
Keesokan harinya ketika senja belum di mulai. Sekelompok burung camar terlihat menyergap sepotong makanan yang dilemparkan pengunjung di Selat Bosphorus, Istanbul, Turki.
Sebuah bangunan dua lantai yang di gunakan sebagai kafe berdiri di daerah Bosphorus. Seorang wanita muda tengah duduk seorang diri di lantai dua kafe tersebut. Ia melihat pemandangan jembatan Martir yang membelah Selat Bosphorus.
Selina sedang menyeruput segelas minuman hangatnya. Ia sedang duduk di sebuah kursi rotan dengan berbagai makanan ringan di atas mejanya. Ia melihat jam tangan hitam yang melilit di pergelangan tangannya. Waktu nya sudah tepat, tetapi sahabatnya itu belum juga memunculkan batang hidungnya.
Selang sepuluh menit kemudian, seorang wanita muda lainnya memasuki kafe dua lantai ini. Seorang wanita berambut merah dengan kacamata hitamnya yang menggantung di kedua daun telinganya mendekati meja Selina.
"Apa kau sudah menunggu lama?" tanya wanita berambut merah itu kepada Selina. Dia menarik sebuah kursi rotan yang ada di depan sahabatnya itu dan melepaskan kacamata hitamnya. Terlihat wajah Jasmine dari balik kacamata anti radiasi itu.
"Sepuluh menit yang lalu," jawab Selina, sambil membuang muka nya ke arah laut, tetapi tangannya sedang mengaduk-aduk minuman hangat nya.
"Hei... hei... kenapa wajahmu bermuram durja seperti itu?" tanya Jasmine sambil mengambil beberapa makanan ringan yang ada di atas meja.
Selina tidak segera menjawab, dia masih sibuk menata rambutnya yang mulai acak-acakan terkena tiupan angin laut.
"Bukankah seharusnya kau sudah bahagia tinggal di rumah itu? Kau sudah berhasil menikah dengan Yafet. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Jasmine memesan sebuah minuman dingin kepada salah seorang pelayan.
"Apa kau bertengkar dengan mertuamu?" tebak Jasmine sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Tidak juga. Meskipun kadang aku juga muak dengan sikap ibu mertuaku, yang selalu menyuruhku makan ini Selina, jangan makan itu Selina. Makanan ini baik untuk kandungan mu." cibir Selina sambil memajukan bibirnya.
Jasmine hanya tertawa mendengar ocehan sahabatnya. "Ya, begitulah jika kau menikah."
Selina menyibakkan rambutnya ke belakang, ia mengerucutkan bibir tebalnya yang kelihatan sensual. Lipstik merah nya menutupi bibir coklatnya.
"Beberapa bulan lagi Yafet akan menceraikan aku." Selina berkata datar seakan tanpa beban.
Mendengar perkataan Selina membuat Jasmine yang sedang memakan usus dombanya mendadak tersedak. Wanita itu dengan cepat mengambil minuman Selina, karena minumannya belum tersedia.
"Apa yang kau katakan? Ba... bagaimana bisa Yafet menceraikan mu? Apa dia sudah tahu yang sebenarnya?" Jasmine meneguk minuman Selina sampai habis tak bersisa.
Selina hanya menggelengkan kepalanya. Ia terdiam beberapa saat, mengerutkan bibirnya.
"Dia belum tahu yang sebenarnya," ucap Selina sambil menghembuskan napasnya dalam-dalam.
"Lalu kenapa dia menceraikan mu?" tanya Jasmine yang memajukan tubuhnya karena penasaran dengan cerita Selina.
"Dia menjebakku! Dia menipuku!" manik mata Selina terlihat menyala.
"Saat kami menandatangani surat pernikahan, ternyata dia memasukkan beberapa lembar kertas lain yang tidak aku baca isinya. Dengan polosnya aku menandatangi surat-surat itu!" seru Selina dengan nada suara yang makin lama makin meninggi.
Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa ia sampai terkecoh dengan permainan Yafet.
Seorang pelayan mendatangi meja kedua wanita itu, kemudian meletakkan minuman pesanan Jasmine di atas meja. Sahabat Selina itu segera menyesap minuman hangatnya, dan memundurkan tubuhnya ke sandaran kursi rotan.
"Kau harus membantuku, Jasmine. Hanya kau yang bisa membantuku," mohon Selina sambil memegang tangan sahabatnya itu.
"Kau belum menceritakan kepadaku, apa isi surat yang kau tandatangani itu?" Jasmine memicingkan kedua matanya menatap wajah Selina yang kusut.
"Intinya begitu anak itu lahir, kami akan bercerai!" seru Selina yang mulai gusar.
"Tapi anak itu...." Jasmine menutup mulutnya yang terbuka, ia tidak melanjutkan perkataannya.
"Itulah yang aku cemaskan, percuma saja aku menikah dengan Yafet dengan alasan kehamilan. Jika pada akhirnya kami akan bercerai!" seru Selina sambil memandang wajah Jasmine.
Jasmine tampak sedang berpikir membantu masalah Selina. Ia melipat kedua tangannya di bawah dadanya sambil memainkan salah satu kakinya.
Beberapa menit kemudian, terlihat Jasmine menyunggingkan sudut bibirnya. Wanita berambut merah itu membisikkan sesuatu ke telinga Selina. Suatu rencana yang lebih hebat dari sebelumnya. Sebuah senyuman terukir di bibir tebal Selina, wajahnya kembali berseri-seri.
"Bagaimana menurutmu?" Jasmine menaikkan satu alisnya. Ia sangat ahli dalam permainan ini.
Selina segera memeluk sahabatnya itu. "Rencana mu benar-benar luar biasa. Aku tahu aku hanya bisa mengandalkan mu."
"Serahkan semuanya padaku, kau tinggal duduk tenang di rumah sebagai nyonya Yafet Aksal, dan nikmati kehamilan mu," ujar Jasmine sambil memainkan pupil matanya yang terlihat membesar.
"Tetapi kita harus secepatnya mengambil surat perceraian ku itu!" seru Selina yang langsung berdiri diikuti oleh Jasmine. Mereka menuruni anak tangga dan berjalan masuk ke dalam mobil merah milik Jasmine.
Jasmine melajukan mobilnya menuju ke hotel AKSAL. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan halaman lobi hotel.
"Kurasa surat itu pasti di simpan di dalam ruang kerjanya. Ayo kita segera ke sana!" ajak Jasmine yang berjalan di depan Selina.
__ADS_1
Mereka menghampiri meja resepsionis yang ada di sudut ruang lobi. Dengan sedikit mengancam petugas resepsionis, akhirnya mereka bisa mengetahui di lantai berapa ruang kerja Yafet.
Pintu lift terbuka di lantai lima belas, mereka berdua tampak kebingungan untuk mengambil jalan yang mana. Ini pertama kalinya kedua wanita itu datang ke ruang kerja Yafet. Di depan mereka ada jalan lurus, dan ada jalur belok kiri.
"Kita coba belok kiri dulu," ajak Selina yang segera mengapit lengan Jasmine untuk menemaninya.
Setelah berbelok ke kiri, mereka berjalan terus. Sampailah mereka di sebuah pantri dan toilet di lantai itu.
"Kurasa kita salah jalan. Seharusnya kita pilih yang jalur lurus tadi!" seru Jasmine yang melihat tidak ada jalan lagi di depannya. Sebuah jalan buntu.
Mereka berdua kembali ke tempat semula, ketika mereka baru keluar dari pintu lift. Kemudian mereka berjalan sekitar sepuluh langkah dan belok ke kanan mengikuti jalur tersebut.
Seorang wanita muda memakai rok kerja di atas lutut menyambut kedatangan mereka. Wanita ini adalah sekretaris Yafet.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya? Kelihatannya anda tersesat?" tanya sekretaris Yafet yang melihat penampilan Selina dan Jasmine yang mirip seperti tamu hotel.
"Apa suamiku ada di dalam?" tanya Selina dengan ketus, sambil menunjuk sebuah pintu yang tertutup yang ada di belakang wanita muda itu.
"Suami anda? Maaf Nyonya, di belakang itu ruangan Presiden Direktur kami." Wanita muda itu terlihat kebingungan.
Sekertaris Yafet itu tidak mengetahui bahwa atasannya itu sudah menikah, karena memang pernikahan Yafet yang bersifat tertutup dan tidak mengundang siapapun. Wajar jika karyawan nya tidak ada yang mengetahui bahwa atasan mereka sudah menikah.
"Iya suamiku Yafet Aksal! Pemilik sekaligus Presiden Direktur Hotel AKSAL!" pekik Selina yang sudah tidak sabar.
"Maaf Nyonya. Saat ini Tuan Yafet sedang tidak ada di tempat. Mohon Nyonya kembali lagi lain waktu." Sekretaris Yafet itu melipat kedua telapak tangannya di depan dada. Tanda permintaan maaf.
Manik mata Selina tampak berbinar, setelah mengetahui suaminya tidak ada di ruang kerjanya. Jasmine terlihat menyunggingkan sudut bibir ke atas.
"Kami akan menunggu di dalam!" seru Jasmine yang ingin masuk ke dalam ruang kerja Yafet.
Dengan sigap, sekretaris Yafet itu menghalangi kedua wanita itu. "Maaf Nyonya, anda harus mengisi buku daftar tamu terlebih dahulu. Tapi anda hanya bisa menunggu Tuan Yafet di luar atau di lobi bawah."
Manik mata kedua wanita itu melotot seketika begitu mendengar perkataan sekretaris Yafet.
"Apa-apaan kau ini? Apa kau sudah bosan bekerja di sini, hah?" Ekspresi wajah Selina sudah mulai terlihat geram.
"Aku adalah istri Yafet! Istri bos mu! Aku bisa mengadukan mu karena mengusirku di kantor suamiku sendiri!" pekik Selina sambil mendorong-dorong tubuh sekretaris Yafet dengan telunjuknya.
Selina yang sudah mulai geram segera menarik tangan sekretaris Yafet dan mendorong wanita muda itu hingga jatuh di atas sofa. Kedua wanita muda itu segera masuk ke dalam.
"Sungguh menyebalkan!" pekik Selina sambil mengusap kedua telapak tangannya.
"Sudahlah, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera mencari surat perceraian mu itu sebelum Yafet datang!" seru Jasmine yang mulai mendekati meja kerja Yafet.
Sementara itu di luar, Nyonya Rachel sekretaris Emir Aksal segera membantu wanita muda itu untuk berdiri.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba terjatuh di sini?" tanya Nyonya Rachel yang baru saja dari lantai bawah.
Sekretaris Yafet itu menceritakan apa yang tadi telah terjadi kepada Nyonya Rachel.
"Apa betul Tuan Yafet sudah menikah? Tadi wanita berambut hitam itu mengatakan bahwa Tuan Yafet adalah suaminya."
"Yang aku tahu seperti itu. Tapi aku tidak tahu siapa istrinya. Bahkan wajah nya pun aku tidak tahu," ucap Nyonya Rachel sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kita harus bagaimana? Bagaimana jika nanti Tuan Yafet akan memarahiku atau memecat ku?"
tanya wanita muda itu ketakutan.
"Aku tahu apa yang harus kita lakukan. Cepat kau hubungi Tuan Yafet. Kau ceritakan ciri-ciri wanita itu dan katakan bahwa kedua wanita itu memaksa masuk ke dalam. Kita lihat reaksi Tuan Yafet seperti apa, yang penting kita sudah memberitahu dia lebih dulu," saran Nyonya Rachel.
Sekretaris Yafet itu segera menghubungi atasannya dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.
"Jangan biarkan mereka pergi sebelum aku datang! Tahan mereka! Aku akan segera ke kantor." Yafet segera menutup ponselnya.
Yafet segera meluncurkan mobilnya kembali ke hotel AKSAL.
Sementara itu di dalam ruangan, Selina malah menemukan sebuah bingkai foto Hazal dan Yafet yang saling berpelukan mesra di sebuah taman di New York. Bingkai foto itu ada di atas meja kerja Yafet.
"Siapa wanita itu?" tanya Jasmine yang juga melihat bingkai foto tersebut.
"Wanita itu adalah adik ipar ku. Adik Yafet. Namanya Hazal Aksal," ucap Selina dengan getir.
__ADS_1
Foto itu sudah cukup membuktikan bahwa di antara mereka ada hubungan.
"A...adik Yafet? Ta... tapi mereka saling berpelukan seperti sepasang kekasih." Jasmine mengernyitkan dahinya ketika ia menatap foto itu.
"Bahkan kau yang hanya orang luar saja bisa menilai, bahwa di antara mereka ada hubungan spesial. Bukan hubungan adik kakak," ucap Selina yang mengembalikan lagi bingkai foto itu ke tempatnya semula.
"Tapi bukankah ini cinta terlarang? Mereka bersaudara!" pekik Selina.
"Entahlah... aku juga tidak tahu. Kecurigaan ku ternyata selama ini benar!" seru Selina sambil menatap tajam bingkai foto tersebut.
"Mungkin ini sebabnya, Yafet ingin menceraikan mu. Dengan begitu ia bisa kembali lagi dengan mantan kekasihnya yang adalah adiknya sendiri?" Jasmine mencoba menghubungkan kedua peristiwa itu.
"Jika benar seperti itu, keluarga Aksal benar-benar menjijikkan dan memalukan!" umpat Selina dengan manik matanya yang menyala tajam.
Kedua wanita itu segera melanjutkan pencariannya. Membuka setiap laci-laci meja, lemari dan segala perabotan yang ada di ruangan itu.
Tinggal satu perabot yang belum mereka buka, yaitu brankas Yafet. Sebuah lemari besi dengan tinggi sekitar satu meter, berwarna hitam yang berada di dalam sebuah lemari.
"Kau tahu kode sandinya?" tanya Jasmine yang menatap wajah Selina.
Selina segera mencoba memasukkan beberapa angka pada mesin digital yang ada di badan lemari besi itu. Terdengar suatu bunyi dan lampu merah menyala.
"Tidak bisa!" seru Selina sambil menggelengkan kepalanya.
"Tanggal pernikahanmu?" tanya Jasmine yang berdiri di belakang Selina.
"Mana mungkin dia mengingat tanggal pernikahan kami? Jika aku adalah wanita yang di cintainya, itu mungkin!" seru istri Yafet itu dengan wajah masam.
Tapi Selina tetap mencoba memasukkan tanggal pernikahannya. Hasil nya sama, lampu merah itu menyala dan terdengar suara bunyi tanda penolakan.
"Ya... tanggal wanita yang di cintai. Coba kau masukkan tanggal ulang tahun adik iparmu!" seru Jasmine yang sedikit bersorak.
Selina hanya mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu."
Ia akhirnya memasukkan tanggal ulang tahun perusahaan Aksal. Hanya tanggal itu yang dia tahu.
Kali ini bukan hanya lampu merah yang menyala dan suara bunyi tanda penolakan yang terdengar tapi ada suatu pesan di layar kecil di samping tombol angka. Pesan itu bertuliskan kata Error.
Selina dan Jasmine terduduk lemas di bawah lantai, kini mereka tidak bisa memasukkan kode sandi lagi.
Terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki seseorang memasuki ruangan.
"Oh ternyata dua tikus pencuri sedang berusaha membuka brankas ku?" Suara Yafet tiba-tiba muncul dan membuat wajah kedua wanita itu pucat pasi.
Yafet menepuk kedua telapak tangannya keras-keras.
"Bagaimana? Apa sudah terbuka? Apa kau ingin mencuri surat perceraian kita?" Yafet mendekati Selina, mencengkeram salah satu lengannya dan menariknya untuk berdiri di depannya.
Selina dan Jasmine terdiam mendengar pertanyaan Yafet.
"Jawab aku!" teriak Yafet hingga suaranya terdengar sampai luar ruangannya.
Teriakan Yafet hampir saja membuat kedua wanita itu melompat.
"Ya...! Aku memang mau mengambil surat perceraian kita!" teriak Selina yang tak kalah keras.
"Jika kau tidak memberikan surat itu, maka jangan salahkan aku jika aku akan menyakiti wanita yang kau cintai. Hazal Aksal!" ancam Selina sambil membanting pigura foto Yafet dan Hazal ke lantai. Kaca pigura itu pecah dan bingkai kayu itupun patah menjadi beberapa bagian.
Manik mata Yafet menatap tajam pigura foto yang telah hancur itu.
"Berani kau menyentuh Hazal, aku tidak akan segan-segan membunuh mu! Kau tahu itu wanita gila!" Yafet membalas mengancam istrinya itu, sepasang mata elang itu nampak terbakar begitu mendengar ancaman Selina.
Jasmine tampak ketakutan segera menarik tangan Selina untuk keluar dari ruangan Yafet. Tetapi istri Yafet itu segera menepis tangan sahabatnya.
"Aku tidak akan keluar sebelum mengambil surat cerai itu!" geram Selina. "Berikan surat itu atau aku akan mencelakai Hazal!"
Dengan sangat terpaksa Yafet membuka lemari brankas nya, dan memberikan surat cerai itu kepada Selina. Wanita berambut hitam itu tersenyum dengan penuh kemenangan. Kedua wanita itu pun segera pergi meninggalkan Yafet.
"Terkutuk kau wanita gila! Lihat saja, aku akan mengusirmu keluar dari kehidupan ku!" umpat Yafet sambil memukul lemari nya hingga berlubang.
🔥 Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian. Terimakasih 🙏😊