
Kapten Polisi dan anak buahnya baru saja keluar dari ruang interogasi setelah mendapatkan pengakuan dari Ted Baxter. Mereka berdua berjalan menuju ke ruang kerja sang Kapten.
"Kapten, darimana kita bisa mendapatkan saksi mata itu?" tanya opsir Polisi yang segera menutup pintu dengan pelan. Opsir itu terlihat sangat gugup dan khawatir.
Sang Kapten yang diajak bicara oleh anak buahnya, tampak diam dan termenung sambil membuka tirai jendela kacanya. Ia berdiri membelakangi anak buahnya tersebut.
"Kapten?" tanya opsir Polisi itu itu sekali lagi, karena Kaptennya tidak menjawab pertanyaannya.
"Ya, aku mendengar mu. Tadi aku hanya memancing Ted Baxter saja agar dia mengakui perbuatannya. Tapi ternyata itu malah jadi bumerang buat kita." Sang Kapten mengungkapkan kerisauannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kapten?" tanya sang opsir. "Apa kita perlu memperpanjang waktu penahanannya?"
Punggung tangan sang Kapten terangkat ke atas sejajar dengan kepalanya, memberi isyarat bahwa pilihan itu tidak boleh di lakukan. "Jika kita memperpanjang waktu penahanan Ted Baxter, maka pengacaranya akan curiga, dan mendesak kita untuk segera membebaskan kliennya,"
Kapten Polisi tampak berpikir, sambil berkacak pinggang, ia berjalan mondar-mandir ke sana kemari di dalam ruangannya.
Tok...tok...tok...!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Kapten Polisi. "Masuk...," jawab sang Kapten dari dalam ruangannya yang masih berdiri.
Seorang opsir Polisi yang lain masuk ke dalam menemui Kapten Polisi. "Kapten, Jaksa Kepala ingin bertemu dengan anda."
"Aku akan menemuinya sekarang," kata sang Kapten yang segera meninggalkan ruang kerjanya sambil membawa berkas Ted Baxter di tangannya. Kedua anak buahnya itupun juga ikut meninggalkan ruang kerja sang Kapten.
Di ruang kerja Jaksa Kepala
"Jaksa Kepala," sapa Kapten Polisi ketika membuka pintu ruang kerja petinggi Kejaksaan.
Jaksa Kepala mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berani masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia masih sibuk berkutat membaca laporan beberapa kasus.
"Kau rupanya... tutup dan kunci lah pintu di belakangmu, kemari...duduklah," kata Jaksa Kepala kepada sang Kapten. Kapten Polisi pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Jaksa Kepala.
"Ada apa Tuan Jaksa memanggilku kemari?" tanya sang Kapten sambil mendaratkan tubuhnya di atas kursi hitam yang ada di depan meja kerja sang Jaksa. Tidak biasanya seorang Jaksa mau beramah tamah dengan seorang anggota polisi.
Jaksa Kepala melihat berkas yang dibawa oleh sang Kapten, berkas itu atas nama Ted Baxter. Seperti biasa, meskipun telah melihat dan menemukan sesuatu yang dicarinya, Jaksa Kepala itu tidak menunjukkan ekspresi wajahnya. Wajahnya selalu datar, dalam keadaan apapun.
"Aku langsung ke intinya saja. Kudengar kau berhasil menangkap seorang buronan kelas kakap, dengan kasus pembunuhan yang terjadi dua puluh tahun yang lalu. Ini sudah batas terakhir kau menahannya, tapi sampai sekarang... Kenapa kau belum melimpahkan kasus ini ke pengadilan? Ada apa?" tanya Jaksa Kepala kepada sang Kapten. Sebenarnya petinggi Jaksa ini sudah tahu kendala apa yang dialami oleh Kapten Polisi ini.
__ADS_1
"Berkas penjahat itu kurang lengkap untuk bisa masuk ke pengadilan. Aku tidak bisa mengajukan saksi ku, karena memang tidak ada saksi dalam kasus ini," ujar sang Kapten.
"Kau yakin?" tanya Jaksa Kepala sambil memajukan wajahnya mendekat ke wajah sang Kapten, seakan pria paruh baya ini tahu akan sesuatu. Tetapi Kapten Polisi tampak kikuk, karena ia merasa Jaksa Kepala sedang melucuti hasil kerjanya.
"Apa maksud anda, Tuan? Apa Anda mengetahui sesuatu?" Kapten Polisi seperti mencurigai ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Jaksa Kepala. Sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Aku punya saksi mata yang kau butuhkan, tapi aku punya syarat untukmu," kata Jaksa Kepala sambil memainkan penanya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya yang tinggi.
"Syarat?" Sang Kapten menaikkan salah satu alisnya. Baru kali ini, Jaksa Kepala mengajaknya bernegosiasi, biasanya seorang Jaksa tidak akan menolerir kesalahan laporan yang di buat oleh polisi. Tapi kali ini Jaksa Kepala sedang berbaik hati ingin membantunya, meskipun dengan persyaratan.
"Aku minta perlindungan saksi 24 jam darimu, untuk melindungi saksi mata ku ini. Apa kau setuju?" tanya Jaksa Kepala yang meletakkan penanya ke atas meja, kemudian dia berjalan mendekati tempat duduk Kapten Polisi sambil mengulurkan tangannya ke arah sang Kapten.
Kapten Polisi itu berdiri dari tempat duduknya dan menerima uluran tangan Jaksa Kepala. Kesepakatan terjadi. "Baik, aku akan melindungi saksi mata Anda, tapi... kalau boleh tau siapa dia?"
Jaksa Kepala membisikkan dua kata di telinga sang Kapten, "Putri Danner."
Mata sang Kapten terbelalak mendengar perkataan Jaksa Kepala, "Dia masih hidup?"
"Pelankan suaramu !! Dinding ini punya telinga !! Ingat perjanjian kita...." Jaksa Kepala memberi isyarat dengan menempelkan salah satu jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Aku belum membicarakan ini dengannya, aku akan mengabari mu secepatnya," ucap Jaksa Kepala dan mempersilahkan sang Kapten untuk keluar dari ruangannya.
Setelah kepergian Kapten Polisi, Jaksa Kepala segera melajukan mobilnya untuk menuju rumah sakit. Sejak Hazal kritis, dirinya belum menjenguk jaksa mudanya itu. Dia baru mengetahui, jika Hazal sekarang sudah sadar, dan ingin segera menemuinya.
Jaksa Kepala berjalan di lorong rumah sakit, mencari kamar inap Hazal sesuai informasi yang ia dapat dari petugas rumah sakit.
Pria paruh baya dengan kepalanya yang hampir setengah botak itu berdiri tepat di depan kamar VIP, ruang kamar inap Hazal di rawat. Ia mengetuk pintu itu dengan pelan, kemudian mendorong pegangan pintu yang terbuat dari aluminium.
Hazal yang sedang duduk di atas ranjangnya dengan perban yang masih terbalut melingkar di kepalanya, tersenyum melihat kedatangan atasannya.
"Yafet, kenalkan dia Jaksa Kepala, atasanku di kantor," kata Hazal yang memperkenalkan Jaksa Kepala kepada Yafet yang sedang duduk di sampingnya. Kedua laki-laki itupun saling berjabat tangan.
"Terimakasih... karena Anda telah meluangkan waktu untuk menjengukku, Jaksa Kepala," ucap Hazal.
"Jaksa Hazal, ada yang ingin aku bicarakan padamu. Maaf...ini tentang pekerjaan," kata Jaksa Kepala yang berdiri di dekat Yafet. Hazal menoleh ke arah Yafet, pria itu mengerti dan kemudian keluar meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.
"Apa ada hal yang serius, Tuan?" tanya Hazal yang segera menegakkan sandaran tubuhnya.
__ADS_1
"Ini tentang kasus Ted Baxter. Kau mungkin sudah tahu bahwa ia sudah tertangkap, dan pihak polisi hendak melimpahkan kasus ini ke pengadilan. Tetapi mereka tidak bisa menghadirkan saksi mata untuk menyempurnakan laporan mereka. Intinya berkas kasus ini belum lengkap." Hazal mendengarkan dengan seksama perkataan dari atasannya.
"Anda memintaku untuk menjadi saksi di pengadilan?" tanya Hazal mencoba menerka jalan pikiran atasannya.
"Ya...aku sudah memberitahu Kapten Polisi, bahwa aku punya saksi mata yang bisa membantunya. Tapi aku tidak ingin merampas impian mu menjadi seorang Jaksa. Bukankah kau ingin mendakwa pembunuh orang tuamu?" Jaksa Kepala memberikan pilihan kepada Hazal.
Hazal mencoba mencerna perkataan atasannya itu, dia harus di hadapkan pada pilihan yang sulit. Sebagai jaksa tidak mungkin dia memberikan kesaksian di ruang pengadilan, begitu juga sebaliknya. Dia harus memilih salah satu yang bisa membuat penjahat itu membayar dosa-dosanya.
"Aku ingin menemui Ted Baxter," pinta Hazal tiba-tiba.
"Tidak, Jaksa Hazal !! Hal itu akan membahayakan nyawamu. Dia tidak tahu bahwa kau masih hidup," cegah Jaksa Kepala yang menolak permintaan Hazal.
"Apa bedanya jika aku menjadi saksi? Aku pasti akan bertemu dengan nya di pengadilan, dan membuka identitas ku yang sebenarnya di hadapan publik !" seru Hazal dengan menatap tajam manik mata Jaksa Kepala.
"Setelah aku menemui pembunuh itu, maka aku akan memberikan jawaban atas pertanyaan mu, Tuan," ujar Hazal yang masih mempertahankan pendapatnya.
Jaksa Kepala hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Kau benar-benar sangat keras kepala, Jaksa Hazal !! Itu sebabnya aku sangat menyukai cara kerjamu. Baiklah...aku akan berbicara dengan Kapten Polisi agar dia mengatur pertemuan mu dengan Ted Baxter."
"Aku belajar banyak dari anda, Tuan," ucap Hazal tersenyum melihat ekspresi datar dari atasannya.
Jaksa Kepala segera mengambil ponselnya dan berbicara dengan Kapten Polisi, "Saksiku ingin bertemu dengan Ted Baxter. Buatkan jadwal pertemuan mereka !!"
Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Jaksa Kepala, sang Kapten memanggil bawahannya. "Segera limpahkan berkas Ted Baxter ke pengadilan !!" seru sang Kapten.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih buat kalian yang sudah membaca novelku ini 😊 Jangan lupa kasih tip ya buat Author...bisa berupa...
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar atau
🤗 Vote kalian ya...
Terimakasih 😘😊🙏
__ADS_1