
BANDARA ZURICH, SWISS
Tepat pukul sebelas siang waktu Swiss, pesawat yang membawa Hazal dan Kenan tiba di Bandara Internasional Zurich. Waktu Istanbul lebih cepat satu jam daripada kota Zurich, Swiss.
Setelah melewati berbagai proses imigrasi dan keamanan bandara, Kenan dan Hazal segera keluar dari tempat penerbangan tersebut. Putra Harun itu segera membawa Hazal menuju kota Bern, ibu kota Swiss.
Mereka memilih menggunakan mobil sewaan untuk menuju kota terbesar keempat di Swiss setelah kota Zurich, Jenewa dan Basel. Kenan mulai menyalakan GPS yang ada di ponselnya.
Sekitar pukul satu siang mereka telah memasuki kota Bern. Langit yang biru, penampakan kota yang menyatu dengan alam, pemandangan klasik bangunan bersejarah dan sebuah kota yang dikelilingi oleh sungai Aar ini menyambut kedatangan mereka.
Kenan mulai mencari alamat perusahaan manufaktur yang akan berbisnis dengan perusahaannya. Ia mulai melihat peta digitalnya itu. Sekitar satu jam perjalanan, mobil sewaan itu memasuki sebuah kawasan Distrik Interlaken, sebuah kota kecil di selatan kota Bern. Kota ini sangat terkenal dengan pusat penjualan jam mewah buatan Swiss yang terkenal di seluruh dunia.
Sebuah bangunan berarsitektur kuno berada di depan mereka saat ini. Seorang pria Swiss menyambut kedatangan mereka. Kenan segera memberitahukan maksud kedatangannya kepada pria berwajah pucat itu. Pria itu kemudian mengantar Kenan dan Hazal ke sebuah ruang rapat.
Di dalam ruangan yang berbentuk persegi panjang itu Kenan dan Hazal di sambut oleh CEO perusahaan tersebut. Pembicaraan itu berlangsung sekitar dua jam, hubungan kerjasama itu telah terjalin. Kedua pemimpin perusahaan itu telah menandatangani kesepakatan mereka bersama.
"Terimakasih atas hubungan kerjasama ini Tuan Louis," ucap Kenan dengan bahasa Inggrisnya yang fasih.
"Terimakasih juga Tuan Kenan dan Nona Hazal, senang bertemu dengan kalian," balas tuan Louis. Kedua pria itu saling berjabat tangan.
Hari sudah mulai senja ketika mereka keluar dari perusahaan manufaktur itu.
"Sebentar lagi hari akan gelap. Bagaimana kalau sekarang kita berangkat menuju Pegunungan Alpen?" tanya Kenan yang memulai pembicaraan pribadinya dengan Hazal.
"Terserah kau saja," jawab Hazal yang memilih langsung masuk ke dalam mobil.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Kenan dengan senyumannya.
Hazal hanya memalingkan wajahnya ke arah jendela tanpa menjawab pertanyaan Kenan. Pria itu tidak jadi menyalakan mesin mobilnya, ketika melihat sikap Hazal yang dingin. Ia meniru tingkah Hazal yang terduduk di kursi sambil memalingkan wajahnya melihat deretan bangunan dari jendela.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menyalakan mesinnya? Apa kita akan menunggu di sini sampai tua?" tanya Hazal dengan nadanya yang tinggi. Wanita itu mulai mendengus dengan kesal.
Kenan tersenyum melihat sikap Hazal yang kembali menjadi wanita bar-bar. Menurut Kenan, ia lebih menyukai kemarahan Hazal yang meluap-luap daripada melihat wanita itu mendiamkan dirinya.
"Baik, Nona. Kau ingin kemana sekarang?" tanya Kenan yang mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Aku akan siap mengantarmu keliling Swiss," ucap Kenan yang mulai menjalankan kendaraan roda empatnya.
Melihat sikap Kenan yang begitu menyanjungnya membuat Hazal tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Ayo kita ke Pegunungan Alpen!" ajak Hazal yang mengalungkan lengannya di lengan Kenan.
Kenan segera melajukan kendaraannya mengikuti peta digitalnya. Mereka harus menempuh waktu tiga jam perjalanan lagi untuk sampai ke Pegunungan Alpen.
Hari sudah semakin gelap ketika mereka harus melewati jalan yang berliku-liku untuk mencapai rumah keluarga Fallay.
Kenangan memilukan itu mulai membayangi pikiran Hazal. Putri angkat Emir itu mulai gelisah dan ia menggenggam erat kedua telapak tangannya yang mulai basah karena keringat dingin.
"Kita sudah sampai," ucap Kenan setelah ia mematikan mesin mobilnya dan mengajak Hazal untuk keluar.
Hazal mengamati tampak depan rumah putih itu. Ia melihat bentuk jendela, bentuk pintu dan atap rumah itu. Ketika Kenan sedang sibuk mengeluarkan tas koper mereka, Hazal segera mengambil ponselnya dan membuka galeri penyimpanan foto. Mencari foto Max Walden dan Ted Baxter yang sedang berpose di depan sebuah rumah di Pegunungan Alpen.
Tak salah lagi. Ini rumah yang sama. Harun pasti ada di sini sewaktu ayah dan ibu terbunuh. Mungkin saja rubah tua itu yang mengabadikan foto ini.
"Hazal, sedang apa kau di sana? Masuklah! Hari sudah gelap!" seru Kenan dari pintu.
Hazal segera masuk ke dalam rumah itu mengikuti Kenan. Pria itu menunjukkan letak ruangan yang ada di rumahnya.
Mereka memasuki ruang tamu kecil rumah itu. Tidak ada foto keluarga atau foto pemilik rumah di sana. Kemudian Kenan mengajak Hazal memasuki ruang tengah. Ruang yang berbentuk lingkaran dengan karpet merah yang membentang di lantai. Sebuah tungku perapian yang belum menyala ada di depan mereka.
__ADS_1
Terdapat empat buah kamar di dalam rumah itu. Letak kamar itu saling menyebar mengitari ruang tengah. Terdapat sebuah lorong pendek sekitar dua meter panjangnya yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur.
Sebuah island kitchen set dengan meja makan di tengah ruangan menyambut kedatangan mereka di dapur.
"Sejak tadi aku tidak melihat siapa-siapa di sini, apa hanya kita berdua yang tinggal di rumah ini?" tanya Hazal kepada Kenan.
"Ya. Hanya kita berdua. Aku hanya menyuruh orang-orang kantor untuk membersihkan rumah ini," jawab Kenan.
"Baiklah," ucap Hazal sambil tersenyum tipis. "Tunjukkan di mana kamar ku?" tanya Hazal.
Kenan menggandeng tangan Hazal kembali ke ruang tengah. "Pilihlah sendiri kamar yang kau suka."
Hazal masuk melihat ke dalam kamar-kamar itu. Interior di dalam kamar itu semuanya sama. Mulai warna, perabot dan tata letaknya yang sama. Hazal akhirnya memilih kamar yang menghadap ke arah pegunungan.
"Aku pilih yang ini," ucap Hazal sambil membawa koper miliknya masuk ke dalam kamar yang dipilihnya.
"Aku ada di sebelah kamarmu," sahut Kenan yang membawa kopernya masuk ke dalam kamar yang ada di sebelah kamar Hazal.
Setelah mereka selesai memasukkan koper mereka ke dalam kamar. Sepasang kekasih itu menikmati makan malam mereka yang sudah tersedia di kulkas. Hazal hanya menghangatkannya saja di microwave. Satu jam kemudian mereka menyudahi makan malam mereka.
"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Hazal yang melihat Kenan sedang duduk menghadap tungku perapian itu.
"Aku ingin menyalakan perapian ini," jawab Kenan sambil memasukkan potongan kayu bakar ke dalam tungku, dan menyalakannya dengan menggunakan gas elpiji. Cahaya kuning kemerahan itu sudah mulai membakar tumpukan kayu-kayu itu.
Hazal mendudukkan dirinya di samping Kenan menghadap tungku yang baru saja menyala, mereka merasakan perapian itu menghangatkan tubuh mereka. Kenan memeluk pundak Hazal, membawanya mendekat padanya. Hazal menyandarkan kepalanya di pundak Kenan.
Sebuah ciuman di depan perapian yang menyala itu terjadi. Kedua bibir dan lidah mereka saling bersentuhan di tengah panasnya api yang bukan hanya menghangatkan wajah dan tubuh mereka, tetapi akan membakar hati dan jiwa mereka berdua malam ini. Boom! Bersiaplah!
🔥 Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komentar, Rate bintang lima, dan Vote kalian 🤗 Terimakasih 🙏