
Terik cahaya matahari bersinar terang di langit kota New York, membuka setiap lembaran baru dalam kehidupan setiap makhluk hidup di dunia ini. Hari kemarin adalah masa lalu, hari ini adalah masa yang yang harus di jalani, dan hari esok adalah masa depan yang akan di hadapi.
Kelima anak muda ini telah menghabiskan delapan jam perjalanan udara dari Paris menuju New York. Carina merasa seakan tak percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya saat ini, hari ini dirinya berada di bawah langit kota New York. "Apakah ini mimpi?" gumamnya. Lee yang berjalan di sampingnya mengusap puncak kepala Carina dan tersenyum pada gadis itu.
"Lee, coba kau cubit aku !!! Aku tak percaya bahwa aku telah bebas !!"
Pria Jepang itu pun mencubit lengan Carina. "Auw... sakit !!"
"Bukan salahku, kau sendiri yang menyuruhku untuk mencubitmu," senyum Lee mengembang tatkala melihat bibir Carina yang mengerucut.
"Tapi cubitan mu itu terasa sakit," ucap Carina yang mengusap-usap lengannya yang memerah.
"Berarti ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan bahwa kau telah bebas."
Carina menghentikan langkahnya, Lee yang sudah berjalan beberapa meter di depannya kembali menghampiri Carina. "Ada apa?"
"Lee, terimakasih untuk semua ini," ucap Carina sambil membungkukkan badannya ala orang Jepang yang mengucapkan salam kepada seseorang. Lee nampak tertawa melihat tingkah laku Carina, ia segera memeluk gadis itu. Carina mengusap matanya yang mulai menitikkan air mata.
"Lupakan masa lalumu, melangkahlah menggapai impian mu di masa depan," ucap Lee yang berbisik di telinga Carina. Gadis itu menganggukkan kepalanya di balik tubuh Lee. Kemudian mereka segera menyusul ketiga temannya yang lain, yang sudah mendahului mereka.
Nampak di ruang tunggu, seorang gadis muda dengan parasnya yang cantik sedang menunggu kedatangan mereka. Gadis itu melambaikan tangannya di udara, ketika dilihatnya beberapa pria keluar dari pintu kedatangan. Dari kejauhan sepasang mata elang mengenali siapa gadis yang melambaikan tangan padanya. Tidak seorang pun yang mengenali gadis itu selain dirinya. Gadis itu segera berlari ke arah pemilik mata elang yang berdiri sekitar sepuluh meter dari tempat dia berpijak. Laki-laki itu menangkap tubuh gadis cantik yang berlari ke arahnya dan membawanya ke dalam rengkuhan pelukannya yang penuh dengan kerinduan.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, aku sangat merindukanmu," kata Hazal dengan wajahnya yang terbenam di dada bidang Yafet.
"Tentu saja kita akan bertemu. Aku juga sangat merindukanmu, kau sangat cantik, sayang," ucap Yafet yang memberikan ciuman nya di seluruh wajah Hazal. Gadis itu tampak malu karena beberapa pasang mata melihat kegilaan Yafet.
"Ehm... ehm... ehm...." Suara gumaman David melepaskan pelukan mesra sepasang kekasih ini.
Perhatian Hazal tertuju pada Carina. "Siapa dia?"
Lee menjelaskan kepada Hazal bahwa Carina adalah orang yang telah membantunya mendapatkan informasi tentang pembunuh orang tua Hazal. Anak angkat Emir Aksal ini menghampiri Carina dan memeluk gadis itu.
"Terimakasih kau mau membantuku, meskipun kita belum pernah bertemu sebelumnya."
Carina membalas pelukan Hazal. "Ini memang sudah seharusnya kulakukan, atas dasar kemanusiaan."
Kedua gadis ini saling tersenyum dan tertawa. Mereka saling memperkenalkan diri. Usia Carina dua tahun lebih tua daripada Hazal. Seakan sudah saling mengenal sejak lama, mereka berjalan berdua sambil sesekali tertawa. Meninggalkan keempat pria itu berjalan di belakang mereka.
Hazal meminta mereka untuk pulang ke apartemen Yafet, karena Hazal sudah menyiapkan sesuatu untuk kedatangan mereka.
Gadis itu meminta Yafet membuka pintu apartemennya. Terdengar suara beberapa balon meletus menyambut kedatangan mereka. Serpihan potongan kertas berwarna warni berukuran kecil menghujani kepala mereka. Terlihat sebuah kalimat yang bertuliskan di sebuah papan tulis berwarna putih yang menempel di dinding. "Welcome my Family... Thank you for helping me. How I repay all of your kindness."
Semua orang tampak bahagia melihat dan membaca tulisan tersebut.
Kemudian Hazal mengeluarkan beberapa hidangan makanan dan dan minuman ke atas meja makan. Ada roti lapis isi daging, omelette telur, kentang goreng, salad buah, salad sayur, pasta macaroni, susu segar, jus buah dan air lemon.
"Wah... kau tahu apa yang aku inginkan, Hazal. Perutku sudah memberontak sejak tadi," seru David yang langsung mengambil roti lapis yang ada di depan nya.
"Apa kau yang membuatnya sendiri?" tanya Yafet sambil memicingkan matanya. Seakan ragu atas kemampuan Hazal, karena dia tahu Hazal kurang ahli dalam memasak.
__ADS_1
"Menurut mu? Apa hantu di apartemen ini yang masak?" jawab Hazal dengan ketus. Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Melihat ekspresi wajah Hazal, Yafet mengusap puncak kepala Hazal dan memeluk pinggang kekasihnya. Dicubitnya hidung mancung Hazal, memandang wajah gadis yang dicintainya itu dengan senyumannya.
"Aku sangat menyukai apapun yang kau buat," bisik Yafet di telinga Hazal. Bisikkan itu sangat lembut, bahkan hampir nyaris tidak terdengar karena situasi ruang makan itu sangat ramai. Mereka saling berebut mengambil makanan yang ada di meja.
Setelah selesai mengisi perut, tiba saatnya mereka akan pulang. Lee, Jason, David dan Carina berpamitan pada Yafet dan Hazal. Tetapi Hazal menahan kepergian Carina, "Tunggu, apa kau punya tempat tinggal di sini? Maksud ku saudara atau teman?"
Carina menggelengkan kepalanya. "Dia akan tinggal di apartemen ku," kata Lee menimpali.
"Tidak-tidak... Tinggallah bersamaku. Aku akan sangat bahagia, jika kau bersedia tinggal dengan ku di sini," pinta Hazal yang menggenggam tangan Carina.
"Tapi..., Hazal."
"Ayolah... jangan tolak aku. Bukankah saat ini kita sudah berteman?" Hazal menempelkan kedua tangannya di depan dadanya seakan ia memohon sesuatu.
"Oke... baiklah." Carina menyetujui permintaan Hazal. Kekasih Yafet itu melompat kegirangan.
"Tunggu, bagaimana dengan ku?" tanya Yafet yang kebingungan.
"Sayang... kau bisa tinggal bersama Lee untuk sementara waktu," ujar Hazal.
"Apa ?!?!?!" Yafet dan Lee saling berpandangan.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen Lee, pria Turki itu tidak henti-hentinya menggerutu.
"Bagaimana Hazal punya ide gila seperti itu? Apa salahku? Katanya dia merindukanku, mencintaiku.. tapi nyatanya... dia malah menyuruhku pergi. Aku hanya ingin menikmati momen kebersamaan yang indah bersama dengan nya, setelah kita berpisah cukup lama. Apa yang ada di pikiran gadis itu?"
"Bergosip... Yah mereka pasti sedang membicarakan sesuatu mulai dari A sampai Z," ucap Lee yang memandang ke depan.
"Mungkin... Seperti yang dilakukan oleh gadis-gadis yang ada di kampus kita dulu."
"Oh my God !" seru Yafet yang memijat keningnya.
Malam harinya di kamar Hazal, kedua gadis cantik ini saling bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Meskipun jalan hidup mereka berbeda, tapi mereka mempunyai latar belakang yang sama, yaitu mereka sama-sama seorang yatim piatu.
"Carina, apa yang akan kau lakukan di New York? Apakah kau ingin bekerja atau melanjutkan studi mu?" tanya Hazal yang duduk di atas tempat tidurnya.
"Entahlah... aku belum memikirkannya. Bisa terbebas dari ayah tiri ku saja, membuatku seperti sedang bermimpi," jawab Carina yang duduk di depan Hazal.
"Kau pasti punya cita-cita kan?"
"Ya... dulunya aku ingin menjadi seorang akuntan."
"Bagaimana jika kau melanjutkan studi mu di kampus ku?"
"Apa? Tidak... tidak." Carina menggelengkan kepalanya.
"Kau tak usah khawatir soal biaya, kau bisa mengikuti ujian seleksi untuk mendapatkan beasiswa, aku akan membantumu untuk membayar uang kuliah mu, dan kau bisa tinggal bersama ku di apartemen ini sampai kau lulus."
"Tapi... bagaimana dengan Yafet dan keluarga mu?"
__ADS_1
"Beberapa hari lagi Yafet akan pulang ke Turki, jika kau tinggal di sini, maka aku bisa berbagi kamar dengan mu, dan aku tidak akan kesepian. Soal keluarga ku, aku akan membicarakan ini dengan ayah ibuku, mereka pasti akan menyetujuinya.
"Terimakasih atas tawaranmu, Hazal. Aku akan memikirkannya."
Hazal memeluk Carina. Gadis Italia itu meneteskan air matanya. Di saat dia akan menjalani kehidupan barunya, Tuhan telah mengirimkan seorang teman yang melebihi seorang saudara yang mau menerima dirinya apa adanya. Bahkan Hazal tak merasa jijik ketika memeluk dirinya yang kotor. Dua gadis itu menarik selimut mereka dan merebahkan diri di atas kasur yang empuk.
Keesokkan harinya....
Yafet dan Lee mendatangi apartemen tempat tinggal Hazal. Kedua laki-laki ini ingin melihat bagaimana keadaan gadis mereka. Setelah bel berbunyi sebanyak tiga kali, Hazal membuka pintu apartemennya. Gadis itu mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Bagaimana kabarmu dan Carina?" tanya Lee yang bertanya pada Hazal, tetapi pandangannya mencari sosok Carina.
"Kami baik-baik saja, dia ada di dalam, masuklah," jawab Hazal. Pria Jepang itu pun melangkahkan kakinya dan melihat Carina sedang membuat suatu minuman hangat di meja makan.
Hazal mengikuti langkah kaki Lee dari belakang, tetapi ketika ia berjalan tiga langkah, barulah ia menyadari ada sesuatu yang tertinggal.
"Apa kau marah padaku?" tanya Hazal yang menghampiri Yafet yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya. Pria itu membuang wajahnya ke arah lain, menghindari tatapan mata coklat Hazal.
Hazal tertawa melihat sikap Yafet yang merajuk seperti seorang anak kecil. Gadis itu menutup pintu apartemennya, dan berdiri di samping Yafet.
Hazal menyandarkan kepalanya di pundak Yafet, menatap bola lampu apartemen yang masih menyala. "Aku hanya ingin membalas kebaikan Carina, dia sudah mempertaruhkan nyawanya untuk menolongku," ucap Hazal dengan lirih.
Yafet mengusap puncak rambut Hazal dan memeluk pinggang gadis itu. Membawanya ke dalam pelukannya, di ciumnya kening Hazal. Pria itu menyadari keegoisannya, melihat bahwa gadis yang di cintai nya itu mempunyai hati yang baik.
"Maafkan aku, sebenarnya aku hanya ingin meluangkan waktu bersama mu, itu saja."
"Bagaimana jika nanti sore kita pergi keluar?" tanya Hazal yang mendongakkan kepalanya.
Yafet menjawabnya dengan tersenyum, pria itu terlihat sangat tampan dengan senyuman nyabyang menawan. Dengan cepat Yafet mendaratkan bibirnya di bibir merah milik Hazal. Sudah beberapa bulan ini, ia tidak merasakan sentuhan bibir gadisnya itu.
Pranggg....!!!
Terdengar suara pecahan kaca dari dalam apartemen tempat tinggal Hazal. Yafet dan Hazal segera bergegas masuk ke dalam.
"Ada apa?" tanya Yafet yang melihat pecahan gelas di lantai disertai dengan tumpahnya cairan berwarna hitam seperti kopi yang mengalir di lantai. Carina dan Lee berdiri seperti patung menghadap layar televisi yang masih menyala. Hazal mengira mereka berdua sedang bertengkar.
Carina menutup hidungnya dengan kedua tangannya, ia terkejut karena gelas yang ada di pegang nya terlepas dari genggaman tangannya. Tetapi sebuah kabar yang ia terima pagi ini jauh lebih mengejutkan dirinya. Lee mengeraskan suara home teather yang ada di depannya.
Layar kaca itu menayangkan sebuah berita pembunuhan yang terjadi di kota Milan, Italia. Pembunuhan itu terjadi sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat. Korban pembunuhan itu adalah seorang pria yang berusia 48 tahun, seorang warga negara Italia. Berdasarkan kartu identitas yang di temukan di dompet korban, pria itu bernama MAX WALDEN.
"Apa ?!?!?" seru Yafet dan Hazal bersamaan.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih kalian sudah mampir dan baca novel ku ini. Jangan lupa kasih...
🤗 Like
🤗 Komentar dan
__ADS_1
🤗 Vote kalian yah
Agar aku semangat nulis kisah ini setiap hari 😍 Siapa yang ingin aku tulis novel ini sampai tamat ? Hayo angkat jempol kalian 👍👍😅