
Setelah kepulangan sahabatnya, Kenan segera mandi dan mengganti pakaiannya. Ia mengambil kaos lengan panjangnya yang berwarna putih dan celana trainingnya berwarna hitam dari dalam lemari pakaian yang ada sudut kamarnya. Kenan mengambil handuknya untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Percikan parfum beraroma maskulin memenuhi kamar tidurnya.
Laki-laki itu menghampiri ranjang tempat tidurnya. Dilihatnya Hazal yang masih belum juga siuman, kembali ia mendudukkan dirinya di samping Hazal. Ia terus memandangi wajah cantik Hazal.
Setiap lelaki normal, pasti sangat tertarik dengan kecantikan yang dimiliki oleh Hazal. Tidak ada satu laki-laki pun yang akan menolak berdekatan dengan putri angkat Emir ini. Apalagi jika laki-laki tersebut berhasil menaklukan hati sang Tuan Putri.
Tangan kanan Kenan ingin sekali membelai kening dan rambut coklat Hazal, tetapi ia mengurungkan niatnya ketika ia mendengar Hazal memanggil nama Yafet berulang kali dalam tidurnya.
"Apa yang dia maksud Yafet Aksal? Putra Emir Aksal? Bukankah mereka bersaudara?" gumam Kenan sambil bertanya-tanya.
"Atau...Yafet adalah pria yang telah membuatnya patah hati?"
Kenan teringat pertemuannya dengan Hazal di danau buatan beberapa waktu yang lalu. Waktu itu Hazal memang menangis dan berteriak menyebut nama seseorang. Tetapi Kenan tidak terlalu jelas nama siapa yang di sebut oleh Hazal waktu itu.
Ia pun memberanikan dirinya untuk memegang telapak tangan Hazal. Dilihatnya jari lentik Hazal, tidak ada satupun cincin yang melingkar di sepuluh jari itu. Laki-laki ini berpikir bahwa besar kemungkinan bahwa Hazal masih single.
****
Sementara itu kondisi di luar, hujan badai turun dengan sangat lebat. Badai, petir dan guntur saling bersaing untuk menunjukkan kedahsyatannya di malam ini. Pintu dan jendela sudah tertutup rapat di setiap rumah yang ada di kota Istanbul, tidak ada seorang pun yang berani keluar rumah di malam hari ini.
Waktu makan malam segera di mulai di kediaman keluarga Aksal. Emir, Meral dan Selina sudah duduk di atas kursi masing-masing. Hanya tersisa dua kursi yang masih kosong, yaitu kursi Yafet dan kursi Hazal.
Yafet yang baru saja turun dari kamarnya segera menggabungkan dirinya dengan yang lain di ruang makan. Dalam perjalanan menuju ruang makan, terdengar pembicaraan orang tuanya dengan Nuran. Pelayan wanita itu memberitahu orang tuanya bahwa Hazal sampai saat ini belum pulang ke rumah.
"Apa benar yang kau katakan? Hazal belum pulang?" Yafet memandang Nuran dan ibunya secara bergantian setelah ia berada di ruang makan. Perasaan cemas dan gelisah yang ia rasakan sejak tadi sore kembali muncul. Ia merasa sesuatu telah terjadi pada Hazal.
"Iya, Tuan Yafet." Nuran menundukkan kepalanya.
"Aku akan mencari nya sekarang!" seru Yafet yang segera keluar dari ruang makan. Emir dan Meral saling berpandangan memikirkan keadaan putri angkat mereka.
Tanpa di suruh oleh siapapun, Selina segera menyusul Yafet. Ia tidak ingin Yafet mencari Hazal, bukan karena ia khawatir suaminya itu akan terkena badai malam ini. Tetapi ia merasa cemburu dengan kedekatan kakak beradik ini. Ia cemburu Yafet lebih memperhatikan Hazal daripada dirinya. Wanita itu berhasil menarik tangan Yafet ketika suaminya itu hendak membuka pintu mobilnya.
"Tunggu Yafet, kau tidak boleh pergi! Jangan mencari Hazal!"
"Atas dasar apa kau melarang ku mencari Hazal, hah?"
"Aku istrimu, kenapa kau begitu mengkhawatirkan Hazal? Ia sudah besar, ia akan baik-baik saja. Mungkin ia sedang bersama kekasihnya atau temannya saat ini!"
"Istri kau bilang?" Yafet tertawa sinis sambil memalingkan wajahnya.
"Aku tidak peduli! Bahkan jika saat ini Hazal sedang berada di rumah kekasihnya, aku akan tetap membawanya pulang!" sarkas Yafet.
Selina memindahkan posisi nya untuk menghalangi Yafet masuk ke dalam mobil. "Kau takkan bisa mencari Hazal dalam keadaan cuaca seperti ini!"
Yafet segera mencengkram kedua lengan Selina dan menyudutkan tubuh istrinya itu di dinding. Sepasang mata elangnya tampak berkilat menahan amarah yang sejak tadi di tahannya.
"Jangan pura-pura peduli padaku! Apa kau tahu di mana Hazal?"
Napas Selina terengah-engah. Ia merasakan amarah Yafet yang akan meledak. Selama ini ia tidak pernah melihat Yafet mengorbankan dirinya hanya untuk mencari seorang wanita. Kebanyakan wanita itu yang berkorban dan memberikan segalanya untuk laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Termasuk dirinya, yang mengorbankan semuanya hanya untuk menjadi istri Yafet. Yafet yang ia kenal dulu, tidak pernah seserius ini terhadap wanita. Ia melihat pancaran yang ada di manik mata Yafet. Mata elang itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Aku tidak tahu," ucap Selina lirih.
"Minggir kau! Jangan halangi aku...!" Yafet segera melepaskan cengkeramannya dari lengan Selina dan segera masuk ke dalam mobilnya. Ia mengeluarkan kendaraan roda empatnya itu ke arah jalan raya, siap membelah hujan badai di malam ini untuk mencari Hazal.
Selina hanya menatap kepergian Yafet dengan mata nanar. Ia tidak dapat mempercayai apa yang telah di lihat dan di rasakannya.
Meskipun aku tidak punya saudara kandung, tapi aku bisa membedakan kasih sayang kakak kepada adiknya. Mata mu tidak bisa menipu ku Yafet, pasti ada sesuatu antara kau dan Hazal.
Entah dari mana Yafet harus memulai mencari Hazal. Ia tidak bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hujan badai benar-benar menghalangi pandangan matanya. Di saat hujan badai seperti ini, seluruh sambungan ponsel mengalami gangguan. Ia tidak bisa menghubungi Hazal.
Perkataan Selina terngiang-ngiang di telinga Yafet bahwa kemungkinan Hazal sedang berada di rumah kekasihnya.
Apa kau dan putra Harun itu sudah melangkah terlalu jauh, Hazal? Seharusnya beberapa hari ini aku tidak mendiamkan mu. Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan dengan si brengsek itu!
******
Di apartemen Kenan....
__ADS_1
Hazal mulai mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya. Ia membuka matanya secara perlahan. Manik mata coklat itu berputar ke kiri dan ke kanan, melihat sekelilingnya. Ia merasa asing dengan tempatnya berada saat ini.
Belum penuh kesadarannya, ia sudah terkejut dengan kehadiran Kenan yang ada di sampingnya. Hazal segera melihat dirinya di bawah selimut, ia ingin memastikan apakah dirinya saat ini tengah berpakaian lengkap atau tidak.
"Aku tidak maniak seperti yang kau kira," sahut Kenan yang mengerti dengan tindakan Hazal.
"Dimana aku?" tanya Hazal sambil menatap tajam wajah Kenan.
"Kau ada di apartemen ku. Aku menemukanmu pingsan di dalam lift."
Hazal segera teringat dengan kejadian yang ia alami di kantor. Ia segera menyibakkan selimutnya, dan bangkit berdiri.
Belum sempat Hazal berbicara, ia merasakan kepalanya sedikit pusing. Tubuhnya kembali oleng. Beruntung Kenan dengan sigap, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Duduklah dulu, kau baru saja siuman. Hampir dua jam kau pingsan," ujar Kenan yang memeluk pundak Hazal dan mendudukkannya dengan pelan di tepi ranjang.
"Kenapa kau membawaku ke apartemen mu?" tanya Hazal yang masih memegang kepalanya yang terasa berat sambil menutup matanya.
"Di mana lagi aku harus membawamu? Aku tidak mungkin membawamu ke rumah keluarga Aksal dalam kondisi pingsan. Keluargamu pasti akan berpikiran buruk tentang ku," jelas Kenan yang tidak menyadari keberadaan tangan kanannya yang masih memeluk pundak Hazal.
Hazal juga tidak menyadari bahwa ia telah meletakkan kepalanya di atas bahu Kenan. Putri angkat Emir itu sedang mencerna perkataan Kenan.
Kau salah Kenan... Keluargaku tidak akan berpikiran buruk lagi tentangmu. Tapi Yafet dan Ayah Emir pasti akan membunuhmu jika sesuatu terjadi padaku.
Setelah sakit kepalanya mereda, Hazal segera bangkit berdiri. "Aku sudah membaik, sekarang aku mau pulang."
Kenan segera mengikuti langkah Hazal yang berjalan menuju pintu. "Kau tidak bisa pulang!" seru Kenan yang menahan pintu itu dengan tangannya.
"A...apa maksudmu aku tidak bisa pulang?" Hazal mengernyitkan dahinya.
"Karena mobilmu tidak ada di sini. Kau meninggalkan mobilmu di kantor."
Hazal mendengus kesal. "Kau bisa mengantarku pulang ke rumah!"
"Aku tidak mau!" seru Kenan sambil menempelkan tubuhnya di belakang pintu.
Tetapi Kenan malah menarik tangannya dan menyeretnya dengan paksa ke arah jendela. Ia membuka tirai jendela yang berwarna biru itu dengan kasar. Tampak kilatan petir menyambar dari segala arah. Kaca jendela itu bergetar keras karena tiupan angin. Hujan lebat turun di sertai dengan badai yang besar.
"Kau lihat itu! Di luar sedang ada hujan badai. Tidak ada satu orang pun yang berani keluar malam ini!" seru Kenan sambil menatap Hazal dan menatap kaca jendela secara bergantian.
Hazal menyentuh kaca jendela yang ada di depannya. Suara guntur membuatnya terkejut. Dengan spontan ia melepaskan tangannya dari kaca tersebut.
"Bagaimanapun caranya aku harus pulang malam ini! Aku tidak peduli!" pekik Hazal yang segera berlari menuju pintu.
Kenan segera mengejar Hazal dan menarik tangan wanita itu. Hazal segera menepis tangan Kenan dengan kasar. "Lepaskan tanganku!"
"Menjauh lah dariku!" teriak Hazal yang mendorong tubuh Kenan. Suara guntur dan cahaya petir itu masuk ke dalam kamar Kenan. Membuat mereka terduduk di lantai di depan ranjang tempat tidur. Hazal terduduk sambil menutupi kedua telinganya dan menyembunyikan wajahnya.
"Aku tidak bermaksud menahanmu di sini... Aku hanya memikirkan bagaimana keadaanmu jika kau pulang dengan cuaca seperti ini," ucap Kenan dengan tenang.
Mendengar perkataan Kenan, Hazal segera mengangkat wajahnya ke arah laki-laki itu, manik matanya nampak memelas menatap Kenan yang duduk di sampingnya. "Aku harus pulang malam ini...."
"Dimana ponselku? Aku harus memberitahu orang tua ku dan...." Suara Hazal terhenti.
Dan Yafet? Laki-laki yang kau panggil dalam tidurmu?
Kenan berusaha menebak ucapan Hazal yang terhenti. "Ponselmu tertinggal di meja kantor."
Hazal menarik rambut bagian depannya ke belakang dan mengusap kedua kelopak matanya. Kenan segera bangkit berdiri, mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Hazal.
"Pakailah... hubungi keluargamu," Hazal segera menerima ponsel milik Kenan. Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Hazal bangkit berdiri.
Hazal mencoba menghubungi ponsel Emir, Meral dan Yafet tetapi tidak ada nada panggilan sama sekali. Ia menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya kemudian ia mengembalikan ponsel Kenan kepada laki-laki itu.
Kenan yang mengerti bahwa Hazal tidak bisa menghubungi keluarganya, mengajak wanita itu untuk duduk di tepi ranjang.
"Apa kau lapar?" tanya Kenan yang sedang membuka kulkas kecil yang ada di kamarnya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin makan. Jika kau lapar, makanlah sendiri!"
Di kulkas kecil itu hanya ada sisa roti tadi pagi yang masih terbungkus di dalam plastik. Kenan mengambil beberapa lembar roti itu dan memasukkannya ke dalam alat pemanggang. Pria itu juga mengambil dua bungkus mie instan dan memasaknya. Hanya itu yang bisa ia buat di apartemen nya yang kecil dan tidak ada ruang atau tempat untuk memasak.
Kenan meletakkan roti dan mie instan itu di atas meja. Ia melihat Hazal sedang berdiri di dekat jendela, wanita itu memandang langit-langit hitam dengan kilatan cahaya yang saling berperang.
"Duduklah, petir bisa menyambar wajahmu."
Hazal tak bergeming mendengar perkataan Kenan.
"Kau belum makan sejak tadi sore, makanlah...."
Hazal hanya diam terpaku, ia tidak peduli dengan perkataan Kenan, yang ia inginkan saat ini hanyalah pulang ke rumahnya.
Kesabaran Kenan sudah mencapai puncaknya, ia segera menarik tangan Hazal agar menjauhi jendela dan mendudukkan wanita itu dengan kasar di tepi tempat tidur.
"Duduk dan makanlah!" teriak Kenan. "Hanya ini yang ada di apartemen ku, tidak ada daging atau makanan kesukaan mu!"
Hazal menatap wajah Kenan sangat dalam. Putra Harun itu membalas tatapan Hazal dengan lembut, tidak ada kegarangan. Berbeda dengan ucapan dan tindakannya. Hazal hanya mengambil sepotong roti panggang dan membiarkan Kenan menghabiskan semuanya. Mereka berdua makan dalam diam.
Setelah menghabiskan makanannya, Kenan membuka lemari yang ada di sudut kamar. Ia sedang mencari pakaian miliknya untuk diberikan kepada Hazal. Tetapi Hazal menolaknya. Wanita itu hanya meminjam sebuah handuk bersih untuk membersihkan dirinya di kamar mandi dan mengenakan pakaian lamanya kembali.
Terasa malam sudah semakin larut, hujan badai juga belum reda. Mau tidak mau, Hazal harus menerima kenyataan bahwa malam ini dia harus bermalam di apartemen Kenan. Ia melihat di kamar ini hanya ada satu ranjang tempat tidur ukuran medium dan sebuah sofa. Tetapi sofa itu tidak bisa menampung tubuh Kenan ataupun tubuh Hazal untuk berbaring. Tidak ada kamar atau ruangan lain lagi di sini.
Hazal menggigit bibir bawahnya sambil memeluk salah satu bantal, ia meletakkan bantal yang ia peluk itu ke lantai, kemudian bersiap untuk tidur.
"Apa yang kau lakukan di bawah sana?" tanya Kenan yang berdiri di sisi ranjang yang lain. Ia melihat Hazal sudah berbaring di atas lantai yang dingin tanpa selimut.
"Kau tidurlah di kasur, aku bisa tidur di sini." Hazal mulai memejamkan matanya.
"Tidurlah di atas, kau bisa sakit jika tidur di lantai. Apa aku sekejam itu membiarkan seorang wanita tidur di lantai?"
Hazal segera bangkit berdiri dan meletakkan bantalnya di atas kasur. "Bagaimana denganmu?"
Rupanya Kenan juga tengah meletakkan bantalnya di samping bantal Hazal. Wanita itu terkejut dan menelan saliva nya.
"Kau... kau juga tidur di sini? Kita... maksud ku... kau dan aku... tidur di ranjang ini bersama?"
"Ya... aku tidak bisa tidur di lantai atau di sofa itu." Kenan menjawab tenang, sebenarnya ia tahu apa yang ada di dalam pikiran Hazal.
"Lebih baik aku tidur di sofa!" pekik Hazal yang ingin membawa bantalnya, tetapi Kenan memegang bantal itu dari sisi yang berbeda.
"Sudah aku katakan padamu, aku bukan maniak!" seru Kenan yang segera merebahkan dirinya di atas ranjang.
Hazal yang masih tampak ragu, dengan perlahan ia merebahkan dirinya di samping Kenan. Ia menarik selimutnya hingga di bawah lehernya. Meskipun mereka berdua tidur saling menjaga jarak, tetapi tidak ada pembatas diantara mereka.
"Apakah lampu ini boleh tetap menyala?" tanya Hazal sambil menatap langit-langit kamar Kenan.
"Apakah kau takut gelap?" tanya Kenan yang menarik ke atas selimutnya. Ia harus berbagi selimut juga dengan Hazal.
"Ya. Aku hanya menyisakan satu lampu kecil, ketika aku tidur."
"Sisakan satu lampu yang membuatmu merasa nyaman." Hazal segera mematikan beberapa lampu dan menyisakan satu lampu kecil yang ada di dekatnya. Cahaya di dalam kamar itu menjadi remang-remang. Ia bisa melihat jelas wajah Kenan di tengah kegelapan ruangan ini.
Hazal memegang tangan kanan Kenan di balik selimutnya. Mereka saling berpandangan.
"Kenan, terimakasih kau sudah menolongku," ucap Hazal lirih.
Kenan hanya membalas ucapan terimakasih Hazal dengan senyum tipisnya. "Tidurlah, besok pagi aku akan mengantarmu pulang."
Hazal membalikkan badannya menatap dinding yang ada di depannya. Ia tidak bisa memejamkan matanya saat ini. Kenan hanya menatap punggung Hazal dalam diam, laki-laki itu memejamkan matanya dan tertidur.
Hazal kembali membalikkan badannya dan melihat Kenan telah tertidur dengan bunyi napasnya yang teratur. Ia menatap wajah Kenan.
Ini benar-benar gila, aku dan anak pembunuh orang tua ku tidur di atas ranjang yang sama. Kenapa harus Kenan yang menolongku? Kenapa bukan Yafet? Yafet... apa kau tidak mencari ku? Apa kau tidak mengkhawatirkan ku yang tidak pulang ke rumah malam ini?
❤️ Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa setelah baca kasih tip ya buat Author 😊 Bisa berupa Like, Komentar, Rate bintang lima atau Vote kalian... Terimakasih 🙏🤗