DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Hazal vs Ted


__ADS_3

Hazal pun keluar dari ruangannya dan berjalan masuk ke ruang interogasi. Kedua petugas polisi itu meninggalkan Hazal dan Ted Baxter berdua di dalam ruangan itu.


"Apa kau bisa menjamin, dia tidak akan melukai Hazal?" tanya Yafet yang khawatir karena mereka meninggalkan Hazal bersama dengan penjahat itu.


"Aku yang akan menjaminnya, Jaksa Hazal bisa menekan tombol merah yang ada di dinding itu untuk membunyikan alarmnya. Anak buahku sudah berjaga-jaga di depan pintu," jawab sang Kapten.


"Aku juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan jaksa andalanku," seru Jaksa Kepala kepada kedua laki-laki yang ada di sampingnya.


Hazal melangkahkan kedua kakinya, terdengar suara sepatu boot berhak tinggi. Tap...tap...tap... yang bersentuhan dengan lantai keramik berwarna putih. Ted Baxter mendongakkan kepalanya melihat siapa gerangan yang masuk ke dalam ruangan. Penjahat itu memandangi Hazal dari atas hingga ke bawah, seorang wanita muda yang cantik dengan rambut panjangnya berwarna coklat yang di biarkan tergerai. Sebuah jaket panjang selutut warna abu-abu muda, dengan dalaman dan celana panjang warna hitam membalut tubuhnya yang proporsional.


Hazal mendekati Ted Baxter yang sedang duduk. Mereka saling berhadapan. Tapi kekasih Yafet itu hanya berdiri di depan penjahat itu. Mereka hanya dibatasi oleh sebuah meja panjang berwarna hitam. Hazal terus menatap wajah penjahat tersebut.


"Ternyata Kapten Polisi itu tidak berani menghadapi ku, ia malah mengirim seorang polisi wanita untuk menginterogasi ku !! Kau cukup cantik sebagai seorang polisi," ejek Ted Baxter di depan Hazal. Tetapi wanita itu hanya diam tak bergeming mendengar ejekan penjahat tersebut.


"Apa kau mengenalku?" tanya Ted yang merasakan aura kemarahan dan kebencian karena kehadiran Hazal yang berdiri di depannya dan terus menatap dirinya.


"Aku sangat mengenalmu," jawab Hazal dengan dingin, membuat Ted Baxter terlihat kikuk.


"Tapi aku tidak mengenalmu, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Ted keheranan dengan sikap wanita muda yang ada di hadapannya. Wanita muda itu seperti sedang menagih sesuatu kepadanya.


"Dua puluh tahun yang lalu, kita pernah bertemu di Pegunungan Alpen," jawab Hazal yang masih menatap tajam wajah Ted Baxter. Perkataan dan tatapan mata Hazal seperti mata pisau yang menancap tajam di ulu hati Ted Baxter.


"Du...dua puluh...tahun yang...lalu?" Suara Ted bergetar, ia tampak gugup. Kembali ia teringat perkataan Kapten Polisi beberapa hari yang lalu.


Apakah wanita muda ini adalah saksi mata itu, tidak...itu tidak mungkin. Dua puluh tahun yang lalu, wanita ini masih anak-anak. Malam itu, aku sudah memastikan sendiri tidak ada orang yang melihat perbuatanku, dan aku tidak meninggalkan jejak ku sama sekali.


"Siapa kau sebenarnya?" teriak Ted Baxter dengan wajah garangnya.


Tak terlihat sedikitpun ketakutan dari wajah Hazal. "Tatap mataku dan lihat wajahku baik-baik. Sanggupkah otak tua mu itu mengenaliku?" ucap Hazal dengan tenang tapi penuh penekanan. Ia mendekatkan wajahnya di depan Ted Baxter. Kedua manik mata coklatnya terpantul wajah penjahat itu.


Ted Baxter mengamati dengan seksama wajah dan kedua manik mata Hazal. Terlintas wajah Ayla Danner di dalam manik mata coklat itu, "Kau...?!?!" pekik Ted Baxter.


"Tidak mungkin !! Tidak mungkin kau Nyonya Danner !! Wanita itu sudah mati !! Mata dan wajahmu memang mirip dengannya, tapi kau bukan wanita itu !! Siapa kau sebenarnya?" teriak Ted Baxter dengan wajahnya yang pucat seakan ia melihat hantu ibu kandung Hazal.


Hazal yang sudah tidak tahan lagi dengan kepura-puraan penjahat itu, segera menggebrak meja yang ada di depannya dengan sangat keras, membuatTed Baxter dan ketiga orang yang melihat kejadian itu di ruang sebelah tampak sangat terkejut.


"Aku adalah...seorang anak kecil yang orang tuanya telah kau bunuh !! Aku adalah...seorang anak kecil yang melihat bagaimana kau... dengan sadis membunuh ibuku !! Dengan menyeret tubuhnya sendiri, ibuku memohon belas kasihan darimu !! Meskipun kau tahu, kedua kaki ibuku cedera, tapi kau...dengan tega membunuhnya !!" teriak Hazal dengan kalap, wajahnya merah padam mengeluarkan amarahnya yang selama puluhan tahun ia pendam. Kedua manik mata yang lembut itu berubah menjadi sebuah kilatan cahaya api yang siap membakar pria yang ada di depannya.


"Bahkan...aku masih ingat dengan perkataan mu di malam sebelum kau membunuh ibuku !!" pekik Hazal dengan nada tinggi yang memperlihatkan urat-urat hijau di kulit lehernya yang putih bersih.


Kedua mata Ted terbelalak hampir keluar dari tempatnya, "Kau...kau...anak kecil itu? Ti-tidak... itu ti-dak mungkin !! A-ku juga menembakmu waktu itu, seharusnya kau...kau sudah mati bersa-ma dengan i-bumu !!" Suara Ted bergetar melihat kemarahan Hazal.


"Ya...aku masih hidup !! Karena malaikat maut tidak mau menerimaku !! Sekarang aku berdiri di sini... dihadapan mu !! Aku bersumpah... kau akan membayar setiap dosa-dosa yang telah kau perbuat kepada orang tuaku, pembunuh !!" teriak Hazal dengan sangat emosi.


Wajah Ted Baxter terlihat semakin pucat dan tubuhnya terasa lemas. Kepalanya menunduk, ia tidak berani menatap manik mata Hazal yang terus menerus menusuk dirinya.


"Satu hal yang ingin aku tahu selama ini, kenapa...kenapa kau membunuh orang tua ku? Apa... salah mereka kepadamu?" tanya Hazal dengan suaranya yang bergetar, ia mengacungkan jari telunjuknya di depan Ted Baxter.

__ADS_1


Penjahat itu tidak berkata sepatah katapun, ia hanya menundukkan kepalanya.


"Jawab pertanyaanku, pembunuh !! Apa kau menyesal dengan perbuatanmu, hah? Kau pikir aku percaya dengan sikap diam mu itu !! Jika kau memang menyesal... seharusnya sejak dulu kau menyerahkan dirimu, brengsek !!" jerit Hazal dengan berbagai sumpah serapah keluar dari mulutnya. Perkataan yang tidak pernah terlontar dari mulutnya selama ini.


"Aku tidak mengenal Tuan dan Nyonya Danner. Mereka hanyalah target yang di berikan kepadaku ," jawab Ted Baxter dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan, apakah sebuah penyesalan atau tidak.


"Target? Katakan siapa yang menyuruhmu, hah? Siapa yang membayarmu untuk membunuh orang tuaku?" teriak Hazal sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.


"Aku tidak bisa mengatakannya. Ia seperti penolong bagiku. Ia telah membantu biaya operasi dan pengobatan almarhum ayahku. Aku menyerahkan hidupku kepadanya, musuhnya adalah musuhku !! Apa yang dia perintahkan, maka aku akan melakukannya !!" tandas Ted Baxter yang mendongakkan kepalanya menatap wajah Hazal.


Hazal bertepuk tangan sambil tertawa keras. "Jadi seperti ini yang namanya pelayan setia atau bisa aku katakan bahwa kau adalah anjing peliharaannya !!"


"Cukup !! Jangan pernah menghinaku !!" teriak Ted Baxter yang mendorong meja di depannya dengan salah satu kakinya.


Hazal mendekati kursi Ted Baxter, membungkukkan tubuhnya dan berbicara tepat di depan wajah penjahat itu, "Kau sekarang di penjara, lantas di mana tuan mu sekarang, hah? Apa dia pernah mengunjungi mu? Apa dia mengirimkan bantuan untuk membebaskan mu? Apa tuan mu itu memelihara hidup keluarga mu saat ini?"


Hazal memundurkan langkahnya, dan melanjutkan perkataannya, "Atau... jangan-jangan tuan mu itu sedang menikmati anggur merahnya, karena berhasil mengorbankan anjing peliharaannya ini !!" ejek Hazal yang di sambut dengan suara lemparan kursi oleh Ted Baxter. Beruntung kursi itu tidak mengenai Hazal. Kini penjahat itu berdiri tepat di depan Hazal.


"Hentikan omong kosong mu itu Putri Danner !!" pekik Ted Baxter dengan nafas yang memburu dan wajahnya yang merah padam, ia mencekik leher Hazal.


"Seberapa banyak kau berbicara, aku tidak akan pernah mengatakan siapa yang telah menyuruhku !! Dua puluh tahun yang lalu, aku gagal membunuhmu. Tapi hari ini aku akan menuntaskan pekerjaan ku !!" Ted Baxter menguatkan cengkeraman tangannya di leher Hazal.


Ketiga orang yang ada di ruang sebelah sangat terkejut melihat adegan itu. Yafet hendak keluar menolong Hazal. Tetapi di cegah oleh Kapten Polisi.


"Apa kau sudah gila, Kapten !! Hazal dalam bahaya !! Penjahat itu akan membunuhnya !!" pekik Yafet yang hendak memutar kenop pintu.


Dari kaca itu, mereka melihat Hazal menendang ************ Ted Baxter dengan ujung runcing sepatu boot nya dan menginjak kaki penjahat itu dengan hak tinggi sepatunya. Penjahat itu akhirnya melepas cengkeraman tangannya dari leher Hazal dan merintih kesakitan. Hazal segera lari menekan tombol merah yang tidak jauh dari tempat Ted Baxter berada.


Kedua anggota polisi yang mendengar alarm itu, segera masuk ke dalam ruangan. Mereka memegang kedua lengan Ted Baxter.


Dengan nafas yang masih terengah-engah, Hazal berkata, "Baiklah... kita lihat saja !! Apa... perkataan ku ini benar atau tidak? Saat ini...tuan mu itu sedang membuang mu, sekarang...kau...hanyalah... sebuah pion yang tidak berguna untuknya !!"


Setelah mengatakan hal itu, Hazal berbalik menuju pintu keluar. "Oh iya, aku lupa memberitahumu satu hal. Berterima kasihlah pada kekasihku, karena kekasihku telah menyelamatkan nyawa anakmu, Ali Baxter. Di saat anak kecil itu mengalami kecelakaan. Aku masih memberimu kesempatan, jika kau tidak ingin mengatakannya, baiklah... kita akan berjumpa di pengadilan," ucap Hazal yang keluar meninggalkan Ted Baxter yang sedang berdiri dengan diapit oleh kedua petugas polisi. Kemudian kedua petugas polisi itu membawa penjahat itu kembali ke dalam ruang tahanan.


Hazal kembali masuk ke ruang sebelah menemui jaksa kepala, kapten polisi dan Yafet yang sedang menunggunya.


Yafet segera memeluk Hazal begitu kekasihnya itu masuk ke dalam, "Kau tak apa-apa, sayang?" tanya Yafet.


"Aku tak apa-apa," jawab Hazal. Tetapi bekas cengkeraman tangan Ted Baxter itu tercetak jelas di leher Hazal.


"Apa perasaanmu sudah lega?" tanya Jaksa Kepala kepada Hazal.


"Ya, aku sangat lega karena sudah mengeluarkan amarahku kepada nya. Tapi aku akan terus mengejar siapa dalang di balik semua ini," ucap Hazal.


"Kau sudah membuat keputusanmu, Jaksa Hazal?" tanya Jaksa Kepala yang menagih janji yang telah Hazal katakan di rumah sakit beberapa hari yang lalu.


"Aku akan memberikan kesaksian ku," ucap HazaL di hadapan semua orang.

__ADS_1


Kapten polisi segera mengambil kesaksian HazaL secara sembunyi-sembunyi di ruangan itu. "Aku akan merekam semua perkataan mu, untuk berjaga-jaga bila sesuatu terjadi padamu. Tapi aku berharap hal itu tidak akan pernah terjadi. Polisi akan melindungi mu," ucap sang Kapten.


Setelah selesai melakukan kewajibannya, Yafet dan HazaL keluar dari kantor polisi. Seseorang memperhatikan mereka dari dalam mobil. "Apa yang di lakukan oleh kedua anak Aksal itu di sini?" tanya Pengacara Alfred kepada dirinya sendiri.


"Jangan-jangan mereka...." Ia berspekulasi dengan dirinya sendiri dan bergegas masuk ke dalam kantor polisi untuk mencari tahu apa yang telah terjadi.


Yafet dan Hazal telah meninggalkan kantor polisi ketika hari menjelang sore. Dia sudah sangat terlambat jika harus bekerja. "Kau ingin kita merayakan tertangkapnya Ted Baxter?" tanya Yafet kepada Hazal yang duduk di sampingnya.


"Perayaan itu masih terlalu panjang, sayang. Semua bisa terjadi sebelum hakim mengeluarkan putusannya," ucap Hazal.


Yafet menepikan mobilnya di depan sebuah toko bunga, di letakkannya telapak tangannya di atas punggung tangan kekasihnya itu, sepasang mata elang itu menatap wajah wanita yang duduk di sampingnya, "Hazal, apa kau siap jika hari ini aku melamar mu di hadapan ayah dan ibu?"


Hazal terkejut mendengar perkataan Yafet, "Kau serius? Apa ayah dan ibu akan merestui kita?"


"Aku sudah menunggu hal ini sejak lama, dan sekarang Ted Baxter sudah tertangkap, aku ingin segera menikahi mu," ucap Yafet sambil mencium punggung tangan Hazal.


"Maukah kau menikah denganku ?" tanya Yafet yang ingin mengetahui perasaan kekasihnya itu.


"Aku mau sayang, aku bersedia menikah dengan mu," ucap Hazal dengan wajah yang berseri-seri. Yafet segera mencium bibir merah Hazal dengan lembut. Pria itu terlihat sangat gembira.


"Terimakasih buat jawabanmu, sayang. Kau telah memberikan ku kekuatan untuk menghadapi ayah dan ibu. Ayo kita segera pulang ke rumah dan menemui ayah dan ibu," kata Yafet.


"Kurasa ayah belum pulang ke rumah, bagaimana jika kita pergi ke food street ? Aku ingin makan usus domba sekarang," celetuk HazaL yang bergelayut manja di lengan Yafet.


Segera Yafet melajukan mobilnya menuju ke sebuah food street yang tidak jauh dari sana. Aneka penjual makanan berbaris rapi di sana. Yafet menghentikan mobilnya di depan sebuah tempat makan yang khusus menjual masakan olahan berbahan daging domba. Mereka memesan beberapa tusuk sate usus domba dan sebotol minuman beralkohol ringan yang dapat menghangatkan tubuh mereka. Hampir dua jam mereka berada di sana, saling menikmati kebersamaan mereka.


Di luar, hari sudah mulai gelap dan cuaca semakin dingin, sepertinya hujan salju akan turun. Yafet mengajak HazaL pulang ke rumah. Tiga puluh menit kemudian, mobil Yafet masuk ke dalam garasi rumah keluarga Aksal. Tampak sebuah mobil sedan berwarna merah yang tidak mereka kenal siapa pemiliknya terparkir di halaman depan.


"Kurasa ayah sedang kedatangan tamu, mungkin kita bisa menunda pembicara kita besok," kata HazaL yang hendak keluar dari mobil. Tetapi Yafet dengan cepat menarik tubuh Hazal dan mencium kembali bibir merah itu, "Berikan aku kekuatan untuk menghadapi para penjaga mu," bisik Yafet di telinga Hazal.


Hazal melepaskan tawanya, begitu mendengar kekasihnya menyebut orang tuanya sendiri dengan sebutan "Para penjaga" segera ia membalas ciuman Yafet dan menekan tengkuk leher belakang kekasihnya, membuat ciuman itu semakin dalam.


"Ayo kita masuk, nanti orang-orang akan mencurigai kita berlama-lama di dalam mobil," seru Hazal.


Mereka memasuki rumah itu dari pintu samping. Tampak di ruang tamu, seorang wanita sedang berbicara dengan ayah dan ibu mereka. Yafet dan Hazal melihat dari samping wajah wanita muda itu, "Selina ?!?!" pekik mereka secara bersamaan.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih buat kalian yang sudah membaca novelku ini 🤗😊 Jangan lupa setelah baca, kasih tip dong buat Author...tip bisa berupa...


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar atau


🤗 Vote kalian yah...

__ADS_1


Semoga kalian makin menyukai tulisan ku ini. Terimakasih 😘


__ADS_2