DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Alibi Harun


__ADS_3

Jarum jam dinding bergerak di porosnya. Sore ini langit tampak kebiru-biruan. Kenan sedang menyandarkan dirinya di punggung kursinya. Ia meregangkan kedua otot tangam dan kakinya yang sudah beberapa jam ini berkutat di meja kerjanya.


Kenan menghentikan aktivitas olahraga ringannya ketika ia mendengar nada dering ponselnya berbunyi. Ia melihat nama Mehmet di layar ponselnya yang berbentuk persegi empat. Kenan segera mengambil benda tipis itu kemudian menggeser tombol hijau pada ponselnya.


"Temui aku di gudang selatan, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu!" seru Mehmet sebelum Kenan menyapa dirinya. Panggilan itu kemudian terputus tanpa jawaban dari Kenan.


Putra Harun itu segera mengambil jasnya yang ada di sandaran kursi, dengan cepat ia segera keluar dari ruangannya. Ia melihat Hazal yang masih sibuk dengan pekerjaannya, segera menghampiri kekasih sekaligus sekretarisnya itu.


"Aku pergi dulu, ada urusan yang harus aku selesaikan. Setelah pekerjaanmu selesai, pulanglah. Kau tak perlu menungguku," ucap Kenan yang berdiri di samping kursi Hazal.


"Apa urusan tentang pekerjaan atau pribadi?" tanya Hazal sambil memicingkan kedua matanya.


Pria itu terdiam untuk beberapa saat. Ia menyandarkan dirinya di samping meja kerja Hazal.


"Aku membantu urusan Mehmet. Saat ini ia sedang terlibat masalah," ucapnya.


Kenan sengaja berbohong, ia menutupi semuanya dari Hazal. Ia tidak ingin kekasihnya itu cemas apabila mengetahui bahwa ada orang yang akan mencelakainya.


"Pergilah, jaga dirimu. Sebentar lagi pekerjaanku akan selesai," ucap Hazal yang keluar dari kursinya. Ia membetulkan letak dasi dan kancing jas Kenan.


Kenan mencium kening dan bibir merah Hazal dengan lembut. "Kabari aku setelah kau tiba di rumah."


"Baiklah," balas Hazal yang mengantar Kenan sampai di depan pintu lift.


Setelah kepergian Kenan, Hazal segera menyalakan monitor alat penyadapnya. Ia tidak mendengar percakapan apapun di dalam ruangan Kenan. Hanya dering suara ponsel kekasihnya itu. Kemudian hening.


Apa penelepon itu adalah Mehmet? Kenapa Kenan tidak menjawab penelepon itu? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa aku telah melewatkan sesuatu.


Hazal menggigit bibir bawahnya. Ia masuk ke dalam ruangan Kenan. Berbagai pertanyaan tampak berputar di pikirannya. Hampir lima belas menit, ia membongkar meja kerja Kenan. Tapi ia tidak menemukan apa-apa di sana. Ia mendengus kesal dan merutuki dirinya sendiri.


Harusnya aku memasang alat pelacak di mobilnya.


Kenan segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Mobil hitamnya sedang berusaha membelah lalu lintas kota Istanbul yang super padat pada sore hari ini.


Mobil hitam itu berhenti di gudang selatan milik perusahaan Fallay. Kenan turun dari mobilnya, langkah kakinya terdengar mengintimidasi seperti ayahnya. Raut wajahnya tampak tegang. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya.


"Dimana Mehmet?" tanya Kenan kepada seorang laki-laki yang berjaga-jaga di depan pintu gudang.


"Tuan Mehmet ada di dalam," jawab orang tersebut.


Kenan segera masuk ke dalam gudang tersebut. Gudang kosong yang sudah tidak digunakan lagi oleh perusahaan Fallay. Ia melihat Mehmet dan beberapa anak buah sahabatnya itu. Tampak juga dua orang duduk di dua buah kursi kayu dengan kepala yang tertutup karung.


"Buka penutup kepala mereka!" seru Mehmet kepada salah satu anak buahnya setelah ia melihat kedatangan Kenan.


Anak buah Mehmet membuka penutup kepala kedua orang itu. Mereka tampak pingsan, dengan raut wajah yang sudah babak belur setelah di hajar oleh Mehmet dan anak buahnya.


"Silahkan nikmati pestamu sobat! Tugasku sudah selesai," sambut Mehmet menyilahkan tangannya di depan Kenan seperti seorang penerima tamu.


Kenan mendekati dua orang yang terlihat pingsan yang duduk di atas kursi. Kedua tangan orang itu di ikat ke belakang dan mulut mereka di tutup oleh selembar lakban.


"Siram mereka dengan air!" seru Kenan.


Anak buah Mehmet menyiram kedua orang yang pingsan itu dengan seember air. Mereka pun terbangun dan terkejut melihat Kenan yang sudah berdiri di depan mereka.


Mehmet memberi kode kepada anak buahnya agar mereka membuka penutup mulut kedua orang itu.


"Kau...?" Kenan terkejut melihat salah satu dari kedua orang itu. Ia mengenali wajah salah satu dari mereka, pria kurus itu adalah karyawan perusahaannya.


"Kau mengenal mereka?" tanya Mehmet yang menghampiri Kenan.


Kenan tidak menjawab pertanyaan sahabatnya. Ia segera mencengkeram dan mengangkat tubuh pria kurus itu beserta dengan kursinya.


"Dia orang yang telah merusak lift perusahaan mu, membuat Hazal hampir celaka!" seru Mehmet yang berdiri di belakang Kenan.


"Kenapa kau ingin mencelakai Hazal?" tanya Kenan sambil menatap tajam wajah pria yang tubuhnya ada di dalam cengkeraman tangannya.

__ADS_1


"A...ada yang me...menyuruh...ku," kata pria kurus itu terbata-bata.


"Katakan siapa yang menyuruhmu!" pekik Kenan dengan wajahnya yang garang.


"Di...dia Tuan Kenan. Dia... yang menyuruhku." Pria kurus itu menoleh ke seorang pria lain yang duduk terikat di sampingnya.


"Dia yang mem... membayar ku untuk merusak lift itu, ke... ketika Hazal ma...masuk ke dalam. Ku...kumohon maafkan a...aku, Tuan." Pria kurus itu tampak ketakutan, badannya bergetar dan celananya basah karena air seninya yang tercecer keluar.


Kenan melepaskan cengkeramannya dari tubuh pria kurus itu, membuat pria itu terhempas ke lantai bersama dengan kursinya yang masih terikat dengan tangannya.


Manik mata abu-abu gelap itu menyorot tajam wajah pria lain yang berperawakan tinggi besar. Kenan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Telapak tangannya sudah mulai gatal untuk menghajar orang itu. Kini amarahnya sudah mencapai ke ubun-ubun.


"Kenapa kau ingin mencelakai Hazal?" nada suara Kenan benar-benar menekan dan mengintimidasi.


Tak ada jawaban dari pria itu, ia hanya menyeringai seakan meremehkan Kenan. Putra Harun itu nampak kehilangan kontrol dirinya, ia segera mencengkeram kerah kemeja pria itu, di lemparkannya kursi beserta pria itu hingga menatap dinding.


Pria berperawakan tinggi besar itu hanya tertawa menyeringai melihat kelakuan Kenan yang sudah melempar dirinya.


"Apa yang bisa dilakukan oleh putra Harun, hah? Kau itu pria lemah dan pecundang!" ejek pria itu sambil meludah di lantai.


Kenan berjalan menghampiri pria itu, dengan kasar ia mendudukkan kembali pria itu dikursinya.


"Kau ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh putra Harun, hah?"


Kekasih Hazal itu segera melepaskan jas hitam dan dasinya. Membuangnya begitu saja di lantai. Ia membuka kancing kemeja pada lengannya dan menggulungnya hingga ke atas sikunya. Di lepaskannya ikat pinggangnya. Ia melilit ikat pinggang itu di telapak tangannya. Sebuah gesper ikat pinggang yang terbuat dari besi ia letakkan di punggung telapak tangannya.


"Yang bisa dilakukan oleh putra Harun Fallay adalah ini...! teriak Kenan dengan wajah merah padamnya. Hati dan telinga nya memanas mendengar ejekan pria itu.


Dengan cepat ia menghajar pria itu habis-habisan tanpa ampun. Mulai dari wajah, kepala, dada dan perut. Pukulan Kenan semakin terasa pada pria itu karena adanya gesper besi yang ada di tangannya.


Pria itu terjatuh di lantai. Kenan berhasil merontokkan tiga buah gigi depan dan satu gigi geraham dari gusinya. Dari hidung dan mulut pria itu mengalir darah segar. Luka memar pada wajah pria itu kian bertambah.


Kenan kembali ingin menghajar pria itu, tetapi lawannya itu melakukan perlawanan dengan menendang tulang kering kekasih Hazal. Membuat Kenan memundurkan langkahnya. Tali pengikat pada pria itu akhirnya terlepas. Pria itu segera bangkit berdiri.


"Oh, kau sudah bisa membalas rupanya!" ejek Kenan sambil memasang kuda-kuda nya.


Kenan segera memukul tengkuk leher lawannya dengan sikunya, membuat tubuh pria itu mundur. Putra Harun itu segera menendang dagu pria berperawakan tinggi itu hingga tubuh besarnya terjungkal di lantai.


Kekasih Hazal itu segera menghampiri pria itu yang terlentang di atas lantai.


"Kenapa kau ingin mencelakai Hazal?" teriak Kenan sambil menginjak batang leher pria itu. Menekannya dengan kuat menggunakan sepatu pantofelnya.


Pria itu tampak akan kehabisan napasnya. Kenan mengangkat kakinya dan menginjak batang leher pria itu kembali.


"Cepat katakan, brengsek!" teriak Kenan dengan amarahnya yang tidak terkendali. Urat-urat syaraf mulai muncul di pelipis dan lehernya.


Manik mata pria itu tampak melotot, wajahnya mulai membiru karena kehabisan napas. Kedua tangan pria itu seakan hendak menggapai-gapai sesuatu di dekatnya.


"A...ayahmu, Harun yang me... menyuruh...ku," ucap pria itu hampir mendekati ajalnya.


Kenan segera menjauhi pria itu. Mehmet tampak melihat ada perubahan pada wajah sahabatnya itu.


"Kenan...," ucap Mehmet yang memegang tangan laki-laki itu.


Kenan menepis tangan Mehmet, ia segera berlari keluar menuju mobilnya.


"Kenan...!" teriak Mehmet yang mengejar sahabatnya itu, tetapi terlambat kekasih Hazal itu telah melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Mehmet segera kembali masuk ke dalam gudang. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mengurung kedua orang itu sampai Kenan memberikan perintah kepadanya.


Dengan gelap mata, Kenan melajukan mobilnya menuju rumah ayahnya. Hatinya tengah berkecamuk saat ini, memikirkan perkataan pria itu tadi. Ia memukul-mukul setir kemudinya dan berteriak-teriak di dalam mobil.


Mobil Kenan berhenti tepat di depan rumah Harun. Ia segera menendang pagar rumahnya sebelum penjaga rumah membukanya.


"Ayah...!" teriak Kenan dari halaman rumah.

__ADS_1


"Ayah, keluar kau...!" teriak Kenan lebih keras ketika ia sudah masuk ke dalam rumah.


"Katakan dimana ayahku?" tanya Kenan kepada salah satu pelayan nya. Nada suaranya terdengar seperti seekor harimau yang sedang mengaum.


Pelayan wanita itu tampak ketakutan melihat wajah Kenan yang menakutkan. "Tu...Tuan Harun a...ada di ruang kerjanya, Tuan."


Sepasang kaki itu melangkah lebar-lebar menuju ruang kerja ayahnya. Tanpa peduli sopan santun dan etika, Kenan menendang pintu kayu itu hingga terbuka lebar.


Harun yang sedang duduk-duduk santai di sofa terkejut melihat kelakuan anaknya. Rubah tua itu menoleh ke arah pintu.


"Apa kau sudah lupa bagaimana caranya membuka pintu, hah?" sindir Harun yang menatap wajah Kenan.


Kenan segera menghampiri ayahnya yang duduk di atas sofa. Ia segera mencengkeram kerah kemeja Harun, menarik tubuh ayahnya dan membuat pria paruh baya itu bangkit berdiri.


"Kenapa Ayah menyuruh seseorang untuk mencelakai Hazal?" tanya Kenan dengan penuh penekanan.


Kepalan tangannya ia arahkan ke wajah Harun. Manik matanya hampir keluar dari sarangnya. Dengan wajah geram dan penuh kebencian ia menatap wajah ayahnya tersebut.


Harun tampak terdiam. Ia sedang memutar otaknya untuk membersihkan namanya di hadapan putranya.


"Jawab aku, Ayah!" teriak Kenan dengan keras.


"Bagaimana Ayah bisa menjawab jika kau mencengkeram baju Ayahmu ini?" Kenan segera melepaskan tangannya dari kerah kemeja Harun.


"Kenapa kau berpikir Ayah sejahat itu?" Harun mengubah ekspresi wajahnya setenang mungkin, wajah tanpa dosa bak seorang bayi yang baru lahir.


Rubah tua itu kembali duduk di atas sofa nya, mengambil cerutunya dan menghisapnya dalam-dalam.


"Jangan bersandiwara di depan ku, Ayah! Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau bohongi!" teriak Kenan dengan pekikan suaranya.


"Ayah tahu kau sudah dewasa bahkan kau sudah punya kekasih. Seharusnya kau lebih berpikir dengan jernih, Kenan," ucap Harun sambil menaikkan salah satu kakinya ke kaki yang lain dan menyandarkan dirinya di sandaran sofa.


Kenan mengambil cerutu itu dari mulut Harun, membuangnya ke lantai dan menginjaknya dengan sepatunya.


"Cukup Ayah! Jangan membuat ku tambah marah dan semakin mencurigai Ayah!"


Harun tertawa melihat kemarahan putra nya itu. Ia menggelengkan kepalanya.


"Kenan... Kenan... Apa selama ini kau melihat Ayah membenci Hazal? Apa Ayah melarangmu untuk menjalin hubungan dengan putri Aksal itu?"


Kenan tampak terdiam, tidak menjawab pertanyaan ayahnya.


"Ketika kau membawa kekasihmu itu ke rumah ini. Apa Ayah mengusirnya atau menghinanya? Ayah malah menerima kehadirannya dengan tangan terbuka, menerimanya makan malam di rumah ini." Harun menjelaskan panjang lebar alibinya.


Kenan menatap tajam wajah ayahnya, ia mencoba mencerna perkataan ayahnya.


Apa yang dikatakan ayah memang benar. Selama ini ayah menerima kehadiran Hazal. Bagian mana yang terlihat kalau ayah adalah dalang dari semua ini?


Harun menyunggingkan senyumannya ketika ia melihat Kenan sudah mulai melunak.


"Duduklah, katakan kepada Ayahmu ini. Siapa yang telah memfitnah, Ayah?" Harun menarik tangan Kenan untuk duduk di sampingnya. Tetapi putranya itu menepis tangannya.


"Seseorang yang berhasil aku tangkap. Dia yang mengatakan bahwa Ayah yang menyuruhnya," jawab Kenan yang masih berdiri menghadap sofa, manik mata abu-abu gelap itu masih menyorot tajam.


Harun berjalan-jalan mengitari Kenan. "Apa kau lebih percaya orang luar daripada Ayah kandungmu sendiri?"


Sekali lagi Kenan tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia hanya mengepalkan kedua telapak tangannya, dan mengatupkan rahangnya.


"Anggap saja hari ini adalah hari keberuntungan Ayah. Tapi aku tidak akan berhenti, sampai menemukan siapa dalang dari semua ini! Jika aku sampai menemukan bukti keterlibatan Ayah, maka aku orang pertama yang akan melindungi Hazal dan melawan Ayah!" ancam Kenan.


Putra Harun itu segera melangkah keluar menuju mobilnya. Ia menyalakan kendaraan roda empat nya dan pergi meninggalkan rumah ayahnya.


"Dasar anak tidak tahu diri! Kau itu terlalu lemah, Kenan! Jika kau pria kuat, seharusnya kau seperti ku. Bukan seperti ibumu yang sakit-sakitan!" seru Harun sambil membanting pintu ruang kerjanya.


🔥 Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa setelah baca novelku ini kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2