
Tidak ada bedanya antara siang dan malam di ruangan yang minim ventilasi ini. Ruangan yang hanya berukuran 3x5 meter, bagaikan sebuah kamar kecil di sebuah rumah sederhana yang di huni oleh lima orang tahanan laki-laki. Hujan salju di luar, membuat udara di dalam ruangan ini menjadi terasa sangat dingin. Jangankan pemanas ruangan, tempat tidur mereka hanya berupa selembar kasur yang menempel begitu saja di lantai.
Seorang pria bertubuh besar dengan tinggi 189 sentimeter, membungkuk sambil memegang jeruji besi yang ada di depannya dengan sangat erat. "Aaahhhhh...," teriak Ted Baxter di tengah kesunyian ruang tahanan itu. Teriakan yang penuh dengan penyesalan. Tapi tak seorangpun yang memahami kesedihannya. Penghuni ruang tahanan yang lain berpikir, Ted mengalami depresi karena sudah berhari-hari ia tinggal di tempat ini.
"Hei, bung! Ini bukan rumahmu! Beraninya kau membangunkan tidurku!" teriak salah satu tahanan di sel lain yang terganggu dengan teriakan Ted Baxter.
"Jika kau ingin menangis, menyusu lah di dada istrimu sana! Di sini tidak ada wanita yang bisa menyusui mu, anak nakal!" sindir tahanan yang duduk di belakang Ted Baxter.
Ted Baxter menoleh ke arah tahanan itu, yang duduk di belakangnya. Air mukanya mendadak berubah. Sifat premannya kembali muncul, dengan tatapan yang menusuk, dia memandang orang itu.
"Jangan kau bawa-bawa istriku, mulut sampah!" pekik Ted Baxter yang mencengkeram baju tahanan yang telah mengatai dirinya. Diangkatnya tubuh kurus itu dengan tangannya yang masih terborgol, hingga tubuh kurus itu menempel di dinding penjara.
"Kau pikir siapa dirimu, hah? Beraninya kau menyentuhku, pria botak!" Suara pria kurus itu terdengar seperti ancaman, meskipun tubuh kurusnya masih dalam genggaman tangan Ted Baxter. Orang itu sanggup menendang ************ Ted Baxter, membuat pria gundul itu jatuh dan melepaskan cengkeramannya.
"Beri pria botak ini pelajaran! Agar dia tahu bagaimana caranya ia menghormati orang yang berkuasa di sini!" serunya kepada teman-temannya.
Dua orang tahanan yang lain, yang sejak tadi hanya diam dan menonton, tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya dan mulai menghajar Ted Baxter. Membuat kegaduhan di ruang tahanan.
Pintu ruang tahanan itu terbuka, satu dari dua orang sipir penjara meniupkan peluit agar para tahanan itu berhenti berkelahi.
"Semuanya bubar!" teriak sipir penjara yang bertubuh jangkung. "Hei, kalian berempat, ikut aku sekarang!"
Sementara sipir penjara yang bertubuh gembul itu mendorong keempat pengacau termasuk Ted Baxter ke ruangan sipir kepala dan memasukkan mereka satu per satu ke ruangan isolasi.
Keesokan harinya, di ruang kerja Hazal di gedung Kejaksaan Tinggi Istanbul, ponsel Hazal berdering. Sebuah nomor asing tertera di layar ponsel Hazal. Kekasih Yafet itu tidak berniat mengangkat ponselnya, tetapi ponsel itu masih saja terus berbunyi di atas meja kerjanya.
"Ya, halo...," jawab Hazal yang terganggu dengan bunyi ponselnya. Terdengar suara seorang pria dari balik ponselnya.
"Ini aku, putri Danner," kata Ted Baxter yang berada di ruang Kapten Polisi.
"Kau...? Ted Baxter?" tanya Hazal yang tidak percaya, kalau penjahat itu yang menghubunginya. "Apa kau sudah berubah pikiran?" tebak Hazal yang mengira bahwa Ted akan memberitahu siapa dalang di balik pembunuhan orang tuanya.
"Aku ingin bertemu dengan Nuran dan Ali, bisakah kau membawa mereka ke sini?"
"Akan aku usahakan, aku akan bicara dengan Nuran," jawab Hazal. "Bagai --" Perkataan Hazal terputus ketika dirinya mendengar suara tut...tut...tut... dari balik ponselnya. Jaksa muda itu hanya menghela napasnya.
Setelah menghubungi Hazal, petugas polisi hendak membawa Ted Baxter kembali ke ruang tahanan. Tatapan matanya tidak setajam dulu, kini manik mata itu telah sayu, setelah Kapten Polisi memberitahu tanggal persidangannya.
"Berapa lama hakim akan memutuskan perkaraku?" tanyanya pada petugas polisi yang mendampinginya.
"Tergantung seberapa cepat kau mengakui perbuatan mu di depan hakim."
"Berapa tahun hukuman untuk seorang pembunuh?" tanya Ted Baxter yang sudah memasuki pintu ruang tahanan.
"Entahlah, mungkin sepuluh...dua puluh tahun...seumur hidup atau mungkin hukuman mati, kau bisa menanyakan pada pengacara mu," jawab petugas polisi sambil mengangkat kedua bahunya dan memasukkan Ted Baxter kembali ke selnya.
__ADS_1
Ted Baxter kembali terduduk di atas kasur lipatnya. Beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan sinis. Seorang tahanan lain yang usianya lebih muda darinya, datang dan duduk di sampingnya. Pemuda dengan rambut coklatnya yang berombak hanya duduk dalam diam di samping Ted Baxter.
"Kenapa kau duduk di dekatku?" tanya Ted Baxter dengan intonasi datarnya. Namun orang muda itu hanya duduk diam dan bersikap acuh pada Ted. Kedua orang tahanan itu hanyut dalam suasana keheningan di dalam ruangan tersebut. Tanpa disadarinya, Ted mengeluarkan isi hatinya kepada anak muda itu. Orang yang tidak dia ketahui nama dan alasan kenapa dia berada di tempat ini.
"Setidaknya setelah bebas, kau masih bisa berkumpul dengan keluargamu," kata pemuda itu mengeluarkan suaranya.
Ted Baxter menatap dalam manik mata pemuda yang berusia sekitar dua puluh lima tahunan. "Keluarga..." Ted mencerna satu kata itu di dalam pikirannya.
"Siapa yang aku sebut keluarga?" gumamnya berbicara sendiri, sambil tertawa dan menangis secara bergantian.
Pemuda itu menatap Ted, ia mengernyitkan dahinya, seolah merasa heran dengan sikap laki-laki gundul itu, "Apa kau tak punya keluarga? Istri, anak, ayah, atau ibu?"
"Ternyata kau lebih cerewet dari yang kukira." Ted tertawa kecil. "Aku baru menyadari bahwa ternyata aku masih punya keluarga, bertahun-tahun aku tidak mengakui mereka sebagai keluargaku."
Ted mengambil selembar foto dari dalam sarung bantalnya dan memperlihatkan foto lama itu kepada teman barunya.
"Istri dan anakmu?" tebak pemuda itu.
"Ya." Jawaban singkat yang meluncur dari bibir laki-laki gundul itu.
"Setidaknya kau lebih beruntung daripada aku, Pak Tua." Pemuda itu mengembalikan kembali foto Nuran dan Ali kepada Ted Baxter.
Ted mengernyitkan dahinya yang plontos dan mengubah posisi duduknya menghadap pemuda itu, "Apa maksudmu?"
"Polisi menangkap ku saat aku hendak merampok sebuah rumah mewah, saat itu aku membutuhkan uang untuk pengobatan adikku, tetapi sebelum aku berhasil mendapatkan uang, dokter mengabariku bahwa adikku tidak bisa diselamatkan."
Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur lipat Ted Baxter, langit-langit berwarna putih itu memantul dari manik matanya yang hitam, untuk beberapa saat dirinya terdiam kemudian berkata, "Meninggal karena kecelakaan. Beberapa tahun ini aku dan adikku tinggal di panti asuhan. Dua tahun lalu, dokter memvonis adikku menderita kanker darah. Dia adalah keluargaku satu-satunya, alasan aku masih bertahan hidup. Tetapi takdir berkata lain, adikku meninggalkanku selama-lamanya menyusul kedua orang tuaku, dan aku...aku malah berakhir di sini. Aku berharap, hakim memvonisku dengan penjara seumur hidup, agar aku bisa tinggal di sini."
Mendengar cerita teman barunya itu, membuat Ted Baxter teringat perbuatan dosanya dua puluh tahun silam. Ia yang membuat rencana agar kematian keluarga Danner seolah-olah hanyalah sebuah kecelakaan. Tetapi dalam kecelakaan itu hanya Erkan Danner yang meninggal, dan ia harus membunuh Ayla Danner dan putrinya dengan tangannya sendiri. Putri Danner itu telah menjadi yatim piatu karena dirinya, seperti pemuda yang sedang bersamanya saat ini.
"Ya Tuhan...," ucap Ted Baxter sambil mengusap wajahnya.
Bagaimana jika Ali mengalami hal seperti itu?
Keesokan harinya...
Hazal pergi ke Kantor Polisi Pusat hendak bertemu dengan Ted Baxter. Hazal menunggu di ruang besuk tahanan, seorang diri. Ia tidak memberitahu anggota keluarganya yang lain.
Ruang besuk ini di dominasi warna putih dan hitam, tidak ada yang istimewa dari ruangan tersebut. Di dalam ruangan ini, para tahanan bisa bertemu langsung dengan keluarga atau siapa saja yang datang untuk mengunjungi mereka. Tidak ada sekat atau pembatas untuk mereka saling berkomunikasi.
Ruangan ini berbentuk persegi, terlihat cukup luas karena hanya di isi dua buah meja kayu, dan masing-masing meja terdapat empat buah kursi plastik dengan sandaran. Hazal duduk di salah satu kursi bagian dalam, yang dekat dengan sebuah pintu yang menghubungkan ruang besuk dengan ruang tahanan. Wanita muda itu sudah menunggu Ted Baxter puluhan menit, dia berharap cemas apakah Ted mau menemuinya, jika pria itu mendapati bahwa istri dan anaknya tidak bersamanya saat ini.
Seorang sipir penjara yang bertubuh gembul memanggil satu-satunya tahanan yang berkepala plontos, " Ted Baxter, ada yang datang mengunjungimu!"
Laki-laki gundul itu bangun dari kasur lipatnya dan berjalan mengikuti langkah sipir penjara. Terlihat senyuman mengembang di sudut garis bibirnya. Dengan mantap ia melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Pintu ruang penghubung itu di buka oleh petugas polisi. Hazal berdiri dari tempat duduknya begitu ia melihat Ted Baxter yang telah menampakkan batang hidungnya. Senyum di sudut bibir Ted mendadak luntur seketika, ketika dilihatnya hanya putri Danner yang ada di sana.
"Mana Nuran dan Ali?" bentaknya sambil menghampiri Hazal.
"Mereka tidak mau menemui mu," ucap Hazal sambil memandang manik mata Ted yang kelihatan marah dan kecewa.
"Kau pasti membohongiku! Mereka tidak akan menolak bertemu denganku!" amarah Ted meledak. Ia hendak mencengkeram kedua lengan Hazal, dengan refleks Hazal memundurkan langkahnya. Petugas polisi menahan tubuh Ted untuk tidak mendekati Hazal.
Betapa dia sangat mengharapkan kedatangan Nuran dan Ali, karena rasa kecewanya dia berbalik arah untuk masuk kembali ke ruang tahanannya.
"Tunggu, Ted!" seru Hazal. "Aku harus bicara padamu!"
"Kau tak berhasil membawa keluargaku ke sini, jangan harap aku mau bicara padamu!" Ted melangkahkan kakinya menuju pintu penghubung.
"Kau sebut mereka keluarga? Kemana saja kau selama ini, hah?" sindir Hazal yang memancing amarah Ted Baxter, membuat laki-laki gundul itu membalikkan wajahnya menatap Hazal.
"Jangan menceramahi ku, putri Danner!" teriak Ted Baxter sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Hazal.
"Aku tidak bisa membawa mereka ke sini, karena istrimu sendiri yang menolak bertemu denganmu. Tapi aku bisa membantumu bebas dari sini, agar kau bisa berkumpul kembali dengan keluargamu."
"Membantuku bebas? Aku yang telah membunuh orang tuamu! Dan sekarang kau menawariku kebebasan? Kau sungguh lucu...! Memangnya siapa dirimu, hah?" ejek Ted Baxter.
Hazal berusaha mengendalikan dirinya, ia maju satu langkah mendekati Ted Baxter dan berkata, "Aku seorang jaksa muda. Aku mengira sasaran balas dendam ku adalah kau, tapi ternyata aku salah, kau hanyalah alat orang itu. Aku akan membantumu, jika kau mau bekerja sama denganku. Katakan siapa orang yang telah menyuruhmu?"
Ted Baxter hanya menganggap perkataan Hazal sekedar angin lalu, ia kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu penghubung sambil tertawa, "Sampai mati pun, aku tidak akan pernah memberitahumu!"
Hazal mengepalkan kedua telapak tangannya, dengan geram ia membalas perkataan Ted Baxter, "Jadi kau lebih memilih melindungi orang itu daripada melindungi keluargamu sendiri?"
Hazal menggelengkan kepalanya, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran penjahat ini.
"Oke..., jika itu pilihanmu, aku tidak punya pilihan lain selain menuntut hukuman mati untukmu!" seru Hazal.
Ted Baxter menghentikan langkahnya dalam beberapa detik, memandang sekilas manik mata Hazal, kemudian ia meminta sipir penjara untuk mengantarnya kembali ke ruang selnya.
"Ted, tunggu...!" Hazal langsung mengejar laki-laki gundul itu, tetapi petugas polisi tidak memberinya ijin untuk masuk ke dalam.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah membaca novelku ini...jangan lupa kasih tip ya buat Author...bisa berupa,
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar atau
__ADS_1
🤗 Vote ya...
Makasih 🥰🤗