DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Aku Siap


__ADS_3

Pagi hari ini, Dokter membuka perban yang melingkar di kepala Hazal. Perlahan demi perlahan, kain putih itu meluncur ke bawah menyentuh lantai. Seluruh anggota keluarga Aksal juga berada ruang kamar Hazal. Mereka berharap yang terbaik untuk kesembuhan Hazal.


"Apa kepalamu masih terasa pusing, Hazal?" tanya Dokter setelah melepas semua perban dari kepala wanita itu.


"Tidak, Dok," jawab Hazal yang mencoba menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak merasakan apa-apa di kepalanya.


"Cobalah kau ingat kejadian yang kau alami waktu kecil, ketika kau kehilangan orang tuamu," ucap Dokter dengan sikap ramahnya.


Hazal memejamkan kedua kelopak matanya, mencoba mengingat memori itu, membangunkan kembali kenangan pahit yang membekas di otaknya. Memori itu berputar ke belakang, seperti sebuah rol film yang sedang di putar. Kejadian pembunuhan itu, ia bisa mengingatnya dengan jelas. Kemudian dia membuka kembali kelopak matanya kembali.


"Bagaimana, Hazal?" tanya Dokter yang berdiri di sampingnya.


Hazal hanya menatap lurus ke depan, ia tidak memandang wajah dokter yang sedang bertanya padanya. "Aku bisa mengingatnya dengan jelas, Dokter. Kepalaku sudah tidak sakit lagi," jawab Hazal dengan gembira dan antusias sambil memegang kedua tangan sang dokter.


"Selamat untukmu, Hazal. Kini kau sudah benar-benar sembuh," ucap Dokter yang juga gembira melihat pasiennya sudah pulih.


"Apa Hazal sudah boleh pulang, Dokter?" tanya Emir, ayah angkat Hazal.


"Oh... tentu saja, hari ini Hazal sudah boleh pulang," jawab Dokter yang segera memberikan ucapan selamat kepada seluruh anggota keluarga Aksal.


"Kau ingin pulang sekarang, sayang?" tanya Emir yang menggoda putrinya. Sementara Meral membantu mengemasi pakaian Hazal.


"Tentu saja Ayah, aku sangat merindukan kamar tidurku," sahut Hazal yang tersenyum dan memeluk ayah angkatnya.


"Ehmm... kau hanya merindukan kamarmu saja!" Yafet mendengus karena tidak mendapat pelukan dari Hazal.


"Tentu saja aku juga merindukanmu, sa--" ucap Hazal yang kemudian menyadari ucapannya. Yafet segera memeluknya, dan membisikkan sesuatu ke telinga Hazal. "Aku sangat merindukanmu."


Mereka berdua sungguh beruntung. Emir Aksal tidak mendengar perkataan Hazal dan bisikan Yafet, karena seorang suster menemuinya untuk memberikan rincian administrasi yang harus di bayar.


"Ayo kita segera pulang ke rumah !" ajak Meral kepada kedua anaknya.


Ketika mereka sedang berada di jalan, ponsel Hazal berbunyi. Hazal menggeser ke atas gambar gagang telepon yang berwarna hijau yang muncul di layar ponselnya.


"Bagaimana keadaanmu, Jaksa Hazal?" tanya Jaksa Kepala dari balik ponselnya.


"Sekarang aku berada di jalan hendak pulang ke rumah. Dokter mengijinkanku pulang hari ini," jawab Hazal sambil memberikan isyarat kepada Yafet bahwa Jaksa Kepala yang menghubunginya.


"Apakah kau sudah siap untuk bertemu dengan Ted Baxter?" tanya Jaksa Kepala yang sedang bersama dengan Kapten Polisi.

__ADS_1


"Aku sangat siap, Jaksa Kepala. Berikan aku jadwalnya. Kapan aku harus menemuinya?" ucap Hazal dengan kedua manik matanya yang bersinar terang.


"Besok jam 10 pagi. Temui aku di Kantor Polisi Pusat," jawab Jaksa Kepala.


"Baiklah." Hazal mematikan sambungan ponselnya.


Keesokan harinya...


Seluruh keluarga Aksal berkumpul di ruang makan, mereka melakukan rutinitas sarapan pagi mereka. Tetapi tidak seperti biasanya, air muka Emir tampak gelisah dan ia tidak berselera makan pagi ini.


"Ada apa, sayang? Apa kau tidak enak badan?" tanya Meral yang duduk di dekat suaminya. Istrinya itu menggenggam telapak tangan Emir.


"Makanlah, Ayah. Ini ayam goreng kesukaan mu," seru Hazal yang meletakkan sepotong paha ayam di piring ayahnya.


"Meral, aku tidak apa-apa," ucap Emir sambil menepuk-nepuk tangan istrinya. Kemudian dia melanjutkan perkataannya, "Hazal, apa kau yakin... hari ini kau mau bertemu dengan pembunuh itu?"


"Ya, Ayah...aku sangat yakin. Ini adalah hari yang sudah lama ku tunggu selama dua puluh tahun ini," jawab Hazal yang memegang tangan sang ayah.


"Ayah tahu itu. Ayah hanya khawatir jika sesuatu terjadi padamu, bagaimana jika dia melukaimu atau membunuhmu, nak?" suara Emir terdengar lirih.


"Ayah...," ucapan Hazal terhenti ketika Yafet tiba-tiba memotong perkataanya.


"Baiklah...jaga adikmu baik-baik. Jangan biarkan pembunuh itu kembali melukainya," pesan Emir kepada anak sulungnya.


"Ayah, jangan beritahu Pengacara Alfred tentang pertemuan Hazal dengan Ted Baxter," pinta Yafet kepada ayahnya, karena ia tidak ingin pengacara itu mengacaukan semuanya.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.20 waktu Istanbul. Kedua anak Aksal berpamitan kepada kedua orang tua mereka. Yafet melajukan mobilnya menuju ke Kantor Polisi Pusat.


Sebelum pukul 10.00 pagi, mereka sudah tiba di Kantor Polisi Pusat. Kantor pelayanan publik ini tidak terlalu ramai untuk pagi ini. Meskipun ada beberapa petugas polisi yang terlihat berlalu lalang. Mereka berjalan menuju ruang kerja Kapten Polisi, setelah Hazal menerima sebuah pesan singkat dari Jaksa Kepala.


Di ruang kerja Kapten Polisi itu sudah menunggu sang Kapten dan Jaksa Kepala. Tidak ada seorangpun yang lain yang mengetahui pertemuan Hazal dan Ted Baxter ini, selain mereka. Bahkan pengacara Ted Baxter juga tidak mengetahui hal ini.


Tok...tok...tok...!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Itu pasti dia," seru Jaksa Kepala yang segera membuka pintu ruangan itu.


Jaksa Kepala memperkenalkan Hazal kepada Kapten Polisi. Mereka berdua saling berjabat tangan. "Kau juga seorang Jaksa?" tanya sang Kapten kepada Hazal.


"Ya, Kapten. Senang berkenalan dengan anda. Waktu itu aku yang menghubungi polisi tentang keberadaan Ted Baxter yang berada di area pemakaman," kata Hazal dengan senyumannya.

__ADS_1


"Oh...ternyata orang itu adalah kau," ucap sang Kapten. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Yafet yang berdiri di samping Hazal. "Kau...? Bukankah kau, orang yang telah menghajar Ted Baxter waktu itu?"


"Ya... Anda masih ingat rupanya, Kapten," seru Yafet sambil berjabat tangan dengan sang Kapten.


"Dia adalah Yafet Aksal, dia kekasihku," ujar Hazal yang memperkenalkan Yafet kepada kedua laki-laki yang berdiri di depannya.


"Oke...kita langsung saja menuju ke ruangan yang telah ku siapkan," ajak sang Kapten kepada para tamunya.


Ruang Interogasi Polisi


Ruangan ini di desain dengan salah satu dindingnya menggunakan cermin dua arah, yang hanya tembus pandang di sisi luar. Sedangkan di sisi dalam, kaca itu hanya berupa cermin yang memantulkan objek yang ada di depannya.


Orang yang berada di dalam ruangan tidak bisa melihat situasi yang ada di luar, sementara orang lain yang ada di luar bisa mengetahui kegiatan apa yang sedang terjadi di dalam. Ruangan ini juga dilengkapi dengan empat buah CCTV untuk merekam gambar dan suara. Sebuah alarm sebagai tombol pengaman. Hanya terdapat sebuah meja kecil dan dua buah kursi yang saling berhadapan.


Jaksa Kepala, Kapten Polisi, Hazal dan Yafet sedang berada di sebelah ruangan ruang interogasi itu, sebuah ruangan yang di lengkapi dengan layar komputer yang bisa merekam dan melihat kejadian yang terjadi di dalam.


"Bawa kemari Ted Baxter !!" perintah sang Kapten melalui handie talkie nya kepada salah satu petugas polisi yang bertugas di ruang tahanan. Selang beberapa waktu kemudian, dua orang petugas polisi membawa Ted Baxter ke ruang interogasi dalam keadaan kedua tangannya yang terborgol di depan.


Dari ruang sebelah, Hazal memperhatikan penjahat itu dengan seksama, tanpa mengedipkan kedua matanya. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya, dan menguatkan tulang rahangnya. Wajah dan suara Ted Baxter dua puluh tahun yang lalu, kembali muncul dalam pikirannya.


Ted Baxter tidak mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi, dia berpikir mungkin Kapten Polisi akan menginterogasinya lagi. Tetapi tidak ada siapa-siapa di ruangan itu, selain dirinya dengan kedua petugas polisi yang membawanya tadi.


"Apa kau siap, Jaksa Hazal?" tanya sang Kapten yang masih memperhatikan wajah Hazal yang masih menatap Ted Baxter.


"Aku siap, Kapten ! Lakukan sekarang...!" ucap Hazal dengan penuh penekanan tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih sudah membaca novel ku ini 😊 Jangan lupa setelah baca kasih tip ya buat Author, bisa berupa...


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar atau


🤗 Vote kalian ya...


Terimakasih 🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2