DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Rencana busuk Alfred


__ADS_3

Menjelang akhir tahun, cuaca di Turki semakin dingin. Hamparan rumput yang hijau itu makin lama makin tertutup oleh sesuatu yang berwarna putih, lembut dan dingin. Jika orang lain menikmati musim dingin ini dengan bermain lempar bola salju, bermain ski dan sesuatu yang menyenangkan lainnya. Tetapi tidak untuk manusia yang satu ini, seorang pria paruh baya yang hidup dalam kesendiriannya, tanpa seorang istri ataupun anak. Seorang pria yang sedang mengkhawatirkan keselamatan dirinya saat ini.


Pengacara Alfred si pria paruh baya itu, hidupnya kini berada di ujung tanduk, tinggal menunggu waktu, kapan riwayatnya akan berakhir. Bisakah ia memilih di tangan siapa hidupnya akan berakhir? Jika ia bisa memilih, ia ingin hidup selamanya. Tapi dia bukanlah sang pemilik dari kehidupan ini.


Di tengah kerisauannya, ia sedang menelepon seseorang di kamarnya. Pengacara itu tengah berjalan ke sana kemari, menunggu sambungan ponselnya terhubung ke ponsel Emir Aksal. Jam dindingnya berdetak untuk yang kesepuluh kalinya, terdengar suara parau dari salah satu tuannya yang selalu memberinya makan setiap bulan.


"Ya, Alfred," sapa Emir yang sedang dalam perjalanan menuju ke ruang kerja Yafet.


"Emir, aku punya berita bagus untukmu," ucap pengacara Alfred sambil matanya memandang gundukan salju dari jendela kamarnya.


"Apa tentang persidangan Ted Baxter? Kalau itu aku sudah tahu. Minggu depan penjahat itu akan disidangkan," jawab Emir yang sudah berada di dalam ruang kerja Yafet.


Nampak di sana, Yafet yang sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan mendongakkan kepalanya, melihat ayahnya masuk ke ruang kerjanya sambil berbicara dengan seseorang di balik ponselnya.


"Bukan, Emir. Ini tentang siapa dalang di balik pembunuhan Erkan dan Ayla Danner." Pengacara itu sedang menebarkan umpannya di mulut tuannya.


Jantung Emir terasa berhenti satu detik, "Apa yang kau katakan? Kau tahu siapa yang menyuruh Ted Baxter untuk membunuh Erkan dan Ayla?" tanya Emir yang hampir tak percaya dengan perkataan pengacaranya itu.


Yafet yang sejak tadi fokus di laporan perusahaannya, membelokkan telinganya begitu mendengar percakapan ayahnya.


"Ya, aku baru mengetahuinya pagi ini. Tapi aku minta untuk kali ini, bisakah kau memberikan aku uang terlebih dahulu?" pinta Pengacara Alfred yang berniat menjual informasi tentang tuannya yang lain kepada Emir Aksal.


"Alfred, ini bukan pertama kalinya aku membayar jasamu, aku sudah menganggap mu sebagai bagian dari keluargaku, kenapa kau berubah seperti ini? Apa uang yang aku berikan padamu setiap bulan itu masih kurang?" sesal Emir yang merasakan ada sesuatu yang berubah dari orang kepercayaannya itu.


"Bukan... bukan begitu Emir. Hanya saja saat ini, aku ada keperluan mendesak."


"Jadi, berapa yang kau mau?" tanya Emir. Tetapi dengan cepat, Yafet merebut ponsel Emir dari tangan ayahnya dan menyalakan pengeras suaranya. Yafet memberi isyarat agar ayahnya tidak berbicara, ia ingin mendengar apa yang diinginkan oleh pengacara busuk itu.


"Berikan aku 500.000 Lira. Setelah uang itu aku terima, aku akan memberitahu siapa dalang di balik semua ini," kata pengacara bermuka dua tersebut.


Yafet dan Emir terkejut mendengar permintaan pengacara itu. "Alfred, apa kau sudah gila? Untuk apa uang sebanyak itu?"


"Ayolah... Emir, aku sudah bekerja untukmu cukup lama. Uang 500.000 Lira itu tidak seberapa dengan pengabdian ku padamu, dan tidak sebanding dengan informasi yang akan aku berikan. Satu permintaanku ini... tidak akan membuat perusahaan mu bangkrut," rayu pengacara paruh baya itu yang sedang duduk di ranjang tempat tidurnya.


Emir yang masih memandang hubungan baiknya dengan pengacara Alfred menyetujui permintaan pengacara tersebut, " Baiklah... aku akan menyuruh bagian keuangan untuk mentransfer uangnya," ucap Emir Aksal yang segera menutup ponselnya.


Yafet memandang wajah ayahnya sambil mengernyitkan keningnya. Seakan ia hendak bertanya, kenapa ayahnya begitu mempercayai serigala berbulu domba itu. Ia sudah sejak lama mencurigai adanya permainan kotor yang di lakukan oleh pengacara keluarganya itu, tetapi dirinya tidak mempunyai bukti yang bisa ia berikan kepada ayahnya.


Ternyata kebenaran berpihak kepadanya saat ini, tanpa ia harus bersusah payah mencari bukti pengkhianatan yang dilakukan oleh pengacara Alfred, pengacara busuk itu telah melepas topengnya sendiri.


"Dia sudah lama mengetahui kebenaran ini, Ayah. Hanya saja ia menunggu waktu yang tepat untuk memeras kita," jelas Yafet. Ia tidak menyetujui permintaan pengacara setengah tua itu. Terjadi perdebatan antara ayah dan anak.


"Tidak, Ayah !! Aku tetap pada keputusanku, aku tidak akan memberikan satu sen pun pada pengkhianat itu !! Ayah tidak bisa mengeluarkan dana perusahaan tanpa seijin ku !!" teriak Yafet kepada Emir Aksal.


Wajah Emir tampak terkejut mendengar teriakan Yafet. Segera Yafet menyadari kesalahannya, ia telah berkata kasar kepada ayahnya. Tanpa ayahnya, ia tidak akan berada di posisi puncak seperti ini. Perusahaannya ini adalah hasil kerja keras ayahnya juga. Tapi ia tidak rela memberikan sepeser uang nya kepada pengkhianat itu.


Ayahnya menepuk pundak Yafet, memberikan jawaban dalam bahasa tubuhnya bahwa dirinya memaafkan dan mengerti kenapa anaknya berkata seperti itu.

__ADS_1


Saat ini hati Emir masih bimbang, "Bagaimana jika informasi yang dikatakannya itu benar?"


"Jika pengacara itu di pihak kita, seharusnya ia membantu kita tanpa pamrih. Seharusnya sejak awal ia memberitahu siapa musuh kita sebenarnya. Kita tidak hanya fokus mengejar Ted Baxter saja, sementara penjahat sebenarnya masih bebas berkeliaran. Saat ini, ia sedang menjual informasi nya pada kita atau kemungkinan besar ia sedang menipu kita !!" jelas Yafet di hadapan ayahnya.


Mata hati Emir mulai terbuka, pria paruh baya itu mencoba mencerna perkataan anaknya. Perkataan anaknya itu masuk ke dalam logikanya. Ia benar-benar telah buta selama ini, tidak bisa membedakan siapa yang benar-benar domba dan siapa yang berlagak seperti domba padahal sebenarnya dia adalah seekor serigala.


"Ayah, kita pasti bisa menemukan dalang di balik pembunuhan itu tanpa bantuan pengacara Alfred. Ia sudah tidak bersih lagi," kata Yafet yang mencoba menenangkan hati ayahnya.


"Bukan itu yang Ayah takutkan. Yang jadi masalahnya adalah Alfred sudah tahu terlalu banyak tentang keluarga kita dan tentang asal usul Hazal. Ayah hanya takut, kalau Alfred juga menjual informasi tentang putri Danner yang masih hidup itu ke pihak lawan."


Kekhawatiran Emir Aksal ini cukup beralasan, karena dirinya dan Alfred yang menemukan Hazal kecil waktu itu. Yafet menatap wajah sang ayah, ia sangat mengerti dan memahami bahwa ayahnya sangat takut kehilangan Hazal. Seandainya dirinya adalah seorang putri Aksal juga, mungkin ia akan iri melihat ayah kandungnya lebih menyayangi anak orang lain daripada anaknya sendiri. Tetapi beruntunglah dirinya dilahirkan sebagai seorang putra Aksal.


"Ayah, aku tahu ayah sangat menyayangi Hazal. Aku juga sangat menyayanginya lebih dari hidupku sendiri. Tapi jika kita menuruti permintaan pengacara itu, bukan tidak mungkin ia akan menipu kita," ucap Yafet yang meminta ayahnya agar tidak terpancing perasaannya.


"Baiklah, Ayah serahkan semuanya kepadamu." Setelah membahas tentang masalah pengacara Alfred, kemudian ayah dan anak itu membahas masalah pekerjaan dan tentang tes DNA kandungan Selina.


Kekhawatiran Emir ternyata benar terjadi. Setelah menghubungi Emir Aksal, pengacara setengah tua itu keluar dari kamarnya dan sedang berdiri di ruang tamunya, ia mencoba menghubungi tuannya yang lain. Seekor binatang pun hanya bisa setia kepada satu tuan, tetapi pengacara busuk itu bahkan lebih buruk dari seekor binatang.


"Jika aku bisa mendapatkan uang dari kedua pengusaha itu, maka aku akan segera meninggalkan Turki !! Aku tidak peduli tentang urusan kalian berdua !!" gumamnya sambil menatap vas bunga yang berdiri di atas meja nakasnya.


Saat ini Harun sedang berada di ruang kerja Kenan. Bersama dengan seorang pengacara, mereka bertiga menandatangani pelimpahan hak dan wewenang Harun kepada Kenan. Putra Fallay itu sekarang menjadi pemegang keputusan termasuk keuangan di perusahaan Fallay. Harun juga memberikan setengah saham pribadinya kepada anaknya itu. Dengan memberikan seluruh haknya kepada Kenan, Harun ingin fokus menangani masalah yang membelenggu dirinya selama puluhan tahun ini.


Setelah proses penandatanganan selesai, ponsel Harun tiba-tiba berbunyi. Tertulis nama Alfred di layar ponselnya. Ayah Kenan itu segera keluar dan meninggalkan ruang kerja Kenan.


"Ya, ada apa?" tanya Harun yang berjalan menuju lift.


"Informasi apa?" tanya Harun begitu pintu lift itu terbuka, ia segera masuk ke dalam lift yang berbentuk tabung itu seorang diri.


"Ada harga yang harus kau bayar, Tuan Harun," kata pengacara Alfred dengan senyum liciknya.


"Kau pikir siapa dirimu, hah? Beraninya bernegosiasi dengan ku !!" bentak Harun yang langsung naik pitam, mendengar kekurangajaran anak buahnya.


"Ini adalah informasi yang sangat berharga, bahkan lebih bernilai dari emas. Kau pasti menginginkannya, Tuan Harun," rayu pengacara tersebut.


"Katakan informasi apa yang menarik bagiku, dan berapa kau mau?" tanya Harun sambil menyandarkan tubuhnya di salah satu dinding lift tersebut. Lift itu turun menuju ke lantai dasar.


"Ini tentang anak Erkan Danner. Berikan aku 500.000 Lira, maka aku akan memberitahu siapa sebenarnya anak Erkan Danner," ucap pengacara Alfred yang memberikan penawarannya.


Harun tertawa terbahak-bahak setelah ia mendengar permintaan pengacara itu. "Lelucon apa yang ini Alfred? Kau pikir dirimu itu sedang bermain opera sabun. Apa untungnya buatku mengetahui anak Erkan Danner? Dia tidak berarti apa-apa bagiku."


"Jika dia tahu... siapa yang telah membunuh orang tuanya, dia tidak akan melepaskan dirimu, tuan Harun," kata pengacara itu mencoba menakut-nakuti Harun.


Pintu lift terbuka, hamparan lantai marmer bertekstur floral menyambut Harun. Sepasang kaki itu melangkah keluar, dalam diam Harun memikirkan perkataan anak buahnya itu.


Apa dia mencoba membodohi ku? Setahuku Ted Baxter sudah membunuh istri dan putri Erkan. Apa ada anak Erkan yang lain, yang tidak aku tahu? Kelihatannya informasi ini cukup menarik....


"Aku sendiri yang akan mengirim uangnya kepadamu," kata Harun yang menyetujui permintaan pengacara parasit itu.

__ADS_1


"Kau tidak perlu repot-repot, Tuan Harun. Kau bisa mentransfer uangnya ke rekening bank ku," sanggah pengacara itu yang ingin menghindari pertemuannya dengan Harun.


"Apa kau pikir aku bodoh, hah? Membeli seekor kucing di dalam karung, tanpa membuka karungnya? Bisa saja kucing yang kau berikan itu hanyalah kucing kampung, bukan kucing Anggora !!" umpat Harun yang sudah mulai curiga dengan permintaan anak buahnya.


"Aku akan menghubungi mu lagi," kata Harun begitu ia melihat sopirnya datang menjemput.


Pengacara Alfred mendengus kesal ketika mendengar saluran ponselnya di matikan oleh Harun. Mengelabui rubah tua itu tidak semudah bayanganku...


Di ruang tahanan Kantor Polisi Pusat...


Suasana dingin dan lembab terasa di ruang belakang di Kantor Polisi Pusat. Ruang belakang dari bangunan kuno ini memang di desain sebagai ruang tahanan untuk para tersangka yang belum disidangkan.


Ruang tahanan ini terbagi menjadi beberapa ruang kecil. Setiap ruang hanya di batasi oleh sekat jeruji besi, masing-masing ruang kecil itu bisa menampung lima orang tersangka, dan di ruang tahanan ini terdiri dari enam ruang kecil.


Setiap hari para tersangka menunggu gilirannya untuk menghadapi jalannya persidangan yang akan menentukan masa depan mereka. Setiap hari pula, satu dua orang tersangka dipindahkan ke penjara setelah hakim memutuskan perkara mereka, dan di hari yang sama petugas polisi mengisi tempat mereka dengan orang yang baru. Begitulah rutinitas setiap hari di balik jeruji besi itu.


Seorang petugas polisi membawa masuk Ted Baxter untuk kembali ke ruangannya. Sore ini, ia mendapat kunjungan dari pengacaranya. Setelah pertemuannya dengan Hazal, ia mencoba mencari tahu tentang keberadaan istri dan anaknya. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Nuran, istrinya tapi tidak berhasil. Kemudian ia meminta bantuan pengacaranya untuk mencari tahu tentang keberadaan mereka.


Ted Baxter kembali masuk ke dalam ruang tahanan, wajahnya sangat kusut. Dengan tangan yang terborgol di depan, ia memegang jeruji besi yang dingin itu dengan sangat erat. Dibenamkannya wajahnya di kedua punggung tangannya. Rasa dingin jeruji besi itu menjalar menyentuh saraf wajahnya.


Anakmu telah berhasil di selamatkan, seorang pengusaha muda yang bernama Yafet Aksal telah membiayai operasi anakmu, dan kini istri dan anakmu berada di rumah keluarga Aksal. Istrimu bekerja di rumah keluarga itu...


Itulah perkataan yang baru saja ia dengar dari mulut pengacaranya. Orang yang memasukkan nya ke penjara itu yang telah menolong istri dan anaknya.


Ted Baxter mengangkat kepalanya, menengadah ke langit-langit. Tangannya bergetar. Sebuah penyesalan menyelimuti hatinya...


Ia menyesal...sangat menyesal karena telah gagal menjadi seorang ayah...dan suami.... Disaat anaknya berjuang melawan hidup dan mati, dimana dirinya saat itu...saat itu adalah titik terendah bagi istrinya, ia malah sedang menikmati surga duniawi nya dengan seorang wanita penghibur.


Betapa egoisnya dirinya....betapa bodoh dan menjijikkannya dirinya.Tetesan cairan bening itu menerjang bendungan yang selama ini terbangun dengan sangat kokoh dan kuat.


Meskipun anaknya berhasil di selamatkan, apakah istri dan anaknya bisa memaafkannya? Apakah ia masih punya kesempatan untuk memperbaiki itu semua? Kehilangan ayah dan ibunya, membuat pria bertubuh besar itu terpukul...dan menyadari bahwa uang bukanlah segalanya. Sementara waktu hidupnya saat ini berada di ketukan palu sang hakim.


"Aaaaaaahhhhhhhh.....," pekikan teriakan Ted Baxter dari balik jeruji besi. Ia membenturkan kepala gundulnya pada jeruji besi itu.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih buat kalian yang sudah membaca novel ku ini 😊 Jangan lupa kasih tip ya buat Author bisa berupa...


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar atau


🤗 Vote kalian


Karena tip kalian, bisa membuat Author makin ber halu dan makin rajin nulisnya.... Terimakasih 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2