DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Beri Aku Waktu Untuk Membalas Cintamu


__ADS_3

Hazal menelan salivanya setelah ia mendengar ide Kenan. Ponsel merah itu hampir saja terlepas dari genggaman tangannya. Ia meletakkan ponsel itu di atas sebuah kursi besi yang sudah berkarat.


"Kenapa kau berdiri?" teriak Hazal setelah membalikkan badannya menghadap Kenan. Dilihatnya lelaki itu sudah berdiri tegak sambil memegangi perutnya.


Kenan berjalan perlahan-lahan mendekati Hazal, ia memegang kedua telapak tangan kekasihnya itu. "Menikahlah denganku minggu depan."


Manik mata coklat itu menatap manik mata abu-abu gelap yang ada di depannya, "Secepat itu?"


Kenan mengangkat kedua alis matanya. "Aku ingin segera mengakhiri semuanya. Aku akan menepati janjiku kepadamu."


"Apa kau siap menjadi Nyonya Kenan Fallay?" tanya Kenan. Ia membelai rambut coklat Hazal dan memasukkannya di belakang telinga wanita itu. Kedua lengannya ia lingkarkan di pinggang ramping Hazal. Ia berusaha menahan rasa sakit di sekitar perut dan punggungnya.


Hazal menundukkan kepalanya sesaat dan menggigit bibir bawahnya. Dendamnya saat ini hanya kepada Harun bukan kepada Kenan. Ia memang salah telah menggunakan perasaannya untuk menghadapi anak pembunuh orang tuanya. Tetapi dia bisa merasakan ketulusan cinta pria itu kepadanya. Bagaimana Kenan melindunginya dari serangan penembak yang dikirim oleh Harun.


Yafet maafkan aku. Semoga kau mengerti dengan keputusan yang aku ambil. Selina dan anakmu lebih membutuhkanmu. Berbahagialah dengan keluarga kecilmu, aku akan menjalani keputusanku sendiri. Entah itu berakhir dengan kebahagiaan atau dengan air mata.


"Baiklah." Hazal mendongakkan kepalanya menatap wajah Kenan.


"Aku memberimu waktu sampai malam pertama kita! Jika kau tidak menyerahkan ayahmu, maka kau akan melihat pertumpahan darah antara aku dan ayahmu!" seru Hazal dengan tegas.


" Bagaimana jika aku menepati janjiku?" tanya Kenan yang memegang kedua lengan Hazal.


"Aku akan mengabdikan hidupku sebagai Nyonya Kenan Fallay. Kau bisa memiliki ku sepenuhnya," ucap Hazal sambil menatap lekat kekasihnya itu. Dua pasang manik mata itu terlihat berkaca-kaca.


Kenan segera menarik tubuh Hazal di dalam pelukannya. "Aku mencintaimu, Hazal."


Maafkan aku jika aku memaksamu, Hazal. Tapi aku tidak ingin kehilanganmu. Aku akan menepati janjiku kepadamu. Aku akan membahagiakanmu, sayang.


Hazal membalas pelukan Kenan. Air matanya menetes membasahi kemeja lelaki itu. Bibirnya terasa berat untuk membalas perkataan cinta kekasihnya. Ia hanya bisa meremat kain berwarna biru itu dalam genggaman tangannya.


"Beri aku waktu untuk membalas cintamu," ucap Hazal. Ia mengalungkan kedua lengannya di belakang leher Kenan.


Putra Harun itu segera mencium bibir merah Hazal dengan lembut, ia tak pernah merasakan cinta begitu dalam kepada seorang wanita. Baginya wanita pertama dalam hidupnya adalah ibunya. Sebelum mengenal Hazal, ia hanya mencari wanita untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya.


Keesokan harinya di Kota Istanbul, Mehmet baru saja keluar dari gedung Kedutaan Besar Austria. Dalam waktu singkat ia berhasil mengantongi paspor baru dan visa Schengen, yaitu visa yang digunakan untuk masuk ke beberapa negara di Eropa.


Kau beruntung sobat, ada putri Aksal bersamamu. Keluarga Aksal memang sangat berpengaruh dan mereka adalah prioritas. Jika kau sendirian, aku tidak akan mudah membawamu keluar dari Eropa.


Mehmet segera terbang menuju Bandara Internasional Wina, Austria. Kemudian ia menggunakan jalan darat menuju kota Innsbruck, memakan waktu lima jam perjalanan untuk menjemput sepasang kekasih yang terdampar di negeri orang.


Pria berkulit gelap itu tiba di kota Innsbruck menjelang sore hari. Dengan menyewa sebuah mobil dan sopirnya ia berkeliling mencari gudang tua tempat tinggal Kenan dan Hazal.


Terdengar suara mobil berhenti di depan gudang tua. Hazal dan Kenan segera mengambil pistol mereka. Kenan mengintip dari jendela, sedangkan Hazal tengah bersiap di belakang pintu.

__ADS_1


"Siapa yang datang?" tanya Hazal. Ia hendak menarik pelatuk pistolnya.


"Entahlah, orang itu belum turun dari mobil." Kenan membuka kaca jendelanya.


Sepasang sepatu turun dari mobil tersebut, Kenan tampak mengenali pemilik sepatu itu. Dilihatnya pria berkulit gelap dan berkacamata hitam keluar dari mobil. Kenan tersenyum melihat tingkah konyol sahabatnya yang berbicara dengan sopir mobil sewaan dalam bahasa Jerman.


"Tahan tembakan mu, sayang! Dia Mehmet!" seru Kenan yang melihat Hazal sudah mengangkat senjatanya.


Hazal menganggukkan kepalanya kepada Kenan.


"Baiklah, aku akan membukakan pintunya," ucap Hazal sambil tersenyum tipis.


Pintu besi itu dibuka oleh Hazal dari dalam, dilihatnya Mehmet dengan pakaian kasualnya sudah berdiri di depannya.


"Wah...wah... apa begini caranya kalian menyambutku?" tanya Mehmet sambil tersenyum dan tertawa kepada sepasang kekasih itu.


"Maaf, aku kira kau orang lain. Aku belum sempat menyimpan senjataku," jawab Hazal.


Kenan berjalan perlahan menghampiri Mehmet. Kedua lelaki itu saling berjabat tangan dan melakukan toss dengan menempelkan genggaman tangan mereka.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Mehmet yang melihat Kenan memegangi perutnya dan berjalan dengan perlahan.


"Ada luka tembak di perutnya. Apa kita bisa pulang ke Turki malam ini? Aku ingin membawa Kenan ke rumah sakit," ucap Hazal yang berdiri di belakang kedua pria itu.


"Kau memang bisa diandalkan, sobat!" seru Kenan sambil menepuk pundak sahabatnya. Kedua lelaki itu saling berpelukan.


"Kemasi barang-barang kalian! Kita akan segera kembali ke Turki!" seru Mehmet sambil memandang Kenan dan Hazal.


"Barang-barang apa maksudmu? Kau lihat tidak ada apapun di sini," tawa Kenan sambil melingkarkan salah satu tangannya ke pundak Hazal. "Hanya dia yang ku miliki saat ini dan aku akan membawanya."


Kenan memberikan ciumannya kepada Hazal di depan Mehmet.


"Hentikan keromantisan kalian! Seharusnya aku membawa seorang wanita untuk menemaniku," sesal Mehmet yang disambut gelak tawa oleh sepasang kekasih itu.


"Ayo kita berangkat!" ajak Kenan yang segera menggandeng tangan Hazal untuk masuk ke dalam mobil sewaan Mehmet. Ia dan Hazal membuang senjata mereka di gudang.


Ketiga orang itu segera menuju ke Bandara Internasional Wina, Austria. Mereka mengambil penerbangan terakhir menuju ke Turki. Tepat tengah malam, pesawat terbang yang mereka tumpangi mendarat di Bandara Internasional Ataturk, Turki.


"Selamat datang kembali ke negara kita tercinta, Turki...!" teriak Mehmet di tengah-tengah lapangan bandara.


"Kau masih kuat berjalan?" tanya Hazal kepada Kenan yang melihat pria itu tidak banyak bicara selama perjalanan.


"Ya. Aku akan mengantarmu pulang," ucap Kenan yang menggandeng tangan Hazal menuju ke bagian pemeriksaan imigrasi.

__ADS_1


"Tidak, aku ingin kita ke rumah sakit sekarang!" seru Hazal yang mengkhawatirkan keadaan Kenan. Ia tidak tenang sebelum kekasihnya itu di periksa oleh dokter.


Kenan terdiam setelah mendengarkan perkataan Hazal.


"Benar apa yang dikatakan Hazal. Kau jangan khawatir, aku akan menjadi sopir kalian. Aku akan mengantar kalian kemanapun. Asal jangan suruh aku terbang lagi ke Austria," ucap Mehmet.


Kenan dan Hazal sedikit terhibur dengan kehadiran Mehmet. Pria berkulit gelap itu benar-benar membantu mereka.


"Baiklah, aku akan mengikuti keinginan kalian," ucap Kenan kepada Mehmet dan Hazal.


Mereka segera pergi ke rumah sakit menggunakan mobil Kenan yang sudah ia inapkan beberapa hari di bandara.


Pukul satu dini hari, mereka tiba di rumah sakit kota Istanbul. Hazal segera membawa Kenan ke ruang UGD.


"Bagaimana dengan jahitannya, Dok? Apa lukanya sudah sembuh?" tanya Hazal setelah dokter jaga membuka perban yang menutupi luka Kenan.


Tampak jahitan itu sudah menyatu dengan kulit Kenan, meskipun menimbulkan bekas parut di perutnya.


"Kau meninggalkan hasil karyamu di perutku," kata Kenan sambil tersenyum kepada Hazal.


Dokter memasang kain perban baru di perut Kenan. Ia kemudian menuliskan beberapa resep obat untuk mempercepat proses pemulihan luka tembak di perut Kenan.


"Jaringan kulitnya sudah tertutup dan jahitannya sudah menyatu dengan kulit. Tiga hari lagi, kau boleh melepas kain perbanmu," jelas Dokter yang memberikan resep obat itu kepada Kenan.


Dokter memperbolehkan Kenan untuk rawat jalan. Mehmet segera menebus obat untuk Kenan kemudian ia mengantar sepasang kekasih itu menuju ke rumah keluarga Aksal


Hari sudah sangat larut, sekitar pukul dua dini hari. Mobil yang dikemudikan Mehmet tiba di depan pintu gerbang rumah keluarga Aksal.


"Sebaiknya mulai hari ini sampai pernikahan kita, kau tak perlu masuk ke kantor. Ayahku pasti masih mencarimu. Besok aku akan menemui keluargamu untuk membicarakan tentang pernikahan kita," ucap Kenan kepada Hazal sebelum kekasihnya itu turun dari mobilnya.


"Baiklah. Jangan lupa minum obatmu, jaga kesehatanmu," balas Hazal.


Kenan mencium kening, pipi dan bibir merah Hazal dengan lembut. Mehmet memainkan siulannya di tengah-tengah keromantisan sepasang kekasih yang sedang menempelkan bibir mereka.


Hazal segera masuk ke dalam rumahnya. Ia membuka pintu besar rumah Aksal, semua ruangan tampak gelap. Tidak ada siapapun karena semua orang masih menikmati mimpi mereka.


Ia segera naik ke lantai atas, di ujung tangga ia menghentikan langkahnya menatap pintu kamar Yafet yang tertutup rapat.


Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya. Setelah membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, ia menjatuhkan dirinya di atas kasur merah kesayangannya.


Ini seperti mimpi, bahwa aku masih hidup sampai saat ini dan bisa kembali pulang ke rumah. Ayah Erkan... Ibu Ayla... aku akan secepatnya memberi hukuman kepada rubah tua itu! Kau atau aku yang akan segera meninggalkan dunia ini!


🔥 Bersambung❤️

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2