DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Terjebak


__ADS_3

Pagi ini Hazal sengaja datang lebih pagi ke Perusahaan Fallay. Satu jam sebelum jam kerjanya. Suasana kantor masih terlihat sepi dengan ruangan-ruangan yang masih tertutup. Bunyi mesin penghisap debu menemani Hazal di pagi ini. Beberapa petugas kebersihan tengah sibuk membersihkan setiap ruangan dan setiap lantai.


"Dia begitu banyak mempekerjakan petugas kebersihan, tapi dia malah menyuruh sekretarisnya untuk membersihkan ruangannya! Dasar pria gila yang aneh!" seru Hazal dengan wajah yang ia tekuk, begitu ia sudah sampai di lantai delapan.


Sunyi. Hening. Ketika pintu lift yang ada di lantai delapan terbuka. Hanya terdengar hembusan angin entah darimana datangnya. Bulu kuduk Hazal sedikit berdiri. Ia menyalakan tombol lampu, dalam sekejap ruangan itu menjadi terang.


Hazal melemparkan tas kerjanya di sofa hitam yang ada di ruang kerja Kenan. Dia berjalan ke pantri dan mengambil alat-alat kebersihan. Melewati koridor dengan dinding kacanya, Hazal tersenyum kecut melihat pantulan dirinya yang sedang membawa kemoceng, selembar lap, sapu, ember berisi air dan alat pel. Ia membayangkan dirinya seperti pelayan yang ada di rumahnya.


Jika bukan karena ingin membalas dendam pada Harun, ia tidak akan menginjakkan kakinya ke perusahaan ini. Pekerjaannya sebagai Jaksa jauh lebih terhormat dan menyenangkan, daripada menjadi seorang sekretaris Presiden Direktur.


Hazal mengikat semua rambut panjangnya ke atas, membentuk ikatan yang menyerupai ekor kuda. Ia menarik kedua lengan bajunya ke atas siku, kemudian dia mulai melangkah masuk ke ruangan Kenan. Tak lupa ia menutup pintu kayu itu.


Tiga puluh menit Hazal telah selesai membersihkan dan merapikan seluruh ruangan Kenan. Ruangan itu nampak seperti baru. Hazal juga menambahkan aroma terapi pada pengharum ruangan itu. Mungkin saja aroma terapi ini bisa membuat sikap Kenan melunak padanya.


Hazal kembali membuka pintu ruangan Kenan, memastikan apakah ada orang lain lagi selain dirinya di dalam lantai ini. Suasana masih seperti ketika ia datang, tidak ada siapapun. Di tutupnya kembali ruangan itu dan menguncinya.


Segera ia duduk di kursi kerja Kenan dan menyalakan laptop yang ada di atas meja. Ada ratusan file yang Kenan simpan di dalam laptopnya. Hazal segera mengambil flashdisk nya yang berukuran kecil, yang ia masukkan ke dalam kalungnya sebagai liontin. Segera ia menyalin semua file tersebut ke alat penyimpanan datanya. Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, proses penyalinan selesai.


Hazal mengambil benda kecil yang berwarna hitam bulat, mirip seperti sebuah earphone tanpa kabel. Alat penyadap ini adalah pemberian Smith Lloyd beberapa waktu yang lalu sebelum ia meninggalkan New York.


Ia menempelkan alat penyadap itu di bawah pesawat telepon. Sempurna. Tidak ada yang menyadari keberadaan alat kecil ini. Dengan alat ini ia bisa mendengar setiap percakapan Kenan di dalam ruangan ini. Ia kemudian memasang monitor alat penyadap itu di bawah meja kerjanya dan menyalakannya. Semuanya terlihat rapi tanpa jejak. Hazal kembali melihat jam tangannya, masih ada waktu untuk mencari sesuatu yang lain.


Dibukanya satu persatu laci yang ada di dalam ruangan itu, tetapi tidak ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Pencarian nya berpindah ke setiap hiasan dinding yang menggantung di dinding ruangan tersebut. Tidak ada ruangan atau tombol rahasia di balik lukisan pemandangan tersebut, seperti yang sering ia lihat di film-film.


Jam tangannya menunjukkan pukul 07.50 waktu Istanbul, artinya sepuluh menit lagi jam masuk kantor. Biasanya Kenan selalu datang lima menit lebih awal sebelum pukul delapan pagi. Hazal segera menyudahi pencariannya untuk hari ini. Ia segera keluar dan membawa semua alat-alat kebersihannya.


Jari-jari lentik itu sedang menari-nari di atas keyboard, tepat saat suara lift terdengar dari tempat duduk Hazal. Ia melirik jam tangannya, atasannya itu terlambat sepuluh menit dari jam kantor.


Sosok tegap itu sudah berdiri di depannya, tetapi manik mata Hazal masih sibuk melihat hasil kerjanya yang ada di layar komputer. Ia mengabaikan kehadiran Kenan. Pria itu hanya berdeham kemudian masuk ke ruangannya.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Kenan melihat ruangannya yang tampak bersih dan harum. Tidak seperti biasanya. Bahkan Elif sekretarisnya yang lama, tidak pernah membuat ruangan ini tampak seperti baru. Kejutan kedua untuk Kenan, Hazal sudah menyiapkan secangkir kopi panas dan tiga keping biskuit.


Malaikat mana yang sedang merasuki wanita bar-bar itu. Kemarin ia seperti seekor singa, hari ini ia duduk manis seperti seekor kucing...


Hari ini terasa cepat berlalu, menjelang senja Kenan keluar dari ruangannya. Laki-laki itu hendak keluar kantor untuk menemui rekan bisnisnya. Ia berpesan pada Hazal agar sekretarisnya itu tidak pulang lebih dulu sebelum dirinya. Dirinya akan kembali ke kantor.


"Baiklah... aku akan menunggumu," ucap Hazal sambil tersenyum manis. Kepergian Kenan membuat ia lebih leluasa bergerak.


Hazal menghubungkan monitor alat penyadap nya ke ponselnya. Ia memasang earphone ponselnya ke telinganya, seakan-akan ia sedang mendengarkan musik. Suara Kenan terdengar jelas di telinganya.


Ujung pena Hazal mendadak patah, begitu ia mendengar pembicaraan Kenan dengan ayahnya di telepon. Ia mengulangi kembali perkataan Harun.


Ayah tahu sekretaris baru mu itu adalah putri Emir Aksal. Pertimbangkan kembali saran Ayah. Dekati Hazal Aksal atau jalin kerjasama dengan Perusahaan Aksal...


Mulut Hazal mendadak terbuka lebar, perkiraannya selama ini salah. Secepat itu Harun berhasil mengetahui identitasnya sebagai putri Emir Aksal. Ia menggenggam erat ponselnya. Tatapannya menatap tajam dinding kayu yang berjarak sekitar tiga meter dari hadapannya. Tidak ada banyak waktu, ia harus segera menyelesaikan rencananya, sebelum identitasnya sebagai putri Danner terbongkar.


Menjelang jam pulang kantor, Hazal segera merapikan mejanya. Diambilnya sebuah berkas untuk di serahkan kepada Elif. Ia turun ke lantai enam, dilihatnya Elif sedang berdiri di depan mejanya.


Usia Elif dan usia Hazal hampir sama tetapi soal penampilan, mereka terlihat sangat berbeda. Elif seorang wanita muda dengan penampilan yang biasa dan sederhana, dengan sederet kawat gigi yang terpasang rapi di giginya. Elif sangat menyukai pekerjaan barunya, karena tidak ada yang menuntut dia untuk berpenampilan menarik dan tidak ada orang yang minta di layani olehnya. Elif tersenyum memperlihatkan kawat giginya yang berwarna-warni ketika Hazal menyapanya.


"Bagaimana dengan pekerjaan barumu?" tanya Elif dengan antusias.


"Terasa aku hidup di hutan rimba," jawab Hazal sambil memberikan berkas milik Elif yang sudah berisi tanda tangan Kenan.


"Aku sungguh menyesal, karena aku telah menyetujui mutasi ini. Membuatmu merasa tertekan." Wajah Elif nampak bersedih.


Hazal merangkul pundak Elif. "Ini bukan salahmu, tapi salah pria gila itu." Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak.


"Kau menyebut Tuan Kenan apa?" tanya Elif dengan senyuman nakalnya.

__ADS_1


"Pria gila. Ya... dia memang pria gila yang aneh dan maniak," ucap Hazal dengan tenang dan di selingi dengan tawa renyah mereka berdua.


Tampak Manager Keuangan itu memperhatikan tingkah laku Hazal dan Elif yang sedang membicarakan Kenan Fallay. Wanita berkacamata itu berjalan ke arah mereka. Hazal yang melihat mantan atasannya itu sedang berjalan ke arahnya, segera berpamitan kepada Elif.


Setelah meninggalkan ruangan Departemen Keuangan, Hazal segera menunggu di depan pintu lift. Tiga menit kemudian, pintu lift pun terbuka, tidak ada seorang pun di di dalam lift itu. Hazal segera menekan angka delapan.


Lift itu bergerak ke atas, dengan sangat cepat. Melewati lantai delapan, Hazal mencoba menekan tombol buka. Tetapi sepertinya tombol itu tidak berfungsi. Lift itu berhenti di lantai sepuluh. Hanya berhenti saja, pintu lift tersebut tidak terbuka.


Hazal menekan tombol buka. Hasilnya tetap sama, pintu itu masih tertutup rapat. Perasaan Hazal tidak tenang. Ada sesuatu yang tidak beres dengan lift tersebut.


Mendadak lift itu tiba-tiba meluncur ke bawah dengan cepat. Lampu yang menerangi lift itu bergoyang-goyang dan berkedip-kedip. Hazal menutup kedua kelopak matanya dan berpegangan pada salah satu dinding lift. Lift itupun berhenti, entah di lantai berapa. Membuat tubuh Hazal terhempas dan terjatuh ke lantai.


Listrik di kantor itu padam seketika. Hazal terjebak di dalam kegelapan. Mendadak ia menjerit melihat kegelapan yang ada di sekelilingnya. Ia mencoba berdiri dan mencari tombol bantuan. Tapi tidak berfungsi.


Hazal mulai panik. Ingatan masa kecilnya sewaktu Yafet mengurungnya di gudang yang gelap, mulai menghantuinya. Ia sangat ketakutan berada di kegelapan.


"Tolong... tolong aku...!" teriak Hazal sambil memukul-mukul pintu lift.


"Siapapun di sana... tolong aku...!"


Tidak ada seorangpun yang mendengar teriakan Hazal. Para karyawan sudah meninggalkan kantor. Tak seorangpun yang menyadari kondisi Hazal yang terjebak di dalam lift.


Hazal mulai menangis. "Yafet... tolong aku...! Tolong aku...," isak Hazal dengan lirih.


Oksigen di dalam lift itu mulai menipis, Hazal merasakan dadanya terasa sesak. Kepalanya mulai pusing dan berputar-putar.


"Yafet...." Tubuh Hazal ambruk seketika setelah ia memanggil nama Yafet dengan lirih. Ia terkapar di lantai lift yang dingin itu seorang diri tanpa seorang pun yang mengetahui keberadaannya.


❤️ Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya... Terimakasih 🙏😊


__ADS_2