DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Menjadi Kekasih Kenan Fallay


__ADS_3

Pertunjukan tari perut dari para penari asli Turki tengah mengisi acara malam penobatan Pengusaha Muda malam hari ini. Sepuluh orang penari wanita dengan pakaian setengah badan tengah meliuk-liukkan tubuh mereka di atas panggung. Alunan suara alat musik tiup dan perkusi mengalun dengan indah menemani ketiga orang yang berdiri di bawah lampu kristal yang menjuntai panjang.


"Hazal, maukah kau berdansa denganku?" tanya Kenan yang langsung mengulurkan tangan kanannya ke arah Hazal. Wanita itu kemudian menyambut uluran Kenan dan tersenyum pada laki-laki itu.


Yafet hanya menganggukkan kepalanya kepada Kenan dan memundurkan langkahnya. Mempersilahkan putra Harun itu untuk berdansa dengan Hazal. Ia menjauhi kedua orang itu, tetapi dirinya masih mengamati tingkah laku Kenan dari kejauhan.


Hazal segera meletakkan kedua tangannya di atas pundak Kenan, lelaki itu segera mendekatkan dirinya ke tubuh Hazal. Sedangkan tangan Kenan melingkar di pinggangnya yang ramping. Manik mata mereka saling menatap. Hazal bisa melihat jelas wajah Kenan di bawah cahaya lampu kristal.


Hazal terdiam menatap Kenan. Wajah laki-laki itu sangat tampan, tidak jauh berbeda dengan ketampanan Yafet. Sorot mata yang tajam, hidung yang mancung, rahang yang terlihat kokoh dengan kumis dan bulu janggut yang hitam tipis khas orang Turki. Tatapan mata Kenan yang lembut memandang dirinya, membuat Hazal bertanya-tanya.


Tatapan matamu sangat berbeda dengan ayahmu, Kenan... Sebenarnya orang seperti apa dirimu?


"Kau sangat cantik hari ini," puji Kenan sambil berbisik di telinga Hazal.


Kedua tangan Hazal segera berpindah ke belakang leher Kenan. Ia tertawa dan tersenyum menanggapi perkataan Kenan.


"Aku menemanimu sudah hampir dua jam, dan kau baru mengatakan bahwa diri ku cantik?" Hazal telah sukses membuat Kenan tertawa. Pria itu tampak menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kau benar-benar punya selera humor yang tinggi. Aku merasa senang berada di dekat mu." Kenan mengambil salah satu tangan Hazal yang sejak tadi melingkar di belakang lehernya dan meletakkannya di depan dada bidangnya.


Dua pasang manik mata saling beradu pandang dengan jarak yang cukup dekat. Manik mata coklat itu bergerak-gerak seakan sedang menanti, hal apa lagi yang akan Kenan lakukan.


"Apakah kau dan kakakmu itu sedekat ini?" tanya Kenan yang masih meletakkan tangan Hazal di depan dadanya. Ia menggenggam tangan yang lembut itu. Detak jantungnya begitu terasa di telapak tangan Hazal. Iramanya berdetak cukup kencang.


"Sejak kecil, kami memang dekat. Ia seperti penjaga dan malaikat pelindungku. Apa kau cemburu melihat kami berdansa tadi?" Hazal menembakkan peluru sekakmat nya. Manik matanya memandang bulu hitam yang tipis di dagu Kenan.


Kenan malah mendekatkan keningnya ke kening Hazal, membuat hidungnya yang mancung bersentuhan dengan batang hidung Hazal. Ia bisa merasakan bagaimana nafas Hazal menyentuh bibirnya. Ia bisa melihat bagaimana bibir merah merona itu tampak sangat seksi. Ia memasukkan beberapa helai rambut Hazal ke belakang telinga wanita itu, di sentuhnya pipi Hazal dengan sangat lembut.


"Hazal...," ucap Kenan yang memandang wajah wanita itu dengan penuh perasaan. Ia merasa, ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kepada sekretaris nya itu. Manik mata coklat itu kembali bergerak-gerak menantikan perkataan Kenan selanjutnya.


"Aku mencintaimu," ucap Kenan yang lega karena telah mengeluarkan isi hatinya kepada Hazal.


"Apakah kau mau... menjalin hubungan denganku?" Kenan menelan salivanya dan membasahi bibirnya sendiri, ia benar-benar gugup saat ini.


Hazal terkejut mendengar perkataan dan pertanyaan Kenan. Ini memang sesuai dengan rencananya, membuat putra Harun itu jatuh cinta padanya. Seharusnya ia merasa senang karena rencananya berhasil. Tapi entah kenapa hatinya merasa gamang menjawab pertanyaan laki-laki itu. Manik matanya hanya menatap ke atas dan ke bawah. Mulutnya terasa berat untuk mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya.


"Ada apa Hazal?" Kenan memegang kedua pundak wanita itu. Ia sedikit ragu, "Apakah kau sudah mempunyai kekasih?"


Hazal terdiam menjawab pertanyaan Kenan, ia menggigit bibir bawahnya, manik matanya menatap gelas-gelas kaca yang tersusun rapi di belakang Kenan. Ia hanya bisa mengepalkan telapak tangannya. Kemudian ia kembali menatap manik mata abu-abu gelap yang ada di depannya.


"Aku mau menjalin hubungan dengan mu," ucap Hazal sambil menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar merasakan hatinya sedang teriris. Ia mengingkari sendiri perasaannya.


"Aku mencintaimu, sayang." Kenan membisikkan kata-kata itu di telinga Hazal, ia mencium cuping telinga dan pipi Hazal dengan lembut. Kemudian ia membawa Hazal ke dalam pelukannya. Dengan penuh keraguan, Hazal membalas pelukan Kenan.


Yafet yang melihat dari jauh, hatinya terbakar oleh cemburu melihat Kenan yang tadi mencium dan sedang memeluk Hazal. Rencana nya untuk membuat Kenan cemburu, malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ia menyambar segelas minuman yang di bawah oleh seorang pelayan yang lewat di depannya. Ia meneguk minumannya dengan cepat, sambil matanya menatap tajam putra Harun itu.


Alunan musik pun berganti, Hazal segera melepaskan dirinya dari pelukan Kenan.


"Apa kita bisa pulang?" ajak Hazal sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam itu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia harus menemui Mert malam ini.


"Baiklah, aku akan mengantarmu." Tangan Kenan segera menggandeng tangan Hazal.


Di sudut ruangan, Yafet tampak tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Ketika ia melihat Hazal dan Kenan keluar, ia pun segera mengikuti mereka.


Sepasang kekasih itu segera pergi meninggalkan gedung pertemuan, tak lupa Hazal mengambil mantel bulunya dari salah seorang penerima tamu yang masih bertugas di depan pintu. Kemudian Kenan membawa Hazal masuk ke dalam mobilnya. Segera putra Harun itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Tanpa ia sadari, mobil Yafet terus membuntuti nya.


Dari balik setir kemudinya, Yafet terus menyorot tajam mobil Kenan yang ada di depannya.


Aku tidak akan membiarkan mu membawa Hazal ke tempat lain! Selain ke rumah keluarga Aksal!

__ADS_1


Di dalam mobil, Hazal mengarahkan pandangannya ke jendela samping. Malam ini hatinya masih sangat terkejut, bahwa saat ini dirinya sudah menjadi kekasih Kenan Fallay. Mau tidak mau, ia harus menjalani permainan yang sudah di buatnya sendiri. Ia pun teringat dengan rencana berikutnya.


Melihat kekasihnya yang terus memalingkan wajahnya, Kenan segera menggenggam telapak tangan Hazal. Wanita itu segera mengarahkan wajahnya ke arah Kenan.


"Kenan...," ucap Hazal dengan lembut.


"Ya...." Manik mata abu-abu gelap itu masih menatap jalan raya. Tapi tangannya tengah mengusap punggung tangan Hazal.


"Ada salah seorang anak pelayan di rumahku yang sedang mencari pekerjaan. Apa bisa kau memberikan pekerjaan untuknya?"


Kenan melepaskan tangannya dari punggung tangan Hazal, karena ia hendak memajukan persneling mobilnya. Saat ini dirinya masih fokus untuk membelokkan mobilnya di pertigaan jalan raya. "Laki-laki atau perempuan? Umur?"


"Laki-laki. Umurnya sekitar dua puluh tahunan. Tapi dia hanya lulusan Senior High School," jelas Hazal sambil memegang gaun hitamnya. Matanya penuh harap bahwa Kenan akan membantunya.


"Laki-laki?" Kenan mengangkat salah satu alisnya.


Hazal menganggukkan kepalanya, "Aku hanya membantunya saja, apa kau keberatan?"


Kenan mengusap rambut coklat Hazal, "Aku tidak keberatan. Katakan padanya, agar besok pagi-pagi menemui ku sebelum aku berangkat ke kantor. Malam ini aku akan menginap di rumah ayahku."


Kini mobil Kenan sudah berhenti di depan pintu gerbang rumah keluarga Aksal. Hazal melepas sabuk pengamannya.


"Kau belum memberitahu ku, dimana rumah ayahmu?"


Kenan segera mengirim lokasi rumah ayahnya ke ponsel Hazal. "Aku sudah mengirimkan alamat rumah ayahku."


"Baiklah. Aku akan membukanya setelah aku masuk ke dalam. Oh iya Kenan, jangan beritahu ayahmu jika aku yang merekomendasikan teman ku itu. Aku takut, ayahmu tidak akan menerima nya," ucap Hazal sambil membuka pintu mobil.


"Kau jangan khawatir. Mimpi lah yang indah, aku mencintaimu," ucap Kenan kemudian ia mencium pipi Hazal dengan lembut.


Putri angkat Emir itu segera keluar dari mobil, dan berjalan mendekati pintu gerbang rumahnya. Ia melihat mobil Kenan yang sudah melaju menjauhi dirinya dan berbelok di tikungan.


Sementara Yafet yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon segera datang menghampiri Hazal.


"Rencana mu sungguh sangat berhasil membuat dia cemburu. Ia bahkan menyatakan perasaan cintanya padaku, dan kau tahu? Aku telah menerima nya menjadi kekasihku," jawab Hazal yang menatap dingin hamparan salju yang menutupi setengah jalan raya di depan rumahnya.


Yafet hanya terdiam mendengar perkataan Hazal. Hatinya juga merasa gamang, seperti Hazal. Hari-hari ke depan ia akan sering melihat anak pembunuh itu bermesraan dengan Hazal.


Hazal menatap wajah Yafet, "Jangan gunakan emosi dan perasaanmu, jika suatu hari nanti kau melihatku berduaan dengan anak pembunuh itu."


Yafet menggenggam tangan Hazal dengan erat. Dirinya dan Hazal harus terus memainkan permainan ini. Musuh sudah mengambil umpan mereka, kini saatnya mereka menarik tali pancing itu.


"Yafet, kau harus mengantar ku ke hotel AKSAL sekarang!" seru Hazal yang segera berjalan menuju ke mobil kakak angkatnya itu yang ada di seberang rumahnya. Ia harus secepatnya menemui Mert.


"Untuk apa?" tanya Yafet sambil mengejar Hazal yang sudah sampai di depan mobilnya. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil.


"Aku mau menemui seseorang." Hazal melepas sepatu high heels nya dan meluruskan kedua kakinya di atas karpet mobil.


"Siapa?" Yafet memicingkan kedua matanya. Kali ini ia tidak ingin Hazal menyembunyikan sesuatu darinya. Suara mesin mobil pun berbunyi. Kendaraan roda empat itu berjalan menuju hotel AKSAL.


"Mata-mata ku. Aku akan memasukkannya ke dalam rumah Harun Fallay. Ia akan membantuku untuk mencari tahu tentang bukti-bukti kejahatan Harun dan apa rencana pria itu!" Hazal menatap tajam kaca mobil yang ada di depannya.


"Apa alasan dia membantumu? Apa kau telah menolongnya?" Yafet menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas yang berwarna merah itu menyala.


"Dia teman Ted Baxter di penjara. Dia yang memberikan barang peninggalan Ted kepadaku. Seharusnya dua tahun lagi dia baru bebas, tapi tadi pagi aku sudah membebaskannya dengan uang jaminan. Tentu saja ia merasa berhutang budi padaku. Aku tidak mungkin membawanya ke rumah, karena itu aku membawanya ke hotel," jelas Hazal.


"Jadi kau memasukkan mantan narapidana ke hotel kita?" Mata elang itu nampak melotot ke arah Hazal.


"Kenapa aku tidak mengetahui hal itu?" Yafet mengusap rambutnya sendiri ke belakang dan kemudian ia melajukan kembali mobilnya.

__ADS_1


"Karena aku membawanya ke kamar biasa, bukan kamar kelas Presidential Suite. Jika aku membawanya ke kamar mewah itu, pasti sangat mudah terlacak olehmu. Seperti kejadian waktu dulu kau berhasil menemukan ku," seringai Hazal yang memandang sepasang mata elang itu.


Yafet hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kemudian tertawa.


"Kau memang...." Yafet tak melanjutkan perkataannya.


"Pintar," sahut Hazal dengan spontan melanjutkan perkataan Yafet. Ia kemudian tertawa. "Akui saja, bahwa aku ini lebih pintar dari mu."


Yafet hanya mengernyitkan dahinya kemudian tertawa terbahak-bahak. Suara tawa mereka menggema di dalam mobil.


Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di depan lobi hotel AKSAL. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Kedua anak Aksal itu segera menuju ke kamar Mert.


Hazal mengetuk pintu kamar hotel. Ketukan pertama, pintu itu masih tertutup. Ia mencoba mengetuk papan kayu itu untuk kedua kalinya. Terdengar suara kunci pintu yang bergeser dan pintu kayu itupun terbuka.


"Hazal...?" sapa Mert. "Ku kira kau tidak jadi datang."


Hazal dan Yafet segera masuk ke dalam kamar, kemudian Mert menutup pintu kamarnya.


"Maaf aku mengganggumu. Apa kau sudah tidur?" tanya Hazal yang segera duduk di atas sofa. Sementara Yafet hanya berdiri di belakang pintu memperhatikan tingkah laku Mert yang tengah duduk di tepi kasurnya menghadap Hazal.


"Oh... belum. Tapi ada apa kau malam-malam kemari?" Mert mengerutkan alisnya.


"Aku akan memberi mu pekerjaan. Tapi kau jangan memberitahu siapapun bahwa kau mengenalku, dan jangan sampai orang lain mengetahui bahwa kau pernah di penjara." Raut wajah Hazal tampak serius dengan perkataannya.


"Kau membuatku gugup Hazal. Pekerjaan apa itu? Aku tidak punya ijazah. Aku hanya seorang yatim piatu," ucap Mert sambil menundukkan kepalanya.


"Tak masalah. Kau akan bekerja di sebuah rumah yang mewah. Nama pemilik rumah itu adalah Harun Fallay, ia seorang laki-laki paruh baya," jelas Hazal sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Aku telah mengirimkan lokasi rumah itu ke ponsel mu. Temui seseorang yang bernama Kenan Fallay di sana, dia yang akan mengurus semuanya. Tapi ingat pesan ku, jangan beritahu siapapun termasuk Kenan dan Harun Fallay!" Hazal menatap tajam wajah Mert.


"Itu saja?" Mert mengerutkan alisnya kembali.


Hazal mengambil satu kotak plastik kecil dari dalam tasnya, ia membuka penutup kotak itu dan memperlihatkannya kepada Mert.


"Ini adalah alat penyadap. Tempelkan alat kecil ini di ruang kerja Harun atau di kamarnya, letakkan di bawah benda yang sekiranya orang tidak curiga." Wajah Mert tampak tegang dan serius memperhatikan penjelasan Hazal.


Kemudian Hazal mengeluarkan sebuah kalung bertali hitam dengan liontin berbentuk bulat dari kotak plastik itu.


"Pakailah ini!" seru Hazal sambil memberikan kalung itu kepada Mert. Laki-laki itu segera memasukkan kalung itu ke lehernya.


"Liontin itu adalah monitor alat penyadap. Kau bisa mendengarkan percakapan mereka dengan menggunakan earphone ponselmu. Berikan monitor itu kepadaku, ketika aku datang ke rumah Harun, kemudian aku akan mengganti nya dengan yang baru. Lakukan itu dengan diam-diam!" perintah Hazal yang membuat Mert tegang.


Laki-laki ini tak pernah membayangkan bahwa Hazal akan melibatkan nya ke dalam permainan berbahaya nya. "Apa yang akan terjadi, jika aku ketahuan oleh mereka?"


"Mungkin Harun akan membunuhmu, tetapi sebelum itu terjadi, keluar lah dari rumah itu! Aku akan membantumu keluar meninggalkan Turki," jawab Hazal setelah ia bangkit berdiri.


"Kau ingin ke negara mana?" tanya Yafet yang sejak tadi berdiri di belakang pintu. Kini ia tiba-tiba mengeluarkan suaranya.


Mert terperangah mendengar perkataan Hazal dan Yafet. Ia belum mengetahui siapa Hazal dan Yafet sebenarnya. "Aku ingin ke Australia, itu adalah tempat impianku."


"Aku akan mengirim mu ke sana, setelah kau selesai melakukan tugasmu!" seru Yafet sambil tersenyum kepada Hazal dan Mert.


"Baiklah. Aku akan melakukannya, lagipula kau sudah banyak membantu ku Hazal. Terimakasih," ucap Mert bersemangat, membayangkan keindahan negeri kangguru itu.


"Besok pagi, aku akan mengantarmu ke rumah Harun Fallay!" seru Yafet yang ingin memastikan sendiri, bahwa Mert memang benar-benar bisa di percaya.


Hazal dan Yafet segera pergi meninggalkan hotel AKSAL dan pulang kembali ke rumah. Semetara itu di kamar hotel, Mert tersenyum memandang langit-langit kamarnya.


Apakah ini mimpi? Besok pagi petualangan ku akan segera di mulai...

__ADS_1


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya.... setelah baca novel Dangerous Love 😁 Terimakasih 🙏


__ADS_2