
Suara tembakan dari pistol Hazal menggema di seluruh ruangan. Ia telah berhasil melubangi lima kaleng bekas minuman dari lima kaleng yang tersedia. Ia kembali membidikkan senjata apinya ke sepuluh kaleng bekas yang tersusun membentuk piramida.
Kepulan asap keluar dari lubang senapannya setelah ia berhasil merobohkan susunan kaleng itu dan melubangi setiap badan kaleng.
Kali ini ia menekan tombol berwarna biru yang ada di dekat saklar. Muncullah dua buah patung pria dan wanita dari sebuah lubang yang ada di depannya. Kedua patung itu bergerak maju ke depan dengan di kontrol oleh sebuah mesin penggerak otomatis. Tepat di garis berwarna merah sekitar tiga meter jaraknya dari tempat Hazal berdiri, kedua patung itu berhenti sekitar satu menit. Kemudian sebuah alat penggerak yang ada di bawah kedua patung itu menggerakkan benda berwujud manusia tersebut untuk bergerak ke kanan dan ke kiri sepersekian detik.
Sekali lagi Hazal membidikkan senapannya ke arah dua patung manusia yang bergerak itu. Ia mulai beraksi dengan senjata apinya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan munculnya tiga buah kepala badut dengan rambut dan bibir merahnya yang menyeringai di antara kedua patung itu. Tembakan dan aksi Hazal berlangsung sangat cepat, ia berhasil menyelesaikan itu semua hanya dalam waktu satu menit.
Mesin penggerak itupun berhenti secara otomatis, Hazal menurunkan pistolnya. Ia melihat hasil karyanya dimana ia berhasil melubangi lima buah maneken. Ia memberikan dua peluru pada tiap-tiap maneken itu, tepat di kepala dan dada mereka.
Suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk. Sepasang kaki tengah melangkah berjalan ke tempat Hazal berdiri.
"Wow! Luar biasa! Kau semakin hebat! Mungkin kau punya bakat terpendam menjadi seorang agen rahasia," ucap Yafet dengan tawanya yang renyah.
Hazal tersenyum manis mendengar perkataan Yafet.
"Kau terlalu banyak nonton film action. Kurasa kau juga tidak cocok menjadi seorang pebisnis," ejek Hazal sambil tertawa memperlihatkan belahan dagunya.
"Menurutmu?" Yafet merentangkan kedua tangannya ke samping dan mengangkat kedua bahunya.
Hazal meletakkan kedua tangannya di atas pundak Yafet, manik matanya berputar-putar mencari sebutan yang cocok untuk pria itu.
"Kurasa kau lebih cocok menjadi kepala mafia, daripada menjadi seorang pengusaha. Aku heran saja, tidak adakah sifat Ayah Emir atau Ibu Meral yang menurun padamu?"
Sepasang mata elang itu segera melotot keluar mendengar perkataan Hazal, sebuah senyuman paling jahil terlukis dari wajahnya. Yafet segera melingkarkan tangannya ke pinggang Hazal. Ia mengangkat tubuh Hazal tinggi-tinggi dan memutarnya tiga ratus enam puluh derajat.
"Yafet, turunkan aku...!" seru Hazal dengan tawanya, ia memukul-mukul punggung pria itu. Tetapi pria itu hanya menjawab seruan Hazal dengan tawanya.
"Yafet....!" teriak Hazal sekali lagi. Kedua kakinya mulai menendang-nendang.
Yafet segera menurunkan Hazal. Mereka berdua pun tertawa dengan lepas.
"Kenyataannya kau lebih menyukaiku daripada ayahku," ucap Yafet dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Manik matanya memandang wajah Hazal dengan lembut.
Hazal memukul kening kakak angkatnya itu dengan telapak tangannya, "Perkataan mu itu sungguh konyol! Jelas aku lebih menyukaimu, aku lebih menyayangimu dan aku lebih...."
Hazal menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, ia tidak melanjutkan perkataannya. Wajahnya tampak merona merah.
__ADS_1
"Lanjutkan perkataan mu yang terakhir," ucap Yafet memandang lembut manik mata coklat itu. Ia tahu apa perkataan selanjutnya. Ia sengaja ingin mengerjai wanita itu.
"Sudah lupakan saja!" seru Hazal yang tidak dapat menyembunyikan perasaannya kepada Yafet. "Aku hanya kelebihan bicara saja. Apa kau membawa berkas yang ku minta?"
Hazal mencoba mengalihkan pembicaraannya ke fokus utama pertemuannya dengan Yafet.
"Tentu saja!" seru Yafet yang segera membuka tas ranselnya yang ada di kursi dan memberikan sebuah berkas kepada Hazal.
Mereka berdua pun duduk di atas kursi panjang yang terbuat dari besi. Manik mata Hazal mencari nama Harun Fallay di daftar nama warga negara Turki yang masuk ke negara Swiss dua puluh tahun yang lalu. Di kurun waktu ayah dan ibunya di bunuh.
"Ini dia!" seru Hazal dengan manik mata yang berbinar-binar. Ia segera menunjukkan kertas yang memuat foto dan nama Harun di sana.
"Berarti dugaan ku tepat, Harun berada di Swiss, ketika ayah dan ibuku terbunuh. Keluargaku dan rubah tua itu datang ke Swiss di tanggal 2 Januari 2000, tapi dengan penerbangan yang berbeda. Ted membunuh orang tua ku di tanggal 3 Januari 2000 pada malam hari. Kemungkinan setelah mendapatkan kabar dari Ted, bahwa pekerjaannya berhasil. Harun segera meninggalkan Swiss di tanggal 3 Januari 2000, dengan penerbangan terakhir," jelas Hazal memaparkan argumentasi nya.
"Menurut ku masuk akal. Polisi Swiss baru mengetahui kejadian pembunuhan itu di pagi hari, mereka pasti menutup akses bandara jika diketahui ada warga negara Turki meninggal di negaranya. Sementara Harun si rubah tua itu sudah bermimpi indah di rumahnya di Turki," kata Yafet dengan antusias.
Hazal segera menulis apa yang sudah di temukan nya di buku diary nya.
"Dengan begitu, Harun lolos dari pemeriksaan," timpal Hazal.
Tapi wajah Hazal masih tidak terlihat puas dengan temuannya. "Kita masih belum menemukan bukti yang kuat. Dengan argumenku, dia bisa mematahkan dan memutarbalikkan semuanya."
"Itu sebabnya ku sarankan kau jadi mafia saja, kau hanya tahu masalah tembak menembak," ejek Hazal yang memulai dengan leluconnya.
"Tunggu saja pembalasan ku," ucap Yafet dengan raut wajah dan tawa penuh misteri.
"Harun bisa mengelak bahwa ia pergi ke Swiss untuk urusan bisnis, karena perusahaan Fallay mempunyai cabang di sana. Jadi aku harus menemukan bukti yang memperkuat dugaan ku itu," ucap Hazal dengan tatapan mata yang serius.
"Jika aku jadi dirimu, aku mungkin sudah memecahkan kepalanya dengan satu tembakan!" seru Yafet yang tidak sabar melihat Harun mendapatkan hukumannya.
"Nah, betulkan perkataan ku. Kau selalu mengandalkan emosimu dan kekerasan. Sayangnya aku bukan kau. Aku akan menyeret Harun ke persidangan," ucap Hazal yang bangkit berdiri dan menjauhi Yafet beberapa langkah.
"Jika kau tidak berhasil menyeretnya?" tanya Yafet yang penasaran dengan rencana Hazal, ia bangkit berdiri dan menghampiri wanita itu.
"Terpaksa aku akan memakai caramu," ucap Hazal sambil tersenyum tipis memandang mata elang yang ada di sampingnya.
Yafet mengusap puncak kepala Hazal dan mengecup rambut coklat itu. "Aku akan selalu ada di sampingmu dan mendukungmu."
__ADS_1
"Yafet, ada hal lain yang ingin aku katakan padamu. Minggu depan aku dan Kenan akan pergi ke Swiss," ucap Hazal sambil menggenggam erat telapak tangan Yafet. Ia sengaja melakukan hal itu untuk menenangkan hati mantan kekasihnya itu.
Ternyata cara Hazal tidak sepenuhnya berhasil, nyatanya pria itu mengatupkan kedua bibirnya dan mengeraskan rahangnya.
"Berdua?" Yafet mengernyitkan dahinya.
"Ya. Hanya urusan bisnis. Ada perusahaan manufaktur di Swiss yang ingin bekerjasama dengan perusahaan Fallay. Ia mengajakku untuk tinggal di rumah Harun," jelas Hazal yang masih memegang tangan Yafet.
"Kau ingin menyelidiki rumah itu?" Yafet kembali mengernyitkan dahinya.
Hazal menganggukkan kepalanya sekali. "Ini satu-satunya kesempatanku."
"Kau terlalu membahayakan dirimu!" Yafet tampak kesal dengan sikap Hazal yang selalu memutuskan sesuatu seorang diri tanpa melibatkan dirinya.
"Aku akan baik-baik saja. Kau jangan khawatir." Hazal mencoba meyakinkan kakak angkatnya itu.
"Berapa hari kau akan pergi?" tanya Yafet dengan sedikit emosi.
"Sekitar tiga atau empat harian," jawab Hazal.
"Tiga hari setelah kepergianmu, jika anak pembunuh itu tidak memulangkanmu, aku akan membuat perhitungan dengannya!" seru Yafet yang segera berbalik membelakangi Hazal.
Hazal segera menghembuskan napasnya dalam-dalam. Ia tahu Yafet tak pernah main-main dengan ucapannya.
Suara ponsel Hazal tiba-tiba berdering mengejutkan kedua orang itu. Hazal segera membuka tasnya dan mengambil ponselnya.
"Halo...," sapa Hazal membuka percakapannya.
"Hazal, ini aku Mert. Aku menemukan sesuatu yang mencurigakan di ruang kerja Harun," ucap Mert sambil berbisik di ujung ponsel Hazal.
"Apa itu?" Hazal mendengar dengan seksama.
"Beberapa anak kunci. Ada salah satu anak kunci yang bertuliskan SWISS dan ada satu kotak besi. Aku belum berhasil mengambilnya, ia menyembunyikan nya di belakang lukisannya. Jika aku punya kesempatan, aku akan mencurinya," ucap Mert kembali berbisik.
Tetapi belum sempat Hazal berbicara, sambungan ponsel itu terputus.
"Mert... Mert... Halo Mert...!" teriak Hazal di depan layar ponselnya.
__ADS_1
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima, atau Vote kalian 🤗 Terimakasih 🙏