DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Perang Bantal


__ADS_3

Saat ini Yafet dan beberapa managernya sedang mengadakan rapat untuk membahas promosi hotel mereka menjelang liburan musim dingin. Tidak seperti biasanya, hari ini Yafet lebih senang mendengarkan para manager nya itu saling berdebat dan memberikan pendapat. Sekretaris nya juga sedikit heran, melihat sikap atasannya yang lebih tenang hari ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, rapat internal ini pun berakhir. Yafet segera melonggarkan dasinya dan segera keluar dari ruang rapat. Sekretaris nya mengikutinya dari belakang. "Kembalilah ke ruangan mu, aku akan langsung pulang. Kirim hasil rapat tadi ke email ku sekarang juga." Perintah sang bos kepada sekretaris nya. Bos tampan itu segera pergi meninggalkan hotel tempatnya bekerja.


Hampir pukul tujuh malam, Yafet sampai di rumahnya. Seluruh anggota keluarganya sudah menunggu kedatangannya di ruang makan. Setelah memasukkan mobilnya di garasi, Yafet segera masuk ke dalam rumah melalui pintu samping yang menghubungkan garasi dan rumahnya.


"Hazal, coba kau hubungi kakakmu. Apakah dia akan makan malam di rumah atau tidak?" perintah Meral. Putri angkatnya itu langsung berdiri dan hendak menelepon Yafet.


"Aku sudah pulang !!" seru Yafet yang mendengar perkataan ibunya tadi. Ia segera melepas jas hitamnya dan meletakkannya di sofa ruang keluarga dan segera bergabung dengan yang lain di ruang makan.


Melihat kedatangan Yafet, Hazal segera kembali ke tempat duduknya dan mengambilkan makanan untuk Yafet. "Makanlah, kau pasti sangat kelaparan." Yafet menerima piring pemberian Hazal sambil tersenyum dan duduk di samping Hazal.


Mereka berempat menikmati makan malam mereka. Emir dan Yafet membahas masalah hotel mereka, sementara Meral dan Hazal hanya mendengarkan pembicaraan kedua laki-laki itu. Tiba-tiba Emir membahas sesuatu dengan Hazal yang membuat Yafet tersedak.


"Hazal, apakah kau masih berhubungan dengan teman-teman sekolahmu?"


"Ya, aku masih berkomunikasi dengan mereka. Ada apa Ayah?"


"Kenalkan salah satu teman wanita mu itu kepada kakakmu, agar dia segera menikah dan memberikan cucu untuk Ayah dan Ibu," ucap Emir dengan wajah serius.


"Tapi Ayah, Yafet sudah...." Hazal menghentikan ucapannya, begitu ia mendengar Yafet terbatuk-batuk. Ia segera memberikan segelas air putih kepada Yafet, dan menepuk-nepuk punggung atas kekasihnya. Emir dan Meral memperhatikan sikap Hazal yang begitu peduli pada Yafet.


"Aku rasa, teman-teman wanitaku bukanlah selera Yafet," kata Hazal yang kembali melanjutkan perkataannya kepada ayahnya.


"Maksudmu kakakmu ini tidak menyukai seorang wanita?" tanya Meral yang penasaran seperti apa selera putranya itu.


"Ayah...Ibu..., kita sudah pernah membahas masalah ini kan? Aku sudah mempunyai kekasih, kalian tenang saja, aku masih normal," ucap Yafet yang mendengus kesal, kemudian ia segera pergi meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju ke kamarnya. Selera makannya telah hilang.


Emir dan Meral terdiam menatap kepergian Yafet. Kemudian Emir kembali menatap wajah Hazal yang duduk di dekatnya. "Apakah kau juga sudah punya seorang kekasih, nak?"


"Sudah, Ayah. Jika waktunya tepat, aku akan memperkenalkan kekasihku itu pada Ayah dan Ibu."


"Jawabanmu itu sama seperti kakakmu, selalu menunggu waktu yang tepat. Besok adalah waktu yang tepat. Ayah dan Ibu ada di rumah. Bawa kekasihmu itu ke rumah, dan kalau Ayah menyukainya, segeralah kalian menikah, betulkan Meral?" ucap Emir yang meminta pendapat istrinya itu. Meral menyetujui perkataan suaminya.


Hazal hanya memandangi wajah kedua orang tua angkatnya dengan kebingungan. "Apa? Kalau untuk pernikahan, aku belum memikirkannya," jawab Hazal yang segera meninggalkan ruang makan begitu ia selesai menyantap makanannya. Ia tidak ingin ayah dan ibunya menanyakan hal lain lagi kepadanya. Kedua orang tua itu hanya menatap kepergian Hazal sambil menggelengkan kepalanya.


Malam ini, Hazal sedang berdiri di atas balkon utama rumahnya. Memandangi bintang-bintang di langit adalah kesukaannya sejak kecil. Ia selalu menganggap bahwa kedua bintang besar yang ada di langit itu adalah ayah dan ibu kandungnya yang selalu menjaganya dari atas.


"Ayah... Ibu... aku merindukan kalian. Hari ini aku sudah kembali ke Turki. Kumohon bantu anakmu ini, untuk menemukan pembunuh kalian." Hazal berbicara sendiri sambil menatap kedua bintang yang malam ini bersinar paling terang.


Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Yafet memeluknya dari belakang. Pria itu membenamkan wajahnya di belakang tengkuk leher Hazal, memejamkan kedua matanya dan menikmati aroma wangi yang ada di tubuh Hazal.


"Yafet, ini di rumah. Bagaimana jika ada yang melihat kita?" Hazal ingin melepaskan pelukan Yafet.


"Ijinkan aku sebentar saja memelukmu seperti ini," pinta Yafet.


Hazal seperti merasakan ada sesuatu yang sedang dialami oleh Yafet. Dengan cepat ia membalikkan badannya menghadap ke arah Yafet yang masih memeluknya.


"Ada apa? Apa kau marah dengan sikap ayah yang ingin menjodohkan mu?"

__ADS_1


"Lupakan hal itu, ayah dan ibu sudah sering membicarakannya. Tetapi mereka tidak benar-benar serius melakukannya."


"Jika ayah dan ibu benar-benar menjodohkan mu, bagaimana?" tanya Hazal yang memicingkan kedua manik matanya yang coklat.


"Kau tentu sudah tahu jawabannya, sayang. Aku pasti akan menolaknya," ucap Yafet sambil membelai kening dan rambut Hazal.


"Lantas, kenapa kau bersedih seperti ini, apa hari ini ada masalah di kantor?" tanya Hazal yang melihat guratan di wajah Yafet.


Yafet menggelengkan kepalanya, "Ini soal lain. Maafkan aku, aku telah gagal menangkap pembunuh orang tuamu. Lima tahun ini aku belum berhasil menemukan Ted Baxter," ujar Yafet yang memandang manik mata Hazal.


"Kau mendengar pembicaraanku dengan bintang-bintang itu?" tanya Hazal sambil tersenyum.


"Mendengar mu berbicara dengan bintang-bintang itu, membuatku merasa sangat bersalah."


Hazal menutup mulut Yafet dengan tangannya, "Ini bukan salahmu, takdir sedikit ingin bermain-main dengan kita. Takdir masih mengijinkan pembunuh itu bebas di luar sana. Tapi aku yakin, tak lama lagi... takdir akan berpihak pada kita, sayang. Takdir Ted Baxter dan takdirku akan segera bertemu," ucap Hazal dengan penuh penekanan, kedua manik matanya menatap tegas wajah Yafet.


"Apa rencana mu setelah pulang ke Turki?" tanya Yafet yang melepaskan pelukannya.


"Besok aku akan mendaftarkan diriku sebagai jaksa wilayah di kantor kejaksaan. Beberapa tahun di New York, aku telah bekerja bersama jaksa senior di sana, dan membantu Smith untuk menuntut terdakwa dari kasus yang di berikan oleh FBI. Aku yakin, aku akan diterima di sini."


"Bagaimana dengan perusahaan Fallay? Apa kau mulai mencurigainya?"


"Entahlah, mungkin perusahaan itu hanya kebetulan membantu perusahaan Danner di ambang kebangkrutan," ucap Hazal sambil menyandarkan badannya di depan pagar balkon.


Yafet mengusap puncak kepala Hazal, "Sudah larut malam, tidurlah."


"Kau juga tidurlah," ucap Hazal sambil mencium pipi Yafet dan segera pergi menuju kamarnya. Yafet hanya menatap punggung Hazal dengan senyumannya.


*****


Keesokan harinya, dengan wajah yang masih segar Hazal keluar dari kamarnya. Ia berjalan-jalan di koridor di lantai atas, pemandangan pagi ini benar-benar indah dan cuacanya sangat dingin. Tampak kabut sudah mulai turun membasahi daun-daun yang tumbuh di taman belakang. Ia melihat dari lantai atas, Nuran dan beberapa pelayan yang lain sedang sibuk membersihkan halaman belakang rumahnya.


Hazal kembali masuk ke dalam rumahnya, dan melihat pintu kamar Yafet masih tertutup rapat. Ia berjalan dan mengetuk pintu kamar Yafet dengan pelan. Tak ada jawaban dari dalam. Ia membuka pintu kamar itu dengan perlahan, sang pemilik kamar sedang mendengkur di bawah selimutnya.


Timbul di dalam pikirannya untuk mengerjai kekasihnya itu, ia melangkah mendekati tempat tidur Yafet dan duduk di samping kekasihnya itu. Perlahan-lahan ia membuka selimut yang menutupi wajah Yafet. Di tariknya rambut panjangnya yang masih basah, kemudian diusapkannya ujung rambutnya itu ke wajah Yafet.


Dengan spontan, Yafet menepis tangan Hazal. Wanita muda itu tertawa terbahak-bahak melihat kedua mata elang itu mulai mengerjap-ngerjap untuk menormalkan penglihatannya.


"Sayang, ini masih pagi...," ucap Yafet begitu melihat Hazal sudah ada di depannya. Pria itu segera kembali ke posisi tidurnya dan menarik selimutnya kembali.


Kali ini Hazal menggelitik telinga Yafet dengan ujung rambut basahnya. Ia kembali tertawa melihat reaksi Yafet yang marah karena geli. Dengan cepat pria itu segera menarik tubuh Hazal masuk ke dalam selimutnya. Hazal terkejut karena tubuhnya sudah berada di atas tubuh Yafet.


"Sayang, aku sudah tidak bisa menahannya," bisik Yafet di telinga Hazal.


"Apa maksudmu?" tanya Hazal yang segera menaikkan tubuhnya dan menahannya dengan kedua tangannya.


Yafet segera menarik tubuh Hazal untuk kembali menindih tubuhnya, "Apa kau sudah tidak sabar ingin memberikan cucu untuk ayah dan ibu?" Yafet berbisik dengan tawanya.


Hazal bergidik ngeri, kemudian dia mengambil bantal yang ada di belakang kepala Yafet, dan menutup wajah kekasihnya itu dengan bantal yang ada di tangannya. " Lakukan saja dengan bantal ini !!" teriak Hazal.

__ADS_1


Segera Yafet menarik bantal yang menutupi wajahnya, tetapi tangan Hazal menahannya. Mereka saling menarik bantal itu dari sisi yang berbeda. "Siapa suruh kau membangunkan aku, sayang," ucap Yafet sambil tersenyum kemudian tertawa melihat Hazal yang marah.


Mereka saling menarik kuat bantal itu, sampai membuat bantal itu terkoyak dan robek. Mereka sangat terkejut melihat banyak bulu angsa terbang berhamburan keluar dari dalam bantal. Yafet dan Hazal hanya bisa tertawa melihat bulu angsa itu beterbangan dan jatuh di atas kepala dan tubuh mereka.


"Lihat, apa yang kau lakukan sayang? Sekarang kamarku seperti sarang burung," ucap Yafet sambil melihat sekeliling kamarnya.


"Dan sekarang aku akan memberikan mu hukuman, sayang." Yafet berjalan sambil tertawa.


Hazal segera berlari dan naik ke atas tempat tidur, ia mengambil bantal yang lain. "Jika kau mendekat, aku akan memukulmu, sayang."


Yafet tidak memperdulikan ancaman Hazal, ia terus mendekat ke arah Hazal. Ketika kaki Yafet hendak naik ke atas tempat tidur, tiba-tiba Hazal memukulkan bantal itu ke kepala Yafet, terdengar bunyi buuukk.....buuukkk...buuukkk. Kemudian Yafet menarik bantal itu. Ia ingin menarik tubuh Hazal melalui bantal tersebut, tetapi Hazal mempertahankan posisi tubuhnya agar tidak jatuh di atas tubuh Yafet.


Tangan Hazal menarik keras bantal tersebut dan memukulkannya ke wajah Yafet. Bulu angsa itu ikut berhamburan keluar menerpa seluruh wajah dan tubuh Yafet. Pria itu mengalami bersin-bersin yang cukup parah. Melihat hal itu, Hazal tertawa terpingkal-pingkal.


"Kurasa, kau takkan mampu melawanku, sayang. Lihatlah dirimu seperti ayam kalkun sekarang," ucap Hazal yang tidak bisa menghentikan tawanya melihat tubuh Yafet yang penuh dengan bulu angsa.


Tanpa mereka sadari, Meral menapaki anak tangga di rumahnya, wanita itu hendak mengambil sesuatu yang ada di lantai atas. Di pertengahan anak tangga, ia mendengar suara tawa yang cukup keras dari kamar Yafet. Suara Hazal dan Yafet. Wanita paruh baya itu dengan cepat melangkahkan kakinya dan membuka kamar Yafet tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Apa yang terjadi di sini?" teriak Meral yang terkejut melihat kamar putranya itu sudah seperti sarang burung. Penuh dengan bulu angsa yang beterbangan dan jatuh di mana-mana. Ia melihat kedua anaknya sedang duduk di atas tempat tidur saling melempar bulu angsa sambil tertawa.


"Ibu ?!?!?" teriak Yafet dan Hazal yang terkejut melihat ibunya sudah berdiri di depan mereka. Mereka segera bangkit dan berjalan menghampiri Meral yang ada di dekat pintu.


"Yafet... Hazal... apa yang sedang kalian lakukan? Lihatlah kamar ini benar-benar berantakan !!" pekik Meral dengan suaranya yang tinggi.


Hazal segera mengapit lengan Meral, "Ibu barusan kami hanya bermain perang bantal, tak sengaja bantal-bantal itu robek dan isinya tumpah keluar, betulkan Yafet?"


Meral memicingkan kedua matanya nya ke arah Yafet yang berdiri di sisinya yang lain, "Apa benar yang di katakan adikmu?"


"Ya, ibu. Lihatlah akibat perbuatannya, seluruh bantal ku rusak semua," ujar Yafet yang segera mengapit lengan ibunya yang lain.


"Kalian seperti anak kecil saja, bermain seperti ini." Meral mendengus kesal melihat tingkah laku kedua anaknya.


"Karena kami sejak kecil tidak pernah bermain bersama, Ibu," ucap Yafet. Ia dan Hazal mencium kedua pipi Meral, sedangkan tangan mereka saling melakukan high five di belakang punggung wanita paruh baya itu.


"Ya...Ya.. kalian benar," ucap Meral sambil tersenyum lembut. Kedua anak muda itu membalas senyum Meral yang mengira ibunya itu telah memaafkan perbuatan mereka hari ini.


Beberapa detik kemudian, suara Meral melunturkan senyuman mereka. "Cepat segera bereskan kekacauan ini !!! Ibu tidak akan mengijinkan kalian pergi keluar jika kamar ini masih berantakan !!" teriak ibunya yang segera melangkahkan kakinya keluar kamar. Hazal dan Yafet hanya bisa saling memandang.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih buat kalian yang sudah mampir dan membaca novelku ini. Jika kalian menyukai tulisan ku ini, jangan lupa kasih Author jempol kalian untuk....


🤗 Like


🤗 Rate


🤗 Komentar dan


🤗 Vote kalian yah....

__ADS_1


Author akan sangat berterimakasih 🤗😊


__ADS_2