
Di tengah malam yang dingin dan hujan badai yang menerpa kota Istanbul, Yafet mencari Hazal di seluruh kota itu. Dia mendatangai gedung kejaksaan, perusahaan Fallay, hotel Aksal bahkan ke tempat club' malam hanya untuk mencari kekasih hatinya.
Dengan bermodalkan mantel panjangnya yang membungkus tubuhnya, ia keluar masuk mobilnya. Udara dingin menusuk tulang dan sendi-sendi nya. Pakaiannya basah kuyup, membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Yafet mendatangi rumah teman Hazal yang ia kenal. Tidak banyak, tetapi mereka tidak tahu dimana adik angkatnya itu berada.
Putra Emir itu berjalan sempoyongan menahan terpaan angin kencang yang hendak merobohkan dirinya. Langkah kakinya terhenti, ketika beberapa dahan pohon terlepas dan jatuh di depan kakinya. Hampir saja mengenai kepalanya.
"Hazal...!" teriak Yafet di tengah jalan yang gelap tanpa cahaya. Bukan hanya pikiran dan perasaannya yang kacau, penampilan pria ini sudah jauh dari kata tampan.
"Dimana kau...?" Ia hampir seperti orang gila yang duduk tersungkur di tengah jalan raya yang sepi. Guyuran air hujan, terpaan angin badai, petir dan guntur tidak ia hiraukan. Hanya satu keinginannya saat ini, menemukan wanita yang dicintainya itu.
Menjelang subuh, Yafet kembali pulang ke rumahnya dengan tangan hampa. Dengan langkah kaki yang terseok-seok ia masuk ke dalam rumah, bagaikan seorang prajurit yang kalah di medan perang. Ia tidak mendapati satu orang pun di ruang tamu. Semua orang masih terlelap dalam mimpi mereka. Mata elang itu menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto keluarganya saat Hazal berulang tahun yang ke tujuh belas.
Yafet menatap foto itu cukup lama, hingga pandangan matanya makin lama makin buram. Sekeliling nya tampak gelap. Tubuh tegap dan kekar itupun akhirnya jatuh ke lantai.
*****
Di Apartemen Kenan....
Hujan badai semalam sudah reda, matahari mulai menyinari seluruh penjuru kota Istanbul. Sinar mentari itu mulai menelisik masuk melalui tirai jendela kamar Kenan.
Sang pemilik kamar itu mulai mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, ia merasakan ada sesuatu yang menindih dadanya dan yang melingkar di pinggangnya.
Tangannya menyentuh rambut panjang Hazal yang terurai mengenai lengannya. Ia mengangkat sedikit kepalanya, dilihatnya Hazal yang masih tertidur di atas dadanya dan tangan Hazal sedang memeluk pinggangnya.
Kenan mengusap wajahnya, ia melihat posisi tidurnya yang tidak berubah. Melainkan Hazal yang tanpa sadar telah mendekati dirinya.
Apa ini salahku? Aku tidak menyentuhnya sama sekali.
Perlahan ia memindahkan tangan Hazal. Entah kenapa sejak kejadian kemarin, ia sangat suka memandangi wajah Hazal. Cukup lama ia memandang wajah cantik yang sedang tertidur pulas di atas dadanya. Kenan mulai memberanikan dirinya untuk membelai anak rambut Hazal yang jatuh di wajah wanita itu.
Hazal yang merasakan ada sesuatu menyentuh wajahnya, mulai membuka matanya dengan perlahan. Dilihatnya dirinya yang tidak tidur di atas bantalnya melainkan tidur di atas dada Kenan. Putri angkat Emir itu langsung terduduk dengan sangat terkejut. Ia menarik keras selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Hazal yang seolah menuduh Kenan telah berbuat tidak sopan kepadanya.
Kenan tertawa sambil duduk di samping Hazal. Hazal masih memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya.
"Apa kau belum pernah melakukan hal itu dengan kekasihmu?" tanya Kenan dengan wajah datarnya.
Wajah Hazal tampak memerah karena malu dan menahan geram. Seakan pertanyaan Kenan itu mengolok dan melecehkannya, "Aku tak perlu menjawab pertanyaan mu!"
__ADS_1
Kenan memajukan posisi tubuhnya, membuat Hazal memundurkan tubuhnya hingga terpojok di tepi ranjang tempat tidur. Tangan Hazal mencoba memegang ujung tempat tidur agar ia tidak terjatuh. Wanita itu memegang erat pucuk selimutnya, ia menatap manik mata Kenan yang seolah-olah ingin memakan dirinya pagi ini.
Putra Harun itu memasukkan beberapa bagian helai rambut Hazal ke belakang telinganya, membuat jantung Hazal berdetak sangat kencang. Manik mata coklat itu bergerak-gerak menatap mata abu-abu gelap milik Kenan.
"Aku tidak akan membiarkan satu sehelai benang pun menempel pada tubuh wanitaku, jika aku sudah menidurinya!" bisik Kenan penuh penekanan.
Manik mata Hazal membulat, ia membuka selimutnya dan melihat pakaian yang ia kenakan semalam masih utuh dan lengkap. Hazal segera mendorong tubuh Kenan hingga laki-laki itu terjatuh di atas ranjang.
Kenan segera bangkit berdiri dan tertawa renyah melihat ekspresi wajah Hazal yang merah padam karena gurauannya. Ia bahkan memegangi perutnya sendiri karena tidak bisa menghentikan tawanya.
"Dasar kau pria gila.... brengsek... maniak...pergi kau!" teriak Hazal dengan keras sambil melemparkan sebuah bantal ke arah laki-laki itu.
Kenan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dalam guyuran air shower ia merasakan buliran-buliran air dingin membasahi dirinya. Wajah polos Hazal yang tertidur lelap di atas dadanya, masih membekas di dalam pikirannya.
Bunyi gemericik air di kamar mandi terdengar sampai di telinga Hazal. Waktu dan kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh wanita itu. Ia segera menyibakkan selimutnya dan bangkit berdiri. Ia mulai bergerilya membuka setiap laci dan lemari yang ada di kamar Kenan. Ketika dilihatnya ponsel Kenan yang tergeletak di atas meja, ia bermaksud membuka ponsel tersebut. Tetapi sayang, ponsel itu menggunakan kode rahasia. Ia meletakkan kembali ponsel itu ke tempatnya semula.
Ceklek....!
Pintu kamar mandi itu terbuka, Hazal segera mengambil posisi diamnya. Tangannya asal mengambil sebuah pigura foto seorang wanita yang ada di atas meja. Ia berdiri memunggungi Kenan.
Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai celana pendeknya dan sebuah handuk yang ia kalungkan di belakang lehernya.
"Jangan pernah kau sentuh barang-barang ku! Apalagi foto ini!" teriak Kenan yang sudah berdiri di depan Hazal. Tangan pria itu segera mengambil bingkai foto itu dengan kasar.
Hazal hanya menatap wajah Kenan dan bagian tubuh atas Kenan yang bertelanjang dada memperlihatkan otot-otot perut dan lengannya. Bulu-bulu halus nampak tubuh di sekitar dadanya, khas orang Timur Tengah. Butiran air mengalir dari rambutnya yang basah dan kulit Kenan yang berwarna putih bersih.
"Maaf... aku tidak tahu jika dia sangat berarti bagimu. Kekasihmu sangat cantik, pasti kalian saling mencintai."
"Dia bukan kekasihku, tapi dia adalah ibuku!" pekik Kenan dengan wajah yang emosi dan sorot mata yang tajam.
Manik mata Hazal menatap bingkai foto yang sudah berdiri di atas meja, ia melihat sosok wanita yang anggun tersenyum di sana. Penuh kesederhanaan dan keibuan. Foto itu diambil ketika ibu Kenan masih muda, sekitar berumur tiga puluh tahun.
"Dimana ibumu saat ini? Apa kalian tinggal terpisah?" Hazal kembali menatap wajah Kenan.
"Ibu ku sudah meninggal."
Tampak ada raut guratan kesedihan di wajah Kenan. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil kaos lengan pendeknya.
"Maaf, aku turut berdukacita," ucap Hazal lirih. Ia kemudian terduduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Sudahlah, itu sudah berlalu. Ibuku sudah lama meninggal ketika aku berumur sepuluh tahun." Kenan menghampiri Hazal dan duduk di samping wanita itu.
"Apa ibumu meninggal karena sakit atau kecelakaan?" tanya Hazal pelan. Ia tidak ingin memancing emosi Kenan.
Kenan menatap wajah Hazal sangat dalam. Seolah ia ingin memastikan, apakah wanita yang ada di depannya ini bisa di percaya atau tidak.
"Sakit kanker. Ibu ku terkena kanker hati, tetapi bukan penyakit itulah yang sebenarnya membunuh ibuku. Tetapi ayahku... sikap ayahku lah yang telah menggerogoti kesehatan ibuku." Hazal tersentak mendengar perkataan Kenan.
Harun Fallay benar-benar bukan manusia, bahkan ia sanggup menyiksa istrinya sendiri.
"Ibu ku tidak pernah menceritakan apapun padaku, ia selalu tersenyum dan memelukku. Bahkan setelah meninggal, aku tidak tahu perasaan ibuku saat itu." Kenan menghela napasnya. Rona kesedihan itu terpancar jelas dari wajahnya.
"Sewaktu aku berumur lima belas tahun, ayahku mengirimku keluar negeri. Aku tinggal bersama dengan saudara ibuku. Bibiku yang memberitahu ku, bahwa sebenarnya ayahku tidak pernah mencintai ibuku. Ayah ku sebenarnya mencintai wanita lain." Manik mata Kenan memerah mengingat kejadian waktu itu.
Hazal memegang tangan Kenan. "Aku tidak tahu bahwa kau punya masa lalu yang kelam."
"Setelah ibumu meninggal, apa ayahmu menikahi wanita itu?" tanya Hazal yang sedikit penasaran mendengar cerita Kenan.
Kenan menggelengkan kepalanya, ia menunduk menatap lantai kamarnya. "Aku juga tidak tahu kenapa ayahku tidak menikahi wanita itu, terkadang aku sempat berpikir meragukan cerita bibiku. Entahlah. Mungkin saja wanita itu telah menikah dengan pria lain. Aku juga tidak tahu seperti apa wajah wanita yang di cintai ayahku."
"Ayahku selalu ingin tinggal di rumah, dengan alasan ia ingin mengenang kenangan ibuku di dalam rumah itu. Mungkin ayahku telah menyesali perbuatannya karena telah mengacuhkan ibuku."
Apa mungkin seorang Harun Fallay, bisa menyesali perbuatannya? Apa itu sebabnya ayah dan anak ini tidak pernah sejalan?
Hazal mendongakkan kepalanya menatap langit-langit. Mereka berdua pun duduk dalam diam. Hening. Pikiran mereka melayang membayangkan sosok Harun.
"Apakah kau juga punya cerita masa kecil yang kelam?" tanya Kenan tiba-tiba. Perasaannya kini sudah kembali normal. Tidak ada lagi guratan kesedihan di wajahnya.
"Aku? Tidak... masa kecil ku biasa saja. Aku lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Ayah, ibu dan kakak laki-laki ku sangat menyayangi ku."
Kebohongan Hazal sangat sempurna. Bahkan manik mata dan suaranya semuanya terlihat pasti, tidak ada keraguan di sana.
"Kau sangat beruntung," ucap Kenan sambil menatap wajah Hazal. Ia cukup lega telah berbagi curahan hatinya pada wanita itu. Setidaknya Hazal sudah sedikit demi sedikit mengenal dirinya.
Beruntung katamu? Nasibku jauh lebih mengenaskan daripada masa kecilmu, Kenan. Ayahmu yang telah merampas semua milikku dan masa kecilku!
❤️ Bersambung ❤️
Jangan lupa setah membaca novel ku, kasih tip ya buat Author... cukup kasih Like, Komentar, Rate bintang lima atau Vote kalian 😀 gak mahal kok 😆😆 Terimakasih 🙏😊🤗
__ADS_1