DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Salah Paham


__ADS_3

Hazal menghentikan mobilnya di depan gedung Kejaksaan Istanbul, ia melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk bisa masuk ke gedung pemerintahan itu. Ditangannya terdapat sebuah map yang berisi ijazah dan surat pengalaman kerjanya sebagai jaksa junior di New York. Di depan ruang administrasi ia bertanya pada petugas yang ada di sana, di mana ia bisa menyerahkan surat-suratnya tersebut.


Petugas itu keluar dari mejanya, melangkah keluar, dan Hazal mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan memasuki sebuah koridor di dalam gedung itu dan naik ke lantai tiga menggunakan tangga biasa.


Tampak ukiran-ukiran zaman pemerintahan raja Ottoman menghiasi interior bangunan itu. Sampailah mereka di depan sebuah pintu dengan dua daun pintu kembar yang berukuran besar, dengan tinggi dua kali tinggi tubuh Hazal.


Petugas itu meminta map yang dibawa oleh Hazal, dan mengetuk salah satu daun pintu yang ada di depannya. Kemudian ia meminta Hazal untuk menunggunya di luar. Petugas itupun masuk ke dalam, tak jelas apa yang di lakukan oleh petugas itu. Dari luar Hazal tidak bisa mendengar suaranya. Hazal mengira, mungkin petugas itu sedang memberitahu atasannya.


Tak lama kemudian, petugas itu keluar dari ruangan dan mempersilahkan Hazal untuk masuk ke dalam. Hazal mengucapkan terimakasih kepada petugas itu, kemudian Hazal melangkahkan kedua kakinya memasuki ruang besar itu.


Ruang Jaksa Kepala begitu tulisan yang terpampang di depan pintu tersebut. Masuk ke dalam ruangan besar itu seperti sedang tertindih beban puluhan kilo di tambah lagi ia melihat seorang laki-laki yang duduk di kursi kerjanya yang besar, ia seperti sedang menghadap seorang raja.


Sebuah papan nama yang berdiri tegak di meja dengan tulisan ONUR ARTAMA, dibawah tulisan itu tertulis jabatannya sebagai Jaksa Kepala. Hazal menatap raut wajah Jaksa Kepala yang usianya hampir sama dengan ayahnya, bentuk wajahnya yang bulat dengan rambut yang mulai hampir habis di bagian depan kepalanya, sebuah kumis dan cambang yang lebat berwarna campuran sebagian hitam dan sebagian putih memenuhi daerah pipi dan dagunya. "Ia seperti Sultan Sulaiman Raja Ottoman di film Abad Kejayaan," gumam Hazal kepada dirinya sendiri.


"Duduklah," kata Jaksa Kepala sambil pandangannya melirik ke arah Hazal yang sedang berdiri di depannya. Hazal menarik satu kursi yang ada di depan meja kerja Jaksa Kepala dan duduk di atasnya.


"Namamu Hazal Aksal?" tanya Jaksa Kepala itu yang masih membuka lembaran-lembaran surat Hazal.


"Ya, Tuan. Namaku Hazal Aksal," ucap Hazal sambil menatap Jaksa Kepala.


Jaksa Kepala itu berhenti membuka lembaran surat Hazal dan memindahkan surat itu di samping mejanya, kemudian dia menatap Hazal dan berkata, " Mulai besok, kau bisa bertugas di sini. Smith dan Jaksa Senior yang ada di New York telah merekomendasikan dirimu,"


"Smith Lloyd? Agen FBI? Anda mengenal Smith?" tanya Hazal yang terkejut dan memicingkan kedua manik matanya.

__ADS_1


"Ya, dia adalah murid ku sewaktu aku menjadi dosen di fakultas hukum di New York," ucap Jaksa Kepala dengan sikap datarnya tanpa sebuah senyuman di wajahnya. "Kembalilah besok, ada tugas untukmu."


Setelah mengatakan hal itu, Jaksa Kepala mengalihkan pandangannya ke berkas-berkas di atas mejanya. Kemudian Hazal berpamitan dan pergi meninggalkan gedung pemerintahan itu. Setelah keluar dari gedung itu, seakan Hazal bisa menghirup udara dengan bebas.


Hazal mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia melihat jam tangannya, "Ini masih terlalu pagi untuk jam makan siang," gumamnya di dalam mobil. Ia sengaja memilih rute terjauh untuk sampai di hotel milik keluarganya.


Sekitar satu jam kemudian, ia memasukkan mobilnya di depan lobi hotel. Ia melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam lobi hotel, "Jika tidak salah, ruangan Yafet pasti sama dengan ruangan ayah dulu, pasti di lantai lima belas gedung ini." Kemudian ia memilih masuk ke lift yang paling ujung sebelah kanan, yang mempunyai akses untuk langsung menuju ke ruang Presiden Direktur.


Pintu lift terbuka, Hazal mencoba mengingat letak ruangan ayahnya dulu. Ia berjalan lurus sekitar sepuluh langkah, kemudian ia belok ke kanan. Ia melihat dua buah meja di depannya, satu meja terlihat kosong, sedangkan satu meja yang lain ada penghuninya. Seorang wanita muda memperhatikan kedatangannya dan menyapanya.


Hazal membalas sapaan wanita muda itu, dan berjalan menuju ke ruangan Presiden Direktur. Tetapi wanita muda itu bergegas berlari dan menghalangi Hazal untuk masuk ke ruangan, wanita muda itu berkata, "Maaf Nona, Nona tidak boleh masuk ke ruangan ini."


Hazal terkejut dengan perkataan wanita muda itu, "Baiklah, tunjukkan aku ruangan Tuan Yafet Aksal ada dimana !!" kata Hazal kepada wanita muda yang ada di depannya.


"Apa?" tanya Hazal yang terkejut. "Kalau begitu tunjukkan aku dimana ruangan Tuan Emir Aksal, aku akan menunggunya di sana."


Wanita muda itu tetap bersikeras tidak mau menunjukkan atau membuka pintu ruangan Yafet. Hazal mulai sedikit kesal dengan perlakuan wanita muda itu, tak lama kemudian Nyonya Rachel muncul.


"Nyonya Rachel, bisakah kau menolongku?" tanya Hazal yang terlihat senang dengan kedatangan sekretaris ayahnya itu.


"Nona..., kau Nona Hazal Aksal?" tanya Nyonya Rachel yang terkejut dengan penampilan Hazal yang sudah menjadi seorang wanita muda.


"Ya, ini aku Hazal Aksal, kau masih ingat aku kan? Aku ingin menemui Yafet, tapi wanita muda ini menghalangiku, dan memintaku untuk membuat janji terlebih dahulu," terang Hazal.

__ADS_1


Nyonya Rachel mendekati Hazal dan wanita muda itu sambil berkata, "Maafkan saya Nona Hazal, maafkan juga sekretaris baru ini, dia baru bekerja di sini, tidak mengetahui siapa Nona, maafkan saya juga yang tidak mengajarinya."


"Bahar, lekas kau minta maaf pada Nona Hazal !! Dia adalah putri Tuan Emir dan adik Tuan Yafet," kata Nyonya Rachel kepada wanita muda itu.


Wanita muda tampak terkejut karena ia merasa telah berbuat kesalahan. Segera ia mengulurkan tangannya untuk meminta maaf pada Hazal.


"Sudahlah, tak apa. Aku malah memuji sikapnya, yang tidak memperbolehkan sembarang orang masuk ke ruangan atasannya," ucap Hazal sambil tersenyum. "Sekarang apa aku boleh masuk?"


"Masuklah Nona...," jawab Nyonya Rachel dan Bahar bersamaan.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih sudah mampir dan membaca novelku ini. Jangan lupa kasih tips dong buat Author, agar aku rajin update nya. Kalian bisa kasih aku....


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar kalian dan


🤗 Vote kalian


Terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2