DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Swiss Hari Kedua - Aku Akan Menjagamu


__ADS_3

Di malam yang gelap itu masih terjadi baku tembak antara Kenan Hazal dengan anak buah Harun. Anak buah Harun semakin bertambah banyak jumlahnya mengepung mereka.


Kenan berhasil mengambil senapan laras panjang dari salah satu anak buah ayahnya yang telah ia tembak. Ia memuntahkan semua amunisi itu ke pasukan ayahnya. Hazal menembak tangki bahan bakar mobil yang di pakai oleh anak buah Harun, membuat mobil Jeep hijau itu terbakar. Ledakan mobil itu menghanguskan belasan anak buah Harun yang berada di sekitar mobil.


Puluhan mayat bergelimpangan di sekitar rumah keluarga Fallay yang sudah menjadi reruntuhan. Mereka segera lari meninggalkan rumah itu, tetapi ada salah satu anak buah Harun yang masih hidup membidikkan senapannya ke arah Hazal.


Kenan yang melihat Hazal dalam bahaya segera menarik wanita itu ke belakang tubuhnya, alhasil peluru itu mengenai dirinya.


"Kenan...!" teriak Hazal yang melihat kekasihnya itu memegangi perutnya yang berdarah. Dengan cepat Hazal segera menembak anak buah Harun tersebut. Pria itu tewas seketika.


"Bertahanlah. Buka matamu, aku akan mengeluarkanmu dari sini," ucap Hazal sambil memegang perut Kenan. Cairan merah itu membasahi telapak tangan Kenan dan Hazal.


"Aku tak apa-apa. Ayo kita selesaikan semua ini," ucap Kenan sambil terus memegangi perutnya. Hazal mendudukkan Kenan di atas rumput, mereka bersembunyi di balik batu besar yang bisa menutupi tubuh mereka.


"Tidak, kita tidak bisa meneruskan semua ini. Kau terluka," ucap Hazal. "Sebaiknya kita mundur dan melarikan diri dari sini."


"Jangan. Aku masih kuat, peluru ini tidak akan membunuhku," ucap Kenan sambil memegang tangan Hazal. Napas Kenan sudah mulai naik turun.


Hazal menggelengkan kepalanya, manik matanya berkaca-kaca. Kenan menatap wajah kekasihnya itu, mengisyaratkan bahwa ia masih sanggup melawan anak buah ayahnya.


"Maafkan aku, Kenan. Aku tidak akan membiarkanmu melalukan hal itu," ucap Hazal sambil memapah tubuh Kenan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang senapan untuk berjaga-jaga.


Hazal melihat sebuah mobil tua yang terparkir di tepi jalan. Sementara di belakangnya ada beberapa anak buah Harun masih mengejarnya. Ia segera memasukkan Kenan ke dalam mobil, sementara dirinya menghalau anak buah Harun dengan tembakannya.


Putri Danner itu segera menjalankan mobil tuanya menjauhi lautan darah itu. Anak buah Harun terus mengejar mereka dengan menggunakan mobil lain.


Sambil menahan perutnya yang terluka, Kenan yang berada di kursi belakang membuka pintu mobilnya. Ia merusak pintu tersebut agar ia leluasa menembak mobil yang digunakan oleh anak buah ayahnya. Dalam posisi tidur ia menembak mobil yang ada di belakangnya. Tembakan terjadi di sepanjang jalan di Pegunungan Alpen.


Jalanan pegunungan itu berkelok-kelok, di sisi sebelah kiri terdapat jurang yang cukup dalam.


"Hazal, turunkan kecepatan mobilnya!" seru Kenan. Hazal menurunkannya menjadi 40 km/jam.


Peluru anak buah Harun berhasil menghancurkan kaca jendela belakang mobil yang di kemudikan oleh Hazal. Serpihan kaca itu bertaburan di dalam mobil, membuat luka Kenan semakin bertambah.


Sesuai dengan rencana Kenan, mobil anak buah ayahnya mendekat ke arahnya. Mobil itu hendak menabrak mobilnya. Kenan segera menembak salah satu roda depan mobil anak buah ayahnya.


"Hazal, naikkan kecepatannya menjadi 100!" teriak Kenan yang melihat mobil yang ia tembak rodanya itu oleng menabrak lereng gunung dan terbang ke atas mobilnya.


Hazal segera menaikkan kecepatan mobilnya sesuai perintah Kenan. Mobil anak buah Harun itu melayang dan jatuh di belakang mobil Hazal.


Hazal tersenyum puas melihat mobil di belakangnya itu jatuh dan meledak. Ia segera menjalankan mobilnya menuju kota terdekat.


Aku tidak bisa membawa Kenan ke rumah sakit. Kami akan berurusan dengan pihak berwajib dan anak buah Harun akan mudah menemukan kami.


"Bertahanlah Kenan. Kita akan segera sampai," ucap Hazal di balik setir kemudinya.


Kenan tidak menjawab perkataannya. Tidak ada suara di kursi belakang.


"Kenan, jawab aku. Kenan...," ucap Hazal yang tidak bisa menoleh ke belakang. Peristiwa ayahnya yang meninggal di dalam mobil muncul di dalam pikirannya.


Kau tidak boleh mati Kenan.


"Kenan...! Jawab aku!" teriak Hazal dengan keras.


Teriakan Hazal membangunkan Kenan. Pria itu terlihat sangat lemah. Ia memegang lengan Hazal.


"Kita akan segera sampai. Bertahanlah," kata Hazal yang melambatkan laju kendaraannya.


Lewat tengah malam, sekitar pukul dua dini hari. Hazal menghentikan mobilnya di sebuah gudang tua. Gudang itu terlihat sepi tidak ada kendaraan atau orang yang tinggal di sana.


Hazal memapah Kenan masuk ke dalam gudang tua tersebut. Membaringkannya di tumpukan jerami. Hazal merobek pakaian Kenan yang telah basah terkena darah, kemudian ia melilitkan pakaian itu di sekitar perut Kenan untuk menghentikan pendarahannya.


"Kenan, tunggu aku di sini. Aku akan mencari pertolongan dan obat-obatan," ucap Hazal sambil memegang tangan Kenan.


"Kau akan kembali?" tanya Kenan sambil menatap wajah Hazal penuh harap.

__ADS_1


"Aku akan kembali. Tapi berjanjilah padaku. Bertahanlah, tunggu aku." Kenan menganggukkan kepalanya melepas kepergian Hazal.


Sebelum keluar, Hazal melihat ada selembar kain berwarna hitam di gudang tersebut. Ia pun menutupi kepalanya menggunakan kain tersebut, agar orang-orang Harun tidak mengenalinya.


Putri Danner itu segera keluar dari gudang tua itu dan melajukan kendaraannya mencari pertolongan. Ia sudah berjalan sejauh satu kilometer, di lihatnya ada apotek yang buka 24 jam di seberang jalan. Ia segera menghentikan mobilnya di depan toko obat tersebut.


Hazal meminta beberapa obat-obatan dan alat kesehatan kepada petugas apotek.


"Apa ada anggota keluargamu yang terkena tembak, Nona?" tanya petugas itu.


"Oh tidak. Bukan luka tembak, hanya luka terkena pecahan kaca," jawab Hazal sambil membetulkan letak penutup kepalanya.


Petugas itu segera memberikan beberapa barang yang di butuhkan oleh Hazal. Termasuk jarum dan benang untuk menjahit luka.


Sementara itu di gudang, Kenan menunggu kedatangan Hazal. Ia terbaring sendirian di dalam gudang itu.


Hazal, apa kau akan meninggalkanku sendirian di sini? Apa kau akan datang?


Puluhan menit Kenan menunggu Hazal, tetapi wanita itu tidak kunjung datang. Tubuhnya semakin lama semakin lemah.


Hazal....


Setelah mendapatkan barang-barang medis yang diperlukan, Hazal segera kembali ke gudang tua. Ia membawa seluruh barangnya masuk ke dalam. Dilihatnya Kenan masih terbaring di atas jerami.


"Kenan, buka matamu. Ini aku," kata Hazal yang menepuk-nepuk pipi Kenan dengan perlahan. Wajah Kenan sudah mulai pucat.


Tetapi Kenan tidak bergerak, ia menutup kelopak matanya. "Kenan, bangun. Kumohon buka matamu. Ini aku Hazal. Aku sudah datang."


Kenan membuka matanya perlahan, ia memandang wajah Hazal seperti melihat bayang-bayang.


"Kau sudah datang?" tanya Kenan dengan lirih. Ia menyentuh wajah Hazal. Wajah kekasihnya terlihat nyata bukan mimpi.


"Syukurlah kau masih hidup," ucap Hazal sambil memeluk Kenan.


Hazal membersihkan luka itu dengan alkohol, ia sedikit menyayat luka itu kemudian ia mengambil proyektil peluru itu dengan sebuah pinset steril dan membuangnya ke tumpukan jerami.


Hazal menghentikan kegiatannya ketika dilihatnya Kenan yang meringis menahan rasa sakit.


"Lakukan Hazal! Jangan pedulikan aku!" seru Kenan sambil menarik tangan Hazal agar segera menyelesaikan kegiatannya. Air mata itu mengalir dari sudut mata Hazal.


Kenapa kau mengorbankan dirimu, Kenan? Seharusnya aku yang terluka bahkan mungkin aku yang mati.


Setelah mengusap air matanya, Hazal segera menjahit luka tembak itu tanpa obat bius.


"Maafkan aku. Mungkin ini sedikit sakit, tetapi kumohon bertahanlah," ucap Hazal yang mempersiapkan peralatannya.


Jari lentik itu kini berubah menjadi jari seorang dokter yang sedang bertugas di meja operasi. Puluhan kapas dengan noda darah tercecer di samping tubuh Kenan.


Kenan mengeluarkan erangannya, ia menggenggam jerami yang ada di bawah tubuhnya. Tidak tahan melihat rasa sakit Kenan, Hazal segera menghentikan kegiatannya. Ia menghampiri Kenan yang sedang terbaring dan memberikan ciumannya untuk laki-laki itu.


Ciuman Hazal mampu menjadi obat penahan rasa sakit pada pria itu. Kenan kini kembali tenang. Hazal segera menyelesaikan menjahit luka tembak tersebut dan menutupnya dengan perban dan plester.


Hazal menghembuskan napasnya dalam-dalam setelah operasi instan yang telah ia lakukan. Ia merobek sedikit pakaiannya kemudian membasahinya dengan air kamar mandi yang ada di belakang gudang. Ia menyeka wajah Kenan dan tubuh bagian atas pria itu.


"Istrihatlah, aku akan menjagamu," ucap Hazal sambil mengusap kening dan rambut Kenan. Pria itu memejamkan kedua kelompok matanya.


Hazal masih terjaga di dalam gudang, ia melihat dari jendela keadaan di luar. Gelap dan sunyi. Kemudian ia mendudukkan dirinya di sampai kekasihnya. Ia meletakkan kepala Kenan di atas pangkuannya, sedangkan dirinya terduduk di atas jerami.


Diusapnya rambut tebal Kenan dengan lembut, perlahan-lahan Hazal menutup kelopak matanya. Ia sangat lelah.


Hari sudah menjelang subuh, terdengar suara ayam berkokok di sekitar gudang tua itu. Kenan membuka kelopak matanya dengan perlahan. Dia melihat sekelilingnya yang masih sedikit gelap. Dilihatnya ia tertidur di atas pangkuan Hazal.


Kenan mencoba bangun, tetapi rasa sakit bekas jahitan itu menjalar hingga ke punggungnya. Putra Harun itu akhirnya memindahkan tubuhnya di samping Hazal. Ia mencoba membaringkan Hazal di samping tubuhnya, memberikan lengannya untuk menopang kepala Hazal.


Tanpa sadar Hazal memiringkan tubuhnya, kini kepala dan tangannya berada di atas dada Kenan yang polos tanpa sehelai benangpun. Pria itu memeluk Hazal, membiarkan kekasihnya itu tidur di dalam rengkuhannya. Ia kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


Matahari sudah mulai bersinar terang, sayup-sayup sinarnya membangunkan Hazal. Bulu mata lentik itu mulai berdiri tegak. Ia melihat dirinya terbaring di dalam pelukan Kenan.


Hazal memindahkan tangan Kenan dengan perlahan dan mendudukkan dirinya di samping pria itu. Kenan membuka kelopak matanya.


"Kau sudah bangun?" tanya Hazal yang kembali mendekatkan dirinya di samping Kenan.


Pria itu tersenyum memandang Hazal. Ini untuk kedua kalinya ia dan Hazal tidur terlelap bersama.


"Terimakasih kau masih peduli padaku," ucap Kenan sambil membelai rambut Hazal.


"Karena aku tidak ingin kau mati, sebelum kau menepati janjimu," ucap Hazal sambil tersenyum dan tertawa kecil menatap wajah Kenan.


Pria itu kemudian menarik Hazal kembali ke dalam pelukannya, ia mencium bibir merah kekasihnya itu. Ciuman pertamanya di pagi ini.


"Kurasa kita tidak bisa pulang ke Turki besok," ucap Kenan.


"Aku akan menunggu sampai lukamu benar-benar sembuh. Aku akan menjagamu," ucap Hazal dengan lembut di dalam pelukan Kenan.


"Hazal, aku rasa ada janggal tentang kejadian semalam," ucap Kenan.


"Maksudmu?" tanya Hazal yang bangun dari pelukan Kenan.


"Untuk pertama kalinya aku melihat dua pistol itu di rumahku," kata Kenan sambil menatap langit-langit gudang yang tinggi.


"Maksudmu ada seseorang yang sengaja meletakkan pistol itu di meja? Waktu itu kau tak bermaksud membunuhku?" tanya Hazal yang memicingkan kedua matanya menatap Kenan.


"Tentu saja tidak! Aku langsung mengambil kedua pistol itu saat kulihat benda itu ada di atas meja. Kemudian kubuka senjata itu, hanya ada satu peluru di sana. Tapi aku tidak sempat berpikir kenapa hanya ada satu peluru," cerita Kenan.


Mereka berdua sama-sama hanyut dalam pikirannya masing-masing. Bagi Hazal ini adalah sebuah misteri yang harus di pecahkan, jaksa muda itu kembali tersenyum.


"Aku menyuruh orang perusahaan Fallay untuk membersihkan rumah itu," ucap Kenan yang mencoba mengaitkan dua kejadian itu.


"Ayahmu menginginkan kau yang membunuhku!" seru Hazal yang mampu membuat manik mata Kenan keluar.


"A...apa maksudmu? Ayahku ingin aku membunuhmu?" tanya Kenan yang hendak bangun dari posisi tidurnya. Tetapi di cegah oleh Hazal.


"Itu hampir terjadi. Peluru itu sengaja terisi satu. Seperti di meja judi, ayahmu sedang mempertaruhkan nyawa kita berdua. Jika kau menembakku waktu itu, ia tidak perlu susah payah membunuhku. Mungkin dia akan mengorbankan dirimu atau membebaskanmu dari penjara," ucap Hazal yang melihat reaksi Kenan.


"Tapi jika aku yang menembakmu, ia akan segera menjebloskanku ke penjara. Di penjara ia tinggal menyuruh salah satu narapidana untuk membunuhku. Dengan demikian tangan ayahmu masih tetap bersih," argumen Hazal mengenai apa yang terjadi.


"Lalu bagaimana dengan pasukan pembunuh itu?" tanya Kenan yang mengerutkan dahinya.


"Kurasa pasukan itu sudah berjaga-jaga di luar, mereka menunggu suara tembakan terjadi di dalam rumah. Tetapi di dalam rumah tidak terjadi apa-apa, itulah sebabnya ayahmu menyuruh mereka bergerak," jelas Hazal.


Kenan mengepalkan kedua telapak tangannya dan rahangnya mengeras melihat kenyataan tentang ayahnya. Begitu banyak kejahatan yang telah di lakukan oleh ayahnya.


"Apa Selina ada hubungannya dengan ayahku?" tanya Kenan.


"Selina Howard? Istri Yafet? Apa kau mengenalnya?" tanya Hazal yang balik bertanya.


"Aku tidak mengenalnya. Tapi dia yang memberikan buku harianmu dan kepingan CD itu kepadaku," jawab Kenan.


Hazal terkejut mendengar jawaban Kenan.


Apa mungkin Selina dan Harun? Tapi jika mereka saling kenal, kenapa Selina tidak langsung memberikan buku harianku kepada Harun? Tetapi dia malah memberikan buku itu kepada Kenan.


"Lantas kenapa kau tidak jadi membunuhku?" tanya Hazal yang masih penasaran.


"Karena bukti yang dikirim oleh Mehmet. Bukti video bahwa ayahku adalah dalang di balik terkuncinya dirimu di lift. Tanpa kau sadari, aku dan Mehmet menyelidiki kejadian itu," jawab Kenan.


Kini semuanya sudah terlihat jelas. Tidak ada sesuatu yang terlihat abu-abu lagi. Semuanya telah terbuka dengan sendirinya. Serapi apapun kita menutupi sebuah kejahatan, suatu saat pasti akan tercium baunya.


🔥Bersambung❤️


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2