
Setelah mendengar berita pembunuhan Max Walden, Yafet menghubungi Jason dan David. Sementara itu, Carina meminjam ponsel Lee, mencoba menghubungi temannya yang ada di kota Milan, gadis itu ingin mengetahui kebenaran tentang meninggalnya ayah tirinya.
Carina terduduk lemas di sofa dengan ponsel yang jatuh dari genggaman tangannya. Wajah Carina terlihat pucat pasi. Lee menghampirinya dan duduk di sampingnya. "Ada apa? Apa yang teman mu katakan?"
Bibir Carina bergetar, seakan suaranya tersangkut di tenggorokan, gadis itu menggenggam tangannya dengan sangat erat. Beberapa bulir keringat dingin mengalir dan membasahi pelipisnya.
"Katakan padaku, ada apa? Jangan membuatku takut, Carina." Rasa penasaran Lee membuatnya memegang pergelangan tangan kiri Carina.
"Berita tentang Max itu benar, dia meninggal karena tertembak, dan sekarang... sekarang Polisi Italia sedang mencari kita," ujar Carina.
"Apa ?!?!" teriak Lee, Yafet dan Hazal bersamaan. Jantung mereka berdetak kencang membayangkan bahwa mereka akan menjadi buronan Polisi.
Yafet berjalan mondar-mandir di dalam apartemennya, sesekali ia memegang kepalanya dan mengusap wajahnya. "Tidak... ini tidak mungkin. Kita tidak bersalah, terakhir kau meninggalkannya di jembatan itu, bukankah Max masih hidup?" tanya Yafet kepada Lee. Menatap tajam manik mata Lee yang berukuran kecil.
"Ya dia masih hidup, kemungkinan Max di bunuh setelah dia pulang dari Paris. Dia terbunuh di rumahnya sendiri," ujar Lee yang segera berdiri dari tempat duduknya.
Ting.... Tong...
Bel apartemen berbunyi, Hazal berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan keluar membuka pintu apartemennya yang berwarna coklat tua. Begitu pintu kayu itu terbuka, dilihatnya David, Jason dan Smith sudah berdiri di depan nya.
"Ternyata kalian, masuklah...."
Ketiga orang itupun melangkah masuk ke dalam, dan mendaratkan tubuh mereka di sebuah sofa yang berwarna hitam.
"Smith ?" tanya Yafet yang terheran karena tiba-tiba pria itu juga datang ke apartemennya.
"Aku yang mengajaknya ke sini," jawab David yang menegakkan tubuhnya di sofa yang empuk itu.
Carina membantu Hazal menyiapkan minuman dan beberapa makanan ringan untuk mereka semua. Kedua gadis itu membawa sebuah nampan di atas tangan mereka dan meletakkan sajian itu di meja makan.
"Aku dengar dari David, bahwa kalian sudah mendapatkan informasi tentang pembunuh orang tua Hazal," kata Smith yang tiba-tiba berdiri dan membuka percakapannya.
"Ya... pembunuh itu bernama Ted Baxter," kata Yafet sambil menunjukkan foto Max dan Ted yang sedang berfoto bersama di Pegunungan Alpen dua belas tahun yang lalu. Smith mengambil foto itu dari tangan Yafet, dan mengamati wajah kedua orang tersebut.
__ADS_1
"Bukankah pria ini yang ada di berita tadi pagi? Dia telah tewas terbunuh di rumah nya sendiri?" tanya Smith yang pandangannya masih tertuju pada foto yang ada di tangannya.
Lee membenarkan perkataan Smith, dan menceritakan tentang masalah baru yang mereka hadapi saat ini. Saat ini Polisi Italia sedang mencari keberadaan mereka, karena sehari sebelumnya mereka terlibat perkelahian dengan Max di rumahnya.
"Kalian tak usah khawatir tentang hal itu, aku akan berbicara dengan kepala polisi di Italia, mungkin kalian hanya akan dimintai keterangan saja." Ucapan Smith terdengar melegakan di hati mereka semua.
Kemudian Smith kembali ke posisi duduknya di sofa, dia menanyakan kepada mereka tentang keberadaan orang yang bernama Ted Baxter. Tetapi sayangnya, tidak ada satupun yang mengetahui di mana Ted Baxter berada. Bahkan satu-satunya saksi kunci mereka yaitu Max telah tewas terbunuh.
"Dimana tumpukan kertas yang aku bagikan kepada kalian?" tanya Smith kepada keempat pemuda itu.
Yafet segera mengambil kertas-kertas yang ada di dalam tas ranselnya. Kemudian dia menyerahkannya kepada Smith.
Smith membuang selembar demi selembar kertas yang berwarna putih itu ke atas meja yang ada di depannya. Lembaran kertas itu telah sampai di lembar yang ke tiga puluh, nama Ted Baxter beserta foto dan identitasnya tertulis di kertas itu. Wajah Ted Baxter masih sama seperti yang ada di foto dua belas tahun yang lalu. Pria gundul tanpa sehelai rambut pun itu adalah warga negara Turki, saat ini pria itu berusia 45 tahun, dan pekerjaan nya adalah seorang montir di salah satu bengkel di Istanbul.
"Seorang montir?" tanya Lee dengan mengernyitkan dahinya.
"Ya... disini tercatat seperti itu. Apa ada yang salah?" jawab Smith sambil memajukan tubuhnya ke depan.
"Maksud ku... apa kalian tidak merasa aneh, seorang montir sanggup memberikan uang bulanan sebesar USD 5000 per bulan kepada Max? Berapa gaji seorang montir di Turki?" tanya Lee yang menekankan pertanyaan nya.
"Tapi Ted bisa memberikan USD 5000 itu setiap bulan, tanpa ada keterlambatan," ujar Yafet yang menunjukkan buku tabungan Max dan selembar cek milik ayah tiri Carina kepada Smith.
"Wow... si Ted ini seperti seorang dermawan saja," kata David ikut membuka suaranya.
Smith menggaruk keningnya yang tidak gatal, sesekali ia meletakkan salah satu kakinya di atas lutut kakinya yang lain. "Kurasa, uang USD 5000 itu bukan milik Ted pribadi, mungkin ada pihak ketiga yang memberikan kepada Max, dan Ted yang mengerjakannya. Tapi... ini masih perkiraan ku saja."
"Semacam pencucian uang?" tanya Hazal yang berdiri menyandarkan dirinya di dinding.
Smith mengangkat kedua bahunya. Ia juga belum bisa membenarkan atau menyalahkan pertanyaan gadis itu. "Hazal, apa kau pernah mendengar ayah atau ibumu mempunyai musuh?"
"Aku tidak tahu. Waktu itu aku masih kecil, aku tidak terlalu ingat wajah teman-teman atau rekan bisnis orang tuaku. Ayah Emir juga tidak pernah menceritakan tentang hal itu," jawab Hazal dengan menutup kedua lengan nya di atas perutnya.
"Seorang montir membunuh orang asing di Pegunungan Alpen, mungkin ini adalah perampokan?" tanya Jason yang duduk di tengah sofa, diapit oleh Smith dan David.
__ADS_1
"Tidak, berdasarkan data yang ada di lapangan waktu itu, tidak ada barang berharga yang hilang, bahkan setelah menembak ibu Hazal, Ted tidak membawa kabur mobil mereka," jawab Smith.
Hazal mengambil foto Max dan Ted yang ada di atas meja. Ia mengamati wajah Ted Baxter dalam-dalam, "Ted... Ted Baxter... Ted...Baxter...Pria tanpa rambut di kepalanya." Gadis itu terus mengucapkannya berulang-ulang, sampai kemudian dia menjerit dengan keras, "Tidak mungkin dia ?!?!?!" Semua orang menoleh ke arah Hazal.
"Ada apa sayang?" tanya Yafet yang segera menghampiri Hazal.
"Laki-laki ini.... dia... Apakah laki-laki gundul ini yang bernama Ted Baxter?"
"Ya... dia Ted Baxter."
"Yafet, dia.... dia yang... telah menabrak ku di gedung bioskop beberapa waktu yang lalu. Apakah kau ingat? Dia pria yang sama. Pembunuh itu ada di New York !!" ucap Hazal terbata-bata sambil menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, wajah gadis itu pucat pasi. Semua orang terkejut mendengar perkataan Hazal. Kecuali Yafet, karena pria itu juga masih ingat, tetapi akhirnya Hazal mengetahui kebenaran itu.
Yafet mencoba menenangkan Hazal, tetapi gadis itu malah berlari menuju kamarnya. Hazal mencari dompetnya, ia membuka semua laci dan lemari pakaiannya. Benda berwarna putih itu tergeletak di atas tempat tidurnya. Segera ia membuka dompet tersebut, dan mengambil sebuah kartu yang ada di dalam dompet itu. Dibawanya kartu itu dan di berikan nya kepada Smith.
"Ketika pria itu menabrak ku, ia menjatuhkan kartu itu di lantai. Aku mengambil kartu tersebut. Di kartu itu tertulis nama Ted Baxter dan dia adalah salah satu anggota Fallay Gym. Suatu tempat pusat kebugaran di Turki," jelas Hazal pada semua orang.
"Kalau begitu kita bisa mulai mencari keberadaan Ted dari tempat gym ini," kata Smith.
"Tunggu, kami pernah bertemu di New York, apakah kita bisa melacak keberadaannya dari setiap CCTV ruang publik yang ada di kota ini? Kita bisa tahu di mana dia tinggal selama dia berada di New York "
Smith dan yang lainnya setuju dengan ide Hazal. kemudian agen FBI itu berpamitan dan kembali ke kantor nya.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan novelku. Aku sangat berharap, kalian menyukainya 😊 dan jangan lupa kasih kasih...
🤗 Like
🤗 Rate
🤗 Komentar dan
🤗 Vote kalian yah..
__ADS_1
Makasih 😘🤗🙏