DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Tinggal di New York


__ADS_3

Sudah hampir dua Minggu, keluarga Aksal menghabiskan liburan musim panas mereka di New York. Tiba saat nya bagi Emir dan Meral untuk kembali ke Turki, hari yang membuat pasangan suami istri ini akan kesepian untuk beberapa saat, karena mereka harus berpisah dengan kedua anak mereka.


Saat ini mereka sedang berkumpul di Bandara New York. Emir dan Meral memeluk erat kedua anak mereka, dengan berat hati mereka menitipkan Hazal kepada Yafet.


"Jaga baik-baik Hazal, jika sampai sesuatu terjadi padanya, Ayah akan membuat perhitungan dengan mu meskipun kau adalah anak ku." pinta Emir kepada putranya itu.


"Benar kata Ayahmu, Yafet. Putri ibu ini tidak pernah jauh dari kami seumur hidupnya, baru kali ini dia pergi jauh dari kami. Jaga dia dan jaga dirimu Hazal. Selalu hubungi ibu setiap saat." ucap Meral kepada kedua anaknya.


"Aku berjanji padamu Ayah....Ibu. Aku akan menjaga Hazal, seperti permata hati Ayah." ujar Yafet dengan senyuman nya. Meskipun orang tuanya tidak memintanya, Yafet akan tetap menjaga Hazal.


Mendengar perkataan Yafet, mereka pun tertawa. Rasa kegembiraan dan kesedihan bercampur jadi satu.


"Ayah...Ibu... terimakasih kalian mau mengijinkan aku untuk tinggal di New York. Terimakasih buat kasih sayang kalian padaku selama ini. Aku pasti akan sangat...sangat merindukan kalian, aku rindu tawa Ayah dan Ibu. Aku rindu suasana meja makan yang ada di rumah kita. Aku rindu pelukan dari Ayah dan Ibu. Aku pasti akan merindukan saat-saat itu di sini." ucap Hazal dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar ucapan putrinya, Meral memeluk erat dan mencium pipi Hazal. "Ibu juga akan merindukanmu, sayang."


"Hapus air matamu, dan lihatlah ke depan. Ini adalah impian yang kau inginkan. Belajarlah dengan baik di sini. Ayah harap kau bisa membawa gelar sarjana mu dan membuat bangga kami semua." ucap Emir kepada Hazal dan memeluknya.


"Aku janji, Ayah....aku akan menyelesaikan studi ku dengan cepat. Aku juga ingin membuat kalian bangga dengan diriku." janji Hazal kepada Ayah angkatnya.


Tak berapa lama kemudian, Emir dan Meral sudah memasuki gate 10 yang membawa mereka pulang kembali ke Turki. Kedua anak mereka menyaksikan kepergian mereka dalam diam dan lambaian tangan.


Setelah kepergian orang tua mereka, kedua anak Aksal ini kembali ke apartemen Yafet. Sebelumya Hazal tinggal di hotel dengan ayah dan ibunya, karena apartemen Yafet hanya memiliki satu kamar.


Selesai memarkirkan mobilnya di depan apartemen, Yafet membantu Hazal mengeluarkan koper nya dari dalam bagasi mobil dan menaruhnya di dalam apartemennya.


"Kau hanya membawa satu koper saja?" tanya Yafet kepada Hazal.


"Iya...aku hanya membawa beberapa baju dan beberapa buku saja." jelas pemilik koper tersebut.


"Aku kira....barang mu banyak sekali." ucap Yafet.


"Tenang saja....aku tidak akan membuat apartemen mu penuh dengan barang-barangku." kata Hazal.


Terdengar suara lift yang membawa mereka ke lantai tujuh. Kemudian Yafet membuka pintu apartemennya, dan menyuruh Hazal untuk masuk.


Hazal berjalan memasuki ruang apartemen milik kakak angkatnya itu, gadis itu melihat sekelilingnya. Tidak terlalu luas ruang apartemen tersebut. Hanya memiliki satu ruang kamar dan satu ruang lain yang multifungsi, karena ruangan itu sebagai tempat makan, tempat bersantai, seklaigus tempat memasak....mungkin terlalu jauh jika di sebut sebagai dapur. Dan satu ruangan kamar mandi kecil yang ada di dalam kamar.


Banyak barang-barang berserakan tidak pada tempatnya. Sampah-sampah bekas kaleng minuman, bungkus makanan instan, sisa makanan dan kertas-kertas berserakan di tempat sampah. Menimbulkan bau yang tidak sedap.


"Bagaimana dia bisa hidup seperti ini. Apa tikus-tikus tidak berdatangan ke tempat ini?"


Hazal mencari Yafet di kamarnya, dilihatnya kamar kakak angkatnya itu. Berantakan. Itulah satu kata yang bisa menggambarkan keadaan kamar Yafet saat ini.


"Ehm.....mungkin kau sedikit terkejut dengan keadaan di sini. Jauh berbeda dengan rumah kita yang ada di Turki." ucap Yafet yang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Seolah-olah dia mengerti kenapa dari tadi Hazal memperhatikan setiap sudut ruang apartemen nya.


"Ya....Yaa.....aku mengerti. Mungkin aku akan terkejut jika apartemen seorang pria tampak rapi dan bersih." jawab Hazal sambil tersenyum.


Yafet mencubit hidung mancung Hazal, gadis itu berteriak pura-pura kesakitan. Mereka tertawa bersama-sama.


"Baiklah aku akan membantu mu membersihkan nya. Karena sebentar lagi, aku juga akan tinggal di sini selama beberapa tahun." kata Hazal menarik tangan Yafet untuk segera membersihkan apartemen miliknya.


Mereka mulai memungut setiap sampah yang ada di setiap sudut rumah, mengumpulkannya jadi satu dan membuangnya ke tempat sampah di luar. Kemudian Hazal membantu Yafet merapikan barang-barang miliknya, mengelap setiap debu yang menempel di perabot, mengganti seprei di ranjang Yafet.


Dalam dua jam pekerjaan bersih-bersih mereka telah selesai. Ketika Hazal selesai membersihkan hiasan dinding yang ada di luar kamar Yafet, gadis itu hendak mengembalikannya ke tempat semula. Hazal menarik sebuah kursi, dan dia berdiri di atas kursi itu, namun karena jarak paku dan lubang hiasan dinding itu agak jauh, Hazal menjinjit kan telapak kaki nya. Tanpa sadar, tubuhnya tidak seimbang dan dia pun terjatuh ke bawah.


Tiba-tiba dengan cepat Yafet menangkap tubuh Hazal. Gadis itu malah terjatuh di pelukan kedua tangan Yafet, pandangan mereka saling bertemu. Hidung dan bibir mereka hampir bersentuhan. Mereka saling memandang untuk beberapa menit, jantung Hazal saat itu berdetak kencang, entah karena hampir jatuh dari kursi atau karena pelukan dan tatapan mata elang Yafet.


"Kau tak apa? Apa ada yang sakit?" tanya Yafet yang membantu Hazal untuk berdiri. Dilihat nya dari atas sampai bawah tubuh Hazal, apa ada yang terluka.


"Tidak....aku tidak apa-apa. Mungkin tadi aku kurang hati-hati." ucap Hazal dengan pipinya yang merona merah karena Yafet memperhatikan tubuhnya.

__ADS_1


"Lain kali berhati-hati lah." ucap Yafet tersenyum sambil mengusap rambut coklat Hazal.


Kegiatan bersih-bersih mereka sudah selesai, giliran perut mereka yang mulai berdemo. Hazal membuka lemari es, dan mencari bahan makanan yang bisa di masak. Tapi tangan Yafet menariknya, "Biarkan aku yang masak makanan untuk mu."


Yafet menggandeng tangan Hazal dan menyuruh gadis itu untuk duduk di kursi makan saja sampai menunggu Yafet selesai memasak.


Antara tidak yakin dengan masakan Yafet dan ingin menuruti keinginan kakaknya itu, Hazal pun terpaksa duduk menunggu. "Apa cowok seperti dia bisa masak?"


Hazal yang menunggu kebosanan, mulai bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Yafet.


"Biarkan aku ikut membantu mu." kata Hazal menawarkan bantuannya kepada Yafet.


"Duduklah dan tunggu aku."


Tapi gadis itu tidak menuruti keinginan Yafet. Hazal melihat ada sebuah pisau dapur di depan nya dan ada beberapa buah jeruk. Kemudian dia mengambil pisau di depannya dan mulai mengupas buah jeruk tersebut.


"Auuw...." Hazal menjatuhkan pisau nya di meja. Tampak darah segar keluar dari jarinya yang tergores pisau dapur yang tajam.


Dengan cepat Yafet memegang tangan Hazal dan memasukkan jari Hazal yang terluka ke dalam mulut nya. Yafet menghisap darah yang keluar dari jari Hazal. Diambilnya kotak P3K di lemari dapur, di ambilnya obat antiseptik dan selembar plester untuk membungkus luka Hazal.


Hazal memperhatikan tingkah laku Yafet yang sangat peduli padanya.


"Sudah aku katakan, duduk dan tunggu aku !! Kenapa kau selalu ceroboh seperti ini? Tadi kau hampir jatuh dan sekarang jarimu terluka. Baru beberapa jam Ayah dan Ibu pulang, kau sudah membuat dirimu terluka seperti ini !!" seru Yafet kepada Hazal.


Hazal terkejut melihat reaksi Yafet yang seperti itu. Baru kali ini Yafet memarahi diri nya karena kecerobohan dirinya sendiri.


Yafet yang melihat Hazal hanya mematung di depan nya menyadari bahwa perkataannya itu telah membuat Hazal terkejut. Tapi pria itu seolah-olah tidak mengetahui reaksi Hazal.


"Apa kau akan mematung terus di situ? Bukankah tadi kau ingin membantu ku?" tanya Yafet.


"Katakan apa yang ingin aku bantu?" tanya Hazal yang berjalan di belakang Yafet.


"Coba kau cicipi masakan ku ini?"


"Bagaimana? Apa rasanya enak?" tanya Yafet kepada Hazal. Tapi gadis itu diam saja dan mengernyitkan dahinya.


"Ada apa? Bagaimana rasanya?" tanya Yafet sekali lagi.


Hazal tidak menyangka pasta buatan Yafet sungguh luar biasa, bahkan sangat enak. Tapi Hazal ingin membuat Yafet penasaran.


"Ehmm....gimana ya?" ucap Hazal dengan jawaban menggantung nya.


"Gimana apa nya? Berikan garpu mu padaku, aku akan mencicipinya." pinta Yafet. Hazal memberikan garpu miliknya, dan Yafet mengambil beberapa lembar pasta dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasanya enak. Seperti yang biasa dia masak.


Terdengar suara gumaman dari Yafet. Hazal yang melihat ekspresi kakak angkatnya itu semula hanya tersenyum kemudian dia tidak kuat menahan tawanya, akhirnya Hazal tertawa lepas di depan kakak angkatnya.


"Berarti tadi kau hanya mengerjai ku?" tanya Yafet yang tersadar jika dirinya di kerjain oleh Hazal.


Hazal pun segera berlari menuju kamar dengan tertawa. Dengan cepat Yafet mengejarnya dan menangkap tubuh gadis itu. Mereka berdua terjatuh di lantai dengan posisi Hazal di bawah tubuh Yafet. Tetapi Yafet menahan tubuhnya dengan kedua tangannya, agar tubuhnya tidak menindih tubuh Hazal.


"Beraninya kau mengerjai aku." ucap Yafet dengan tawa dan senyumnya.


"Bukankah kita seri... satu sama." balas Hazal dengan senyum dan tawanya.


Yafet menggelitik pinggang Hazal dengan tangannya, gadis itu berteriak kegelian. Mereka saling membalas, dan saling tertawa terbahak-bahak. Kemudian Yafet berdiri dan menggendong Hazal di dekapannya, membawa Hazal ke ruang makan dan mendudukkan nya di salah satu kursi kayu. Diambilnya dua mangkok pasta bolognese buatan nya. Mereka melahap habis pasta tersebut.


"Sebenarnya aku mau mengatakan, kalau masakan mu ini benar-benar lezat, bahkan lebih lezat daripada juru masak di rumah kita." kata Hazal.


"Kenapa kau tidak mengatakan hal itu dari tadi?" tanya Yafet yang masih memegang garpu nya.


"Karena aku tak menyangka kau bisa masak seenak ini." ucap Hazal sambil tertawa.

__ADS_1


"Teruslah tertawa, besok aku tidak akan memasak lagi untukmu." balas Yafet menggoda adik angkatnya.


"Ehh....apa kau mau aku mati kelaparan di sini? Aku akan beritahu Ayah dan Ibu, bahwa kau tidak menjaga ku dengan baik." seru Hazal yang mengalungkan kedua tangannya ke lengan Yafet. Gadis itu mengerucutkan bibir merah nya di hadapan Yafet. Dengan cepat Yafet mencubit hidung mancung Hazal.


"Apakah aku tega melihat gadis cantik ini mati kelaparan bersama ku?" tanya Yafet dengan senyum nakalnya.


Mendengar perkataan Yafet, pipi Hazal memerah. Mereka tertawa bersama-sama. Kemudian mereka membersihkan meja makan dan mencuci piring bersama. Setelah itu, Yafet mengajak Hazal belajar untuk mempersiapkan ujian masuk ke Columbia University.


Meskipun jurusan yang diambil Yafet dan Hazal berbeda, tetapi Yafet membantu Hazal mencarikan soal-soal ujian masuk untuk jurusan hukum melalui website kampusnya.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Hazal sudah mulai kelihatan mengantuk. Mereka menyudahi belajar mereka.


Kini saat nya mereka bingung mengatur tempat tidur mereka. Di ruang kamar Yafet hanya terdapat satu tempat tidur dengan ukuran medium size. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Yafet memutuskan untuk tidur di sofa luar. Sementara Hazal tidur di tempat tidur.


"Apakah kau yakin bisa tidur di sofa?" tanya Hazal penuh keraguan.


"Apakah kau lupa kalau aku seorang laki-laki. Bukankah tidur di mana saja bagiku tidak masalah. Sementara kau sejak kecil selalu tidur di tempat tidur yang nyaman, apa aku akan membiarkan Nona Hazal ini tidur di sofa? Jangan-jangan nanti kau akan mengadu ke ayah dan ibu." kata Yafet yang mengambil bantal guling nya.


Hazal yang mendengar perkataan Yafet hanya membalasnya dengan senyuman manisnya. Senyuman yang membuat setiap hati para pria yang melihatnya langsung meleleh perasaan nya. Begitu juga dengan Yafet, sebelum dia tidak bisa menahan perasaannya, dengan terburu-buru dia mengucapkan "Good Night" kepada Hazal.


*****


Yafet yang baru kali ini tidur di sofa, belum bisa tertidur dengan pulas. Matanya masih terjaga, membayangkan senyuman Hazal sebelum gadis itu tidur. Mengingat setiap kegiatan bersama mereka hari ini.


"*Apakah aku akan tetap bersikap pengecut seperti ini? Tanpa mau berterus terang tentang perasaan ku padanya?"


"Bagaimana jika dia menolak diriku? Tapi bagaimana jika di New York dia bertemu dengan laki-laki lain seperti Ozcan?"


"Oh Yafet.....bukankah ini bukan pertama kalinya, kau mengutarakan perasaan mu pada seorang gadis?"


"Kali ini berbeda.....biasanya aku selalu percaya diri, bahwa aku bisa mendapatkan gadis yang aku incar. Tapi tidak dengan Hazal, karena kali ini aku akan serius dengan nya, dan tidak akan mencampakkan nya seperti yang pernah aku lakukan pada gadis lain. Karena aku sangat mencintai mu Hazal....aku sangat mencintai mu*."


Hati Yafet berkecamuk tak karuan. Dia berusaha memejamkan matanya, setelah lewat tengah malam pria itu baru tertidur pulas.


*****


Hazal yang merasa kehausan tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dilihat nya jam tangan nya yang dia taruh di atas meja kecil dekat tempat tidurnya. Dengan bantuan cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamarnya, waktu menunjukkan pukul tiga pagi.


Hazal turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar hendak mengambil air minum. Setelah dia mengambil air minum, di lihatnya tubuh Yafet yang telentang di atas sofa.


Bergegas diambilnya sebuah selimut dari dalam lemari, dan di bawanya ke ruang tamu. Hazal menutupi tubuh Yafet yang dengan selimut yang dia bawa. "Bagaimana dia bisa lupa tidak memakai selimut, padahal udara di luar sangat dingin."


Dipandanginya wajah Yafet di bawah cahaya rembulan.


"Dia tidur seperti seorang bayi laki-laki yang kenyang karena ASI ibunya. Entah apa yang membuat ku jatuh cinta padamu. Apakah karena ketampanan mu atau karena sifat mu?"


"Aku tidak tahu....yang aku tahu jantungku selalu berdetak kencang ketika kau menatapku. Hatiku selalu nyaman ketika kau memelukku, dan aku bahagia saat bersama mu."


"Bagaimana denganmu? Apakah kau juga punya perasaan yang sama sepertiku? Kau tau kenapa waktu itu aku menolak Ozcan? Karena kau....Ya karena kau Yafet. Kau yang telah membuatku jatuh cinta."


" Aku mencintaimu bukan sebagai kakak ku, tapi aku mencintaimu seperti cinta seorang gadis kepada kekasihnya. Bagaimana aku mencintai kakak angkat ku sendiri? Aku juga tidak tahu, perasaan ini muncul tiba-tiba. Dan aku menyadari bahwa Ayah dan Ibu tidak akan menyukai hal ini."


"Apakah aku harus berjuang untuk mendapatkan cintaku? Berjuang untuk melawan orang yang sudah memberikan kasih sayang nya padaku? Apakah aku bisa membalas budi baik mereka dengan mengkhianati kepercayaan mereka?


"Jika aku harus kehilangan mu Yafet, aku tak kan sanggup. Karena aku mencintaimu Yafet....sangat mencintaimu."


Sayang ungkapan mereka hanya sebuah rangkaian kata yang terucap di dalam relung hati mereka, tanpa mereka mau mengungkapkannya kepada orang yang mereka cintai.


❤️Bersambung❤️


Hai para readers 😉 setelah membaca bab ini jangan lupa masuk yuk ke group chat ku yuk. Di group chat itu kalian bisa mengikuti informasi tentang perkembangan novel ini dan kalian juga bisa memberikan aku ide untuk mengembangkan tulisan novel ini 🤗

__ADS_1


Jangan lupa.....kasih Like, Rate, Komen dan Vote kalian yah....


Terimakasih kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2