DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Bom Waktu Sedang Menanti


__ADS_3

Siang ini, hujan salju di kota Istanbul kian menebal. Petugas pemerintah sibuk dengan peralatan mereka membersihkan jalanan kota Istanbul. Beberapa mobil pembersih membersihkan salju yang hampir tiap hari turun menghujani kota Turki. Di pertengahan musim dingin ini, masih banyak perusahaan yang tidak menutup perusahaannya, terutama perusahaan Fallay yang sedang ingin menaikkan omzet penjualannya.


Kenan Fallay yang siang ini masih berkutat di depan laptopnya, memeriksa setiap laporan yang dikirim oleh karyawannya. Setelah ayahnya memberikan segala kekuasaannya di perusahaan Fallay, putra Harun ini semakin sibuk di kantornya. Pria berumur 30 tahun ini, menatap angka-angka yang ada di layar laptopnya.


Sebuah panggilan internal berbunyi, Kenan menekan tombol merah yang berkedip-kedip.


"Ya, ada apa?" tanya Kenan yang menjepit gagang telepon di antara telinga dan bahunya, sedangkan tangan dan matanya masih fokus melihat laporan di layar laptopnya.


"Tuan, ada konfirmasi dari pihak bank, bahwa hari ini Tuan Harun akan melakukan penarikan dana sebesar 500.000 Lira," jawab manager keuangan perusahaan Fallay.


"Apa? 500.000?" Suara Kenan berhenti. Untuk apa ayah mengambil uang sebanyak itu?


"Halo Tuan Kenan? Apa transaksi ini bisa di jalankan? Pihak bank sedang menunggu konfirmasi dari anda, Tuan."


"Tahan dulu, aku akan menanyakannya pada ayahku."


Setelah menutup panggilan teleponnya, Kenan segera keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Harun mendongakkan kepalanya begitu melihat Kenan yang sudah memasuki ruang kerjanya.


"Ada apa? Kau seperti sedang mengejar hantu saja," kata Harun yang melihat napas anaknya naik turun tak karuan.


"Untuk apa uang 500.000 Lira itu Ayah?"


Harun terkejut mendengar perkataan Kenan yang mengetahui tindakannya, tetapi dengan cepat Harun mengubah raut wajahnya kembali tenang. Ia berdiri, membetulkan kancing jas coklat tuanya, dan menghampiri Kenan.


"Oh uang itu ya, Ayah... hanya ingin membeli... sebuah vila yang ada di dekat pantai." Harun memberi penjelasannya sambil menepuk pundak anaknya, menutupi kebohongannya sendiri.


"Membeli vila?" Kenan mengernyitkan dahinya. "Sejak kapan Ayah ingin tinggal di vila? Bukankan Ayah lebih senang menghabiskan waktu di rumah, mengingat setiap kenangan Ayah dengan Ibu?"


"Baru beberapa hari ini, Ayah pikir tidak ada salahnya membeli sebuah vila untuk investasi. Tentu saja, rumah keluarga Fallay adalah satu-satunya tempat kesukaan Ayah." Sebuah senyuman muncul dari bibirnya, sebuah kenyataan yang berbeda dengan isi hatinya.


Shit...! Aku telah memberikan alasan yang bisa membuat diriku terjebak dengan pertanyaan Kenan. Dia pasti akan memintaku untuk melihat vila yang baru aku beli. Anak ini pasti akan terus bertanya sampai ia mendapatkan jawabannya. Lebih baik aku membatalkan rencana ku, aku akan memastikan lebih dulu kebenaran informasi Alfred.


"Baiklah, aku akan menghubungi pihak bank, agar menjalankan transaksinya. Berikan aku nomor rekening penerimanya, Ayah? Sangat beresiko jika mengambil uang sebanyak itu." Kenan mengambil ponselnya dari dalam kemejanya yang bermotif garis vertikal. Ia hendak menekan beberapa angka yang ada di layar ponselnya.


Tetapi Harun segera mengambil ponsel putranya itu, membuat Kenan tampak bingung dengan sikap ayahnya.


"Tolak saja permintaan Ayah!"


"Bukankah Ayah ingin membeli vila itu? Kenapa Ayah berubah pikiran?"


"Setelah Ayah pikir lagi, harga vila itu sepertinya terlalu mahal. Dengan harga 500.000 Lira seharusnya Ayah bisa mendapatkan vila yang lebih besar. Mungkin lain waktu Ayah akan mencari investasi yang cocok untuk hari tua Ayah."


Kenan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan mengabari pihak bank," ucap Kenan yang telah mengambil keputusannya. Pemuda itu segera pergi meninggalkan ayahnya.


Nampak Harun berdiri sambil mengetuk-ngetuk kan ujung jarinya di atas meja.

__ADS_1


Sejak aku menyerahkan segala kekuasaan perusahaan ku kepada Kenan, aku seperti seekor tikus kecil yang tidak berdaya di perusahaan ku sendiri.


Drrt...drrtt...drrrttt....


Harun mengambil ponsel yang ada di atas meja kerjanya, dilihatnya nama Alfred tertera di layar ponselnya. Mau apa dia menghubungiku? Dengan setengah hati, Harun menjawab panggilan Alfred.


"Ya, ada apa?"


"Kapan kau akan memberikan uangnya? Jika kau tidak memberikan uangnya hari ini, aku akan memberitahu anak Erkan, siapa yang telah membunuh orang tuanya!" ancam Pengacara Alfred.


"Be --" Perkataan Harun terputus, begitu pengacara Alfred menutup ponselnya. Emosi Harun tambah memuncak, ia melempar ponselnya ke lantai, kedua bola matanya hampir keluar dari sarangnya.


"Berani sekali dia menyetop perkataan ku! Kau tidak tahu Alfred, seberapa besar berkuasanya tuan kesayanganmu ini, tanpa bantuan mu aku akan mencari anak Erkan dengan tanganku sendiri!" tawa Harun benar-benar menakutkan.


Harun memanggil salah satu anak buahnya, ia memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti pengacara Alfred kemanapun pengacara itu pergi.


Setelah menghubungi Harun Fallay, cara yang sama juga di lakukan oleh Pengacara Alfred untuk menghubungi Emir Aksal. Tetapi kali ini, Yafet yang mengangkat ponsel ayahnya yang tertinggal di meja kerjanya.


"Halo," sapa Yafet.


"Emir, kapan kau akan mentransfer uangku? Jika kau tidak memberikan uangnya hari ini, aku akan memberitahu penjahat itu, bahwa putri Danner masih hidup!" Pria ini tidak mengenali suara Yafet.


"Oh... jadi ini wajah aslimu yang sebenarnya, Tuan Pengacara! Sampai kapanpun, aku atau ayahku tidak akan pernah memberikan uang sepeserpun kepada pengkhianat busuk seperti dirimu! Seekor anjing saja tahu, bagaimana ia harus berterima kasih kepada tuannya, tetapi kau...! Kau lebih menjijikkan daripada seekor anjing yang menjilati kakiku!"


"Ya, ini aku Putra Emir Aksal! Jika kau berani membocorkan identitas Hazal, aku tidak akan pernah melepaskan mu, anjing tua!" ancam Yafet. Kemudian ia segera menutup ponsel ayahnya, begitu Emir masuk kembali ke ruang kerjanya.


Raut wajah pengacara paruh baya itu menjadi tegang, tubuhnya gemetar karena amarahnya.


"Berani sekali kau mengatai ku, Putra Aksal! Lihat saja, aku akan membuat perhitungan denganmu! Akan ku hancurkan seluruh keluarga Aksal, terutama Emir dan dirimu!"


Malam hari di kediaman keluarga Aksal...


Tok... tok...tok...


Suara ketukan pintu dari luar kamar Yafet. Pria itu segera bangkit berdiri membuka pintu kamarnya.


"Apa aku mengganggu?" tanya Hazal dengan senyuman di wajahnya.


Sebuah pakaian tidur dewasa dua lapis, dengan bahan yang tipis, dan dalaman berenda membalut tubuh Hazal. Membuat Yafet menelan saliva nya, Hazal benar-benar terlihat cantik dan seksi saat ini. Untuk beberapa detik, Yafet memandangi penampilan Hazal yang berubah. Segera Yafet menarik tangan Hazal untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Aku selalu membuka pintu untukmu, kapan pun dan dimana pun," jawab Yafet sambil menuntun kedua pundak Hazal untuk duduk di sofa tempat tidurnya. Yafet mendaratkan dirinya di samping Hazal.


Masih banyak kertas-kertas berserakan dan layar laptop yang masih menyala di atas tempat tidur. Selimut coklat yang setengah sisinya sudah tergelak di lantai. Kain seprei yang sudah tidak karuan lagi bentuknya. Hazal hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kamar kekasihnya itu yang kacau balau.


"Rupanya kau masih sibuk, besok saja aku bicara padamu," ucap Hazal yang segera berdiri, tetapi Yafet memegang tangannya dan menariknya, membuat Hazal jatuh terduduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Aku akan mendengarkan mu bicara, bahkan kalau perlu sampai pagi, aku akan tetap mendengarkan mu," kata Yafet sambil tangannya memeluk pinggang Hazal. Tangan Hazal melingkar di belakang leher Yafet. Sebuah senyuman manis terukir dari wajah tampan Yafet, kedua mata elang itu menatap lembut manik mata coklat yang ada di depannya.


"Hari ini aku pergi ke Kantor Polisi Pusat menemui Ted Baxter."


"Apa kau becanda? Kau menemui pembunuh itu seorang diri?"


Hazal hanya menganggukkan kepalanya. Yafet memegang dan memeriksa wajah Hazal, apa ada bekas luka atau bekas kekerasan yang di lakukan oleh Ted Baxter.


"Dia tidak menyentuhku," jelas Hazal sambil memegang kedua punggung tangan Yafet, ia mengerti apa yang sedang di khawatirkan oleh kekasihnya itu. "Dia hanya ingin bertemu dengan Nuran dan Ali, tetapi Nuran tidak mau bertemu dengannya.


"Apa dia sudah memberitahumu siapa yang telah menyuruhnya?" tanya Yafet.


Hazal menggelengkan kepalanya, "Dia tidak mau mengatakannya, bahkan sampai mati pun ia tidak mau mengatakan siapa orangnya." Hazal menatap langit hitam yang ada di belakang kepala Yafet dengan tatapan nanar.


Apa aku harus memberitahu Hazal, bahwa pengacara Alfred mengetahui siapa dalang di balik ini semua? Tapi aku sedikit ragu, apa pengkhianat itu berkata jujur atau tidak .. Sebaiknya aku tidak memberitahu Hazal dulu, sampai aku mengetahui kebenarannya.


"Ada apa?" tanya Hazal yang melihat Yafet hanya diam membisu.


Yafet mengusap rambut belakang Hazal, dan menempelkan keningnya di kening Hazal. "Kita pasti akan segera mengetahui siapa orang itu, aku akan mencari tahu siapa dalang dari kejahatan ini."


Hazal tersenyum manis menatap wajah kekasihnya yang sangat dekat dengan wajahnya. Aroma mint tercium dari tubuh Yafet. Pria itu merasakan aroma bunga dari tubuh Hazal. Sebuah ciuman mendarat di bibir merah Hazal, sentuhan bibir dan lidah Yafet membuat Hazal menutup kedua kelopak matanya. Ketika Yafet ingin memperdalam ciumannya, tiba-tiba Hazal mendorong tubuh kekasihnya itu, membuat Yafet terlihat sedikit kecewa.


"Sayang, aku baru ingat! Hampir satu minggu Selina melakukan Tes DNA. Apa pihak rumah sakit sudah mengabarimu?"


Yafet menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, hampir saja dirinya lupa akan masalah ini.


"Belum, tidak ada kabar dari rumah sakit. Besok aku akan menghubungi mereka."


Yafet menyingkirkan beberapa helai rambut yang ada di depan wajah Hazal. Di tatapnya wajah wanita yang dicintai nya saat ini.


Sejujurnya aku tidak peduli dan tidak ingin tahu hasil tes DNA itu, yang aku inginkan hanyalah menikah denganmu. Ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu, sayang....


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih buat kalian yang sudah membaca novelku ini 😊 Jangan lupa setelah baca, kasih...


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar atau


🤗 Vote kalian ya...


Jika kalian menyukai novelku ini...aku sangat-sangat berterimakasih 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2