DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Pintu Lift


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap ketika Yafet keluar dari kafe Galatta, ia melajukan mobilnya menuju ke rumah keluarga Aksal. Cahaya kuning yang berasal dari lampu jalan menerpa wajahnya. Sesekali ia melihat ponselnya, tapi sejak tadi ponsel itu tidak berbunyi. Hazal tidak menghubunginya sejak mereka berpisah di ujung jalan.


Hampir mendekati pukul tujuh malam, Yafet memasukkan mobilnya di dalam garasi. Tidak seperti biasanya, rumahnya kini terasa sepi. Ayah dan ibunya sedang berada di rumah sakit. Sedangkan Hazal? Dia tidak mendengar suara Hazal.


Yafet menapaki anak tangga yang mengular di sudut rumahnya, ia hendak ke kamar Hazal, tetapi hatinya ragu untuk menemui wanita itu. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Diambilnya seuntai kalung dari dalam lemarinya, kalung miliknya yang sudah lama tidak ia pakai. Terakhir kali ia memakai kalung itu sewaktu ia masih ada di sekolah asrama. Ia memasukkan kalungnya ke dalam lubang cincin Hazal, kemudian di pakainya kalung putih itu di lehernya. "Aku akan tetap menyimpan cincinmu ini, Hazal," gumam Yafet sambil mencium cincin itu.


Setelah ia selesai mandi dan mengganti pakaiannya, ia menghubungi ibunya di rumah sakit dan menceritakan tentang pertemuannya dengan Selina. Yafet juga memberitahu ibunya bahwa mereka akan menikah tiga hari lagi.


"Apa itu tidak terlalu cepat? Ibu belum mempersiapkan apa-apa untuk pernikahanmu."


"Tidak ada bedanya aku menikah besok atau bulan depan. Semuanya itu sangat menyakitkan buat Hazal. Ibu tidak perlu mempersiapkan apapun, aku telah memberi uang kepada Selina untuk membeli semua keperluannya untuk pernikahan," seru Yafet di dalam kamarnya.


Meral hanya bisa menahan perkataannya, yang dikatakan Yafet memang benar. Wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya berdiri di dekat jendela yang ada di koridor rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Hazal sekarang? Apa dia sudah pulang ke rumah? Dari tadi ibu coba menghubunginya, tapi ia tidak menjawab ponselnya," tanya Meral yang mengkhawatirkan keadaan Hazal.


"Aku belum ke kamarnya, mungkin dia ada di dalam kamar," jawab Yafet.


"Baiklah... semoga kalian baik-baik saja," ucap Meral yang segera mematikan ponselnya.


Setelah berbicara dengan ibunya, Yafet mengirim pesan kepada Jason bahwa ia dan Selina akan menikah tiga hari lagi. Jason membalas pesan Yafet.


- Jason -


Oke. Kita akan bertemu di Turki. Aku sudah memberitahu David dan Lee.


Setelah membaca pesan dari Jason, Yafet merebahkan dirinya di atas ranjang, manik matanya memandang langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Membayangkan bahwa dalam beberapa hari lagi, ia akan melepas masa lajangnya bersama dengan Selina. Menghabiskan masa tuanya dengan wanita gila itu.


"Ouwhhh... membayangkannya saja sudah membuatku gila!" gusarnya yang mengusap wajahnya dengan kasar dan bangkit berdiri.


Untuk menghilangkan kegusaran hatinya, Yafet keluar menuju ke kamar Hazal yang hanya berjalan beberapa langkah saja. Ia mengetuk pintu kamar yang sejak tadi tertutup rapat. Tidak ada jawaban dari dalam kamar, ia menempelkan daun telinganya ke daun pintu dan memanggil nama Hazal. Tetapi tetap saja tidak ada suara yang menjawab panggilannya.


Dengan perlahan Yafet membuka pintu kamar Hazal, dilihatnya kamar itu gelap. "Apa dia sedang tidur?" gumamnya pelan. Tangannya menekan tombol lampu yang ada di belakang pintu. Sinar putih itu menerangi setiap sudut ruang kamar Hazal. Tetapi putri angkat Emir itu tidak ada di sana.


"Hazal...," panggil Yafet sambil berjalan menuju ke kamar mandi.


Dibukanya pintu kamar mandi itu, tidak ada Hazal di sana, lantai kamar mandi itu juga terlihat masih kering. "Berarti Hazal belum masuk kamarnya sejak tadi pagi," gumam Yafet yang langsung segera turun ke lantai bawah memanggil seluruh pelayannya.


"Apa Hazal sudah pulang ke rumah?" tanya Yafet kepada Nuran dan pelayannya yang lain.


"Dari sejak tadi pagi, kami tidak melihat nona Hazal," jawab Nuran dan yang lainnya.


Yafet segera berlari menuju garasi rumahnya, tidak ada mobil Hazal di sana. Ia mencoba menghubungi ponsel Hazal. Hanya terdengar suara operator yang menjawab panggilan ponselnya.


"Dimana kau Hazal? Kenapa kau tidak pulang ke rumah?" gumam Yafet yang segera mengambil kunci mobilnya dan mengeluarkan kembali kendaraan roda empat itu ke jalan raya.

__ADS_1


Laki-laki itu terlihat khawatir, karena belum pernah Hazal mematikan ponselnya jika tidak sedang tidur dan belum pernah sekalipun ia pergi tanpa kabar berita seperti ini. Dilajukannya benda besi yang bisa bergerak itu ke kantor Hazal. Gedung Kejaksaan itu terlihat menjulang tinggi di malam hari, sepi dan tidak ada satupun mobil yang ada di sana.


Yafet mencoba menghubungi Hazal kembali, tetapi hasilnya tetap sama. Hanya mesin penjawab operator yang berbicara. "Hazal, kau dimana?"


Yafet melajukan kembali mobilnya ke restoran dan beberapa tempat makan yang sering di datangi oleh Hazal, tetapi ia tidak menemukan wanita itu. Dilihatnya jam digital yang ada di mobilnya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Nuran.


"Apa Hazal sudah pulang?" tanya Yafet begitu Nuran menerima panggilannya.


"Belum Tuan. Nona Hazal belum pulang," jawab Nuran.


Yafet menopang dagunya di atas setir kemudinya dan memijat pangkal hidungnya, "Kemana lagi aku harus mencari mu?"


Ia melajukan kendaraan roda empatnya kembali ke jalan raya, menyusuri setiap jalan di kota Istanbul dan menghentikan mobilnya di depan WATERSIDE MANSION DANNER. Rumah orang tua kandung Hazal. Yafet keluar dari dalam mobil, dan melihat halaman depan mansion itu, tidak ada siapapun di sana dan tidak ada mobil Hazal.


Di seberang mansion, terlihat dua orang pria yang berada di dalam mobil tua sedang memperhatikan Yafet. Salah satu dari mereka mengarahkan kamera digitalnya untuk mengambil foto Yafet yang berada di mansion keluarga Danner.


"Kita harus segera memberikan informasi ini pada bos," seru laki-laki muda yang ada di balik kemudi.


Kedua laki-laki itu tertawa membayangkan berapa banyak Lira yang nanti mereka dapatkan, setelah mereka memberikan foto Yafet kepada bosnya.


Di waktu yang sama, Hazal yang dari sejak tadi siang hanya menjalankan mobilnya tanpa tujuan dan mengitari kota Istanbul berulang kali. Ia bahkan sudah menghabiskan dua tangki bensin untuk mengisi bahan bakar mobilnya. Kedua kelopak matanya terlihat sembab, tubuhnya sangat lelah hari ini. Tapi ia tidak ingin pulang ke rumah, karena ia sengaja menghindari Yafet. Ia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu untuk sementara waktu.


Hazal membelokkan mobilnya memasuki halaman depan hotel AKSAL. Ia memasukkan mobilnya di tempat parkir bawah tanah. Kemudian dia berjalan menuju ke lobi hotel. Seorang petugas resepsionis menyapanya, "Selamat malam Nona Hazal, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Berikan aku kamar Presidential Suite untuk malam ini," jawab Hazal yang berdiri di depan petugas laki-laki itu.


Setelah menerima kunci kamar dari petugas resepsionis, seorang pelayan hotel mengantar Hazal ke sebuah kamar yang berada di tingkat paling atas. Kamar ini tidak untuk umum, hanya digunakan untuk tamu khusus VVIP saja. Kamar termewah yang dimiliki hotel AKSAL, karena berbagai fasilitas lengkap tersedia di dalam kamar ini. Melalui jendela besar yang membentang di salah satu dinding kamar, tamu hotel bisa melihat seluruh pemandangan kota Istanbul pada malam hari. Lampu warna-warni bersinar terang menghiasi langit malam di kota ini.


Setelah kepergian pelayan hotel, Hazal merebahkan dirinya di atas ranjang. Dengan cahaya lampu yang redup, ia berusaha memejamkan matanya. Tapi pikirannya terus melayang-layang mengingat kejadian yang dia alami hari ini. Perpisahannya dengan Yafet dan pertemuannya dengan Kenan Fallay. Ia kembali menangis di atas bantalnya. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia habiskan hari ini. Mungkin lebih baik jika ia tinggal di sini untuk sementara waktu, sambil ia memenangkan dirinya.


Hazal mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kerjanya, ternyata baterai ponselnya telah habis. Ia mencari sebuah pengisi baterai di dalam nakas. Dipilihnya sebuah pengisi baterai yang cocok untuk ponselnya. Kemudian ia mencoba memejamkan matanya kembali.


Keesokan harinya....


Yafet terbangun dari dalam mobilnya, semalaman ia berusaha mencari Hazal dan tidak pulang ke rumahnya hingga akhirnya ia tertidur di dalam mobil. "Jam berapa sekarang?" gumamnya sambil mengucek kedua matanya dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Jam digital itu menunjukkan pukul delapan pagi. Udara dingin pagi ini membuat perutnya berontak. "Aku harus pulang ke rumah, mungkin Hazal sudah ada di rumah."


Sesampainya di rumah, Yafet tidak mendapati Hazal. Setelah menghabiskan sarapannya, ia mencoba menelepon Hazal kembali, kali ini nada sambung terdengar di ponselnya. Hazal mengangkat ponselnya, tapi wanita itu tidak ingin mengeluarkan suaranya.


"Hazal...," ucap Yafet di depan ponselnya. Hanya keheningan yang terdengar.


"Hazal... ini aku. Aku tahu kau pasti mendengar suaraku. Kau ada di mana? Pulanglah...," kata Yafet dengan suara lirihnya.


"Apa kau baik-baik saja? Bicaralah Hazal... aku ingin mendengar suaramu...." Lama Yafet menunggu, tetapi rupanya Hazal masih betah dalam kesunyiannya. Yafet pun menutup ponselnya.


Di kamar hotel, Hazal memeluk kedua lututnya, dia terduduk di atas lantai karpet sambil menangis, begitu mendengar perkataan Yafet. "Aku merindukanmu, sayang... aku sangat merindukanmu."

__ADS_1


Menjelang pukul dua belas siang, Yafet sedang memeriksa laporan dari managernya. Liburan musim dingin ini, banyak tamu yang menginap di hotelnya. Penjualan kamarnya kali ini meningkat tajam, tapi tiba-tiba sepasang mata elang itu melihat data kamar yang masuk.


"Siapa yang menginap di kamar Presidential Suite?" gumamnya. Sepengatahuan nya tidak ada pejabat atau tamu penting yang memesan kamar itu dalam waktu dekat ini.


Jari telunjuknya menekan beberapa angka di pesawat telepon. Sambungan telepon itu tertuju pada petugas resepsionis hotel.


"Siapa tamu VVIP kita yang menginap di kamar Presidential Suite?" tanya Yafet begitu ia mendengar suara karyawannya.


"Sebentar Tuan Yafet, saya akan mengeceknya terlebih dahulu," jawab petugas resepsionis yang bertugas hari ini.


Selang beberapa menit kemudian, sebuah panggilan internal berbunyi di ruang kerja Yafet. Panggilan dari ruang resepsionis.


"Ya, apa kau sudah tahu siapa orangnya?" tanya Yafet yang menggenggam gagang pesawat teleponnya.


"Tamu VVIP itu adalah Nona Hazal Aksal, Tuan," jawab karyawannya.


Yafet mendadak bangkit berdiri dari kursi kerjanya. "Apa kau yakin?"


"Iya Tuan, Nona Hazal melakukan check-in semalam, sekitar pukul sembilan malam," jawab petugas wanita itu.


"Apa dia sudah check-out dari kamarnya?" tanya Yafet.


"Belum Tuan." Yafet segera menutup pesawat teleponnya, mengendurkan dasinya dan segera berlari menuju ke lift. Ia menekan angka lima belas, letak kamar Presidential Suite itu berada.


Di dalam kamar hotel, Hazal yang sudah menerima pakaian ganti dari Nyonya Rachel, sekretaris Emir. Bersiap-siap untuk keluar dari kamarnya. Ia ingin ke rumah sakit melihat keadaan ayah angkatnya.


Setelah ia merias wajahnya dengan make-up untuk menyamarkan mata sembabnya, ia mengayunkan langkahnya keluar kamar menuju ke lift.


"Sudah hampir jam makan siang, apa aku makan di hotel dulu sebelum aku ke rumah sakit," gumam Hazal yang melihat jam tangannya, ia berdiri di depan pintu lift dan menekan tanda panah ke bawah.


Detik demi detik berjalan....lift itu berjalan sangat lambat.


Yafet yang sedang berada di dalam lift, tidak sabar menunggu pintu lift itu terbuka. Ia ingin segera bertemu dengan Hazal.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih sudah baca novel Dangerous Love ini...semoga kalian semakin menyukai novelku ini. Jangan lupa kasih...


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar atau


🤗 Vote kalian ya

__ADS_1


Terimakasih 😊🙏😄


__ADS_2