
Minggu, 6 Januari 2020 pukul 06.00 pagi
Treng….treng…treng….!
Sipir penjara mengetuk-ngetukkan tongkat besinya di jeruji besi. “Bangun…bangun! Sudah pagi…! Bersihkan diri
kalian, bersiaplah di ruang makan satu jam dari sekarang! Ingat peraturannya terlambat satu menit push up 50 kali!” teriak seorang laki-laki berperawakan gemuk.
Para tahanan itupun mengayunkan langkah kaki mereka dengan lamban, mengambil handuk dan perlengkapan mandi mereka. Tidak semua tahanan yang berjumlah tiga puluh orang itu bisa masuk ke dalam kamar mandi, mereka harus mengantri menunggu giliran. Tapi itu tidak berlaku bagi pria kurus, pemimpin seluruh tahanan dan teman-temannya. Mereka bisa mandi duluan.
Sementara itu, di dalam ruang tahanan Ted Baxter yang baru saja memejamkan matanya masih merebahkan dirinya di atas kasur lipat tanpa selimut yang menutupi tubuh besarnya. Cahaya matahari masuk menembus jendela kecil yang merupakan satu-satunya ventilasi dalam ruangan ini. Ted Baxter mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, manik mata itu terbuka dan berputar-putar melihat sekelilingnya. Semua orang sudah mulai sibuk untuk
membersihkan dirinya. Manik mata pria gundul itu tidak melihat teman barunya itu di dalam selnya. “Kemana dia sepagi ini?”
Sambil menunggu giliran mandi, Ted Baxter berjalan menuju ke lapangan yang ada di belakang ruang tahanan. Lapangan yang berbentuk persegi panjang, dengan di kelilingi oleh dinding-dinding tinggi dan kawat berduri yang saling melilit di bagian atasnya. Tidak ada pijakan di sekeliling dinding itu, sehingga para tahanan itu tidak bisa melarikan diri dari sana.
Samar-samar Ted Baxter melihat tahanan muda itu sedang menggali tanah yang ada di dekat lapangan. “Hei, apa
yang kau lakukan?” tanya Ted Baxter ketika ia menghampiri temannya itu dan melihat lubang besar yang sangat dalam di depannya.
“Ini untuk kau melarikan diri, aku sudah mempersiapkan semuanya. Larilah ketika orang-orang sedang sibuk di dalam. Aku akan berjaga-jaga di sekitar sini. Terowongan ini menuju ke pembuangan air yang ada di luar, kau akan menemukan sebuah pipa air besar di sana. Ikuti pipa air itu maka kau bisa mencapai jalan raya,” jelas tahanan muda itu yang masih sibuk menggali. Ted Baxter hanya memperhatikan apayang di lakukan teman mudanya itu, tanpa ikut membantu.
“Bukankah ideku ini sangat cemerlang, Pak Tua?” tanya tahanan muda itu dengan bangga, kemudian dia menancapkan sekopnya di tanah dan mengusap peluhnya yang membasahi kening dan lehernya.
“Tutup kembali lubang itu dan lupakan ide cemerlangmu!” seru Ted Baxter yang segera membalikkan badannya membelakangi temannya.
Tahanan muda itu mengejar Ted Baxter, dan menarik tangan pria gundul itu. “Hei, apa maksudmu? Kau tidak ingin
melarikan diri dari sini? Mereka bisa membunuhmu di sini!”
“Jika aku keluar dari sini, orang itu akan mengirimkan orangnya yang lain untuk membunuhku!” seru Ted Baxter.
Tahanan muda itu segera menghalangi langkah kaki Ted Baxter dan berdiri di hadapan pria gundul itu, “Kau tahu siapa yang menginginkan kematianmu?”
Pria gundul itu hanya mengatupkan rahangnya, tak ada sebuah nama yang keluar dari bibirnya.
“Jawab aku, Pak Tua! Apa kau tahu siapa orangnya? Keluarlah dari sini dan bunuh dia sebelum dia membunuhmu, temui keluargamu! ” teriak tahanan muda itu sambil mengepalkan salah satu tangannya di depan wajah Ted Baxter. Pria gundul segera menutup mulut temannya, “Pelankan suaramu!”
Ted Baxter memegang lengan tahanan muda itu, “Dengarkan aku baik-baik. Jika sesuatu terjadi padaku hari ini atau besok. Hubungi seseorang yang ada di dalam kaleng biskuitku. Berikan kaleng biskuitku berikut isinya kepadanya. Orang yang ingin membunuhku itu tidak ingin aku hadir dalam persidangan besok! Dan sebaiknya kau jangan melibatkan dirimu dalam masalahku. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan!"
Tahanan muda itu hanya diam dan menatap sepatu Ted Baxter, bukan dia tidak mengerti perkataan pria gundul itu, tetapi dia tidak mengerti dengan sikap Ted yang tidak ingin kabur dari penjara. Setelah mengucapkan hal itu Ted pergi meninggalkan temannya yang masih berdiri membelakangi tanah galiannya.
Dengan perasaan kesal, tahanan muda itu menutup kembali tanah yang sudah digalinya. “Semalaman aku menggali tanah ini, tapi dia lebih memilih mati di dalam penjara…,” gerutunya.
Pukul 07.00 pagi beberapa jam sebelum pernikahan…
Setelah mendengar cerita dari Yafet semalam, Jason berinisiatif untuk mendatangi apartemen Jasmine tempat Selina menginap. Laki-laki Inggris itu berusaha untuk menebus kesalahannya dengan cara membujuk Selina untuk membatalkan pernikahannya dengan Yafet.
“Apa kau yakin bisa mengubah pikiran wanita itu?” tanya Lee dan David yang berada di salah satu kamar hotel AKSAL.
“Entahlah, tapi aku akan mencobanya. Karena aku merasa, semua ini adalah rencananya sejak awal,” jawab Jason yang tengah mengganti pakaian kasualnya menjadi pakaian formal.
“Semoga kau berhasil.” David dan Lee menepuk pundak Jason, laki-laki Inggris itupun segera keluar dari hotel AKSAL.
Ketiga pemuda itu seperti akan menghadiri sebuah pemakaman bukan acara pernikahan. Mereka sedang berduka, saat mengetahui bahwa Yafet akan menikahi Selina. Tidak ada yang menyangka sama sekali. Hari ini pernikahan Yafet dan Selina akan dilaksanakan.
Tiga puluh menit berlalu, Jason sudah tiba di apartemen Jasmine. Pria itu menekan bel yang ada di atas pintu. Jasmine melihat wajah Jason melalui interkom, kemudian wanita itu membuka pintu apartemennya.
“Aku ingin bicara dengan Selina,” kata Jason yang langsung masuk ke dalam. Jasmine hanya berdiri dan memandang Jason dari atas hingga ke bawah.
“Dia ada di kamarnya,” ucap Jasmine dengan ketus. “Apa Yafet yang menyuruhmu kemari?”
“Ini tidak ada hubungannya dengan Yafet,” jawab Jason sambil berjalan menuju ke kamar Selina.
Di dalam kamar, seorang wanita dari salon kecantikan tengah sibuk merias wajah Selina. Jason juga melihat sebuah gaun pengantin berwarna putih tergantung di depan lemari. Pria itu masuk ke
dalam kamar dan berdiri di belakang Selina.
__ADS_1
“Wow…kejutan untukku, Jason. Kau datang ke pernikahanku…,” seru Selina yang melihat wajah Jason dari pantulan cermin yang ada di depannya.
“Aku ingin bicara denganmu,” ucap Jason.
“Tunggu aku sebentar, sebentar lagi aku selesai,” ujar Selina yang meminta perias wajahnya agar cepat melakukan
tugasnya.
Jason berdiri di depan balkon kamar Selina, sekitar tiga puluh menit pria itu menunggu pengantin wanita Yafet
berias dan berganti pakaian. Setelah selesai semua, Selina datang menghampiri Jason.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Selina.
Sebagai laki-laki, melihat penampilan Selina yang seksi, membuat pikiran Jason melayang. Tapi kemudian ia kembali ke tujuannya semula.
“Aku tahu kalau semua ini hanyalah permaiananmu, kan? Hentikan permaianan mu ini Selina, sebelum terlambat! Ikutlah pulang bersama ku ke Inggris!” seru Jason.
Selina yang mendengar perkataan Jason tertawa terbaha-bahak. “Kau bilang apa? Semua ini permainan? Yafet menikahiku karena aku telah mengandung anaknya, jadi mau tidak mau dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan padaku!”
Jason mencengkeram lengan Selina, “Aku tidak percaya bahwa kau hamil! Atau ini adalah anak pria lain!”
Selina menampik tangan Jason yang ada di lengannya, “Suka atau tidak suka, anak ini adalah anak Yafet. Yafet sudah menerima kenyataannya, jadi untuk apa kau mempermasalahkan semua ini?”
“Aku hanya ingin meperingatkanmu, karena aku mengenalmu sejak kita satu sekolah dulu. Sadarlah Selina! Kau takkan bahagia dengan pernikahanmu ini! Yafet tidak pernah mencintaimu, dia hanya mencintai kekasihnya Ha…,” ucap Jason yang tiba-tiba menghentikan ucapannya. Hampir saja ia kelepasan bicara.
“Ha… siapa? Siapa nama kekasih Yafet?” cecar Selina ketika mendengar perkataan Jason.
“Sudahlah, aku tidak ingin membahas kekasih Yafet. Pulanglah bersama ku ke Inggris, tinggalkan Yafet, kau bisa
memulai hidupmu kembali di Inggris. Kau bisa menemukan lelaki yang benar-benar mencintaimu dan menghargaimu. Jangan kau sia-siakan hidupmu!” saran Jason.
Selina berdiri mematung mendengar perkataan Jason kemudian berjalan mendekati pagar balkon. “Jangan coba-coba mempengaruhiku, Jason! Kau takkan bisa mengubah pendirianku!”
“Oke…! Terserah padamu! Terakhir kali aku mengatakan hal ini padamu, sebelum kau menyesal! Jangan coba-coba bermain api dengan Yafet dan keluarga Aksal! Satu kali saja kau berbuat kesalahan, mereka akan melemparmu keluar dari Turki untuk selama-lamanya!”
“Hentikan Selina! Aku akan mengajakmu pergi dari sini, tak peduli kau setuju atau tidak!” Jason menyeret paksa tangan Selina hingga mencapai pintu keluar.
“Lepaskan tanganku, brengsek!” teriak Selina yang berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Jason.
Tiba-tiba Jasmine muncul dari kamarnya, dan mencoba menghalangi langkah Jason yang akan membawa Selina pergi dari apartemennya. “Lepaskan Selina! Atau aku panggil polisi!” ancam Jasmine yang sedang menekan nomor ponselnya.
Selina pun melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Jason dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Jasmine mengusir Jason untuk keluar dari apartemennya. Jason menendang pintu apartemen Jasmine dengan keras dan berteriak dengan umpatan bahasa Inggris. Laki-laki itu kembali ke hotel Aksal dengan tangan kosong tanpa membawa hasil.
Pukul 10.00 pagi detik-detik menjelang pernikahan
Emir Aksal yang sudah mendapat ijin dari dokter untuk pulang ke rumah, menekan tombol kursi rodanya untuk
menghampiri Meral yang tengah sibuk memilih perhiasan dari kotak perhiasannya. Meral mengambil seuntai kalung cantik dengan sebuah liontin yang berasal dari batu zamrud berwarna hijau. Bentuk kalung itu sangat sederhana, tapi mempunyai sejarah yang panjang.
“Apa kau akan memberikan kalung pemberian ibuku kepada Selina?” tanya Emir yang sedang melihat Meral memegang kalung itu. Kalung itu adalah kalung keturunan keluarga Aksal. Siapa yang menjadi menantu keluarga Aksal berhak mewarisi kalung tersebut. Meral mendapatkan kalung itu dari ibu Emir. Kini saat nya ia menyerahkan kalung keluarga itu kepada menantunya.
Meral menatap wajah Emir, “Entahlah, sepertinya aku tidak rela memberikan kalung ini kepada Selina. Meskipun aku tahu, tinggal beberapa menit lagi, ia kan sah menjadi istri Yafet.”
“Kau harus bisa menerima kenyataan ini, sayang.”
“Tapi aku masih tidak rela, Yafet menikah dengan cara seperti ini. Seandainya hari ini, Yafet menikahi Hazal. Aku
dengan senang hati menyerahkan kalung keluarga kita kepada Hazal. Hanya putriku yang pantas mengenakan kalung ini,” isak Meral.
Emir menggengam tangan Meral, dia mengerti perasaan istrinya. “Jika kau masih belum bisa menerima semua ini, simpanlah kalung itu. Berikan kalung itu pada saat pernikahan Hazal.”
Sementara itu di kamar Yafet, pria itu sedang mengenakan jas pengantinnya. Ia belum bertemu dengan Hazal sejak mereka bertemu terakhir kalinya di hotel AKSAL. Yafet berusaha menghubunginya, tapi Hazal selalu tidak mau menjawab panggilan ponselnya. Ia hanya ingin berbicara dengan Hazal untuk terakhir kalinya, tetapi sepertinya hari ini wanita yang dicintainya itu tidak akan menghadiri pernikahannya.
Yafet memandang dirinya sendiri di depan cermin, “Kau akan membayar segala sakit hati Hazal, Selina! Kita lihat
saja, siapa yang akan bertahan dalam pernikahan neraka ini! Aku akan membuatmu menyesal karena kau menjebakku dalam permaiananmu ini!”
__ADS_1
Putra Emir itupun segera keluar dari kamarnya, sebelum turun ke bawah ia membelokkan dirinya membuka kamar Hazal. Berharap wanita itu ada di sana. Tapi kenyataan sepertinya tidak berpihak padanya, sudah beberapa hari ini Hazal tidak pulang ke rumah.
Pukul 11.00 siang....
Yafet dan orang tuanya sudah tiba di catatan sipil. Ketiga temannya Jason, David dan Lee juga sudah tiba di sana.
Sementara itu mereka masih menunggu kedatangan pengantin wanita, Selina. Dari pihak Selina hanya ada keluarga Jasmine yang mewakili keluarga wanita Inggris itu.
“Dimana Selina?” tanya Emir kepada ayah Jasmine.
“Mungkin sebentar lagi pengantin wanitanya akan sampai,” jawab ayah Jasmine.
Tak lama kemudian, sebuah mobil pengantin memasuki halaman kantor catatan sipil. Seorang pengantin wanita dan pengiringnya berjalan memasuki ruangan tersebut. Semua mata tertuju pada Selina yang memakai gaun pengantinnya. Semua pria terpesona melihat penampilan Selina, kecuali Yafet. Ia sama sekali tidak berselera melihat calon istrinya itu.
“Karena pengantin pria dan pengantin wanita sudah hadir, mari kita mulai acara pernikahan ini,”
kata petugas catatan sipil yang berdiri menghadap Yafet dan Selina. Kedua pengantin itu menandatangani buku nikah mereka dan beberapa lembar kertas yang tidak sempat di baca oleh Selina. Mereka berdua pun membubuhkan cap jempol mereka di buku nikah dan kertas tersebut.
“Kenapa banyak sekali tanda tangannya?” tanya Selina kepada Yafet.
“Aku juga tidak tahu, mungkin hanya sekedar formalitas,” jawab laki-laki itu.
Semua orang bertepuk tangan ketika petugas catatan sipil mengesahkan pernikahan mereka secara hukum. “Silahkan mempelai pria membuka penutup wajah mempelai wanita, kalian sudah sah menjadi suami
istri. Silahkan mencium istrimu,” kata petugas catatan sipil kepada Yafet.
Yafet membuka kain berwarna putih itu, terlihat wajah Selina yang tersenyum dengan bahagia. Yafet hanya
menempelkan bibirnya ke bibir Selina tanpa menciumnya, mata elang itu menatap tajam Selina yang sudah sah menjadi istrinya.
Mulai hari ini permainanku akan segera dimulai, Selina!
Sepasang manik mata coklat yang berdiri di belakang semua orang tampak memerah, cairan kristal bening itu
menggenang di pelupuk matanya yang tertutup oleh make-up. Seorang wanita berambut pirang yang berdiri di sebelahnya menggenggam erat tangan wanita itu.
“Semua sudah berakhir…,” ucap Hazal lirih ketika melihat pemandangan yang sangat menyakitkan itu.
“Kau pasti kuat menghadapi semua ini, Hazal,” hibur Carina yang trenyuh melihat keadaan Hazal.
“Aku akan kuat… yah aku pasti kuat menghadapi semua ini, aku akan tetap hidup meskipun tanpa cinta!”
ucap Hazal sambil mengusap air matanya. Manik mata coklat itu masih menatap Yafet dan Selina dengan lekat.
Semua orang tidak menyadari kehadiran Hazal dan Carina. Orang-orang itu memberikan ucapan selamat kepada Yafet dan Selina. Tiba-tiba Hazal melangkahkan kedua kakinya menuju ke tempat Yafet danSelina berdiri. “Psst...Hazal,” ucap Carina pelan. Istri Lee itu mencoba mencegah Hazal untuk maju ke depan.
Tetapi terlambat, tinggal beberapa langkah lagi Hazal mencapai tempat Yafet dan Selina. Semua orang memandang ke arah Hazal, putri Emir itu terlihat sangat cantik hari dengan gaun pesta berwarna putih di
atas lutut. Ia merias wajahnya dengan riasan tipis. Hazal pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya, semua orang mengira ia baik-baik saja. Ia sudah berdiri di hadapan pasangan suami istri yang masih baru.
“Selamat untukmu kakak,” ucap Hazal sambil mengulurkan tangannya ke arah Yafet. Pria itu terkejut melihat dan
mendengar perkataan Hazal. Yafet ragu menyambut uluran tangan Hazal, tetapi Hazal memajukan dan menempelkan telapak tangannya kemudian menjabat tangan mantan kekasihnya itu. Kedua telapak tangan itu melekat agak lama, Hazal segera melepas uluran tangannya.
“Selamat untukmu kakak ipar,” ucap Hazal sambil tersenyum kecil kepada Selina. Manik mata coklat itu menatap kedua manik mata Selina. Istri Yafet itu segera memeluk Hazal. "Terima kasih, Hazal," balas Selina.
“Jaga baik-baik kakak tersayangku, atau suatu hari kau akan kehilangan dia untuk selama-lamanya,”
bisik Hazal di telinga Selina. Wanita Inggris itu terkejut mendengar perkataan Hazal, seperti sebuah ancaman.
“Jangan terkejut seperti itu kakak ipar, sepertinya kau sangat takut kehilangan suamimu?” Hazal tersenyum
memandang Selina,wajah istri Yafet itu pucat seketika. Kemudian ia dengan cepat berbalik arah menuju pintu keluar.
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca novelku ini, jangan lupa kasih like, rate bintang lima, komentar atau vote kalian. Terima kasih ^_^
__ADS_1