
Mentari pagi di langit New York membangunkan Yafet dari tidurnya. Sepasang iris berwarna hitam mencoba membuka dirinya. Yafet meraba sekitarnya, dia terkejut kenapa ada selembar selimut di tubuhnya. Bukankah kemarin malam dia tidak memakai pelindung tubuh ini?
Yafet terduduk di sofa dan melihat jam dinding di ruangan itu yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dia teringat bukankah hari ini adalah jadwal ujian tes masuk Hazal. Segera ia bergegas ke kamarnya hendak membangunkan Hazal. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia masuk ke kamar dan mendapati Hazal yang sedang keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk kimono yang berwarna hijau tosca dengan rambut yang setengah basah tergerai dengan indah.
Hazal sangat terkejut ketika Yafet sudah ada di depannya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Maaf, aku hanya ingin membangunkan mu, aku kira kau masih tidur. Apakah ingat hari ini adalah jadwal ujian tes masuk mu?" ujar Yafet yang tampak gugup, melihat Hazal yang tampak sangat cantik di pagi ini.
"Ya...aku ingat. Cepat keluarlah....aku mau bersiap-siap." pinta Hazal yang mendorong Yafet untuk keluar dari kamarnya.
Sambil menunggu Hazal bersiap-siap, Yafet sudah membuatkan sarapan untuk mereka. Sekitar sepuluh menit, Hazal keluar dari kamar dan aroma roti bakar menggoda indera penciumannya.
"Wow....kau membuat cacing-cacing di perutku memberontak." seru Hazal yang ada di samping Yafet. Pria itu sedang mengambil roti panggang dari toaster nya.
"Kau mau?" tanya Yafet kepada Hazal. Pria itu menyodorkan roti buatan nya.
Hazal hendak mengambil roti panggang itu, tetapi kemudian Yafet menarik tangannyakembali.
"Kau !!" seru Hazal yang memelototi sikap Yafet.
"Tunggu aku !! Aku akan bersiap-siap dulu." ucap Yafet yang langsung berjalan ke kamarnya.
Hazal menatap roti panggang yang ada di depannya. Kali ini dia benar-benar merasakan sangat lapar, ingin dia segera melahap roti itu. "Kenapa dia lama sekali di kamar?" gumam Hazal.
Tangan Hazal hendak mengambil roti panggang tersebut, tetapi dia terkejut dengan teriakan Yafet.
"Ayolah Yafet.....cepatlah...aku sudah sangat kelaparan." pinta Hazal yang sedang duduk di kursi makan.
Yafet keluar dari kamarnya, aroma mint menyeruak mengikuti langkahnya. Dengan memakai kemeja body fit berwarna hitam, Yafet menghampiri Hazal. Yafet mengambil roti panggang buatannya, memotong nya dan memasukkan nya ke mulut Hazal. Dia menyuapi Hazal dengan potongan pertama roti nya.
"Bukankah tadi kau bilang sangat kelaparan?" tanya Yafet setelah dia selesai menyuapi Hazal.
"Aku bisa melakukannya sendiri !!" ketus Hazal yang di sambut senyuman oleh Yafet.
Akhirnya Yafet dan Hazal menghabiskan sarapan mereka masing-masing. Kemudian mereka segera pergi ke kampus dengan mengendarai mobil Yafet. Yafet melajukan mobilnya dengan cepat, sekitar dua puluh menit mereka sudah sampai di Columbia University. Yafet menemani Hazal untuk masuk ke ruang ujian. Tetapi sebelum mereka berpisah, Yafet menarik tangan Hazal untuk mendekat padanya dan mengatakan...
"Terimakasih buat selimut yang kau berikan. Aku akan menunggu mu di kafetaria. Semoga kau berhasil."
Hazal membalasnya dengan senyuman manisnya, dan perlahan dia melepas genggaman tangan Yafet, gadis itu melangkahkan kaki nya memasuki ruang ujian dan mencari tempat duduknya.
*******
Setelah mengumpulkan lembar jawaban nya, Hazal bergegas keluar dari ruang ujian. Tak terasa ujian tes masuk hari ini berlangsung selama tiga jam. Gadis itu segera mencari kafetaria di kampus ini. Tidak ada papan petunjuk yang memberikan informasi dimana kafetaria itu berada.
"Aduh....aku tadi lupa menanyakan ke Yafet dimana kafetaria nya. Aku tidak kenal siapa-siapa di sini."
Kemudian dia mencoba bertanya pada seseorang yang di temui nya. Kebetulan orang tersebut adalah mahasiswa lama di sana, jadi Hazal mendapatkan informasi letak kafetaria itu darinya.
Hazal melangkahkan kakinya mengikuti petunjuk yang di dapat nya. Di tengah jalan dia berpapasan dengan segerombolan para mahasiswi yang sedang membicarakan sesuatu, sebenarnya Hazal tidak memperdulikan mereka. Tetapi entah kenapa langkahnya terhenti ketika dia mendengar salah satu mahasiswi itu menyebut nama Yafet.
Tanpa basa-basi, Hazal bertanya pada mereka.
"Permisi, aku tadi mendengar kalian menyebut nama Yafet...apa maksud kalian Yafet Aksal?"
"Ya...kau kenal dia?"
"Ya...kami berasal dari satu daerah yang sama di Turki. Apakah kalian mengenal Yafet Aksal?"
"Bukan hanya kenal, tapi di adalah mantan kekasihku."
__ADS_1
"Mantan kekasih?" Hazal terkejut mendengar jawaban dari salah satu gadis itu.
"Apakah kau mahasiswa baru di sini? Sepertinya aku belum pernah melihatmu."
"Iya...aku akan masuk tahun ini."
"Oh syukurlah....kau pasti tidak akan menjadi korbannya. Karena kudengar dia sudah lulus kemarin." ucap mahasiswi yang lain lagi.
"Korbannya? Maksudnya? Aku tidak mengerti pembicaraan kalian." tanya Hazal yang kebingungan.
"Ahh....sudahlah lupakan. Ini juga bukan urusan mu. Mari kita pergi." Keempat mahasiswi itu hendak pergi meninggalkan Hazal.
"Tunggu....bisa kau ceritakan tentang Yafet Aksal selama di kampus ini? Karena dia adalah anak dari teman ayahku." pinta Hazal kepada mereka.
"Kau ingin tau anak baru?" seru salah satu dari mereka yang sepertinya pemimpin gerombolan ini.
"Ya." jawab Hazal.
"Yafet Aksal adalah playboy kelas kakap di kampus ini. Siapa yang tidak tahu dengan pemuda tampan itu? Seluruh kampus ini mengetahuinya, dia akan mengejar gadis-gadis cantik, begitu gadis itu sudah terperdaya olehnya, dia akan meninggalkan nya, seperti sampah !!" seru mahasiswi itu dengan emosi nya.
"Kau pasti bohong...apa kau pernah mengalaminya?"
"Hahahaha.....lihat dia teman-teman. Gadis ini sangat polos. Sudah kubilang tadi, kalau aku adalah salah satu mantan kekasihnya. Di kampus ini mantan kekasih Yafet ada puluhan. Jangan-jangan kau akan jadi korban berikutnya !!!"
"Sudahlah Alice, kau jangan membuatnya takut. Nanti dia akan phobia pada semua pria hahahahha...." ucap salah satu mahasiswi yang lain mengingatkan pemimpin mereka.
"Jika kau tak percaya, kau bisa mencari mahasiswi jurusan seni yang bernama Selina Howard. Dia adalah kekasih terlama dan terakhir Yafet. Tapi kudengar dia juga baru saja putus dari Yafet, Selina itu seperti gadis murahan saja, sudah di campakkan oleh Yafet, tapi dia masih terus saja mengejar si brengsek itu." ucap mahasiswi yang bernama Alice itu kepada Hazal.
Kemudian gerombolan mahasiswi itu meninggal kan Hazal seorang diri. Hazal tak menyangka bahwa kelakuan Yafet di kampus ini sangat buruk. Berbeda terbalik dengan sikap nya kepada dirinya selama ini. "Apakah aku salah telah menilainya? Apakah karena aku belum terlalu lama mengenalnya? Sehingga aku tidak tau sisi buruk dirinya?"
"Tidak Hazal, kau hanya mendengar dari beberapa orang saja, belum tentu semua perkataan mereka tentang Yafet itu benar."
Perkataan para mahasiswi tadi menggusar kan hati Hazal. Dia pun segera bergegas menuju ke kafetaria, dia ingin bertanya langsung kepada Yafet.
"Sudahlah.... berhentilah menangis, lupakan Yafet. Kenapa kau tidak bisa move on dari si brengsek itu?"
"Aku sangat mencintainya, hatiku sangat sakit ketika dia memutuskan ku, hanya karena dia sudah bosan dengan ku, dia meninggalkan ku dan memacari Selina Howard."
"Yafet juga sudah putus dengan Selina. Kurasa mereka putus juga karena alasan yang sama, ada yang lebih menarik hatinya ketimbang Selina. Aku harap pria brengsek itu mendapatkan karma nya!!" ujar mahasiswi yang memakai baju kuning itu dengan sarkasme nya.
"Ssstt.....pelan kan suaramu. Lihatlah ada Selina di sana, dia hendak mendekati Yafet."
Pandangan mata Hazal tertuju pada gadis dengan tinggi 170cm lebih dengan pakaian seksi berwarna putih untuk ukuran seorang mahasiswi dan rambut hitam tergerai. Dilihatnya gadis itu menghampiri segerombolan pria. Empat pria sedang duduk-duduk di meja, jaraknya sekitar dua meter dari Hazal. Hazal memandangi keempat pria itu, dan dia mengenali salah satu dari mereka. Yafet ada di antara keempat pria itu.
"Jadi....gadis ini yang bernama Selina Howard."
Kemudian Hazal memilih tempat duduk di dekat meja Yafet. Tetapi Hazal menutupi wajahnya dengan buku miliknya dan kaca mata hitam yang dia bawa di dalam tas nya.
"Yafet takkan mengenaliku dan aku bisa bebas mendengar dan memperhatikan tingkah lakunya dari sini."
Tampak Selina berdiri di belakang Yafet, gadis itu dengan berani memeluk Yafet dari belakang di depan teman-temannya, dan mencium pipi Yafet. Kakak angkat Hazal itu terkejut dengan kelakuan Selina. Yafet segera menyingkirkan tangan Selina dari lehernya.
"Apa kau sudah gila Selina?" tanya Yafet pada gadis itu.
"Ya....aku sudah gila, Yafet !! Aku tergila-gila padamu. Kemarin aku melihatmu sedang menggandeng gadis lain, siapa dia?"
"Bukan urusanmu?" seru Yafet dengan sengit.
"Wah...kau sudah membawa gadis itu ke New York? tanya Jason kepada Yafet.
__ADS_1
"Gadis ? Seorang gadis cantik?" tanya David kepada mereka semua.
"Ya....gadis cantik. Dia gadis Turki." jelas Jason.
"Kenapa aku belum mendengar berita ini? Kenapa kau tidak mengenalkan nya pada kami? Apakah dia pengganti Selina?" tanya Lee yang dengan sengaja menyalakan bara api di hati Selina.
Tapi Yafet tak menanggapi perkataan mereka, dia sibuk dengan minuman nya dan memperhatikan jam tangan nya. 'Kenapa kau lama sekali Hazal, apa ujian mu telah selesai?"
"Yafet....jawab aku? Siapa gadis itu? Aku tak kan membiarkan kau berhubungan dengan gadis lain. Kau milik ku Yafet. Hanya milik ku. Apa karena dia, kau putuskan aku? Sama seperti yang kau lakukan pada gadis-gadis lain sebelum aku?" sengit Selina yang menarik kemeja hitam Yafet.
Yafet melepaskan tangan Selina dari kerah kemejanya.
"Sudah lah Selina....mungkin gadis itu akan nasib nya sama seperti dirimu dan yang lainnya. Di tinggalkan oleh Yafet dengan patah hati." ucap salah seorang mahasiswa lain yang duduk di seberang mereka yang mendengar pertengkaran Selina dan Yafet.
"Tutup mulutmu !!! Jangan ikut campur urusan kami !!" teriak Yafet pada mahasiswa tersebut.
"Bukankah yang aku katakan itu benar? Sudah berapa banyak gadis-gadis yang patah hati karena mu !! Apakah kau pantas di sebut lulusan terbaik kampus ini? Padahal kau seorang pria yang brengsek !!!" balas mahasiswa itu.
Tanpa banyak bicara, Yafet segera menghampiri mahasiswa itu, dengan cepat Yafet melayangkan tinjunya kepada mahasiswa itu. Mahasiswa itu tampak jatuh sempoyongan, Yafet hendak menghajarnya tetapi teman-temannya segera melerai mereka.
Hazal yang melihat dan mendengar langsung perkataan mereka semua, sangat terkejut tentang kelakuan Yafet.
"Jadi semua perkataan mahasiswi tadi itu betul. Yafet yang kukenal di Turki berbeda dengan Yafet yang ada di New York. Semuanya palsu. Bagaimana bisa aku tinggal satu atap dengan pria brengsek seperti dia? Bagaimana aku bisa mencintai pria macam ini? Apakah ayah dan ibu mengetahui nya?"
Setelah perkelahian berhasil di lerai, mahasiswa itu meninggalkan mereka dan keluar dari kafetaria. Kemudian Selina menghampiri Yafet, dan memegang tangan laki-laki itu.
"Kita belum selesai Yafet, aku pastikan kau akan menyesal telah mencampakkan ku begitu saja !!" ancam Selina kepada mantan kekasihnya itu.
Tangan Yafet yang masih terlihat mengepal, berusaha menenangkan dirinya dengan meneguk minuman dinginnya.
"Yafet....apa benar yang di katakan Jason?" tanya Lee.
"Sudahlah....aku tidak ingin membicarakannya." ujar Yafet.
Tiba-tiba Hazal berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan mendekati meja Yafet. Gadis itu melepas kacamata hitam nya. Tampak matanya terlihat basah di balik wajah cantiknya. Ketiga teman Yafet terheran-heran dengan kehadiran gadis cantik di depan mereka. Yafet terkejut melihat Hazal sudah ada di depan nya.
"Aku sudah mendengar semuanya, Yafet. Aku tak menyangka kau adalah pria seperti itu. Aku telah salah menilai mu. Mulai hari ini aku akan pindah dari apartemen mu." ucap Hazal dengan bahasa Turki yang tidak di mengerti oleh ketiga teman Yafet. Kemudian Hazal berlari keluar.
"Hazal.....Hazal....tunggu aku. Kita perlu bicara." ucap Yafet dengan bahasa Turki nya, segera dia berlari mengejar Hazal.
"Mereka saling kenal? Mereka berbicara dengan bahasa Turki?" tanya David kepada kedua teman nya.
"Apakah dia gadis Turki yang dibawa oleh Yafet?" tanya Lee kepada Jason.
"Aku rasa seperti nya dia. Aku hanya sekilas melihat wajahnya di ponsel Yafet." ujar Jason.
"Oh my God......gadis itu benar-benar cantik." ujar Lee.
❤️ Bersambung ❤️
Hai para readers novel Dangerous Love. Setelah baca novel ini jangan lupa kasih
🤗 Like
🤗 Rate
🤗 Komentar dan
🤗 Vote kalian yah
__ADS_1
Biar aku tetap semangat menulis dan mengerjakan novel ini sampai selesai 😉
Terimakasih 🙏🙏🙏