DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Ted Baxter


__ADS_3

Di suatu sore menjelang senja, hembusan angin meniup daun pohon Maple yang berguguran di sepanjang jalan di kota New York. Sesekali daun berwarna oranye kemerahan itu beterbangan tinggi menerpa kaca mobil yang melewati jalan tersebut. Burung-burung kecil sedang asyik berkelompok berjalan ke sana kemari mencari sesuatu untuk di makan, bunyi derap langkah kaki dan bunyi laju kendaraan membuyarkan kumpulan burung-burung itu, membuat mereka kembali mengepakkan sayapnya untuk yang kesekian kalinya.


Seorang laki-laki berumur 45 tahunan, berjalan seorang diri di tengah keramaian jalan di pinggiran kota New York. Topi hitam dan kacamata hitamnya selalu menjadi aksesoris kesukaannya, di tambah lagi dengan hobinya yang selalu memelihara cambang di area dagu dan pipinya. Baginya bulu-bulu lebat itu membuatnya di segani oleh banyak orang.


Kedua langkah kakinya berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang di dominasi dengan warna hijau, warna kesukaan ibunya. Untuk pertama kalinya, ia memberikan hadiah kepada ibunya sebuah apartemen di kota New York. "Tempat ini mengingatkan ibu pada kampung halaman kakek nenekmu." Begitu ucapan ibunya saat pertama kali wanita tua itu menginjakkan kakinya di apartemen yang di belinya sekitar sepuluh tahun yang lalu.


Ia melepaskan kacamata hitamnya begitu ia melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Langkah kakinya menderap menapaki anak tangga yang lebarnya sama dengan telapak kakinya, sampailah ia di depan sebuah pintu dengan nomor 505. Tangan kekarnya mengetuk pintu kayu tersebut. Muncullah seorang wanita yang sedang membetulkan letak kerudungnya yang berwarna hijau, berdiri tepat di hadapannya. Sebuah senyuman kecil terlukis di wajah keriputnya, kedua matanya tampak sayu dan lingkaran hitam tersamar di bawah matanya.


"Rupanya kau masih ingat pada ibumu ini, Ted !!"


"Ibu, kenapa kau menyambut ku seperti ini? Setidaknya ijinkan aku masuk, dan jangan berdiri di depan pintu !!"


Nyonya Baxter menyandarkan tubuhnya di pintu apartemennya, memberi jalan untuk anaknya masuk ke dalam. Di lemparkan nya tas hitam miliknya di atas sofa, dan di rebahkan nya dirinya di samping tas tersebut dengan kedua kakinya terangkat di atas meja.


Wanita tua itu memandangi Ted untuk beberapa detik, bukan karena ketidak sopanan putranya di ruangan itu, tetapi ia ingin membicarakan suatu masalah dengan laki-laki itu. Hembusan nafas keluar dengan sangat berat dari hidung Nyonya Baxter.


"Ted, ada yang harus ibu bicarakan dengan mu."


"Nanti saja, Bu. Aku sangat lelah. Aku mau tidur."


Ted berdiri sambil menenteng tasnya dan berjalan melewati ibunya yang tengah berdiri di dekatnya. Nyonya Baxter hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap putranya itu. Bruakk... terdengar sebuah pintu di tutup dengan sangat keras, membuat wanita tua itu sedikit terkejut dan mengelus dadanya.


Di dapur, Nyonya Baxter sedang sibuk membuat makanan kesukaan Ted. Setiap kali wanita tua itu membuat makanan ini, air matanya selalu tumpah membasahi kedua pipinya. Ingatannya kembali pada masa kecil Ted yang suka membantunya di dapur, bermain alat-alat dapur bersama dengan suaminya, dan kedua pria dalam hidupnya itu selalu mengambil setiap makanan yang sudah matang dari penggorengan.


Tetapi kisah itu hanya berlangsung secepat kilat, takdir memisahkan dirinya dengan suaminya. Belahan jiwanya itu telah pergi untuk selama-lamanya karena penyakit kronis yang di deritanya. Masih teringat jelas dalam memori tuanya, bagaimana dokter tidak mau mengoperasi suaminya karena dirinya tidak memiliki uang untuk membayar operasi dan biaya rumah sakit. Hatinya terasa sangat pedih, seluruh tetangga, teman dan saudaranya tidak banyak membantu dirinya pada waktu itu.


Tepat di suatu malam Ted pulang ke rumah dalam keadaan badak kuyup karena hujan yang begitu lebat mengguyur kota Istanbul. Putranya itu berdiri di hadapannya, menyerahkan sebuah amplop coklat kepada dirinya, kemudian di bukanya amplop tersebut, tampak di dalamnya ada begitu banyak lembaran uang.


"Darimana kau dapatkan uang ini, nak? Kau tidak mencuri kan?"


"Seseorang memberikan uang ini kepada ku."


"Seseorang? Siapa dia? Apa ibu mengenalnya?"


"Jangan bertanya apa-apa, Bu !! Uang ini untuk biaya operasi ayah."

__ADS_1


Dengan uang itu, Nyonya Baxter bisa membayar operasi suaminya. Tetapi takdir berkehendak lain, operasi suaminya gagal dan suaminya pun meninggal dunia. Setelah kematian suaminya, ia mendapat kabar bahwa putranya telah di keluarkan dari akademi militernya. Cobaan apalagi ini. Sejak saat itu, sikap Ted mulai berubah, ia hampir tidak mengenali anak kandungnya sendiri. Uang telah membuatnya berubah menjadi seorang monster yang tidak punya belas kasihan.


"Ibu, aku lapar... mana makanannya?" teriak Ted yang membuyarkan lamunan Nyonya Baxter.


"Ibu akan membawanya keluar," jawab Nyonya Baxter yang membawa masakannya dan meletakkannya di atas meja makan yang berbentuk persegi.


Ted melahap habis makanan yang ada di piringnya, tetapi tatapan ibunya membuatnya sedikit gerah. Ted membalas tatapan ibunya tersebut.


"Makanlah, Bu. Jangan menatapku seperti itu. Seolah-olah aku ini orang asing bagimu."


"Sudah beberapa tahun ini, kau memang terlihat seperti orang asing. Ibu bahkan hampir tidak mengenali mu."


Ted tertawa keras mendengar perkataan ibunya, kemudian pria gundul itu masuk ke dalam kamarnya, mengambil sebuah amplop coklat dari dalam tasnya dan memberikannya kepada ibunya. Nyonya Baxter menatap tajam amplop coklat tersebut.


"Setiap kali kau datang, kau seperti kurir yang hanya menyerahkan amplop ini dan keesokkan harinya kau pergi lagi meninggalkan Ibu."


"Bu... jangan terlalu mendramatisir keadaan."


"Ambillah kembali amplop itu, ibu tidak mau menerimanya, sampai kau katakan darimana uang ini berasal !!"


"Katakan pada ibu, apa pekerjaan mu? Apa kau telah menipu seorang gadis, mengambil semua miliknya, dan membuat gadis itu hamil lalu kau meninggalkannya?" Nyonya Baxter tidak mampu menahan kegundahan hatinya sejak Ted pulang ke apartemennya.


"Apa maksud ibu? Menghamili seorang gadis?"


"Ibu tak menyangka... kau benar-benar memalukan !! Bagaimana bisa kau menipu dan menghamili gadis yang usianya setengah dari umurmu?"


"Ibu... aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan? Satu-satunya wanita yang pernah aku hamili hanyalah Nuran, dan aku sudah menikahinya."


"Tapi gadis itu telah mengandung anakmu. Bertanggung jawablah pada gadis itu dan keluarganya."


"Siapa yang harus aku beri tanggung jawab? Aku sungguh tidak mengerti pembicaraan ini, Bu !!"


Kesabaran Nyonya Baxter pun mulai habis, wanita tua itu mendengus kesal. Kemudian ia menceritakan tentang kedatangan seorang gadis yang bernama Leyla (yang tak lain adalah Hazal Aksal). Gadis itu datang bersama dengan kakak lelakinya, mereka berdua adalah orang Turki. Sedangkan teman kakaknya adalah orang Amerika. Gadis itu mengatakan bahwa dirinya telah mengandung anakmu, dan kalian sudah menjalin hubungan selama enam bulan. Nyonya Baxter juga mengatakan bahwa dirinya sudah memberitahukan kepada mereka kedua alamat Ted di Turki dan juga memberitahu nomor ponsel putranya itu.


Wajah Ted Baxter terkejut mendengar cerita ibunya. Pria gundul itu berdiri dari tempat duduknya, ia mengusap wajahnya dengan keras. Ia berjalan mondar-mandir ke sana kemari tak tentu arah.

__ADS_1


"Ibu, semua yang dikatakan gadis itu adalah kebohongan !! Aku tidak pernah mengenal gadis yang bernama Leyla, dan betapa cerobohnya ibu memberikan alamat ku dan nomor ponsel ku kepada mereka !! Kenapa waktu itu ibu tidak langsung menghubungi aku?" teriak Ted sambil memukul meja makan yang ada di depannya, membuat alat makan itu bergetar.


"Apa maksudmu, jika gadis itu berbohong? Gadis itu bahkan menangis sangat histeris begitu mengetahui dirimu sudah menikah."


"Apa gadis itu kemari lagi?"


"Tidak, dia hanya datang satu kali. Setelah hari itu, gadis itu tidak pernah kemari lagi, dan Ibu juga lupa menanyakan nomor ponselnya dan di mana dia tinggal."


Ted berbicara pada dirinya sendiri, "Siapa gadis itu? Dan untuk apa dia mencari ku?" Raut wajahnya penuh dengan kegusaran.


"Apa kau tidak mau bertanggung jawab dan menikahi gadis itu?" tanya Nyonya Baxter sekali lagi.


"Menikahi siapa? Aku bahkan tidak pernah berhubungan dengan gadis itu !! Dia telah menipumu, Ibu !! Dia penipu !!" teriak Ted dengan amarahnya, rahangnya nampak mengeras begitu langkahnya menuju ke pintu depan apartemennya. Suara pintu dibanting dengan keras, membuat mata Nyonya Baxter terpejam dan tertunduk takut. Baru kali ini, ia melihat putranya semarah ini.


Di luar gedung apartemennya, Ted menyalakan batang cerutunya. Kepulan asap keluar dari lubang hidungnya. Pria itu bergumam dalam hatinya, "Siapa Leyla? Ada urusan apa gadis itu dengan dirinya?"


Pria itu mengusap cambang yang ada di wajahnya, berusaha mencari jawaban dari pertanyaan ini. Mengingat setiap kejadian yang sudah ia lakukan beberapa waktu yang lalu.


"Jangan-jangan gadis itu adalah anak tiri Max? Apakah gadis itu sudah mengetahui apa yang sudah aku lakukan pada ayah tirinya? Tidak... sepertinya itu tidak mungkin. Tidak mungkin dia. Kata ibu, Leyla adalah orang Turki. Siapa dia? Oh sial... aku benar-benar tidak bisa menebak siapa gadis itu !!"


Ted mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang. Terdengar suara wanita yang menjawab panggilan teleponnya. "Jika ada yang mencari ku, segera hubungi aku !! Kau mengerti?" teriak Ted di depan ponselnya.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih teman-teman sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ku ini. Jangan lupa setelah kalian baca kasih tanda...


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar dan


🤗 Vote kalian ya...


Makasih 😘😘🤗

__ADS_1


__ADS_2