DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Berkunjung Ke Sarang Rubah Tua


__ADS_3

Awal musim semi mengantarkan sepasang kekasih ini berada di sebuah perkebunan anggur. Mereka sedang berbaring bersama di bawah pohon besar yang rindang. Hembusan angin semilir yang membuat setiap mata masuk ke dalam peraduannya.


Hazal memiringkan tubuhnya di samping Kenan. Manik mata coklat itu menatap dalam-dalam manik mata yang ada di depannya. Di usapnya kening dan rambut Kenan yang berwarna hitam lebat yang ada di bawah matanya. Begitu juga tangan Kenan yang mengusap dengan lembut pipi dan bibir merah Hazal, menggambar garis bibir kekasihnya itu dengan ujung jari tangannya.


"Kenan, boleh aku bertanya satu hal lagi padamu?"


"Katakan saja?" Kenan melepaskan tangannya dari bibir Hazal. Kini ia melihat sebuah sarang burung yang menempel di sebuah dahan yang ada di atas kepalanya.


"Jika suatu hari nanti, aku dan ayahmu terlibat konflik yang tidak ada jalan keluarnya. Dan kau berada di tengah-tengah ayahmu dan aku. Siapa yang akan kau pilih. Aku atau ayahmu?" tanya Hazal yang masih menatap manik mata abu-abu gelap itu.


Kenan menghembuskan napasnya dalam-dalam, kemudian dia berdiri. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu kekasihnya itu berdiri di hadapannya.


"Satu hal yang tidak aku percaya, bahwa di dunia ini tidak ada satu masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya," ucap Kenan sambil memegang kedua lengan Hazal.


Ujung depan bibir Hazal sedikit terbuka, manik mata coklat itu nampak bergerak-gerak. Ia mencoba mencerna kata-kata Kenan.


"Jangan memberi ku pilihan. Tapi aku akan mencari jalan keluar untuk mu dan ayahku," ujar Kenan dengan senyumannya yang menawan.


Hazal hanya bisa menggigit bawah bibirnya, menanggapi perkataan Kenan.


Bukan itu jawaban yang aku inginkan, Kenan. Jawabanmu itu terlalu ambigu. Kau takkan bisa mengibarkan bendera perdamaian antara aku dan ayahmu.


"Ada apa? Kau kelihatannya tidak puas dengan jawabanku?" Kenan mengernyitkan dahinya. Ia memegang kedua pipi Hazal dengan kedua tangannya.


"Tidak." Hazal menggelengkan kepalanya pelan di dalam rengkuhan tangan Kenan. "Aku hanya bertanya. Sudah lupakan saja."


Putra Harun itu mencium kening Hazal dengan lembut sambil menutup matanya. Ia memeluk Hazal dengan sangat erat. Dalam pandangannya yang gelap ia berkata, "Pikirkan hal-hal yang baik saja, jangan berpikiran yang tidak-tidak."


Sebelum Hazal mengeluarkan perkataannya, Kenan telah lebih dulu mencium bibir merahnya dengan lembut. Tangan nya mengusap punggung dan leher kekasihnya. Sekali lagi Hazal mulai terbawa dengan permainan bibir dan sentuhan tangan Kenan yang menaikkan aliran darahnya hingga ke ubun-ubun. Ciuman itu kemudian berhenti ketika mereka berdua sama-sama kehabisan napas.


Setelah puas menikmati pemandangan perkebunan anggur bersama Hazal, akhirnya Kenan membawa mobilnya kembali ke Istanbul.


Hari sudah menjelang sore ketika mereka sudah masuk ke kota Istanbul. Kenan membawa Hazal ke suatu tempat yang tidak pernah wanita itu pikirkan sebelumnya.


Mobil Kenan berhenti di depan tempat pemakaman. Satu-satunya tempat pemakaman yang ada di kota Istanbul. Hampir semua warga Istanbul di makamkan di tempat ini.


Kenan menggandeng tangan Hazal untuk menyusuri setiap gundukan tanah yang ada di tempat itu. Sampailah mereka berada di sebuah pusara besar. Di pusara itu tertulis nama DILARA FALLAY.


"Ini adalah makam ibuku. Aku baru bisa membuatkannya sebuah batu nisan yang layak setelah aku kembali ke Turki lima tahun yang lalu." Kenan mengusap wajahnya di depan pusara itu.


Terlihat pusara itu dalam kondisi baik dan terawat. Hampir tidak ada rumput-rumput liar disekitar pusara itu.


Hazal mengusap punggung Kenan sambil memandang pusara yang ada di depannya. Ia juga turut merasakan kesedihan putra Harun itu. Membayangkan seorang wanita yang menjadi istri seorang pembunuh seperti Harun. Seorang istri yang tidak pernah di cintai oleh suaminya seumur hidupnya.


Entah siapa di antara kami berdua yang paling menderita. Aku atau Kenan.


"Setiap pergantian musim, aku selalu mengunjungi makam ibuku. Membersihkan pusaranya dan mengajaknya berbicara. Meskipun kedengarannya itu hal yang konyol dan tidak waras. Aku berbicara dengan sebuah batu dan tanah ini," isak dan tawa Kenan bercampur jadi satu.


"Tapi setelah berbicara dengannya, hati ku sedikit merasa lega." Air mata Kenan mulai menetes membasahi wajahnya.


Kali ini hati dan perasaan Hazal lebih dominan daripada pikirannya. Melihat Kenan yang sedang bersedih, dengan spontan ia memeluk laki-laki itu lebih dulu. Ia merengkuh putra Harun itu dan mengusap puncak kepala nya. Antara kenyataan dan sandiwara sangat tipis perbedaannya.


"Ibumu pasti bangga mempunyai anak sepertimu," ucap Hazal sambil mengusap wajah Kenan. Membersihkan setiap air mata laki-laki itu.


"Aku tak apa. Aku jadi terlihat lemah di depanmu," ucap Kenan sambil mengalihkan wajahnya ke arah lain. Ia mengedip-ngedipkan matanya, agar air mata itu segera kering.


"Tidak ada orang yang datang kesini dengan perasaan bahagia, mereka pasti akan menangis. Begitu juga dengan ku," ucap Hazal sambil kembali berdiri di samping Kenan.

__ADS_1


"Apa kau juga pernah kehilangan anggota keluarga mu?" tanya Kenan yang mengernyitkan dahinya menatap wajah Hazal.


Hazal segera menyadari ucapannya. Ia segera mengkoreksinya. "Ti-dak. Mak... maksudku seandainya saja."


Hari sudah menjelang senja, sebentar lagi cahaya purnama akan muncul di langit kota Istanbul. Kenan segera mengajak Hazal untuk segera keluar dari tempat pemakaman ini.


Mereka berdua melewati area yang sering di lalui Hazal ketika ia mengunjungi pusara kedua orangtuanya. Di tengah jalan, ia melewati kedua pusara itu. Sengaja Hazal berjalan lebih melambat di belakang Kenan. Manik matanya tampak berkaca-kaca melihat dua gundukan tanah yang sudah tertutup rumput. Baru kali ini ia hanya melewati pusara ayah dan ibunya.


Ayah... ibu... maafkan aku yang tidak mengunjungi kalian saat ini. Hati ku tidak sanggup membawa anak pembunuh itu ke hadapan pusara kalian.


"Sepertinya kau sedang memperhatikan kedua pusara itu?" Suara Kenan tiba-tiba mengejutkannya. Laki-laki itu membaca nama pada kedua pusara itu.


Hazal segera menarik tangan Kenan agar menjauhi pusara orang tuanya. Wanita itu menggandeng tangan Kenan dan mereka berjalan meninggalkan pusara itu.


"Sepertinya aku pernah mendengar nama keluarga Danner. Tapi di mana ya?" Kenan sedang menggaruk batang hidungnya yang tidak gatal sambil berjalan menggenggam tangan Hazal.


"Apa mereka kerabat mu?" Kenan menghentikan langkahnya. "Apa kau ingin mengunjungi pusara itu?"


"Ti...tidak. Pusara besar itu sedikit menarik perhatianku saja. Mung...mungkin mereka sepasang suami istri yang meninggal dunia secara bersamaan," elak Hazal dengan wajahnya yang sedikit gugup.


Hazal sedikit bisa bernapas lega, karena Kenan tidak menanyakan lagi tentang pusara orang tuanya.


Kedua anak manusia ini pun kembali masuk ke dalam mobil berwarna hitam. Kenan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Mungkin kita akan sampai rumahmu saat jam makan malam," kata Kenan di balik setir kemudinya. Manik matanya sudah mulai fokus memperhatikan jalan raya.


"Bagaimana jika kita makan malam di rumah ayahmu?" Hazal mengutarakan idenya yang terselubung. Ia teringat dengan hasil panen Mert yang harus segera diambilnya.


"Ide yang bagus," jawab Kenan sambil membelokkan mobilnya ke sebelah kiri. Ia segera melajukan kendaraannya menuju rumah ayahnya.


Hari sudah mulai gelap ketika kedua orang muda-mudi itu sampai di rumah keluarga Fallay. Seorang penjaga rumah membukakan pintu gerbang untuk Kenan dan Hazal.


Kenan menggandeng tangan Hazal untuk masuk ke dalam rumahnya. Manik mata coklat itu memperhatikan setiap sudut-sudut yang ada di rumah itu.


Dimana Mert? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi. Apa telah terjadi sesuatu padanya?


"Jangan gugup. Bukankah kau dan ayahku sudah pernah bertemu di kantor?" Kenan memegang kedua pundak Hazal dan menuntunnya untuk masuk ke ruang keluarga.


"Tapi waktu itu aku masih menjadi sekretarismu, bukan kekasihmu," ucap Hazal yang membalikkan badannya menghadap Kenan. Saat ini dirinya bukan gugup karena akan bertemu dengan Harun. Tapi dirinya sedang mencemaskan Mert.


Terdengar suara derap langkah sepasang sepatu yang mengintimidasi memasuki ruang keluarga, dimana Kenan dan Hazal berada.


"Ternyata kau pulang membawa seorang tamu." Suara berat itu mengejutkan Hazal yang sedang menatap jendela yang terbuka.


Kenan memeluk pinggang Hazal dan mengajaknya mendekati ayahnya. "Dia bukan tamu, Ayah. Tapi dia adalah kekasihku. Kami berdua akan makan malam di sini."


Harun menampilkan senyumannya yang penuh dengan sandiwara dan tipu muslihat untuk menyambut kedatangan Hazal di dalam rumahnya.


"Kekasih?" tanya Harun sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Ya, baru beberapa hari." Kenan mengambil dua gelas wiski tanpa es. Memberikan nya pada Hazal dan meminumnya sendiri. Hazal yang tidak biasa minum, hanya meneguk sedikit minuman beralkohol itu.


"Baguslah. Kurasa kalian sangat cocok." Harun duduk di sofa tunggalnya sambil menuang segelas wiski nya. Kenan dan Hazal duduk di sebuah sofa panjang di dekat sofa Harun.


"Bagiamana kabar keluargamu, Hazal. Apa mereka baik-baik saja?" tanya Harun berbasa-basi.


"Ya. Mereka semua baik-baik saja." Hazal hanya menjawab datar pertanyaan Harun.

__ADS_1


Seorang pelayan memberitahu bahwa makan malam sudah siap di meja makan. Harun mengajak Kenan dan Hazal untuk menuju ke ruang makan.


Di meja makan berbentuk persegi panjang itu sudah tersedia aneka jenis makanan, aneka buah-buahan dan minuman. Piring-piring beserta alat makan sudah tertata rapi di atas meja sesuai dengan tempat duduk mereka.


Kenan menarik salah satu kursi makan untuk Hazal yang ada di sampingnya. Sedangkan dirinya dan ayahnya duduk di kursi mereka seperti biasanya.


Acara makan malam pun di mulai, Hazal membuka tisu yang membungkus garpu dan pisaunya. Tampak sebuah tulisan tangan ada di tisu tersebut.


Setelah makan malam, temui aku di tepi kolam renang.


Hazal segera melipat-lipat tisu itu menjadi bentuk paling kecil. Ia sedang memperhatikan wajah Harun dan Kenan. Ayah dan anak itu sedang menikmati makan malam mereka. Ia segera memasukkan lipatan tisu itu ke dalam saku celananya.


Sambil menikmati makanannya, sesekali Harun memperhatikan gerak-gerik Hazal, begitu juga dengan wanita itu. Pria paruh baya itu juga memperhatikan cara makan dan cara minum Hazal. Senyum dan sorot mata Hazal ketika wanita itu berbicara dengan Kenan.


Pasti ada yang salah. Putri Emir Aksal ini lebih mirip dengan dirimu...


"Ada apa Tuan Harun? Kenapa anda memandang ku seperti itu?" Hazal memberanikan dirinya untuk mulai berbicara dengan ayah Kenan.


Kenan juga mulai memperhatikan Ayahnya yang sedang menatap wajah Hazal. "Apa ada yang salah dengan Hazal?"


Harun seketika tersadar mendengar perkataan kedua orang yang ada di depannya. "Tidak. Tidak ada apa-apa. Seperti nya kekasihmu ini mengingatkan Ayah pada seorang teman lama."


"Lanjutkan makan malam kalian," ucap Harun sambil mengambil minumannya. Meneguknya dengan cepat kemudian pergi meninggalkan Kenan dan Hazal di ruang makan.


"Ada apa dengan ayah mu?" tanya Hazal yang merasa bahwa rubah tua itu sudah menemukan sesuatu di dalam dirinya.


Apa Harun sudah mengetahui siapa aku sebenarnya? Tidak... tidak... ini mungkin hanya pikiranku saja. Jika dia tahu siapa diriku, dia pasti akan langsung membunuhku.


Kenan hanya mengangkat kedua bahunya. "Lanjutkan saja makan malam mu. Mungkin ayahku sudah mengantuk."


Acara makan malam telah selesai. Kenan segera bangkit berdiri dari kursi makannya.


"Aku ke toilet dulu," ucap Kenan yang meninggalkan Hazal sendirian di ruang makan.


Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Hazal. Ketika dilihatnya Kenan sudah keluar, ia segera mengendap-endap berjalan keluar mencari kolam renang. Ia melewati ruang kerja Harun yang tertutup pintunya.


Dimana letak kolam renangnya?


Kini Hazal masuk ke dapur. Ia bertanya pada seorang pelayan wanita yang sedang membersihkan meja dapur.


"Permisi, apa kau tahu di mana letak kolam renang? Tadi Kenan memberitahuku bahwa ia menungguku di sana."


"Nona bisa berjalan lurus ke depan, belok kanan. Di situ ada pintu. Bukalah pintu itu, kolam renang ada di sana," jawab pelayan tersebut.


Hazal segera mengucapkan terimakasih kepada pelayan itu. Ia segera berjalan mengikuti petunjuk yang di berikan oleh pelayan tersebut.


Hazal membuka pintu kayu yang ada di depannya. Tampak sebuah kolam renang besar di belakang rumah itu. Cahaya lampu temaram itu menyinari permukaan air kolam. Ia berjalan menyusuri tepi kolam renang itu untuk mencari Mert.


"Hazal...," bisik Mert yang bersembunyi di balik pohon yang ada di belakang Hazal.


Wanita itu segera membalikkan badannya dan melihat Mert. Mereka melihat sekeliling tempat itu, tidak ada siapapun di sana selain mereka.


"Cepat berikan benda itu!" seru Hazal kepada Mert. Ketika pemuda itu sedang merogoh saku celananya.


Mereka berdua segera melakukan transaksi rahasia mereka. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Terdengar suara langkah kaki yang masuk dan mendekat ke arah mereka. Makin lama makin mendekat dan sosok laki-laki itu makin terlihat dengan jelas. Raut wajah Hazal dan Mert terlihat sangat pucat ketika laki-laki itu berdiri di depan mereka.


🔥 Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya... Terimakasih 🙏


__ADS_2