DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
H-1 Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Hari begitu cepat berlalu, bagaikan sebuah bom atom yang siap meledak dan akan menghancurkan siapapun yang ada di dekatnya ~ Dangerous Love


Pagi ini setelah kepergian Kenan Fallay ke kantornya, Harun tengah bersiap-siap di kamarnya untuk pergi ke Kantor Polisi Pusat. Kali ini dia ingin memastikan sendiri tanggal persidangan Ted Baxter. Di dalam pikirannya sudah tersusun berbagai rencana jahat dan tipu muslihat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Tok...tok...tok...


Terdengar suara pintu kamar Harun di ketuk. Seorang pelayan wanita dengan pakaian seragamnya memberitahu Harun bahwa ada dua orang laki-laki yang ingin bertemu dengannya. Harun segera merapikan jas abu-abunya, kemudian ia berjalan menuju ruang kerjanya. Dilihatnya dua orang suruhannya yang sedang duduk membelakangi dirinya.


"Ada apa kalian kemari?" tanya Harun yang menarik kursi kerjanya, dan mendaratkan dirinya di kursi empuk itu.


"Tugas kami sudah selesai, berikan bagian kami!" seru salah satu orang suruhan Harun. Pria muda dengan postur tubuh yang tinggi dan kurus, menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Harun.


Ayah Kenan itu membuka amplop tersebut, dan mengeluarkan isinya. Lima lembar foto dengan latar belakang Mansion keluarga Danner. Harun memperhatikan wajah pria yang berdiri membelakangi dan menghadap mansion yang terletak di daerah Bosphorus, Istanbul.


"Selama beberapa hari kami menunggu di depan mansion ini, dan hanya pria ini yang mengunjungi tempat itu," ujar orang suruhan Harun yang lain.


"Apa pria ini tinggal di mansion Danner?" tanya Harun.


"Kami rasa tidak, mansion itu tidak berpenghuni. Pria itu hanya mengunjunginya beberapa saat," jawab pria kurus itu.


Harun memberikan sebuah amplop yang cukup tebal, dan melemparkan amplop itu ke atas meja. "Ini untuk kalian, sekarang pergilah!" seru Harun.


Pria kurus itu mengambil amplop tersebut dan melihat isinya, ia mencium aroma Lira di dalamnya. Beberapa lembar uang kertas ada di dalam amplop itu. "Oke Tuan, senang berbisnis dengan anda."


Setelah kepergian mereka, Harun menyalakan cerutunya. Sekali lagi ia mengamati wajah pria muda yang ada di foto itu. "Jadi dia adalah putra Erkan. Ternyata Erkan masih memiliki anak lain, selain putrinya yang sudah tewas tertembak."


"Kau sangat beruntung anak muda, kau tidak ikut mati terbunuh di malam itu! Ayahmu telah mengambil satu-satunya milikku yang paling berharga, karena itu ayahmu pantas mati! Setelah urusanku dengan Ted Baxter dan Alfred selesai, maka aku akan segera mengurus mu!" seru Harun dengan mengatupkan gigi gerahamnya.


Lebih baik ia melenyapkan semua keturunan Danner, sehingga tidak ada lagi keturunan Danner yang bisa menuntut balas kepadanya.


Harun menyimpan foto-foto itu di dalam laci meja kerjanya. Kemudian bergegas menuju Kantor Polisi Pusat.


"Kau tunggu disini!" seru Harun kepada sopir pribadinya. Ketika mobil yang dikendarainya memasuki halaman depan fasilitas publik itu.


"Baik, Tuan Harun," jawabnya.


Harun melangkahkan kakinya memasuki bangunan tua yang di gunakan untuk para aparat penegak hukum melakukan pekerjaannya. Baru kali ini pria paruh baya itu mengunjungi tempat ini. Ia terus melangkah dan berhenti di depan sebuah papan pengumuman yang ada di koridor.


Tangan dan matanya sibuk mencari nama Ted Baxter, sepasang matanya terbelalak begitu melihat tanggal persidangan pembunuh bayarannya. Tanggal 7 Januari 2020, besok lusa.


Harun Fallay memegangi dagunya sambil berkacak pinggang. Ia tidak punya banyak waktu, sebelum Ted Baxter berbicara, ia harus segera bertindak.


"Kau pasti tuan Harun Fallay, pemilik perusahaan Fallay?" Suara Kapten Polisi itu mengejutkan pria paruh baya itu. Sang Kapten itu tengah berdiri di belakang Harun.


Harun membalikkan badannya menghadap ke arah Kapten Polisi. "Ya, aku Harun Fallay. Kau?"


Kapten Polisi mengulurkan tangannya ke Harun Fallay, "Aku Kapten Ismail, Kapten Polisi di sini."


"Ada keperluan apa sehingga pemilik perusahaan besar seperti anda, mengunjungi tempat ini?" tanya sang kapten.


"Aku hanya ingin menjenguk temanku yang di tahan di sini," jawab Harun dengan senyumannya.


"Kurasa anda salah tempat, ruang tahanan ada di seberang sana." Kapten Polisi mengarahkan tangannya ke arah depan.


"Kudengar temanku ini akan disidangkan, jadi aku cari tahu dulu, kapan persidangannya. Mungkin aku bisa membantunya dengan mengirimkan pengacara terbaikku, Kapten Ismail," ujar Harun yang menutupi kegugupannya dengan tertawa di depan sang kapten.


"Kalau boleh tau siapa nama teman anda itu, Tuan?" tanya sang Kapten yang melihat papan pengumuman yang berisi daftar nama para tersangka yang akan disidangkan kasusnya.


"Jika kapten mengetahuinya, mungkin aku akan merasa malu. Pengusaha besar sepertiku bisa berteman dengan seorang tersangka, itu akan menjadi berita heboh di masyarakat," jawab Harun yang tengah bersiap-siap ingin meninggalkan tempat itu.


"Baiklah Tuan Harun, aku tidak akan mengganggu anda. Aku permisi dulu," ucap sang kapten yang meninggalkan Harun.


Sesungguhnya Kapten Polisi tidak benar-benar meninggalkan Harun, ia masih tetap berdiri di koridor. Ia sedang menyembunyikan dirinya di balik pilar yang ada di ujung koridor. Dari tempat itu, sang kapten bisa melihat langkah kaki Harun yang tidak menuju ke ruang besuk tahanan. Tetapi menuju ke pintu keluar.


Ketika dilihatnya Harun Fallay telah pergi meninggalkan Kantor Polisi, sang kapten mengamati papan pengumuman itu. "Sepertinya ada yang aneh dengan pengusaha besar itu. Siapa tersangka yang sedang ia cari?"


Di dalam mobil, Harun sedang menghubungi seseorang. "Lakukan rencana A sekarang, awas! Kali ini aku tidak ingin gagal!" seru Harun di balik ponselnya.


"Baik Tuan."


Beberapa jam setelah kepergian Harun dari Kantor Polisi Pusat. Datanglah orang suruhan Harun, pria berjaket kulit coklat memasuki ruang besuk tahanan. Ia sedang mencari seorang tahanan yang berasal dari daerahnya.


Tak lama kemudian, keluarlah seorang tahanan. Seorang pria kecil yang kurus, pemimpin para tahanan. Pria yang telah berulangkali keluar masuk penjara. Para tahanan memandang tinggi padanya, karena pria kecil ini mempunyai banyak anak buah di dalam sel tahanan. Pengaruhnya sangat besar karena dia mempunyai banyak uang, meskipun berada di dalam penjara.


"Kau rupanya," sapa pemimpin tahanan yang duduk di depan orang suruhan Harun. Mereka saling mengenal.


"Bagaimana kabarmu?" tanya orang suruhan Harun sambil membetulkan letak topinya.


"Kau bisa lihat sendiri, hidup di dalam lebih menyenangkan daripada di luar. Ada apa kau mencari ku?" tanya pemimpin tahanan itu sambil memicingkan kedua matanya yang besar.


"Aku ada sebuah penawaran yang menarik untukmu," kata orang suruhan Harun sambil berbisik pelan di depan wajah pria kurus itu.


Pria kurus itu memundurkan tubuhnya, dan mulai sedikit berpikir. "Apa yang membuatku tertarik dengan tawaranmu, hah?"


"Uang...aku tahu kau pasti tertarik dengan benda kertas yang beraroma itu." Senyum jahat itu tergaris di atas bibir orang suruhan Harun.


Pria kurus itu kembali mendekatkan wajahnya ke depan, setengah berbisik ia berkata, "Berapa banyak?"


"50.000 Lira," ujar orang suruhan berbisik pelan.


Tiba-tiba seorang petugas polisi menghampiri mereka berdua. "Hei, sedang apa kalian?!?"


"Kami sedang melepas rindu Pak Polisi, dia teman masa kecil ku dulu," ujar pria kecil itu sambil tersenyum dan tertawa di depan petugas polisi.

__ADS_1


"Awas! Jangan berbuat macam-macam. Aku mengawasi kalian!" seru petugas polisi yang segera meninggalkan mereka dan berdiri di dekat mereka.


"Auww.... aku takut...," ejek pria kecil itu dengan ekspresi wajah takutnya, setelah petugas polisi pergi meninggalkan mereka.


Orang suruhan Harun melihat sekelilingnya, memastikan bahwa tidak ada petugas polisi lain yang akan mengganggu transaksinya.


"Apa tugasku?" tanya pria kecil itu sambil menyandarkan tubuhnya di kursi plastik.


Dengan hati-hati, orang suruhan Harun itu mengeluarkan satu lembar foto. Meletakkannya di atas meja.


"Habisi orang ini, sebelum hari Senin kau harus mengirimnya ke neraka!"


Pria kurus itu membetulkan posisi duduknya, dilihatnya foto yang tergeletak di atas meja, tanpa ia pegang. Dia mengenali target nya itu, "Apa hubungannya dengan mu? Aku memang bermasalah dengannya. Gara-gara dia, sipir penjara memasukkan ku ke ruang isolasi!"


"Bukan urusanmu! Lakukan tugasmu dengan bersih, maka kau akan mendapatkan uangnya!" seru orang suruhan Harun.


"Oke... tak masalah. Ini cukup mudah buatku, besok hari Minggu, aku akan mendaftarkannya ke raja neraka," ucap pria kurus itu sambil mengulurkan tangannya ke orang suruhan Harun. Orang suruhan Harun, menempelkan beberapa lembar Lira di telapak tangan pria kurus itu.


Mereka berdua terlihat saling berpelukan, "Ini bayaran awalnya, aku akan memberikan sisanya setelah semuanya selesai!" bisik orang suruhan Harun.


Pria kurus itu menepuk-nepuk punggung orang suruhan Harun. "Semoga kau pulang dengan selamat, saudaraku." Terdengar suara akting dari pria kurus itu. Mereka pun berpisah.


Hari sudah mulai siang, para tahanan itu sedang berdiri berbaris untuk mengantri mendapatkan jatah makan siang mereka.


"Hei, kau yang di sana! Berbaris lah yang rapi!" teriak salah satu petugas sipir penjara sambil menodongkan tongkat besinya.


Tiba giliran Ted Baxter yang akan menerima jatah makan siangnya. Pria gundul itu memberikan piring plastiknya ke petugas. Setelah petugas menuangkan makanannya, ia pun berjalan mencari tempat duduk. Tapi pemimpin tahanan itu sedang mencari gara-gara. Pria kurus itu sengaja menabrakkan dirinya ke Ted Baxter, membuat piring plastik itu jatuh dan isinya tercecer di lantai.


"Ups, sayang sekali! Makananmu jatuh...," ejek pria kurus itu.


Ted Baxter mencengkeram baju pria kurus itu, mengarahkan tubuh pria kurus itu ke lantai, dimana makanannya jatuh tercecer.


"Kau ingin makan? Makanlah seperti seekor anjing!" pekik Ted Baxter yang menempelkan wajah pria kurus itu ke makanannya yang jatuh terbuang.


Priiit.....!


Suara peluit terdengar dari salah satu sipir penjara. "Hei...! Apa yang kau lakukan? Berhenti!" teriak sipir tersebut kepada Ted Baxter.


"Dia yang mulai duluan, dia menabrak ku dan menumpahkan makananku!" seru Ted Baxter setelah melepaskan tangannya dari pria kurus itu.


"Dia yang mulai lebih dulu, dia menyerobot giliran ku!" seru pria kurus itu tak mau kalah.


"Tidak ada jatah makan siang lagi untuk kalian hari ini!" teriak sipir penjara. "Ayo bubar!"


Ted Baxter pergi meninggalkan mereka semua dan memilih duduk menyendiri di sudut ruangan. Ia menahan rasa laparnya hingga nanti malam. Udara dingin penjara membuat perutnya memberontak.


"Makanlah ini...." Seorang tahanan muda yang telah menjadi temannya di penjara datang menghampiri Ted Baxter. Teman barunya itu membawakannya sepiring makanan.


"Aku mengambilnya diam-diam sewaktu sipir penjara menghampirimu," ucap tahanan muda itu yang duduk di depan Ted Baxter.


Ted Baxter pun melahap makanannya hingga tak bersisa, kemudian mengambil segelas minuman.


"Aku tadi melihat pria kurus itu menabrak mu, kurasa dia memang mencari gara-gara denganmu," kata tahanan muda itu sambil menopang dagunya.


"Aku tahu, dia memang tidak menyukaiku sejak aku masuk ke sini," ucap Ted kemudian menghabiskan minumannya.


Teng....Teng....Teng.....!


Suara lonceng penjara berbunyi, waktunya para tahanan itu masuk kembali ke ruang tahanannya.


"Masuklah dulu, aku mau ke toilet." Tahanan muda itu meninggalkan Ted Baxter dan berjalan menuju ke toilet.


Setelah menyelesaikan keperluan pribadinya, tahanan muda itu hendak keluar dari bilik toiletnya. Tetapi kemudian ia mengurungkan niatnya untuk keluar, ketika ia mendengar suara sekelompok orang yang sedang berbicara di dalam toilet.


"Ada tugas khusus untuk kita," suara pemimpin tahanan yang sedang berbicara dengan teman-temannya.


"Berapa bayarannya?" tanya seseorang yang lain.


"50.000 Lira... kita akan membaginya," ujar pemimpin tahanan itu.


"Kali ini apa yang akan kita lakukan?"


"Menghabisi pria gundul itu!" seru pria kurus yang merupakan pemimpin mereka.


Tahanan muda itu terkejut mendengar persengkongkolan yang terjadi di antara mereka. Ia mengerti siapa yang mereka maksud dengan pria gundul. Satu-satunya tahanan di tempat ini yang tidak memiliki rambut hanyalah Ted Baxter. Tahanan muda itu menutup hidungnya dan berdiri mematung di dalam bilik toilet.


Ketika sudah tidak terdengar suara dari luar, tahanan muda itu membuka pintu bilik toilet dengan perlahan. Membukanya sedikit demi sedikit. Ia pun berlari menuju ke sel nya.


Entah bagaimana caranya ia memberitahu Ted Baxter, sementara ia dan Ted berbeda sel. Sedangkan pemimpin tahanan itu berada di sel yang sama dengan Ted Baxter dan terus mengawasi gerak-gerik Ted Baxter.


Menjelang makan malam, sipir penjara membuka kembali pintu sel penjara. Menyuruh semua tahanan itu untuk pergi menuju ke ruang makan. Satu persatu tahanan itu berjalan dengan tertib, karena sipir penjara akan memukulkan tongkat besinya kepada mereka yang tidak tertib.


"Mungkin kali ini adalah kesempatanku berbicara dengannya, aku harus memberitahunya," gumam tahanan muda itu.


Tahanan muda itu berusaha mencari kesempatan untuk mendekati Ted Baxter. Ternyata takdir memberikannya kesempatan itu. Ia dan Ted Baxter duduk di meja yang sama, sementara pemimpin tahanan dan teman-temannya berada di meja lain.


"Pak tua...," bisik tahanan muda itu kepada Ted Baxter.


"Ada apa? Kenapa kau berbisik?" tanya Ted sambil menyantap makan malamnya.


Tahanan muda itu menceritakan apa yang sudah di dengarnya tadi di dalam bilik toilet. Sebuah konspirasi untuk membunuh Ted Baxter.


"Kau bilang ada yang membayar mereka?" tanya Ted Baxter sambil memicingkan kedua matanya.

__ADS_1


"Ya, mereka memberi 50.000 Lira untuk nyawamu. Tapi aku tidak tahu siapa yang membayar mereka," ucap tahanan muda itu sambil meminum air putihnya.


"Diantara para tahanan di sini, siapa yang mereka suruh?" tanya Ted Baxter.


"Aku tidak tahu, mereka ada dua atau tiga orang. Tapi aku tidak melihat wajah mereka. Pak tua, kau harus secepatnya kabur dari sini!" seru tahanan muda itu dengan bersemangat.


Ted Baxter hanya diam membisu...


"Apa kau tahu siapa yang menyuruh mereka?" tanya tahanan muda itu yang melihat Ted Baxter mengatupkan rahangnya yang keras.


"Entahlah... aku hanya memikirkan satu per satu musuh-musuhku di luar sana, yang menginginkan kematian ku."


Waktu makan malam pun berakhir, semua tahanan kembali ke sel mereka.


Ted Baxter merebahkan dirinya di atas kasur lipatnya, ia menatap langit-langit ruang tahanan yang sudah mulai gelap, hanya bermodalkan sinar rembulan yang bersinar redup tertutup awan yang tebal.


Pasti Harun Fallay yang menyuruh orang-orang itu untuk melenyapkan aku. Mungkin dia sudah tahu kapan persidangan ku di mulai. Aku telah salah menilai mu rubah tua. Aku telah mengabdi puluhan tahun kepadamu, tapi kau menjadikan ku tumbal, hanya untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Jika kau menginginkan kematian ku, baiklah... aku akan menyeret mu juga ke neraka...


Semalaman Ted tidak bisa tidur, ia membolak-balikkan badannya ke kiri dan ke kanan. Pukul 3 subuh waktu Istanbul, pria gundul itu memanggil salah satu sipir penjara.


"Hei, kenapa kau memanggilku? Tidurlah...!" seru salah satu sipir penjara yang menghampiri Ted Baxter di selnya.


"Aku tidak bisa tidur, bisakah kau meminjami aku sebuah pena dan selembar kertas?" tanya Ted Baxter yang berdiri di balik jeruji besinya.


Sipir penjara memberikan nya sebuah pena dan sebuah buku tulis yang masih kosong. "Ini..., lakukan sesukamu asal kau jangan berisik!"


Ted Baxter mengambil pena dan buku tulis tersebut, di tengah pergantian bulan dan matahari itu ia menggambar sesuatu. Detik demi detik berlalu, hampir dua jam ia menggambar. Sketsa seekor burung Phoenix dengan kedua sayapnya yang membentang lebar, kepala burung itu menghadap ke depan dengan tatapan matanya yang tajam. Tampak kukunya yang panjang itu sedang mencengkeram sesuatu.


Aku memberimu teka-teki, jika kau pintar maka kau akan berhasil memecahkan teka-teki ku ini...


Ted Baxter berbicara pada dirinya sendiri, entah untuk siapa sketsa burung Phoenix itu.


❤️ Bersambung ❤️


**Saatnya kuis novel Dangerous Love di mulai.... siap-siap ya...


Pertanyaannya ada dua nih, dan harus di jawab dengan benar dan lengkap...




Siapa pria muda yang dikira Harun adalah anak Erkan Danner?




Siapa yang di maksud "kau" oleh Ted Baxter, ketika ia berbicara di depan sketsa buatannya?"




Hayo....siapa yang bisa menebak? Author sudah siapkan hadiah pulsa hp sebesar 25 ribu untuk semua operator.


Tulis jawabannya di kolom komentar, dengan format...


Akun nama FB atau Instagram


Jawaban:








Contoh:


Akun FB dan IG @Oeibina Monica


Jawaban:



Buah pisang


Buah mangga



Kuis di tutup hari Minggu besok tanggal 3 Mei 2020 pukul 11 siang dan akan Author umumkan pemenangnya pukul 12 siang di kolom komentar dan GC.


Kriteria pemenangnya tetap sama...Author akan mencari jawaban yang paling benar, paling lengkap dan paling cepat.


Sampai bertemu lagi di kuis Dangerous Love selanjutnya. Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima atau vote kalian ya... Terimakasih**

__ADS_1


__ADS_2