
Pada episode sebelumnya, Hazal dan Yafet sudah berada di Mansion keluarga Danner. Mereka berhasil menemukan suatu tulisan kasat mata yang ada di selembar kertas kecil.
Arsiran pensil yang di lakukan oleh Hazal membuat mereka berhasil membaca tulisan itu. Huruf-huruf kapital itu membentuk suatu nama yaitu FALLAY.
"Apa musuh orang tuaku ini bernama Fallay?" tanya Hazal sambil mengambil kertas kecil itu dari tangan Yafet.
"Di negara ini pasti banyak orang yang bernama Fallay!" seru Yafet yang memundurkan langkahnya, hingga tak sengaja punggungnya menabrak lemari besi yang ada di belakangnya.
Telapak tangan Yafet menyentuh lemari besi yang terasa dingin di kulitnya. Pria itu pun membalikkan badannya. Mata elang itu terbuka lebar melihat lemari kokoh yang sudah hampir berkarat karena dimakan usia.
"Hazal, lihat ini...!" seru Yafet memanggil Hazal yang masih memandangi kertas kecil tersebut.
Wanita muda itu segera menghampiri Yafet. "Hanya lemari besi...," ucap Hazal yang menyentuh lemari berwarna emas metalik setinggi dadanya.
"Menurut mu tempat apa yang paling aman untuk menyimpan barang berharga mu?" kata Yafet dengan tatapan mata elangnya yang berkilat memandang lemari besi itu.
"Brankas, lemari besi, tempat penyimpanan di bank," jawab Hazal. "Mak...maksudmu ayahku menyimpan rahasianya di dalam lemari besi ini?"
Yafet hanya mengangkat kedua bahunya, "Mungkin...."
Kedua anak Aksal itu berusaha membuka pintu lemari besi yang tampak kokoh dan kuat itu. Tapi tidak berhasil. "Kurasa kita harus memutar gerigi besi ini, untuk memasukkan angka-angkanya," ujar Hazal.
Lemari besi ini sudah berada di Mansion sejak Hazal berusia tiga tahun, sudah dua puluh tahun lebih pintu lemari besi ini tertutup rapat. Tidak ada tombol-tombol digital untuk membuka pintu lemari tersebut. Semuanya serba manual, dengan memutar gerigi besi untuk memasukkan angka rahasia agar lemari besi ini bisa terbuka.
"Berapa tanggal lahir ayahmu?" tanya Yafet kepada Hazal ketika tangannya sudah bersiap memutar gerigi besi itu.
"20 Januari 1965."
Yafet memutar gerigi besi itu sesuai dengan tanggal lahir ayah kandung Hazal. Tapi gagang lemari besi itu tidak bergerak. Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Tanggal lahir ibumu?" tanya Yafet.
"5 Oktober 1970."
Yafet memutar kembali gerigi besi itu sesuai dengan tanggal lahir ibu kandung Hazal. Sama seperti yang pertama. Tidak berhasil.
Yafet memasukkan tanggal lahir Hazal, tidak ada suara. Pria itu menggelengkan kepalanya kembali.
"Berapa kesempatan yang kita miliki untuk memasukkan angka kombinasinya?" tanya Hazal cemas.
"Tidak ada batasan, karena ini bukan digital," jawab Yafet.
"Apa kau tahu kapan perusahaan Danner berdiri?" tanya Yafet.
Hazal menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu."
__ADS_1
Mereka berdua menghela napas sambil menyandarkan punggung mereka di depan lemari besi itu. Mereka sudah kehilangan ide untuk mencari angka kombinasi yang tersembunyi di balik lemari besi itu.
Dua ekor cicak dengan ukuran sama besar merayap di atas langit-langit ruangan ini. Binatang melata itu saling bergulat, entah mereka sedang bermain atau bertengkar. Mereka saling mengejar satu sama lain. Terkadang mereka saling menempel, terkadang pula mereka saling menjauh.
Manik mata Hazal memperhatikan kedua ekor cicak itu. Mereka tampak seperti sepasang, atau saudara, atau mungkin sahabat....
Tangan kanan Hazal tiba-tiba menggenggam tangan kiri Yafet yang berdiri di sampingnya. Dengan spontan pria itu menoleh kepada Hazal, tapi wanita di sampingnya itu masih menatap kedua ekor cicak yang merayap di langit-langit.
"Apa kau mempercayaiku?" tanya Hazal yang bertanya tanpa menatap wajah Yafet. Kedua tangan mereka masih saling menggenggam.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Kali ini giliran Yafet yang ikut memandang dua ekor binatang melata yang saat ini tengah merayap di dinding.
"Jawab saja... apa kau mempercayaiku?" tanya Hazal dengan tenang, sementara ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Yafet.
"Ya, aku sangat mempercayaimu."
"Selain aku, siapa lagi orang yang kau percayai?"
"Ayah...ibu... teman-temanku. Pertanyaan mu itu sungguh aneh, di saat...." Perkataan Yafet terpotong ketika Hazal sudah berdiri tepat di depannya. Genggaman tangan mereka pun terlepas.
"Aku tahu jawabannya!" seru Hazal yang segera memutar gerigi besi itu sesuai dengan tanggal lahir seseorang. Terdengar bunyi klik...! Hazal memutar gagang besi yang berbentuk lingkaran yang menempel pada pintu besi itu.
Tara...! Lemari besi itu pun terbuka lebar. Hazal tersenyum puas melihat keberhasilannya.
"12041965," jawab Hazal.
"Itu kan...?"
"Tanggal lahir ayah Emir."
Yafet tertawa terbahak-bahak menyadari kebodohannya, kenapa tidak terpikirkan oleh dirinya. "Jadi pertanyaan mu tadi karena hal ini?"
Hazal menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis pada Yafet. "Ayo... waktu kita tidak banyak!"
Mereka berdua mengambil beberapa tumpukan berkas yang ada di dalam lemari besi itu. Sepucuk surat terjatuh ke lantai. Yafet segera mengambilnya dan membaca isinya.
"Istanbul, 1 Januari 2000
Untuk sahabatku Emir Aksal."
"Emir... setelah kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga ku nanti. Jika sesuatu terjadi pada diriku, kumohon jagalah Ayla dan Hazal, jangan biarkan orang yang bernama Harun Fallay mengganggu atau menyakiti mereka. Hanya kau satu-satunya orang yang aku percayai saat ini."
"Erkan Danner."
Yafet dan Hazal saling berpandangan setelah pria itu selesai membaca surat yang ditulis oleh Erkan Danner.
__ADS_1
"Dalang pembunuhan itu pasti Harun Fallay!" seru Yafet yang memukulkan kepalan tangannya di atas meja.
Hazal segera membongkar berkas-berkas yang tadi ia letakkan di atas meja. Ia sibuk membuka lembaran-lembaran kertas dan membacanya.
"Apa lagi yang kau cari?" tanya Yafet sambil meletakkan telapak tangannya di atas kertas.
"Pasti di antara kertas-kertas ini ada petunjuk lain," ucap Hazal dengan panik. Tangannya masih sibuk mencari sesuatu.
"Apa lagi yang kau perlukan? Kita lapor kan dia ke polisi. Selesai!" seru Yafet.
"Aku perlu bukti! Bukti bahwa Harun Fallay yang merencanakan pembunuhan ini!" teriak Hazal sambil menggebrak meja kerja ayahnya.
Yafet hanya terdiam menatap ekspresi wajah Hazal yang tampak panik dan marah. Kemudian pria itu memeluk Hazal dan meminta maaf pada mantan kekasihnya itu.
Saat mereka saling berpelukan, tampak di luar pagar seorang laki-laki sedang memperhatikan keadaan Mansion Danner. Dari jendela yang ada di ruang kerja, Yafet melihat laki-laki itu mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Laki-laki itu beradu pandang dengan Yafet.
Laki-laki tak di kenal itu keluar dari mobilnya, dan hendak masuk ke dalam Mansion. Yafet segera melepaskan tubuh Hazal dari dalam pelukannya.
"Tunggu aku di sini, aku akan segera kembali!" seru Yafet.
"Ada apa?" tanya Hazal yang kebingungan. Tetapi Yafet sudah keluar ruangan meninggalkan Hazal sendirian.
Hazal segera mengeluarkan semua isi lemari besi dan memindahkan berkas-berkas itu ke dalam satu kantong plastik besar. Di bawanya kantong plastik itu dan keluar dari Mansion.
"Hei...! Berhenti!" teriak Yafet yang melihat tamu tak di undang itu sudah memasuki halaman depan. Laki-laki itu terkejut ketika ia mendengar teriakan Yafet. Segera ia membalikkan badannya dan berlari keluar. Yafet segera mengejarnya.
Laki-laki itu langsung masuk ke dalam mobilnya dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Mengarahkan mobilnya ke arah Yafet yang baru saja keluar dari pagar dan berada di tengah jalan raya. Yafet yang sedang mencari laki-laki itu tidak menyadari bahaya yang sedang mengintai nya. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Yafet.
"Yafet..., awas!" seru Hazal yang baru saja keluar dari pagar.
Hazal segera melempar kantong plastiknya dan dengan cepat mendorong tubuh Yafet, hingga akhirnya mereka berdua terjatuh di atas trotoar. Terlambat satu detik, mobil itu sudah menabrak tubuh Yafet.
"Hazal?" Yafet terkejut ketika dirinya sudah terjatuh bersama wanita itu di atas trotoar. Mobil yang hampir menabrak Yafet itu segera pergi meninggalkan mereka.
"Hampir saja...," kata Hazal sambil menghela napasnya.
Yafet segera berdiri dan membantu Hazal untuk berdiri. "Kau tak apa? Apa kau terluka?" cemas Yafet.
"Tidak. Aku tidak terluka. Syukurlah mobil itu tidak berhasil menabrak mu," ucap Hazal yang kemudian bertanya-tanya siapa yang ingin mencelakai Yafet.
Dalam hati Yafet juga bertanya-tanya, siapa yang ingin mencelakainya. Ia merasa tidak punya musuh di luar dan tidak pernah menyinggung siapapun. "Ayo kita pulang!" ajak Yafet yang segera membantu Hazal membawa kantong plastiknya yang berisi berkas-berkas.
❤️ Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian. Terimakasih 🙏😊
__ADS_1