" jawab petugas resepsionis wanita kepada Carina.
"Boleh aku tahu di mana Yafet Aksal saat ini? Pemilik hotel ini." Carina memajukan tubuhnya hingga menempel di meja panjang yang terbuat dari batu granit.
"Apa Nyonya sudah ada janji sebelumnya?" tanya petugas wanita berambut pendek tersebut. Carina tampak sedang berpikir mencari alasan.
"Lee Hideaki ingin bertemu! Aku membawa berita penting untuk Yafet Aksal!" teriak Lee yang sudah berdiri di samping istrinya.
Petugas resepsionis itu menghubungi Nyonya Rachel yang ada di lantai lima belas. Tak lama kemudian petugas tersebut mengantar Lee dan Carina ke ruang kerja Yafet. Kedatangan suami istri itu di sambut Nyonya Rachel di depan pintu lift.
"Apa Anda ingin bertemu dengan Tuan Yafet?" tanya Nyonya Rachel dengan bahasa Turki.
Lee dan Carina saling memandang dan mengangkat kedua pundak mereka. Keduanya tidak mengerti bahasa Turki. Nyonya Rachel segera menyadari bahwa mereka bukanlah orang Turki.
"Maafkan saya Tuan dan Nyonya. Apa Anda ingin bertemu dengan Tuan Yafet?" Nyonya Rachel mengulangi pertanyaannya dalam bahasa Inggris.
"Ya," jawab Lee dengan singkat.
Nyonya Rachel segera berjalan di depan pasangan suami istri itu, dan berhenti di depan pintu yang tertutup.
"Tuan Yafet ada di dalam. Kata petugas keamanan, beliau ada di ruangan ini sejak semalam. Dari sejak tadi pagi saya belum melihatnya keluar," jelas Nyonya Rachel sambil menatap wajah Lee dan Carina secara bergantian dengan ekspresi wajah penuh kecemasan.
"Apakah Tuan dan Nyonya bisa membantu saya?" tanya Nyonya Rachel dengan sedikit memohon.
"Membantu apa?" Lee kembali bertanya. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Nyonya Rachel.
"Tuan Yafet tidak mengijinkan seorang pun untuk masuk ke dalam. Tapi... saya sangat khawatir, karena tidak biasanya beliau mengunci dirinya. Beliau bahkan belum pulang ke rumah atau sarapan sejak tadi pagi," ucap Nyonya Rachel yang melanjutkan ceritanya.
Lee hanya mengusap pucuk hidungnya begitu ia mendengar perkataan sekretaris paruh baya itu, kemudian ia berjalan mendekati pintu dan berusaha untuk membukanya tetapi gagal, pintu itu terkunci dari dalam.
"Kalian minggir!" seru Lee kepada Carina dan Nyonya Rachel. Kedua wanita itu memundurkan langkah mereka, menjauhi pintu tersebut. Dengan sekali tendangan Lee segera mendobrak pintu kayu itu.
Pintu ruang kerja itu terbuka. Bau minuman beralkohol segera menyeruak keluar menusuk hidung mereka. Ketiga orang itu segera masuk ke dalam. Pemandangan yang tidak pernah dilihat oleh Nyonya Rachel selama ia bekerja di perusahaan ini.
Tampak sebuah sofa tunggal terbalik dari posisinya. Beberapa botol minuman yang telah kosong berserakan di mana-mana. Pecahan kaca meja berserakan di lantai hanya tersisa kerangka besinya saja. Belum lagi hiasan dinding dan lampu hias itu sudah rusak dan tergeletak begitu saja di sofa panjang. Ditambah lagi barang-barang kecil lainnya yang tercecer di segala sudut ruangan. Mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat kekacauan yang terjadi.
Tiga pasang mata itu tengah mencari sosok laki-laki yang telah menghancurkan ruang kerjanya sendiri. Pandangan ketiga orang itu berhenti di sebuah kursi kerja yang membelakangi mereka.
__ADS_1
"Tuan Yafet!" seru Nyonya Rachel ketika ia memutar kursi kerja itu. Carina menutup mulutnya. Sementara Lee hanya berkacak pinggang, mendengus dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Yafet sedang terduduk di kursi kerjanya tak sadarkan diri karena pengaruh minuman keras yang terlalu banyak ia konsumsi semalam. Rambut, wajah dan pakaiannya tampak kacau saat ini.
"Ternyata hatimu tidak sekuat tubuhmu, sobat! Otakmu hanya bisa kau gunakan untuk berbisnis, tapi tidak dengan bercinta! Kau sungguh bodoh!" seru Lee yang segera maju mendekati Yafet.
Pria Jepang itu menepuk-nepuk kedua pipi Yafet. Tapi tidak ada reaksi.
"Ambilkan aku segelas air!" seru Lee kepada Nyonya Rachel.
Sekretaris Emir Aksal itu segera berjalan menuju pantri dan membawa segelas air putih. Ia memberikan gelas itu kepada Lee. Pria Jepang itu segera mengguyur wajah Yafet dengan air tersebut.
Yafet hanya mengerjap-ngerjap dan membuka kelopak matanya sedikit, kemudian pria itu mengerang karena efek alkohol yang dia minum. Kepalanya terasa sangat berat.
"Bangunlah! Apa kau hanya bisa menyelesaikan masalah dengan alkohol dan berkelahi?" teriak Lee sambil mencengkram leher baju Yafet dan menggoncang tubuh laki-laki itu.
Mulut Yafet merancau tak karuan, ia berada di ambang batas kesadaran dan ketidaksadarannya.
"Dimana toilet pria?" tanya Lee kepada Nyonya Rachel.
"Ikutlah denganku," ajak Nyonya Rachel. Lee segera menyeret tubuh kekar Yafet menuju toilet. Sedangkan Carina mengikuti mereka dari belakang.
"Apa yang akan kau lakukan, sayang?" tanya Carina kepada Lee. "Kau membawa Yafet seperti seekor binatang yang akan di sembelih."
"Ini caraku untuk menyadarkan budak cinta ini!" seru Lee.
Carina menghela napasnya, melihat suaminya yang berwatak keras itu mencoba menolong sahabatnya.
"Nyonya, bisakah Anda mencarikan pakaian ganti dan aspirin untuk Yafet?" tanya Lee kepada Nyonya Rachel ketika dirinya dan Yafet sudah masuk ke dalam kamar kecil tersebut.
"Baik, Tuan." Nyonya Rachel segera meninggalkan Lee dan Carina untuk mencari pakaian ganti untuk anak bosnya.
"Sayang, kau tunggu saja di luar." Lee tersenyum kepada Carina. Ia tidak ingin istrinya melihat tubuh telanjang Yafet.
Di dalam bilik air itu, Lee mendudukkan Yafet di atas kloset kemudian dia mengguyur laki-laki itu berulang kali. Hingga akhirnya pria Turki itu menggelepar bak seekor ikan yang jatuh ke lantai. Air dingin itu mampu menyadarkan Yafet dari efek samping alkoholnya.
Mata Yafet mengerjap-ngerjap melihat sosok yang di kenalnya sedang berdiri di depannya.
"Lee?" tanya Yafet dengan pandangan matanya yang masih kabur. "Ke... kenapa kau ada di sini? Dimana aku?"
"Kau di hotel mu sendiri. Kau mabuk semalam. Bangunlah! Bersihkan dirimu sekarang dan ikut denganku!" seru Lee dengan rahangnya yang mengeras.
"Kemana? Aku tidak ingin pergi kemanapun!" seru Yafet setengah berteriak.
Lee hanya menggelengkan kepalanya. Tanpa banyak bicara ia kembali mengguyur tubuh sahabatnya itu.
Lee memberikan waktu kepada sahabatnya itu untuk membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian, Nyonya Rachel sudah membawa pakaian ganti untuk Yafet dan satu strip aspirin.
Pria Jepang itu memberikan barang-barang itu kepada Yafet.
"Ikut denganku!" seru Lee setelah Yafet keluar dari toilet. Lee membawa Yafet ke ruang kerjanya.
"Nyalakan televisi mu!" perintah Lee kepada Yafet.
Layar kaca yang selamat dari amukan Yafet itu segera menayangkan berita pernikahan Kenan Fallay dan Hazal Aksal yang disertai dengan insiden penembakan. Yafet terkejut mendengar berita itu.
"Jadi...." Yafet menghentikan ucapannya, pikirannya tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Yafet memundurkan langkahnya menjauhi televisi yang masih menyala itu. "Hazal...," ucapnya dengan wajah kebingungan. Ia segera mencari kunci mobilnya dan lari keluar.
Lee dan Carina mengejar Yafet hingga mereka masuk ke dalam lift dan menuju tempat parkir.
"Berikan kunci mobilnya padaku! Aku akan mengantarmu ke rumah sakit!" seru Lee. Yafet segera melempar kunci mobilnya dan duduk di kursi samping kemudi.
Dengan petunjuk Yafet, Lee segera melajukan mobil sport itu menuju ke rumah sakit yang berada di dekat gedung pernikahan.
RUMAH SAKIT
Hazal berlari mengikuti brankar yang membawa Kenan ke ruang UGD. Ia tidak peduli dengan tatapan mata yang melihat dirinya dan baju pengantinnya yang sudah berlumuran darah. Sementara Emir, Meral dan Mehmet mengikuti Hazal dari belakang.
"Panggilkan dokter! Mana dokternya?" teriak Hazal sambil menangis melihat begitu banyak darah yang keluar dari perut Kenan.
Ia menggenggam erat tangan Kenan. Wajah Kenan terlihat sangat pucat dan kondisinya sangat lemah.
"Bertahanlah. Kumohon berjuanglah. Jangan pergi...," isak Hazal dengan lirih.
Air matanya mengalir tidak ada habisnya membasahi wajahnya yang memerah karena menahan kesedihannya.
"Dokter...!" jerit Hazal yang tidak melihat para tenaga medis itu akan menangani suaminya. Kenan mulai susah bernapas.
"Tunggu aku. A...aku akan akan mengambil pe... pelurunya sekarang. A...aku akan men... menjahit lagi pe...perutmu yang ter...tembak," isak Hazal yang panik. Ia hendak melangkah menjauhi brankar itu.
Kenan menahan tangan Hazal yang akan pergi mencari peralatan operasi.
"Ja...jangan pergi. Waktu ku ti...tidak banyak," ucap Kenan yang mulai susah berbicara.
Hazal menggenggam tangan Kenan dan meletakkannya di samping pipinya. Air matanya membasahi tangannya dan tangan Kenan.
__ADS_1
"Tidak, kau...kau pasti sembuh. Jangan banyak bicara."
"Ja...jangan ikut ber...samaku. Lanjut...kan hidup mu, sayang," ucap Kenan dengan sisa tenaganya.
Hazal menggelengkan kepalanya sambil memejamkan kedua kelopak matanya. Air matanya kembali mengalir.
"Tidak... aku tidak mau, Kenan. Aku tidak mau," isak Hazal dengan salah satu tangannya ia usapkan ke keningnya sendiri.
Kenan mengeluarkan sesuatu dari balik jas pengantinnya. Sebuah pena berwarna hitam dengan kombinasi garis emas. Ada sebuah tombol kecil di pinggir pena tersebut.
"Am... ambil pena...ku ini," ucap Kenan dengan napasnya yang mulia tersengal-sengal.
"Berhentilah... bicara. Simpan tenagamu," rengek Hazal yang tidak sanggup membuka kelopak matanya karena tertutup cairan kristal bening itu.
Hazal mengambil pena pemberian Kenan. Ia menekan tombol kecil itu, sedetik kemudian terdengar suara Harun yang sedang berbicara di gedung pernikahan setelah Kenan tertembak.
Ya, aku menyesal kenapa kau tidak ikut mati bersama dengan ayah dan ibumu! Tapi aku tidak pernah menyesal telah membunuh Erkan Danner dan Ayla! Mereka semua pantas mati! Termasuk kau!
"Ini... bukti yang kau inginkan. Hu...hukum ayahku se...sesuai dengan ke... kejahatan yang telah ia per...perbuat," ucap Kenan sambil menggenggam erat tangan Hazal yang sedang memegang pena penyadap itu.
"Kenan...," isak Hazal memanggil nama suaminya.
"Kau...kau ingat dengan per... pertanyaan mu se...sewaktu kita... berada di... kebun anggur?" tanya Kenan dengan air matanya yang mengalir.
Hazal hanya bisa memejamkan matanya dengan sangat dan menganggukkan kepalanya sambil menangis, ia meletakkan tangan Kenan di dadanya.
"Ini... ini adalah ja...jalan keluar yang aku pilih un... untukmu dan a... ayahku. Lan...lanjutkan hidupmu, sayang. Hu...hukum a... ayahku," pesan Kenan sambil mengusap air mata istrinya dan menyentuh wajah Hazal.
"Jangan menghukum ku seperti ini. Jangan hukum aku.... Aku tidak bisa.... Bukankah kau berjanji akan mengajak ku liburan musim panas ke pulau Bali? Bukankah kau ingin mengajakku bermain ski di Pengunungan Alpen? Kita belum melihat festival bunga tulip musim ini," isak Hazal yang menempelkan kepalanya di lengan Kenan.
"Ma...maafkan a...aku, sayang. Bisakah kau...kau mengabulkan per... permintaan terakhir ku?" tanya Kenan yang hampir tidak terdengar jelas suaranya.
"Katakan," ucap Hazal yang sudah tidak sanggup untuk menegakkan tubuhnya.
"A...aku ingin mendengar per... pernyataan... cin...cintamu sekali...lagi, sayang," mohon Kenan dengan suara berbisik.
"A...aku men... mencintaimu, istriku," bisik Kenan sambil tersenyum manis kepada Hazal.
"Aku mencintaimu, Kenan. Aku mencintaimu, suamiku," jerit Hazal sambil menangis dengan keras.
"Aku mencintaimu, sayang. Aku mencintaimu." Hazal masih meneruskan perkataannya.
Kenan segera memeluk Hazal dan mencium bibir merah istrinya dengan lembut. Hazal membalas pelukan Kenan dan ciuman bibir suaminya itu hingga lengan Kenan terlepas dari tubuh Hazal.
Lengan kekar itu jatuh terkulai dan bibir pucat itu sudah tidak memberikan responnya. Hazal segera melepaskan ciumannya dan melihat kedua mata Kenan yang sudah tertutup. Wajah pucat itu tersenyum penuh bahagia.
"Kenan....!" jerit Hazal. Suaranya bahkan terdengar hingga ke ujung lorong. Tangisannya kembali pecah.
"Bangun Kenan! Bangun! Buka matamu!" teriak Hazal sambil mengguncang tubuh suaminya.
"Kau pasti sembuh! Aku akan menjahit lukamu! Kenapa kau tertidur?" teriak Hazal yang masih terus mengguncang tubuh Kenan. Tetapi tubuh suaminya terbujur kaku tak berdaya.
Dokter dan suster kemudian datang tergopoh-gopoh ke ruangan Kenan. Tenaga medis itu hanya terdiam begitu melihat pasiennya sudah meninggal.
"Kemana saja kau, dokter? Aku berteriak memanggilmu! Hidupkan kembali suamiku!" teriak Hazal sambil mencengkram dan memukuli wajah dokter tersebut berulang kali.
Emir dan Meral segera menarik tangan Hazal agar menjauh dari sang dokter. "Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Hazal dengan berontak.
Meral segera memeluk Hazal dan mengusap punggung putrinya. ""Relakan dia, sayang."
Dokter memeriksa kondisi Kenan dan memastikan bahwa suami Hazal itu telah meninggal dunia. Para tenaga medis itu segera membawa tubuh Kenan ke ruang mayat untuk di bersihkan.
"Tidak...!" teriak Hazal yang melihat mereka membawa pergi tubuh Kenan.
"Jangan bawa Kenan! Jangan bawa dia pergi!" jerit Hazal yang segera melepaskan dirinya dari pelukan Meral.
Hazal berjalan sempoyongan dengan tatapan matanya yang kosong mengejar para tenaga medis itu membawa tubuh Kenan. Tanpa ia sadari, Yafet, Lee dan Carina mendengar dan melihat detik-detik terakhir kematian Kenan. Hazal hanya melalui mereka yang sedang berdiri mematung di luar ruang Kenan.
*Catatan Author*
Sebelumnya aku mohon maaf untuk seluruh penggemar berat Kenan. Dengan berat hati aku membuat tokoh kesayangan kalian meninggal dunia agar alur cerita ini tetap pada jalurnya.
Sebenarnya aku membuat tokoh Kenan itu hanya sebagai jembatan penghubung Hazal agar bisa menghukum Harun. Tapi semuanya di luar perkiraan ku...Kenan yang baru muncul di beberapa chapter terakhir itu mampu mencuri hati kalian.
Setiap aku membaca komentar kalian, banyak yang mencintai sosok Kenan dengan karakternya yang cool dan smart. Semuanya di luar ekspektasi ku. Tetapi karena jalan cerita sudah aku buat di awal, jadi sekali lagi aku sebagai Author mohon maaf kepada kalian 🙏 yang tidak bisa menyenangkan hati semua pembaca novel Dangerous Love ini.
Rencananya aku mau buat kisah kehidupan Kenan Fallay selanjutnya, tapi terpisah dari novel ini. Kalau kalian berminat hehehe 🤣
Terimakasih buat kalian yang sudah mendukung dengan like, komentar, rate bintang lima dan vote 🥰🙏
Novel ini belum tamat, tinggal persidangan Harun dan akhir cinta Hazal 😊
Saksikan kelanjutannya di bab berikutnya 😊
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1