DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Ciuman Pertama


__ADS_3

Menjelang makan siang, Kenan baru keluar dari pabrik tekstil nya. Dahulu pabrik tekstil itu adalah milik Erkan Danner. Salah satu aset milik keluarga Danner yang berhasil dikuasai oleh Harun Fallay.


"Aku tunggu kabar baiknya," ucap Kenan yang sedang berbicara dengan Kepala Pabrik nya.


"Baik Tuan Kenan. Secepatnya saya akan memberikan laporan kepada Anda," jawab seorang laki-laki yang berusia sekitar lima puluh tahunan, berambut setengah putih dan berkacamata.


Kedua orang itupun berpisah di halaman depan pabrik. Kenan melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir mobilnya. Dengan kecepatan tinggi ia melajukan kendaraannya, agar secepatnya sampai di kantornya. Ia berniat mengajak Hazal untuk makan siang bersama.


"Sepuluh menit lagi jam istirahat, aku harap Hazal belum membuat janji dengan orang lain," gumam Kenan yang melihat kaca spion mobilnya. Ia sedang melihat penampilan nya di sebuah cermin kecil yang ada di atas kepalanya.


Dengan langkah kaki yang lebar, ia berjalan memasuki kantor nya. Pintu lift pun terbuka di lantai delapan. Seperti biasa di lantai ini hanya ada dirinya dan Hazal. Dari kejauhan, ia melihat Hazal sedang menelepon seseorang. Ia berjalan mendekati meja Hazal. Samar-samar ia mendengar sekretarisnya itu mengatakan tentang hasil panen pada seseorang yang ada di ponselnya.


"Hasil panen siapa yang kau maksud?" tanya Kenan yang sudah berdiri di samping meja kerja Hazal.


Wajah Hazal nampak terkejut ketika mendengar suara Kenan. Ia kemudian bangkit berdiri dan berjalan mendekati Kenan. Ia mulai menenangkan jantungnya yang baru saja berdegup dengan kencang.


"Kau mengagetkanku. Hasil panen?" Hazal tampak berpikir untuk mengingat sesuatu.


Tangan nya menyentuh kerah jas berwarna abu-abu yang ada di depannya, mengusap kain jas itu dengan belaiannya. Manik mata coklatnya memandang kancing jas berwarna hitam metalik dengan simbol sebuah merk terkenal, sambil berkedip ia menatap wajah Kenan.


"Salah seorang teman sekolahku tadi menceritakan tentang usaha perkebunannya yang baru saja menghasilkan. Hari ini ia mulai panen. Jika aku ada waktu, dia ingin aku datang mengunjungi nya. Jadi, ya... aku katakan bahwa aku akan mengambil hasil panennya," cerita karangan Hazal panjang lebar. Ia tersenyum tanpa rasa gugup sedikit pun.


"Kalau begitu...." Kenan mengusap dagunya sendiri. Ucapan nya terhenti karena ia sedang mengingat jadwalnya.


"Bagaimana kalau besok kita ke sana? Ke perkebunan temanmu itu." Kenan memberikan ide brilian nya yang membuat jantung Hazal turun beberapa tingkat.


Hazal tampak terbengong mendengar ide kekasihnya itu. "Besok?"


"Iya, besok adalah hari Minggu. Hari libur. Kita bisa menikmati pemandangan perkebunan. Lagi pula musim semi sudah di mulai," jawab Kenan sambil memegang kedua tangan Hazal. Kekasih Hazal itu terlihat sangat bersemangat.


"Apa besok kau tidak ada janji dengan seseorang? Mungkin kau ada acara dengan ayahmu atau temanmu?" Hazal mencoba berkelit menghindari ajakan Kenan.


Kenan menghembuskan napasnya dalam-dalam, dengan wajah yang serius ia menatap Hazal, tapi tatapan matanya lembut memandang manik mata coklat yang sejak tadi terus bergerak-gerak. Ia memegang kedua lengan Hazal.


"Besok aku kosong. Walaupun besok aku ada janji dengan seseorang, aku akan membatalkannya hanya demi dirimu. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu." Kenan memeluk Hazal dengan erat, ia mencium rambut coklat Hazal yang tergerai indah.


Kenan, apa kau sungguh-sungguh dengan ucapan mu? Apa hanya aku disini yang bermain sandiwara? Jangan terbawa perasaan Hazal...

__ADS_1


Dengan ragu-ragu Hazal membalas pelukan Kenan. Ia menyandarkan samping kepalanya di dada bidang Kenan, membuat putra Harun itu membelai rambutnya dan membawa masuk tubuhnya dalam rengkuhan dan dekapan laki-laki itu.


"Kembalilah bekerja," ucap Hazal pelan. Kepalanya masih menempel di atas dada bidang Kenan. Pria itu akhirnya melepaskan pelukannya. Sepasang kekasih itu akhirnya kembali bersikap profesional, mereka kembali berkutat dalam pekerjaannya masing-masing.


Di kursi kerjanya, Hazal tengah memainkan penanya dengan jari jemarinya. Ia sedang berpikir, besok ia harus membawa Kenan ke perkebunan siapa. Semuanya hanya alasan untuk membuat pria itu tidak curiga, tapi kini ia terjebak dengan perkataannya sendiri.


Hari sudah mulai gelap, Hazal mengetuk pintu ruangan Kenan.


"Apa kau tidak pulang?" tanya Hazal ketika ia sudah masuk ke dalam ruangan atasannya. Ia melihat atasan sekaligus kekasihnya itu masih sibuk dengan laptopnya. Ia pun berjalan dan berdiri di samping kursi Kenan.


"Apa kau suka tempat ini?" tanya Kenan sambil memperlihatkan foto sebuah pantai dengan pemandangan yang sangat indah yang ada di layar laptopnya. Hazal mendudukkan dirinya di sandaran tangan kursi Kenan.


"Suka," jawab Hazal datar. "Di mana itu?"


"Di Bali. Salah satu pulau di daerah tropis. Nama negaranya kalau tidak salah... Indonesia," jawab Kenan. "Apa kau pernah ke sana?"


"Aku pernah mendengar namanya, ku dengar pantai-pantai di sana sangat indah. Tapi aku belum pernah ke sana," jawab Hazal yang memajukan badannya, ia ingin memperbesar foto pantai tersebut yang ada di layar laptop.


Dengan sigap Kenan melingkarkan salah satu tangannya di pinggang Hazal, menjaga tubuh kekasihnya itu agar tidak terjatuh.


"Suatu hari aku akan mengajakmu ke sana, kita bisa menghabiskan liburan musim panas kita di Bali. Bagaimana menurutmu?"


"Aku akan menunggu hari itu tiba," bisik Hazal. Tapi hatinya mengingkari bahwa hari itu tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah terjadi.


Setelah selesai mematikan laptopnya dan merapikan meja kerjanya, kini mereka berjalan menuju ke tempat parkir mobil Kenan. Suasana kantor sudah mulai sepi.


"Masuklah," kata Kenan ketika ia membuka pintu mobilnya untuk Hazal. Wanita itu pun masuk ke dalam mobil hitam keluaran Eropa tersebut.


Kenan segera melajukan kendaraannya menuju rumah keluarga Aksal. Kenan menyalakan sebuah musik di dalam mobilnya. Alunan lagu romantis terdengar sangat indah.


"Apa kau sudah memberitahu temanmu tentang rencana kita?" tanya Kenan yang mencoba mengingatkan Hazal tentang rencana mereka besok.


"Ehm...ya," jawab Hazal yang langsung mengarahkan pandangannya ke samping wajah Kenan. Ia mulai sedikit menggigit bibirnya sendiri dan memainkan ujung kukunya.


"Jam berapa aku harus menjemputmu?" Mulut pria itu berbicara kepada Hazal, tapi sorot matanya masih fokus memperhatikan kondisi jalan raya.


"Bagaimana jika pukul tujuh pagi?"

__ADS_1


"Ide yang bagus!" seru Kenan. Tangannya sedang sibuk di setir kemudi untuk membelokkan mobilnya.


Mobil Kenan berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah keluarga Aksal. Pintu gerbang yang menjulang tinggi dan berwarna hitam itu masih tertutup rapat.


"Apa kau ingin masuk ke dalam?" tanya Hazal sambil melepaskan sabuk pengamannya. Kenan juga melepaskan sabuk pengamannya.


"Mungkin lain kali," ucap Kenan sambil mengusap rambut Hazal kemudian ia memasukkan tangannya di leher kekasihnya itu.


Di dalam mobil yang gelap yang hanya mengandalkan sinar lampu yang berasal dari tape mobil, Kenan mencium bibir Hazal. Ciuman pertama itu berlangsung sangat cepat, ia hanya menempelkan bibirnya ke bibir Hazal.


Manik mata mereka saling memandang di dalam gelap, Kenan masih menunggu reaksi Hazal. Dia akan memberikan ciuman nya kembali, apabila Hazal tidak menolaknya. Dia benar-benar tahu bagaimana membuat wanita itu nyaman berada di dekatnya.


"Aku mencintaimu, Hazal," bisik Kenan dengan sangat lembut. Hampir mirip seperti sebuah desahan daripada kalimat.


Hazal hanya terdiam memandangi wajah tampan Kenan. Ia tidak menolak dan tidak bersikap agresif. Bibir merah itu sedikit terbuka, tangannya mengusap lembut wajah tampan yang ada di depannya. Manik mata coklat itu hanya bergerak-gerak menatap wajah Kenan yang sudah berada di dekatnya. Kini batang hidung mereka telah saling bersentuhan, hembusan nafas Kenan itu seakan membelai dagunya.


Dengan perlahan Kenan memberikan ciumannya yang kedua kepada Hazal, perlahan demi perlahan. Sangat lembut dan sedikit menggoda. Penuh perasaan. Ciuman yang jauh dari kata menggebu-gebu. Tanpa sadar Hazal menikmati belaian lidah Kenan, ia membalas ciuman pria itu. Dua pasang manik mata itu telah tertutup, menikmati setiap sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh lidah dan tangan mereka.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata elang melihat dari kejauhan. Yafet yang sedang berdiri di balkon kamarnya, melihat mobil Kenan yang sejak tadi berhenti di depan gerbang rumahnya. Yafet sudah bisa menebak, pasti Hazal ada di dalam mobil tersebut.


"Apa yang mereka lakukan di dalam mobil? Kenapa Hazal tidak juga keluar dari mobil itu?" gumam Yafet pelan.


Ia mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Di carinya nomor ponsel Hazal, ia mulai menghubungi wanita yang dicintainya itu.


Ciuman itupun terlepas, seiring dengan bunyi dering ponsel Hazal yang ada di dalam tas wanita itu. Kenan memundurkan tubuhnya dan kembali duduk di kursinya. Pria itu mengusap wajahnya sendiri.


"Siapa?" tanyanya kepada Hazal. Hatinya sedikit kesal, karena bunyi ponsel itu berdering di saat yang tidak tepat.


Hazal mengambil ponselnya dari dalam tas. Tapi bunyi dering itu sudah berhenti. Ia melihat nama Yafet di layar ponselnya.


"Kakakku Yafet. Mungkin hanya terpencet saja. Panggilannya sudah mati," jelas Hazal sambil mengangkat kedua pundaknya. Ia sendiri juga bingung kenapa Yafet menghubunginya.


"Baiklah, sampai jumpa besok. Aku akan menjemputmu." Kenan mengeluarkan senyumannya di saat Hazal mulai turun dari mobilnya.


Mobil Kenan perlahan sudah mulai menghilang di tikungan jalan. Seorang penjaga rumah membuka pintu gerbang rumah keluarga Aksal. Hazal mengayunkan langkahnya memasuki halaman depan rumahnya yang cukup luas. Ia menatap ke atas, melihat pemandangan yang membuat hatinya merasa sakit dan sesak. Manik matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Apa yang terjadi? ❤️ Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian. Terimakasih 🙏🤗


__ADS_2