
Suara kicauan burung membangunkan Hazal dari tidurnya. Ia membuka kelopak matanya dengan perlahan. Sinar sang mentari sudah mulai masuk menembus tirai jendelanya. Dilihatnya jam dindingnya yang masih pukul enam pagi.
Hazal menarik selimutnya yang berwarna merah marun hingga ke batas lehernya. Dalam asa nya ia mengingat kejadian semalam yang sangat menegangkan. Tangannya mencengkram erat tepi selimutnya. Membayangkan bagaimana jika malam itu Yafet dan Mert sama-sama tertangkap, dan Harun membunuh mereka. Ia mendadak ngilu membayangkan itu semua.
Syukurlah semua baik-baik saja. Sampai hari ini tidak akan ada yang terluka.
Sepasang kaki jenjang itu turun menyentuh lantai yang dingin. Sepasang sandal berwarna merah bergambar bordiran seekor beruang menutupi telapak kakinya. Dengan sedikit bermalas-malasan ia berjalan menuju kamar mandi. Kedua telapak tangan itu menengadah di bawah pancuran air wastafel. Air dingin itu kini membasuh wajah putihnya. Ia mulai menggosok giginya kemudian berkumur.
Dipandanginya wajah polosnya di depan cermin berbentuk oval. Hazal sedang menghitung hari keberangkatan nya ke Swiss.
Tinggal tiga hari lagi, tapi aku belum memberitahu ayah dan ibu. Kuharap mereka mengijinkan aku untuk pergi bersama Kenan.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Hazal mengambil handuk kimononya untuk membalut seluruh tubuhnya. Di bukanya lemari pakaiannya, kemudian ia mengambil sebuah dress berwarna krem dengan model lengan 3/4 dan panjang di atas lutut. Ia mulai menyapu make-up nya di kulit wajahnya.
Hazal menarik sebuah kursi kayu yang ada di depan meja tulisnya. Semalam ia tidak sempat untuk menulis buku hariannya. Diambilnya sebuah pena yang ada di dalam laci mejanya. Ia mulai menggoreskan tinta penanya pada halaman baru buku hariannya. Kejadian yang di alami semalam.
Suara ketukan pintu terdengar dari dalam. Hazal segera meninggalkan buku hariannya dan penanya di atas meja, ia segera membuka pintu kamarnya.
"Nona Hazal, diluar ada seorang pria yang mencari nona," kata seorang pelayan wanita yang berdiri di depan Hazal.
Hazal tampak berpikir siapa orang yang mencarinya sepagi ini. Mendadak ia terkejut...
Astaga! Aku lupa...! Bukankah pagi ini aku dan Kenan ada janji makan pagi bersama dengan salah seorang rekan bisnis?
"Baiklah, aku akan segera turun," jawab Hazal yang segera menyambar tasnya.
Putri angkat Emir itu segera menutup pintu kamarnya dan hendak berjalan ke arah tangga. Tapi di tengah-tengah ruangan antara kamarnya dan kamar Yafet, ia melihat Selina yang baru saja keluar dari kamarnya, sedang mengusap-usap perutnya.
"Wow, beberapa hari ini aku jarang memperhatikan mu, dan sekarang perutmu sudah sebesar itu?" tanya Hazal yang melihat perut Selina sudah mulai membesar.
"Tentu saja kau tidak memperhatikan ku, karena suamiku lebih menarik perhatianmu daripada aku," sindir Selina dengan senyum masamnya.
Hazal hanya menggelengkan kepalanya, ia memilih untuk mengunci mulutnya daripada harus meladeni ocehan Selina. Istri Yafet itu hanya menatap tajam punggung Hazal yang semakin lama semakin menghilang ke bawah.
Aku akan lihat, sampai kapan kau bisa bertahan adik iparku yang manis.
Selina mengikuti Hazal turun ke bawah, dilihatnya Hazal sudah membuka pintu rumah dan menutup pintunya kembali. Ia segera kembali naik ke atas, timbul di dalam pikirannya untuk mencari titik kelemahan Hazal.
__ADS_1
Wanita Inggris itu membuka pintu kamar Hazal dengan pelan. Ia melihat sekelilingnya tidak ada orang lain yang melihatnya masuk ke kamar adik iparnya. Ia segera berjalan ke balkon kamar Hazal, memastikan bahwa pemilik kamar itu telah pergi.
Dari atas balkon, Selina melihat Hazal sedang berjalan bersama Kenan ke pintu gerbang. Segera ia masuk kembali ke dalam kamar yang di dominasi warna merah itu.
Selina menyebarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu. Untuk pertama kalinya ia masuk ke kamar Hazal. Tepat di satu titik, pandangannya tertuju pada sebuah buku yang ada di atas meja.
Sebuah buku yang cukup tebal, dengan sampul berwarna putih dan gambar sekuntum bunga mawar berwarna merah. Selina mengambil buku tersebut, ia membuka secara acak buku itu. Buku harian Hazal.
Mulutnya terbuka lebar setelah ia membaca beberapa lembar halaman buku harian itu.
Jadi dia bukan adik kandung Yafet. Dia juga bukan anak keluarga Aksal. Hazal Danner itu nama aslinya. Orang tuanya telah meninggal dunia, jadi dia adalah anak pungut yang yatim piatu.
Sebuah tawa keluar dari bibir sensual itu.
"Lagaknya seperti seorang putri keluarga terhormat, nyatanya dia tidak pantas berada di dalam rumah ini!" seru Selina berbicara di depan buku harian itu.
Selina melanjutkan membaca kembali buku harian itu, dia sangat tertarik untuk mengetahui rahasia Hazal.
Dia ternyata hanya memanfaatkan kekasihnya itu. Dasar rubah wanita! Ternyata kau tak sepolos yang kukira. Kau mencintai Yafet, tapi kau pura-pura mencintai pria yang bernama Kenan.
Tak puas dengan mengambil buku harian Hazal, ia mulai membuka laci-laci meja Hazal. Di dalam laci itu ada begitu banyak kepingan-kepingan CD yang di simpan Hazal untuk koleksi pribadi nya.
Selina mengambil beberapa keping CD yang bertuliskan "Memori Yafet - Hazal" dibawanya beberapa keping CD dan buku harian Hazal itu keluar. Ia menyimpan benda-benda milik Hazal itu ke dalam laci di kamarnya.
Waktu makan pagi pun telah berakhir beberapa jam yang lalu. Selina turun ke lantai bawah, ia tidak melihat kedua mertuanya di ruang keluarga ataupun di dapur.
"Dimana ayah dan ibu?" tanya Selina kepada Nuran yang sedang sibuk di dapur bersama dengan pelayan lain.
"Nyonya Meral pergi keluar sedangkan Tuan Emir pergi ke kantor bersama Tuan Yafet. Tuan dan Nyonya tidak makan siang di rumah," jawab Nuran.
Setelah mendengar jawaban Nuran, Selina segera bergegas pergi ke kamarnya. Ia mengambil kepingan CD yang ia curi dari kamar Hazal, kemudian membawanya ke ruang keluarga. Hanya di ruangan inilah, terdapat home teather yang bisa ia gunakan untuk memutar CD itu. Ia sangat penasaran, apa di dalam CD itu ada adegan Yafet dan Hazal yang sedang bercinta atau semacam adegan yang bisa menghancurkan Hazal.
Selina segera menutup pintu ruangan itu dan menguncinya dari dalam. Sebuah layar putih besar mulai menampilkan beberapa gambar.
Sebuah tayangan foto-foto mesra Hazal dan Yafet ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih. Mulai dari hanya sekedar jalan berdua, berpelukan hingga foto ciuman mereka.
Kepingan CD yang lain mulai berputar, kali ini isinya video ulang tahun Hazal yang ketujuh belas. Hampir semua isi CD itu mengisahkan tentang perjalanan cinta Hazal dan Yafet. Tetapi tidak ada video adegan percintaan di sana.
__ADS_1
Meskipun hanya foto-foto romantis Hazal dan Yafet, tetapi mampu membuat hati Selina panas. Ia sangat cemburu melihat ekspresi wajah Yafet yang memandang Hazal. Ia tidak pernah melihat ekspresi wajah penuh cinta laki-laki itu ketika sewaktu bersamanya dulu. Ingin rasanya ia mematahkan kepingan-kepingan CD itu. Tetapi kemudian ia mengurungkan niatnya.
Foto dan video ini akan menjadi berharga jika aku memberikannya pada orang yang tepat! Kau sangat jenius Selina! Jangan salahkan aku, Hazal....
Di dalam pikiran wanita gila itu sudah tertanam berbagai rencana jahatnya terhadap Hazal. Ia segera mematikan home teather tersebut dan membawa CD itu kembali ke kamarnya.
Sementara itu di rumah keluarga lain. Di kediaman keluarga Fallay.
Harun tengah kebakaran jenggot karena ia mendapati para penjaga rumahnya babak belur di hajar oleh seseorang semalam.
"Dasar kalian tidak becus! Untuk apa aku membayar kalian, jika kalian tidak bisa menjaga rumahku!" teriak Harun dengan keras.
"Pria itu sangat hebat, meskipun dia hanya seorang diri, Tuan." Perkataan salah satu penjaga itu tambah membuat Harun naik pitam.
"Sebelum kami mengepungnya, pria itu keluar dari dalam rumah," ucap salah satu penjaga yang salah satu matanya terluka karena tendangan Yafet.
Harun segera mencekik leher penjaga itu, "Apa yang kau katakan? Ia ada di dalam rumah ini semalam?"
"Itu benar, Tuan." Salah satu temannya menimpali.
Harun melepaskan cengkeramannya dari leher penjaga rumahnya, kemudian dia berjalan membelakangi kelima penjaga itu. "Berarti ada orang di dalam rumah ini yang melihatnya atau membantunya!"
"Berikan rekaman CCTV kejadian semalam, aku ingin melihatnya sekarang!" teriak Harun dengan lantang sambil mengacak pinggang nya.
Selang beberapa menit kemudian, salah seorang penjaga itu memberikan sebuah kepingan CD kepada Harun. Rubah tua itu segera memutar kepingan berwarna hologram itu di laptopnya.
Tampak sebuah video muncul, mirip seperti film action yang di putar di stasiun televisi. Harun memperbesar sosok pria berbaju hitam yang sedang menghajar para penjaga rumahnya. Wajah pria itu terlihat jelas.
Di dalam video itu juga terlihat, seorang wanita berambut coklat berbaju putih berjalan mendekati mobil yang berhenti di depan rumahnya. Ia memperbesar sosok wanita itu, tapi wajahnya terhalang badan mobil.
Senyum licik dan tawanya yang menakutkan keluar dari bibirnya yang sedikit menghitam.
"Kalian anak-anak Aksal ingin coba-coba bermain dengan ku!"
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1