DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Dua Berita


__ADS_3

Setelah menghabiskan makan siangnya, Yafet tengah bersiap menemui Hazal di taman kota. Ia mengambil kembali kotak perhiasannya dari dalam brankas. Dibukanya sekali lagi untuk mengecek isinya. Kalung emas itu masih melingkar manis di dalam kotak beludru berwarna merah.


Raut wajahnya dipenuhi dengan kebahagiaan. Ia semakin yakin bahwa Hazal pasti bahagia setelah mengetahui bahwa dirinya dan Selina telah bercerai.


Aku yakin Hazal, cinta kita akan kembali seperti kalung ini. Kalung yang dulunya hancur tepat di saat Selina menjebak diriku di hotel kecil. Kini kalung ini kembali seperti baru, tanpa cacat dan terlihat sempurna. Aku yakin kita akan kembali lagi bersama. Apa kau yakin juga, Hazal?


Yafet mencium liontin berbentuk hati yang menggantung di kalung tersebut, kemudian ia memasukkan benda berharga itu ke tempatnya semula. Dengan langkah penuh percaya diri dan senyum yang merekah, Yafet keluar dari hotel AKSAL.


Sementara itu, Hazal sudah menunggu Yafet di dalam taman. Ia duduk di sebuah kursi taman menghadap ke arah danau buatan yang berwarna biru. Kemudian ia bangkit berdiri berjalan beberapa langkah mendekati tepi danau. Ia mengingat banyak hal telah terjadi di tempat ini.


Ketika ia berpisah dengan Yafet, ketika ia bertemu untuk yang kedua kalinya dengan Kenan, ketika ia dan Yafet membicarakan tentang masa depan mereka. Semuanya terjadi di tempat ini. Kini akhir masa depan mereka juga akan berakhir di tempat ini.


Hazal menekuk kedua lengannya ke dalam lipatan siku dalamnya dan meletakkannya di bawah dadanya.


Kau pasti akan bahagia bersama dengan Selina, Yafet. Istri dan anakmu sangat membutuhkanmu, aku tidak ingin ada di antara kalian. Tapi sejak tadi pagi, kenapa aku tidak melihat wanita Inggris itu? Kemana dia? Tidak biasanya ia tidak ikut sarapan di rumah.


Hazal memejamkan kedua kelopak matanya, mencium aroma pohon pinus yang tumbuh mengelilingi taman dan merasakan angin musim semi membelai wajahnya.


Sepasang telapak tangan tiba-tiba menutupi kedua kelopak matanya. Ada seseorang yang berdiri di belakangnya dan mencium puncak kepalanya. Hazal memegang kedua telapak tangan yang kasar itu kemudian membalikkan badannya untuk melihat siapa gerangan yang ada di belakangnya.


"Yafet...!" seru Hazal sambil tersenyum kepada laki-laki itu.


"Maaf, membuatmu menunggu lama." Kedua tangan mereka saling bertautan. Senyum Yafet mengembang memandang wanita yang sangat di cintainya.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap mereka bersamaan. Yafet dan Hazal tertawa bersama-sama. Mereka tampak kikuk satu sama lain. Bagaikan orang yang baru berpacaran untuk pertama kalinya, padahal hubungan mereka sudah lebih dari delapan tahun.


"Kau dulu... bicaralah," kata Yafet sambil menatap wajah Hazal dengan lembut. Ia mengeratkan tautan tangannya pada tangan Hazal.


"Bicaralah dulu, aku akan mendengarkannya," sahut Hazal dengan senyum manisnya memperlihatkan belahan dagunya.


Yafet menghembuskan napasnya, tampak udara dingin itu keluar dari lubang hidung dan mulutnya. Mata elang itu menatap sekilas awan putih yang menggantung di atas kepalanya.


"Aku dan Selina telah bercerai," kata Yafet.


"A...apa?" Dengan spontan Hazal melepaskan tautan tangannya dari tangan Yafet.


Yafet menganggukkan kepalanya sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Bagaimana bisa kau menceraikan Selina saat dia mengandung anakmu? Apa kau tidak kasihan dengan anak itu? Ia membutuhkan ayah dan ibunya." Hazal memicingkan kedua matanya kepada Yafet.


Kembali Yafet memegang tangan Hazal, ia menatap wajah blasteran Turki-Jerman itu dengan lembut.


"Anak itu tidak ada. Selina sebenarnya tidak hamil. Ia telah memalsukan semua surat keterangan hamil dan hasil tes DNA," jelas Yafet yang disambut Hazal dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


"Ibu dan seluruh pelayan memergoki kebohongan Selina dua hari yang lalu. Pengacara Kemal sedang mengurus sidang perceraian ku," jelas Yafet. Bibir Hazal terkatup rapat begitu ia mendengar cerita Yafet.


Bagaimana bisa bersamaan? Di saat aku menerima lamaran Kenan, pada saat itu juga Yafet dan Selina bercerai.


"Lalu bagaimana dengan Selina? Dimana dia sekarang? Sejak tadi pagi aku tidak melihatnya di rumah?" Hazal mengernyitkan dahinya menatap Yafet dengan berbagai pertanyaan.


"Dia sudah ku deportasi ke Inggris." Yafet memalingkan wajahnya dari Hazal. Ia menatap bebatuan yang ada di dekat danau buatan.


Perkataan Yafet mampu membuat Hazal memundurkan langkahnya secara spontan. Pegangan tangan mereka terlepas. Wajah Hazal terlihat pucat, ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


Yafet kembali mendekati Hazal. Tangan kanannya ia gunakan untuk membelai dan mengusap pipi Hazal, tangan kirinya ia gunakan untuk memegang telapak tangan kanan Hazal.


"Aku ingin kita segera meneruskan rencana pernikahan kita. Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi hubungan kita."


Wajah Hazal semakin pucat dan kedua kakinya terasa lemas. Manik matanya mulai berkaca-kaca begitu ia mendengar rencana Yafet.


"Menikahlah denganku, Hazal." Yafet kembali meneruskan perkataannya sambil menatap mesra manik mata coklat itu.


Hazal hanya bisa menggelengkan kepalanya. Cairan kristal bening itu telah meleleh menembus batas pertahanannya. Ia terus menunduk sambil menggelengkan kepalanya, memegangi kedua lututnya. Air matanya membasahi bebatuan yang ia injak.


"Ada apa denganmu?" tanya Yafet yang terkejut melihat reaksi Hazal. Ini di luar perkiraan Yafet, melihat reaksi Hazal yang menangis sedih. Ini bukan tangis kebahagiaan.


"Aku... aku tidak bisa," ucap Hazal yang tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya. Lidahnya tampak kelu. Ia hanya bisa meremas telapak tangannya sendiri.


Hazal menggelengkan kepalanya kembali dan mendorong sedikit tubuh Yafet agar menjauh darinya.


"Aku... aku tidak bisa menikah denganmu."


Perkataan Hazal membuat jantung Yafet seakan berhenti sepersekian detik. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Hazal akan menolak lamarannya.


"Apa yang kau katakan barusan? Bukankah ini impian kita? Masa depan kita. Aku bukan lagi pria beristri!" seru Yafet sambil memegang kembali kedua lengan Hazal. Ia mengernyitkan dahinya, menatap Hazal dengan berbagai pertanyaan.


Wajah Hazal memerah menahan tangis kesedihannya. Bibir merah dan tubuhnya bergetar. "Aku...."


Hazal tidak sanggup mengatakannya, ia benar-benar tidak kuat mengatakan kebenarannya kepada Yafet. Kenyataan yang akan menghancurkan hati laki-laki yang dicintainya.


"Apa telah terjadi sesuatu antara kau dan anak pembunuh itu di Swiss?" selidik Yafet dengan tatapan tajamnya. Ia memegang lengan Hazal dengan erat.


"Apa kau telah menyerahkan dirimu kepadanya? Apa dia sudah menodai mu?" Sepasang mata elang itu seakan tengah mencabik-cabik jiwa Hazal. Yafet teringat perkataan Kenan sewaktu putra Harun itu mengangkat ponsel Hazal.


Hazal menepis kedua tangan Yafet dengan kasar. Manik mata coklat itu menyorot tajam.


"Apa kau pikir aku serendah itu? Merendahkan harga diriku!" teriak Hazal dengan sengit. Air matanya kembali mengalir dengan deras.

__ADS_1


"Lalu katakan, apa alasanmu kenapa kau tidak bisa menikah denganku? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang tidak aku ketahui?" teriak Yafet dengan manik matanya mulai berkaca-kaca.


"Karena... karena aku telah menerima lamarannya. Aku akan menikah dengan Kenan minggu depan," jawab Hazal yang disertai dengan isak tangisnya.


"Apa? Apa yang kau katakan barusan? Kau tidak mungkin menikah dengan anak pembunuh itu!" teriak Yafet sambil memundurkan langkahnya. Ia sangat terkejut mendengar perkataan Hazal.


Sepasang mata elang itu mulai meredup, berganti dengan cairan bening yang mulai membasahi pelupuk matanya. Melihat hal itu hati Hazal benar-benar hancur.


"Katakan kau pasti berbohong, Hazal! Katakan kalau ini hanya lelucon mu!" Yafet mengguncang tubuh Hazal. Mata elang itu mulai memerah menahan kepedihan hatinya.


Hazal hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Itu benar, Yafet. Itu benar.... Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf."


"Kau seperti bukan Hazal yang kukenal. Kenapa kau menjadi lemah setelah pulang dari Swiss?" Yafet memundurkan langkahnya menjauhi Hazal. Raut wajah Yafet berubah menjadi tegang dan penuh amarah.


"Yafet...," ucap Hazal lirih. Ia memajukan langkahnya mendekati laki-laki itu.


"Aku tidak akan membiarkan anak pembunuh itu mengambilmu dari sisiku!" teriak Yafet dengan lantang.


"Jika kau tidak bisa menyelesaikan masalahmu, maka aku yang membantumu mengakhiri semuanya!" teriak Yafet yang segera pergi meninggalkan Hazal.


"Yafet...! Tunggu, apa yang akan kau lakukan?" teriak Hazal sambil mengejar laki-laki itu keluar taman.


Ia melihat Yafet sudah masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan kendaraannya.


"Yafet...! Tunggu...!" teriak Hazal yang berusaha mengejar mobil laki-laki itu.


Hazal segera masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil Yafet. Terjadi kejar-kejaran di jalan raya antara dua mobil itu. Hazal membunyikan klakson mobilnya agar Yafet menghentikan kendaraannya.


Di perhentian lampu merah, mobil Hazal berada di samping mobil Yafet. Ia membuka kaca jendelanya.


"Yafet, berhenti! Hentikan mobilmu!" teriak Hazal dengan keras. "Kau tidak bisa bertindak emosi! Yafet, dengarkan aku!"


Yafet tidak memperdulikan teriakan Hazal. Lelaki itu menatap garis lurus ke depan dengan raut wajah yang garang. Tampak amarahnya sudah meluap-luap. Hanya satu tujuannya saat ini, mencari Kenan dan Harun.


Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Yafet segera mengubah persneling mobilnya. Raungan mobil sport itu menggetarkan ruas jalan raya, mobil sport itu melaju dengan kencang. Hazal tidak sanggup mengimbangi kecepatannya.


Putra Emir itu sudah tidak peduli lagi dengan perkataan Hazal. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya di dalam genggaman setir kemudinya Rahangnya sudah mengeras bagaikan batu karang.


"Aku tidak akan membiarkan mu memiliki Hazal! K**arat kau, Kenan Fallay!" teriak Yafet sambil memukul setir kemudinya.


🔥 Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2