
Setalah selesai membereskan kekacauan akibat perang bantal yang mereka lakukan, Hazal pergi ke kamarnya sendiri. Sementara Yafet membersihkan dirinya di kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah bertemu di penghujung tangga di dalam rumahnya.
"Apa hari ini kau jadi pergi ke kantor Kejaksaan?" tanya Yafet yang melihat Hazal sudah memakai pakaian formalnya, ia kemudian memberi jalan agar Hazal turun terlebih dahulu.
"Ya," jawab Hazal sambil menuruni anak tangga satu per satu. Di ikuti oleh langkah kaki Yafet yang ada di belakangnya.
Setelah sampai di lantai bawah, mereka berdua segera menuju ke ruang makan. Di ruang makan Emir dan Meral sudah menunggu kedatangan mereka untuk melakukan makan pagi bersama. Seperti biasa, Yafet selalu duduk di samping Hazal.
"Pagi Ayah... pagi Ibu," sapa mereka bersamaan.
"Hari ini kau rapi sekali, nak?" tanya Emir kepada Hazal.
"Ayah, hari ini aku akan mendaftarkan diriku di kantor Kejaksaan," jawab Hazal sambil mengambil roti isi dan ayam goreng untuk Yafet dan untuk dirinya sendiri. Emir dan Meral memperhatikan sikap Hazal kepada Yafet.
"Semoga harimu beruntung, sayang. Ayah perhatikan sejak kemarin, kau selalu mengambilkan makanan untuk Yafet. Ayah juga mau. Letakkan roti lapis dan ayam goreng itu ke piring Ayah," ucap Emir sambil menyerahkan piringnya kepada Hazal.
"Apa Ayah cemburu, melihat Hazal lebih memperhatikanku? Ayah bisa meminta Ibu untuk mengambilkan ayam goreng kesukaan Ayah," cibir Yafet. Emir menjadi salah tingkah dengan ucapan putranya, segera ia menarik kembali piringnya dan memberikannya kepada istrinya. Kedua wanita yang ada di ruang makan itu tampak tertawa melihat tingkah laku kedua laki-laki ini. Kemudian Hazal berdiri dari kursi makannya dan mengambil roti lapis dan ayam goreng untuk ayahnya.
"Terimakasih, sayang," ucap Emir yang tampak bahagia di perhatikan oleh putrinya. "Lihatlah putriku yang masih peduli padaku." Ketiga orang yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Emir, dan kembali melanjutkan makan pagi mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, kedua anak muda ini berpamitan dan mencium kedua pipi orang tua mereka. Mereka berjalan keluar melalui pintu besar rumah itu, tiba-tiba Hazal menghentikan langkahnya dan menarik lengan Yafet.
"Yafet, sepertinya hari ini kau belum memakai dasi mu?" Yafet melihat dirinya sendiri, ternyata benar pertanyaan Hazal. Segera ia berlari masuk ke dalam kamarnya dan mengambil dasinya, kemudian ia berlari keluar menemui Hazal yang akan membuka pintu mobilnya. Tangan Yafet menghalangi pintu mobil itu terbuka.
"Aku akan mengantarmu."
"Kau bisa terlambat, jika harus mengantarku. Lagipula kita tidak searah."
"Siapa yang berani memecat ku jika aku datang terlambat?" tanya Yafet sambil mengernyitkan dahinya.
"Ayah," jawab Hazal sambil tertawa dan menunjuk ayahnya yang ada di dalam rumah. Hazal mengambil dasi yang ada di tangan Yafet dan segera memasang dasi itu di kerah kemeja kekasihnya. Pandangan mereka saling beradu dengan jarak yang sangat dekat.
Tiba-tiba kedua tangan Yafet memegang wajah Hazal, kedua mata elang itu menatap sendu manik mata Hazal, "Apa kau tidak ingin aku antar?"
"Sayang, aku bisa pergi sendiri. Nanti siang aku ingin mengajakmu makan siang bersama, apa kau ada waktu?" tanya Hazal yang sudah selesai memasang dasi Yafet.
"Baiklah aku akan menunggumu di kantor. Hati-hati di jalan," ujar Yafet kemudian mencium kening dan bibir Hazal. Yafet membuka pintu mobil Hazal dan menyuruh kekasihnya itu untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian ia berjalan memasuki mobilnya sendiri.
Tanpa mereka sadari, Meral memperhatikan mereka dari dalam rumah. Wanita paruh baya itu sangat terkejut melihat sikap kedua anaknya. Ia pun terduduk di sofa ruang tamu. "Apa yang baru saja aku lihat? Mereka saling berciuman? Tatapan mata mereka berdua?"
Meral memijat keningnya, wajahnya terlihat pucat. Ia segera berjalan dengan perlahan menuju ke kamarnya. Ia melihat suaminya yang sedang membaca surat kabar di ruang keluarga, sedikitnya ia bisa tersenyum ternyata suaminya tidak melihat kejadian yang baru saja ia lihat.
Di dalam kamar, Meral mengambil sebuah album foto dari dalam lemari. Foto masa kecil Yafet. Mulai dari Yafet lahir hingga Yafet berumur sepuluh tahun. Saat itulah putranya itu bertemu dengan Hazal. Ia masih memandangi putra kecilnya itu yang sekarang tumbuh menjadi seorang pria dewasa.
__ADS_1
"Sekarang Ibu mengerti, nak. Kenapa selama ini kau belum mengenalkan kekasihmu itu kepada Ayah dan Ibu. Ternyata wanita yang kau cintai selama ini adalah Hazal. Selama ini kalian berusaha menyembunyikan hubungan kalian dari kami. Seharusnya Ibu menyadari semua ini dari dulu."
Meral memejamkan kedua matanya, air matanya mengalir dari pelupuk matanya. Ia membayangkan bagaimana reaksi suaminya jika suaminya tahu bahwa kedua anak mereka saling mencintai. Ia teringat ancaman suaminya beberapa tahun yang lalu, sewaktu Yafet akan kembali lagi ke New York setelah ulang tahun Hazal. Suaminya pasti akan memisahkan mereka.
Ketika Meral mendengar pegangan pintu kamarnya bergerak ke bawah, segera ia menghapus air mata yang membasahi pipinya dan menyembunyikan album foto Yafet di bawah bantalnya. Suaminya masuk ke dalam kamar, dan menghampiri Meral.
"Ada apa? Sepertinya kau sedikit kurang sehat?" tanya Emir yang mencium puncak kepala istrinya.
"Hanya sakit kepala biasa," jawab Meral sambil memegang pelipisnya.
"Aku akan menghubungi dokter, agar dia memeriksa mu." Emir hendak menekan beberapa tombol di ponselnya.
"Tidak perlu, sayang. Aku akan tiduran sebentar, nanti siang mungkin aku sudah membaik." Telapak tangan Meral menutup layar ponsel suaminya.
"Baiklah, aku akan menyuruh Nuran untuk menjagamu. Pagi ini aku mau ke kantor Event Organizer untuk membahas tentang acara ulang tahun perusahaan, jika ada sesuatu yang kau perlukan segera hubungi aku," ucap Emir yang mencium Meral dan mengusap rambut istrinya itu dengan lembut. Segera Emir bersiap-siap dan memanggil sopir pribadi Hazal yang kini menjadi sopir pribadinya yang selalu mengantarkannya kemanapun dia pergi.
Tok...tok...tok... bunyi ketukan di pintu kamar Meral.
"Masuk," jawab Meral yang berbaring di atas tempat tidurnya. Pintu kamar pun terbuka dari luar, dilihatnya Nuran yang masuk ke dalam kamar dan membawa sebuah nampan yang berisi cangkir yang terbuat dari keramik yang berwarna oranye.
"Nyonya, Tuan Emir menyuruh saya untuk membuatkan teh jahe kesukaan Nyonya," kata Nuran yang menghampiri Meral.
"Letakkan saja di meja," ucap Meral dan melihat Nuran meletakkan cangkir keramik itu di atas meja dekat tempat tidurnya.
"Apa suamiku sudah pergi?" tanya Meral.
"Ya, Nyonya."
"Duduklah di sini," kata Meral sambil menepuk ranjang tempat tidurnya. Nuran sedikit ragu-ragu untuk duduk di atas tempat tidur majikannya. Tetapi Meral menarik tangannya dan membuat istri Ted Baxter itu terduduk di depannya. Diletakkannya nampan itu di samping tubuhnya.
"Berapa lama kau bekerja di rumah ini?" tanya Meral dengan lembut sambil mengambil cangkir yang ada di dekatnya.
"Sekitar lima tahunan, Nyonya." Nuran melipat kedua tangannya di atas pakaian yang menutupi pahanya.
"Apakah kau senang bekerja di rumahku ini?" tanya Meral kemudian ia meniup teh jahenya yang masih panas.
"Ya, Nyonya. Saya sangat senang bekerja di sini. Nyonya dan yang lainnya memperlakukan saya dengan sangat baik," kata Nuran sambil menundukkan kepalanya.
"Apa kau tahu, salah satu dari anakku itu bukanlah anak kandungku? tanya Meral kemudian ia meminum teh jahe buatan Nuran dan meletakkan kembali cangkir itu ke atas meja.
"Ya, Nyonya. Tuan Yafet yang mengatakan bahwa dirinya adalah anak angkat Tuan dan Nyonya, sedangkan Nona Hazal adalah anak kandung keluarga Aksal. Tapi... maafkan jika saya lancang, Nyonya. Sepertinya anak kandung Nyonya itu adalah Tuan Yafet. Sekali lagi maafkan saya," kata Nuran sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?" Meral menegakkan tubuhnya dan membetulkan sandaran bantalnya.
__ADS_1
"Waktu itu... waktu ketika Tuan Yafet memperkenalkan Nona Hazal kepada saya, saya merasa...." Nuran terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kau merasa apa? Katakan saja?" Meral menyentuh kedua tangan Nuran.
"Saya merasa, wajah Nona Hazal tidak mirip sama sekali dengan Tuan dan Nyonya. Maafkan saya Nyonya, jika saya salah bicara." Tubuh Nuran bergetar ketakutan.
Meral menyentuh pundak Nuran, dan mendekati pelayannya itu kemudian berkata, "Yang kau katakan itu benar, mungkin Yafet berbohong padamu, untuk melindungi Hazal. Sebenarnya anak angkat kami adalah Hazal. Kedua orangtuanya meninggal karena suamimu telah membunuhnya, ia berhasil selamat karena ibu kandungnya melindunginya. Pembunuhan itu terjadi saat anak itu berusia sekitar lima tahun, dan suamiku mengadopsinya dan memberikan nama keluarga Aksal untuk melindunginya. Tidak ada yang mengetahui identitas Hazal selain keluargaku dan kau, bahkan seluruh pelayan rumah ini tidak mengetahuinya. Yang mereka tahu, Hazal adalah anak dari kerabat jauh suamiku."
"Tapi kenapa Nyonya memberitahukan hal ini kepada saya?" Nuran tidak mengerti maksud majikannya.
"Anakku mempercayaimu, padahal kau adalah istri dari seorang pembunuh, dia malah menyuruhmu untuk tinggal dan bekerja di sini. Aku hanya mempercayai hati nuraniku saja, bahwa kau adalah orang baik, tidak seperti suamimu. Aku hanya ingin mencari teman bicara yang bisa ku percaya di dalam rumah ini," kata Meral memegang pundak Nuran.
Nuran dan Meral sama-sama terdiam. Istri Emir itu menatap lemari yang ada di depannya, dan menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Meral menceritakan masa kecil Yafet dan Hazal, sampai kemudian mereka bertemu kembali setelah mereka berpisah selama belasan tahun lamanya.
"Hari ini, aku melihat kedua anakku itu saling berciuman tepat di depan mataku, tatapan mata mereka bukanlah tatapan adik kakak, tapi itu adalah...tatapan mata sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Hazal adalah kekasih Yafet, mereka terlihat saling mencintai," isak Meral dengan suaranya yang bergetar.
Nuran mencoba menenangkan majikannya kemudian pelayan itu berkata, "Tapi itu tidak salah Nyonya, mereka bukan sedarah, bukan salah mereka jika mereka saling mencintai."
"Aku tahu, andai saja orang tua Hazal masih hidup, aku akan sangat Yafet menikah dengan Hazal. Aku juga sangat menyayangi Hazal. Tetapi kenyataannya sekarang berbeda. Jika suamiku mengetahui hal ini, ia akan memisahkan mereka. Dan kau tahu Nuran? Bagaimana nanti hati kedua anakku itu akan hancur," ucap Meral yang masih terus menangis. Nuran memeluk tubuh Meral dan mengusap punggung majikannya.
"Apa yang harus aku lakukan, Nuran? Apa?" Meral masih menangis di pundak Nuran.
"Tenang, Nyonya... tenangkan dirimu... Mungkin lebih baik, Nyonya tidak memberitahukan hal ini kepada Tuan. Anggaplah Nyonya tidak mengetahui apa-apa tentang Tuan Yafet dan Nona Hazal, dan saya akan mengunci mulut saya, Nyonya." Nuran menggerakkan tangannya membentuk gerakan mengunci di depan mulutnya. Ucapan Nuran itu sedikit melegakan hati Meral.
"Kau benar, Nuran. Ketika Ted Baxter tertangkap dan dihukum, tidak ada yang mengancam hidup Hazal, dengan demikian Yafet dan Hazal tidak perlu menyembunyikan hubungan mereka, dan mereka akan menikah." Meral segera menghapus air matanya, kemudian wanita itu memegang pergelangan tangan Nuran.
"Berjanjilah padaku, kau akan merahasiakan hal ini dari siapapun. Identitas Hazal dan perasaan kedua anakku," mohon Meral kepada Nuran.
"Aku berjanji padamu, Nyonya. Aku bersumpah demi hidup anakku Ali," ucap Nuran yang mengangkat telapak tangannya ke atas.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah mampir dan baca novel ku ini. Jangan lupa beri tips dong buat Author, agar Author makin semangat nulisnya.... Tips nya bisa berupa,
🤗 Like
🤗 Rate bintang 5
🤗 Komentar dan
🤗 Vote kalian ya teman-teman
Makasih 🤗
__ADS_1