DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Tunggu Aku Di Tempat Biasa


__ADS_3

Sinar mentari sudah menerangi seluruh tanah Turki. Sayup-sayup terdengar suara keramaian di lantai bawah rumah keluarga Aksal. Hazal masih memejamkan matanya dan menarik selimutnya hingga sebatas leher. Ia masih sangat lelah untuk membuka matanya dan ingin kembali melanjutkan tidurnya. Tetapi suara kicauan burung di luar menarik dirinya untuk keluar dari kehangatan selimutnya.


Ia menyeret kedua kakinya menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya dan menggosok giginya. Guyuran air dingin membuka kelopak matanya dengan sempurna.


Seluruh keluarga Aksal belum menyadari kedatangan Hazal. Mereka melakukan kegiatan seperti biasa di pagi hari.


Satu jam kemudian, Hazal turun dari kamarnya. Ia mendengar suara ayah dan ibunya di ruang makan. Segera ia berjalan menemui mereka.


"Ayah... Ibu...," sapa Hazal yang langsung membaur bersama orang tua angkatnya di meja makan.


Emir dan Meral terkejut mendengar suara Hazal yang menyapa mereka.


"Kau sudah datang? Kapan kau pulang, nak?" tanya Emir sambil memeluk putri kesayangannya.


"Beberapa jam yang lalu, Ayah." Hazal mengapit lengan ayah angkatnya.


"Aku akan beritahu Yafet bahwa Hazal sudah pulang!" seru Meral yang segera ke ruang keluarga untuk mengambil pesawat teleponnya.


"Apa maksud ibu? Dimana Yafet?" tanya Hazal yang menarik kursi makannya dan hendak mendudukinya.


"Yafet sekarang menuju bandara, ia hendak menyusul mu ke Swiss," jelas ayahnya yang membuat manik mata Hazal hampir keluar dari kelopaknya.


"Yafet ingin menyusul ku?" tanya Hazal mencoba mengkoreksi pendengarannya.


"Ini sudah hari keempat sejak kau pergi. Dia akan menyusul mu jika kau tidak pulang ke rumah pada hari ketiga. Sejak hari pertama keberangkatan mu, dia sudah memesan tiket penerbangan ke Swiss," jelas Emir sambil menyeruput kopi buatan istrinya.


Hazal teringat perkataan Yafet sebelum ia pergi meninggalkan rumahnya beberapa hari yang lalu.


Ternyata kau sungguh-sungguh mencariku, Yafet.


Hazal segera meninggalkan ruang makan dan pergi menemui ibu angkatnya di ruang keluarga.


"Ibu, bagaimana? Apa Yafet bisa dihubungi?" tanya Hazal yang berdiri di belakang Meral. Ia melihat ibu angkatnya sedang sibuk menekan beberapa tombol pada pesawat telepon.


Meral menggelengkan kepalanya menghadap Hazal, "Mungkin dia sudah masuk pesawat. Dia sudah pergi sekitar dua jam yang lalu," jawab Meral yang meletakkan kembali pesawat telepon itu ke tempatnya.


"Pukul berapa penerbangannya, Ibu?" tanya Hazal.


Meral melihat jam dindingnya, "Pukul 09.00 pagi."


"Masih ada waktu tiga puluh menit," ucap Hazal setelah ia melihat jam dinding berbentuk lingkaran yang ada di ruang keluarganya. Ia segera berlari ke ruang makan, mengambil sepotong roti dan sebotol minuman.

__ADS_1


"Ayah... Ibu... aku akan ke bandara," pamit Hazal yang langsung bergegas menuju ke garasi.


Emir dan Meral hanya terbengong melihat tingkah laku Hazal yang bergerak cepat. Mereka belum sempat membalas perkataan wanita muda itu.


Hazal segera melajukan mobilnya membelah lalu lintas kota Istanbul menuju bandara. Selama dalam perjalanan ia mencoba menghubungi Yafet. Tetapi seperti kata ibunya, ponsel Yafet tidak bisa dihubungi.


Kenapa kau tidak menghubungiku selama aku di Swiss?


Akhirnya Hazal meletakkan kembali ponselnya. Ia menaikkan kecepatan mobilnya. Ia berharap kakak angkatnya itu belum terbang ke Swiss.


Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan tepat, tapi ia masih menempuh setengah perjalanannya menuju bandara. Ia membunyikan klakson mobilnya agar kendaraan di depannya memberikan jalan untuknya.


Pukul 09.30 waktu Istanbul, mobil Hazal berhenti di bandara. Ia berlari masuk ke dalam, ia berharap Yafet belum meninggalkan Turki. Tapi itu sepertinya mustahil, mengingat ia sudah terlambat tiga puluh menit.


Seorang petugas berbaju putih menghentikan langkahnya ketika ia hendak naik menuju ke ruang tunggu. Hazal terkejut melihat petugas sekuriti itu sudah berdiri di depannya. Mengingat ia tidak mempunyai tiket penerbangan ditambah lagi ia tidak membawa kartu identitas apapun.


"Maaf Nona, bisa anda tunjukkan tiket penerbangan anda dan kartu identitas anda?" tanya petugas tersebut kepada Hazal.


Petugas itu melihat Hazal yang tidak membawa tas apapun.


"Apa penerbangan Istanbul ke Zurich sudah berangkat?" Hazal memicingkan kedua matanya menatap petugas itu.


"Zurich... Swiss?" Petugas itu mencoba mengingat pengumuman yang baru saja ia dengar.


Hazal masih berlari untuk masuk ke ruang tunggu, ia melihat sekitarnya, tidak ada sosok Yafet di sana. Kemudian wanita berambut coklat itu berlari menuju ke ruang kaca, tempat pintu keberangkatan.


Di ruang kaca itu ia berlari dari pintu Gate satu ke pintu Gate yang lain berharap ia bisa menemukan Yafet. Seorang pria yang sedang berdiri di luar ruang kaca melihat adegan kejar-kejaran antara seorang wanita dan beberapa petugas keamanan.


"Hazal!" seru pria itu yang mendekati dinding kaca yang ada di depannya. Ia mengucek kedua kelopak matanya, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahwa wanita yang dicintainya itu sedang ada di bandara.


Pria itu segera masuk ke ruangan kaca, ia melihat wanita muda itu tengah diseret paksa oleh beberapa petugas keamanan agar keluar meninggalkan ruangan itu. Ia segera berlari mendekati mereka.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Hazal sambil meronta-ronta, ia berusaha melepaskan dirinya dari tangan petugas keamanan. Ratusan pasang mata melihat adegan tersebut.


"Berhenti! Lepaskan dia!" teriak pria yang sejak tadi memperhatikan mereka.


Hazal mendongakkan kepalanya setelah ia mendengar suara yang sangat ia kenal. "Yafet!"


"Siapa kau? Wanita ini telah menyusup masuk, ia penumpang ilegal!" seru salah satu petugas keamanan kepada Yafet.


"Dia bukan penumpang ilegal! Lepaskan wanita itu!" seru Yafet sambil merobek tiket penerbangannya di hadapan Hazal dan petugas keamanan bandara.

__ADS_1


Petugas keamanan itu segera melepaskan Hazal dan meninggalkan mereka. Yafet segera menghampiri Hazal dan memeluknya.


"Akhirnya aku menemukanmu," ucap Hazal yang menghembuskan napasnya di dalam pelukan Yafet.


"Aku senang akhirnya aku bisa melihatmu sekarang," ucap Yafet sambil mengusap punggung dan rambut panjang Hazal. Ia memeluk erat tubuh ramping itu dan mencium puncak kepala Hazal.


Putra Emir itu melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Hazal. "Kapan kau tiba di Turki?"


"Beberapa jam yang lalu menjelang subuh." Hazal melepaskan kedua tangan Yafet dari wajahnya, kemudian mengajak pria itu untuk meninggalkan bandara.


Tiba-tiba ponsel Yafet berdering. Putra Emir itu segera mengambil ponsel hitamnya dari saku celananya. Sebuah panggilan dari hotel, sekretarisnya yang menghubunginya.


"Apa? Segera hubungi para manager! Minta mereka menghadiri rapat satu jam dari sekarang! Aku akan segera ke sana!" seru Yafet dari depan ponselnya.


"Hazal, aku harus segera ke hotel. Ada masalah di sana. Setelah selesai urusan di hotel, aku akan menghubungi mu," ucap Yafet ketika dirinya dan Hazal sudah berada di tempat parkir.


"Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu," ucap Hazal.


Kedua saudara angkat itu akhirnya berpisah di tempat parkir bandara. Yafet segera menuju ke Hotel AKSAL, sedangkan Hazal kembali lagi pulang ke rumah.


Menjelang makan siang, Yafet telah menyelesaikan rapat internal perusahaannya. Ia kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.


Putra Emir itu membuka brankasnya. Ia mengambil kotak perhiasan yang berbentuk hati berwarna merah dari dalam brankas. Dibukanya kotak perhiasan itu kemudian diambilnya sebuah kalung emas berliontin hati yang ada di sana. Ia melihat sebuah ukiran namanya dan nama Hazal ada di belakang liontin tersebut.


Kalung Hazal yang dulunya putus dan pecah di bagian liontinnya, kini kembali utuh seperti baru. Dengan model yang sama seperti semula, tanpa cacat sedikitpun.


Hari pertama ketika Hazal berangkat ke Swiss, pihak toko perhiasan tempat Hazal meleburkan kembali kalungnya menghubungi Yafet. Pemilik toko memberitahu Yafet bahwa kalung mereka yang rusak sudah selesai di perbaiki.


Sepasang mata elang itu tampak berbinar melihat seuntai kalung itu. Ia sudah tidak sabar menyematkan kembali perhiasan itu ke leher jenjang Hazal. Kalung yang dulunya ia beli di New York khusus untuk Hazal.


Yafet mengambil ponselnya dan menghubungi Hazal.


"Kau ada dimana sekarang?" tanya Yafet sambil meletakkan kembali kalung Hazal ke dalam kotak perhiasannya.


"Aku ada di rumah," jawab Hazal baru saja menyelesaikan makan siangnya.


"Satu jam lagi aku menunggumu di tempat biasa, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Yafet. Tangannya menutup kembali brankasnya.


"Baiklah. Aku akan segera ke sana. Aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu," sahut Hazal.


Setelah mereka menutup ponsel mereka. Kedua anak Aksal itu termenung di tempat yang berbeda dengan pikiran masing-masing. Mereka sudah bersiap ingin memberitahu berita yang akan mereka bawa.

__ADS_1


🔥 Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2