
Keesokkan harinya setelah kejadian Selina berhasil mencuri buku harian Hazal. Dimana Kenan saat ini berada di depan rumah Hazal, mengantarkan kekasihnya itu untuk pulang ke rumah keluarga Aksal.
"Jangan tidur terlalu malam," ucap Kenan setelah menghentikan mobilnya dan melepas sabuk pengamannya.
"Baiklah, kau juga. Jaga kesehatanmu. Besok penerbangan kita pukul sembilan pagi," ucap Hazal yang mengingatkan kekasihnya itu.
Kenan kemudian memberikan ciuman terakhirnya untuk hari ini kepada Hazal.
"Aku mencintaimu, honey," kata Kenan dengan lembut.
Hazal hanya menjawab nya dengan senyuman manisnya.
"Aku pulang dulu," ucap Hazal sambil membuka pintu mobilnya.
Setelah melihat Hazal masuk ke dalam halaman rumahnya, Kenan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah keluarga Aksal.
Di saat yang sama, Selina melihat kepulangan Hazal dari atas balkon kamar Yafet. Wanita Inggris itu segera mengambil ponselnya dan mencari nomor ponsel Kenan yang ia dapat kemarin dari ponsel Hazal.
Nada sambung itu berbunyi beberapa kali, sampai akhirnya Kenan menjawab panggilan ponselnya.
"Halo...," sapa Kenan di balik setir kemudinya.
"Apa kau yang bernama Kenan Fallay?" tanya Selina setelah ia mendengar suara seorang laki-laki dari ujung ponselnya. Ia bangkit berdiri dan mendekati jendela besar di kamarnya.
"Ya. Aku Kenan Fallay. Siapa kau?" tanya Kenan dengan nada datarnya, ketika ia mendengar suara seorang wanita yang tidak dikenalnya. Logat suara wanita itu seperti orang asing yang baru belajar bahasa Turki.
"Kau akan tahu siapa aku. Bisakah 30 menit lagi kita bertemu di Kafe Galatta?" tanya Selina yang mulai melancarkan rencananya.
"Untuk apa aku harus bertemu denganmu?" tanya Kenan sambil membetulkan letak handsfree di telinganya.
"Aku rasa kau pasti tertarik dengan suatu rahasia yang dimiliki oleh Hazal," ucap Selina dengan sedikit meyakinkan.
"Rahasia Hazal?" tanya Kenan.
"Ya rahasia Hazal yang tersembunyi, yang tidak kau ketahui," ujar Selina dengan suara sedikit berbisik.
"Katakan siapa namamu?" tanya Kenan sambil memutar setir kemudinya ke arah Kafe Galatta.
"Nama ku Selina Howard," ucap Selina yang memperkenalkan dirinya.
"Baiklah Nona atau Nyonya Howard, aku akan menemuimu sekarang!" seru Kenan. Putra Harun itu langsung melajukan mobilnya menuju ke kafe Galatta.
Di tengah perjalanan Kenan masih berpikir tentang ucapan Selina.
Rahasia Hazal? Apa Hazal menyembunyikan sesuatu dariku? Aku rasa wanita asing itu pasti mengada-ada.
Tapi rasa penasaran membawa Kenan untuk pergi menemui Selina.
Sementara itu, Selina telah siap-siap untuk keluar dari rumah keluarga Aksal. Ia pun berpamitan kepada ibu mertuanya hendak pergi bersama Jasmine malam ini. Sebuah taksi sudah menunggunya di depan pintu gerbang rumah, ia segera mengayunkan langkahnya dengan cepat.
Sebelum Yafet pulang, aku harus segera pergi dari rumah ini.
"Kafe Galatta!" seru Selina kepada sopir taksi yang ada di depannya.
Sopir taksi itu segera melajukan kendaraannya yang berwarna kuning, menuju ke pusat kota Istanbul.
Taksi kuning itu berhenti tepat di depan kafe, Selina segera turun dari kendaraan umum itu. Ia agak kesusahan keluar dengan kondisi perutnya yang terlihat semakin besar.
"Apa perlu saya tunggu, Nyonya?" tanya sopir taksi itu yang merasa kasihan melihat Selina yang sedang hamil besar pergi seorang diri.
"Tidak perlu! Ambil saja uang kembaliannya!" seru Selina dengan sikapnya yang kasar.
Sopir taksi itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Selina yang sama sekali tidak menghargai dirinya.
Selina segera masuk ke dalam kafe, ia belum melihat kehadiran Kenan di kafe itu. Wanita itu memilih tempat duduk yang ada di sayap kanan kafe tersebut. Di barisan tengah sehingga ia bisa melihat kapanpun kekasih Hazal itu datang.
__ADS_1
Lima menit kemudian, mobil Kenan memasuki halaman depan Kafe yang terkenal dengan interior nya yang mempunyai konsep sebuah perpustakaan. Pria tampan itu keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam kafe.
Selina yang melihat kedatangan Kenan segera melambaikan tangannya kepada kekasih Hazal itu. Putra Harun itu segera datang menghampiri meja Selina. Laki-laki itu menarik salah satu kursi yang ada di depan Selina.
"Kau yang menghubungiku tadi?" tanya Kenan kepada seorang wanita asing yang duduk di hadapannya. Seorang wanita dengan kondisi hamil.
"Ya. Aku kakak ipar Hazal, istri Yafet Aksal. Kita memang belum pernah bertemu, tapi aku sering melihatmu bersama Hazal di rumah," ucap Selina menjelaskan dirinya.
"Baiklah Nyonya Selina. Katakan apa mau mu?" tanya Kenan sambil menyandarkan dirinya di sandaran kursi.
Selina mengeluarkan buku harian Hazal dan beberapa keping CD milik Hazal dari dalam tasnya.
"Aku akan langsung ke intinya, karena aku tahu kau pasti sangat sibuk," ujar Selina sambil meletakkan kedua barang pribadi itu di tengah-tengah meja.
Kenan menaikkan kedua alisnya, menyetujui perkataan Selina.
"Ini adalah barang pribadi Hazal. Buku harian dan video kenangan Hazal. Mungkin selama ini kau merasa Hazal mencintaimu. Tapi ternyata kau salah! Dia hanya memanfaatkan mu dan menduakan mu!" seru Selina yang mengeluarkan ucapannya yang beracun untuk mempengaruhi pikiran Kenan.
Kenan mendengus kesal mendengar perkataan Selina, ia memajukan tubuhnya memandang wajah istri Yafet itu dengan sorot matanya yang tajam.
"Jadi kau menghubungiku hanya untuk membicarakan gosip tentang Hazal?"
"Ini bukan gosip, Tuan Fallay. Ini kenyataan!" seru Selina dengan wajah seriusnya, menatap manik mata Kenan yang menatapnya dengan tajam.
Kenan memalingkan wajahnya dari Selina. Ia menatap jendela kaca kafe tersebut.
"Aku tidak tahu kau punya masalah apa dengan Hazal. Aku sama sekali tidak tertarik dengan masalah wanita. Tapi jika kau berniat mencelakai Hazal, jangan harap kau bisa melahirkan anakmu itu!" pekik Kenan dengan raut wajah kesal.
"Wow! Bertambah lagi pria yang akan melindungi Hazal. Adik ipar ku itu menggunakan ilmu apa? Sehingga mampu membuat dua orang pria tampan tergila-gila padanya dan rela melindungi nya!" Selina menaruh umpannya di perkataannya.
"Apa maksudmu ada dua orang pria?" tanya Kenan yang memicingkan kedua matanya kepada Selina.
Selina tersenyum kemudian meneguk minumannya. Ia merasa Kenan telah memakan umpannya. Kini dia tinggal menarik tali pancingnya dan ikan itu akan segera menggelepar.
Kenan hanya menatapnya dengan tajam. Keheningan pertama.
"Saat ini Hazal mempunyai dua orang pria di dalam hidupnya. Pria pertama adalah pria yang sangat dia cintai, tapi sayang sampai akhir hidupnya dia tidak akan pernah bisa bersatu dengan pria itu," jelas Selina sambil memperhatikan reaksi wajah Kenan.
Kenan mengatupkan kedua rahangnya. Manik mata abu-abu gelap itu tidak melepaskan pandangannya dari Selina. Keheningan kedua.
"Sedangkan pria yang kedua adalah pria yang hanya di manfaatkan nya saja, ia sama sekali tidak pernah mencintai pria itu. Aku tidak tahu kau termasuk pria pertama atau pria kedua," jelas Selina melanjutkan ceritanya. Ia mengetukkan jari tengah dan jari telunjuknya di dagunya.
Putra Harun itu terdiam. Tidak merespon perkataan Selina. Tapi dia juga membantah perkataan wanita itu. Keheningan ketiga.
"Ah sudahlah, aku mau pulang saja! Kurasa tidak ada gunanya aku membantumu!" pancing Selina agar membuat Kenan merespon perkataannya. Ia hendak bangkit berdiri dari kursinya.
"Tunggu! Sebenarnya apa mau mu? Berapa banyak yang kau mau?" tanya Kenan yang mengira bahwa Selina adalah wanita yang hanya ingin memerasnya.
Selina hanya tertawa mendengar pertanyaan Kenan. "Kalian pria Turki sama saja! Aku tidak menginginkan uangmu! Yang aku inginkan adalah bawa Hazal pergi jauh-jauh dari kehidupan Yafet Aksal!"
"Apa hubungannya dengan Yafet Aksal?" Kenan semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Selina.
"Jika kau masih tidak mengerti dengan perkataan ku, bawa buku harian itu dan bacalah! Maka kau akan tahu wanita seperti apa Hazal!" seru Selina yang kemudian pergi meninggalkan Kenan.
Setelah kepergian Selina, putra Harun itu masih duduk terdiam di kursinya. Ia hanya menatap buku tebal dan kepingan CD itu. Cukup lama ia memandangi kedua benda itu, sampai suara seorang pelayan kafe mengejutkannya.
"Apa Tuan ingin memesan sesuatu?"
Kenan tersadar dari lamunannya, sejak dirinya datang ia memang belum memesan apapun di kafe itu. Tapi malam ini dia sama sekali tidak berselera. Ia mengambil dompetnya dan memberikan satu lembar uang pecahan besar.
"Maaf, aku tidak jadi pesan. Ini ambillah," ucap Kenan kemudian ia bangkit berdiri membawa buku harian Hazal dan kepingan CD tersebut.
🔥❤️🔥❤️
Sementara itu di malam yang sama di rumah kediaman keluarga Aksal.
__ADS_1
Hazal sedang sibuk mencari buku hariannya yang hilang. Ia membongkar setiap laci meja dan lemarinya. Tetapi ia tidak menemukan buku milik nya itu.
Putri angkat Emir itu menanyakan ke seluruh pelayan rumahnya tetapi tak satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan buku hariannya.
Oh Tuhan, dimana buku itu sekarang! Aku menulis semuanya di dalam buku itu. Kenapa aku bisa ceroboh meninggalkan nya di atas meja?
"Ada apa?" tanya Yafet yang melihat Hazal berjalan mondar-mandir dengan wajah yang gelisah.
"Aku kehilangan buku harian ku. Aku sudah mencarinya di mana-mana, tapi aku tidak menemukannya," jawab Hazal.
"Apa ada sesuatu yang penting di dalam buku itu?" tanya Yafet yang berdiri di ambang pintu ruang keluarga.
"Aku menuliskan semuanya di dalam buku itu. Identitas ku, tentang kita, rencana ku, tentang aku dan Kenan. Semuanya!" seru Hazal sambil memegang pelipisnya.
Yafet masuk ke dalam ruang keluarga. Ia berusaha menenangkan Hazal dengan cara memeluknya.
"Sekarang tidurlah. Aku akan membantumu mencarinya. Siapkan dirimu untuk besok," ucap Yafet sambil mengusap punggung Hazal dengan lembut.
Hazal melepaskan dirinya dari pelukan Yafet, ia menatap sepasang mata elang itu dengan lembut.
"Baiklah. Semoga kau berhasil menemukannya," ujar Hazal yang segera berjalan keluar dari ruang keluarga.
"Apa warna buku harian mu itu?" tanya Yafet sebelum Hazal benar-benar meninggalkan ruangan itu.
Hazal membalikkan badannya menghadap Yafet, "Buku tebal. Sampulnya berwarna putih dan ada setangkai mawar merah di tengahnya."
Putri angkat Emir itu segera naik ke lantai atas, sementara Yafet masih sibuk mencari buku harian Hazal.
Di dalam kamar, Hazal mengirimkan pesan instan kepada Mert.
~ Mert ~
Besok pagi-pagi aku akan pergi ke Swiss. Bisakah kau mengambil kunci itu?
Hazal meletakkan ponsel di samping bantal nya. Mert belum juga membalas pesan darinya. Ketika dirinya sudah mulai mengantuk, tiba-tiba ponselnya bergetar.
~ Mert ~
Aku akan berusaha mengambilnya.
Setelah Hazal membaca pesan dari Mert, ia segera menarik selimutnya dan memejamkan kedua kelopak matanya.
🔥❤️🔥❤️
Hari semakin larut malam, burung hantu mulai keluar dari sarangnya. Manik matanya menatap awas seekor tikus yang sedang berlari di halaman depan rumah keluarga Fallay.
Seluruh ruangan di rumah itu sudah padam. Hanya satu ruangan yang masih menyala terang. Dua orang laki-laki duduk berhadap-hadapan sedang membicarakan sesuatu.
Seorang pria tinggi berkacamata yang duduk di atas kursi tamu memberikan sebuah berkas kepada Harun Fallay. Pria itu adalah satu-satunya orang kepercayaan Harun.
"Apa semuanya ada di sini?" tanya Harun yang mengambil berkas itu dan membukanya.
"Ya Tuan. Semua data tentang kedua anak Aksal itu ada di berkas itu," jawab pria berkacamata itu dengan wajah datarnya.
Harun mulai membaca satu per satu lembaran kertas yang ada di genggaman tangannya. Raut wajahnya seketika berubah menjadi tegang.
Jadi anak adopsi yang sebenarnya adalah Hazal Aksal! Kekasih Kenan. Wanita itu sebenarnya adalah seorang jaksa muda!
Harun menaikkan sudut bibirnya. Menampilkan sebuah senyuman liciknya.
Kau bermaksud membodohi ku, Hazal! Kau berpura-pura mendekati Kenan. Menggunakan putraku untuk menghancurkan ku! Tapi aku membuat senjata mu itu menghancurkan diri mu sendiri!
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1