DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Cemburu Bagian Pertama


__ADS_3

Pagi ini Ozcan memarkirkan mobil nya di halaman sekolah. Ketika dia berjalan memasuki gerbang sekolah, dilihatnya kerumunan teman-temannya di depan papan pengumuman sekolah.


"Ada pengumuman apa hari ini?" tanya Ozcan kepada salah satu teman nya.


"Nah...ini dia sang pangeran sudah datang." seru temannya itu dan di sambut tepukan tangan dari teman-teman nya yang lain.


"Sang pangeran ? " dirinya tidak mengerti percakapan teman nya itu. Kemudian temannya itu mendorongnya untuk maju ke depan dan melihat papan pengumuman sekolah. Ozcan membaca judul berita pagi ini, "Sang Pangeran Katak Berani Mencium Tuan Putri Di Ulangtahun nya." di bawah berita itu ada foto seorang laki-laki bertopeng mencium Hazal saat berdansa. Ozcan membaca berita tersebut dari awal sampai akhir. Reporter sekolah menulis bahwa Pangeran Katak itu bernama Ozcan Denizer murid kelas XII. Seluruh sekolah juga mengetahuinya, bahwa Hazal memilih Ozcan sebagai pasangan dansanya.


"Apa? Jadi Yafet telah mencium Hazal. Bukankah Yafet adalah kakak Hazal?" tanya Ozcan terkejut.


" Hei, Ozcan...lihat dirimu sekarang terkenal seperti artis." canda teman nya.


"Apa tidak ada berita lain yang lebih menarik pagi ini, selain membahas pesta ulang tahun Hazal ?" kata Ozcan yang nampak tidak senang dengan berita tersebut. Seandainya yang mencium Hazal itu aku, bukan orang lain. Mungkin aku tidak akan kesal seperti ini.


Hari ini Yafet mengantar Hazal ke sekolah. Yafet memarkirkan mobil sport nya di halaman sekolah. Ketika pemuda itu keluar dari mobil, tatapan mata para gadis langsung bersinar melihat pemuda tampan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Disusul oleh Hazal yang keluar dari pintu sebelah. Bisik-bisik para siswi di sekolah itu,


"Siapa cowok tampan itu?"


"Apa dia pacar Hazal?"


"Bukankah di pesta kemarin Ozcan telah menciumnya?"


"Dasar Hazal sok kecantikan, banyak cowok-cowok yang mendekatinya."


"Wow..tampan sekali cowok itu."


Hazal yang mendengar suara sumbing teman-temannya itu mencubit tangan Yafet. "Lihatlah kau seperti lebah di taman bunga" kata Hazal sambil tertawa kepada Yafet. Tapi pria yang diajak tertawa itu hanya memasang wajah dingin.


Mereka berdua memasuki gerbang sekolah. Puluhan mata para gadis seakan tersihir melihat wajah tampan Yafet. Mereka juga melihat papan pengumuman sekolah di dekat tangga. "Wah ini dia, sang tuan putri sudah datang." seru salah satu teman yang mengerumuni papan pengumuman itu.


"Ada apa?" tanya Hazal dengan rasa penasaran.


"Lihatlah, pesta dansa mu menjadi berita hangat pagi ini." kata temannya itu sambil menunjukkan sebuah berita yang di tempel di papan.


Hazal dan Yafet membaca berita itu. Hazal sangat terkejut melihat foto dan tulisan itu. Tetapi Yafet nampak tersenyum. Hazal yang melihat senyuman Yafet, terlihat kesal dengan pria itu. Melihat raut wajah Hazal, Yafet ingin sekali menggoda nya "Aku akan menjemput mu nanti siang di sekolah." bisik Yafet di telinga Hazal. Wajah dan telinga Hazal memerah antara perasaan marah dan malu bercampur jadi satu.


Kemudian Yafet meninggalkan Hazal di sekolah, pria itu berjalan sambil tersenyum mengingat wajah Hazal yang memerah ketika dia menggoda nya.


Ozcan yang melihat kedekatan Yafet dengan Hazal terlihat marah dan meninggalkan kerumunan itu.


******


Di kelas, Hazal duduk di bangku nomer dua dari depan, baris kedua. Sedangkan Ozcan duduk di seberang Hazal, bangku nomer tiga dari depan, baris ketiga.


Hari ini kedua murid itu tidak fokus mendengarkan pelajaran. Pandangan Hazal ke depan melihat gurunya menjelaskan sesuatu bab yang ada di buku. Tetapi pikiran nya melayang jauh memikirkan Yafet dan kejadian tadi pagi di sekolah. Sedangkan Ozcan pandangannya tertuju pada Hazal, memikirkan gadis itu.

__ADS_1


"Ozcan, coba kau ke depan dan jelaskan apa arti dari hukum tata negara !" terdengar suara guru kelasnya itu.


Pemuda itu kebingungan, karena dari tadi dia tidak mendengarkan penjelasan gurunya. "Ozcan !" teriak gurunya sekali lagi memanggil namanya.


"Iya, Pak." sahut Ozcan. Dia pun berjalan ke depan, menghadap teman-teman sekelasnya. Satu menit....dua menit....tiga menit....Ozcan tidak berbicara. Wajah nya gelisah. Kelas itu mulai gaduh. Terdengar suara teman-temannya yang mulai mengejek Ozcan dan melempari dia dengan kertas, penghapus dan benda-benda kecil lainnya.


"Pangeran Katak, ayo mana suaramu."


"Pasti dia masih teringat ciumannya dengan Hazal, dasar kau katak"


"Ahh...kau tak pantas bersama Hazal."


"Diam semuanya !!" guru kelas itu berusaha mengendalikan situasi kelas.


Hazal menatap wajah Ozcan, gadis itu merasa kasihan melihat Ozcan yang di bully oleh teman-temannya. Padahal bukan Ozcan yang mencium dirinya.


"Cepat bawa buku mu dan keluar dari kelas ini !! Temui Bapak di ruang guru, setelah kelas ini selesai !! perintah guru Ozcan yang marah melihat murid nya itu tidak mendengarkan pelajaran nya.


Huuuuuuuu........ terdengar suara teman-temannya yang masih mengolok-olok Ozcan.


Tatapan mata Ozcan dan Hazal saling bertemu ketika pemuda itu mengambil bukunya di meja. Tak ada satu katapun yang terucap dari kedua bibir mereka. Kemudian Ozcan berjalan keluar kelas, Hazal menatap punggung pemuda itu hingga menghilang.


*******


Bel pulang sekolah berbunyi. Para murid sudah mulai berhamburan keluar kelas. Satu per satu teman Hazal sudah meninggalkan bangku mereka. Tetapi Hazal masih sibuk dengan catatan pelajarannya.


"Aku masih harus menyelesaikan catatan ini dulu, aku ingin meminjamkan nya pada Ozcan, kasihan dia di keluarkan dari kelas." jawab Hazal.


"Mau aku bantu?" tanya temannya menawarkan bantuan kepada Hazal.


"Kau pulanglah dulu, sebentar lagi aku akan selesai." kata Hazal yang masih tetap menulis.


"Oke...baiklah. Aku pulang dulu." ucap temannya sambil melambaikan tangan kepada Hazal.


Sekitar sepuluh menit, Hazal sudah menyelesaikan catatannya, dan dia berjalan melangkahkan kakinya menuju ke ruang guru. Ketika dia akan membuka pintu ruang guru, ternyata pintu itu sudah di buka oleh seseorang. Ozcan keluar dari ruangan itu.


"Ozcan, ini catatan pelajaran untuk mu. Aku sudah mencatatnya dan kau bisa menyalin catatan ku ini." ucap Hazal kepada Ozcan.


Ozcan hanya memandang buku itu tanpa mengatakan apa-apa. Kemudian dia berjalan menuju ke halaman sekolah.


"Ozcan.... Ozcan..."Hazal berteriak memanggil nama pemuda itu. Tapi Ozcan tetap terus berjalan. Melihat Ozcan pergi begitu saja, Hazal mengejarnya dari belakang. "Hei.... tunggu aku." teriak Hazal.


*******


Sampai di halaman sekolah. Ozcan hendak membuka pintu mobilnya. Tetapi Hazal menghalangi tangan Ozcan.

__ADS_1


"Minggir !!" teriak Ozcan.


"Ada apa denganmu Ozcan? Aku hanya meminjamkan buku catatan ku kepadamu." jelas Hazal yang masih terus memegang bukunya.


"Aku tidak perlu itu." Ozcan berbalik meninggalkan Hazal.


Tetapi Hazal memegang tangan pemuda itu. "Aku mengerti kau marah pasti karena Pak Guru menyuruhmu keluar dari kelas dan karena perkataan teman-teman kan?" tanya Hazal mencoba memahami perasaan Ozcan.


"Apa peduli mu? Pergilah....dan bawa buku catatan ini !!" teriak Ozcan dengan marah dan tak sengaja tangannya mendorong Hazal ke belakang. Hampir saja gadis itu terjatuh, jika tidak ada tangan Yafet yang menopangnya. "Hazal, kau baik-baik saja?" tanya Yafet sambil tangan kiri nya memeluk pundak Hazal.


"Hei....apa begini sikapmu kepada wanita?" teriak Yafet kepada Ozcan.


Dari tadi Yafet menunggu Hazal di halaman sekolah, dia melihat pertengkaran Hazal dengan Ozcan. Perlahan pria itu mendekati mereka, dan tanpa mereka sadari Yafet mendengar pertikaian mereka.


"Hazal, kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Maafkan aku...aku tidak sengaja mendorong mu." seru Ozcan sambil berjalan mendekati Hazal. Dia terkejut melihat Hazal yang hampir jatuh karena ulahnya.


"Jangan pernah mendekati Hazal lagi, apa kau mengerti? Sekali lagi aku melihatmu mendekati Hazal, aku tidak segan-segan membuat perhitungan denganmu." teriak Yafet yang mencengkeram kerah seragam Ozcan.


Tangan Ozcan mengepal keras. Raut wajah nya terlihat sangat marah. "Kenapa kau mencium Hazal di pesta itu, hah?" tanya Ozcan dengan sengit sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Yafet.


"Apa peduli mu? Kau bukan siapa-siapa Hazal." ucap Yafet kepada Ozcan sambil mengeluarkan jari telunjuknya mengarah kepada pemuda itu.


"Ayo Hazal....kita pulang. Kau tidak ada urusan apa-apa lagi dengan nya." ajak Yafet sambil menarik tangan Hazal menjauh dari mobil Ozcan.


Banyak saksi mata yang melihat kejadian pertengkaran itu di halaman sekolah. Ketika Hazal dan Yafet hendak masuk ke mobil mereka. Tiba-tiba ada segerombolan murid perempuan yang menghadang mereka.


"Hazal...apakah dia pacarmu?" tanya salah satu dari mereka.


"Dia kakak ku." ucap Hazal datar.


"Oh... baguslah. Kami kira cowok tampan ini adalah pacarmu." kata mereka bersemangat.


Sekitar ada lima orang murid perempuan itu menghampiri Yafet. Mereka menanyakan nomer ponsel Yafet dan ingin berfoto dengan pria itu. Hazal yang melihat teman-teman nya itu begitu terobsesi pada Yafet, memilih meninggalkan Yafet dan masuk ke dalam mobil.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih sudah mampir dan membaca novel pertama ku ini. Semoga kalian menyukai tulisan ku ini. Jangan lupa kasih...


🤗 Like


🤗 Rate


🤗 Komentar dan


🤗 Vote kalian

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya, dan nantikan episode selanjutnya


__ADS_2