DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Aku Atau Ayahmu


__ADS_3

Keesokan harinya


Hazal sedang berada di dapur, ia tengah menyiapkan beberapa bekal untuk dirinya dan Kenan untuk pergi ke perkebunan. Ia telah mendapatkan sebuah tempat perkebunan dari Yafet. Salah seorang rekan bisnis Yafet, mempunyai perkebunan anggur di luar kota.


Beberapa kotak bekal sudah ada di atas meja. Di dalamnya sudah terisi berbagai macam jenis makanan. Mulai makanan ringan hingga makanan berat dan buah-buahan.


"Apa kau akan pergi dengan Yafet pagi ini?" tanya Meral kepada putri angkatnya. Ia melihat Hazal sangat bersemangat menyiapkan semuanya sendiri.


"Tidak Ibu. Pagi ini aku akan pergi dengan Kenan." Tangan Hazal sibuk memasukkan kotak bekal ke dalam kotak kontainernya yang terbuat dari plastik transparan.


"Ke...Kenan, anak pem...pembunuh itu?" bisik Meral yang langsung mendekati Hazal. Putri angkatnya itu menganggukkan kepalanya.


"Kami sudah menjadi sepasang kekasih Ibu." Kali ini wanita paruh baya itu di buat terkejut dengan perkataan Hazal.


"Ini hanya rencana permainan ku saja, Ibu." Hazal membisikkan ucapannya di telinga ibunya, ketika ia melihat wajah ibunya yang mulai pucat.


Meral menghembuskan napasnya dalam-dalam. Tekanan darahnya hampir saja melompat naik, jika benar Hazal mencintai anak pembunuh itu.


"Berhati-hatilah, sayang. Jangan bermain api, jika tidak api itu akan membakar tanganmu sendiri," nasihat Meral kepada Hazal.


Hazal memegang tangan ibu angkatnya itu, "Jangan khawatir, ibu. Aku akan berhati-hati, aku akan pulang kembali dengan selamat."


Meral pun memeluk anak gadisnya itu dengan erat. Terdengar suara langkah kaki yang masuk ke dalam dapur. Kedua wanita itu pun segera melihat siapa yang sudah bangun sepagi ini.


"Berikan ponselmu padaku!" perintah Yafet kepada Hazal.


Hazal segera mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan di atas lemari dan memberikannya kepada Yafet. "Untuk apa?"


Yafet membuka bagian belakang ponsel Hazal. Ia memasukkan alat pelacak di dalam ponsel berwarna merah itu.


"Aku tidak ingin kejadian kau menginap di apartemen Kenan terulang lagi. Jika kau tidak pulang sampai tengah malam, aku akan mencari mu sekalipun kau berada di sarang Harun!" Mata Yafet menatap tajam manik mata coklat yang ada di sampingnya.


Hazal terdiam mendengar ucapan Yafet. Ia hanya bisa menelisik jari jemarinya sendiri.


Kelihatannya mantan kekasihnya itu masih marah karena kejadian semalam karena dirinya masih bersikukuh untuk tidak mundur dari rencananya. Di tambah lagi Kenan yang tiba-tiba menghubunginya semalam di tempat latihan tembak. Saat itu telinga Yafet tampak memerah begitu suami Selina itu mendengarkan pembicaraan dirinya dan Kenan di telepon. Laki-laki itu meminta dirinya untuk menghidupkan pengeras suara ponselnya. Yafet malah mendengarkan sebuah percakapan yang hangat dan romantis antara dirinya dan Kenan.


Setelah memasukkan alat pelacak di ponsel Hazal, Yafet segera pergi meninggalkan mereka. Ia keluar rumah, entah pergi kemana.


Jam dinding sudah berbunyi satu kali, jarum pendek itu kini berada di tengah-tengah angka enam dan angka tujuh. Sedangkan jarum panjangnya berada tepat di angka enam. Hazal segera berlari menaiki tangga rumahnya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Hazal segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Guyuran air dingin membasahi setiap lekukan tubuh polosnya. Busa sabun beraroma mawar itu tergelincir di kulitnya yang putih.


Aku hampir lupa, untuk mengambil monitor alat penyadap itu dari Mert.


Ia membalut tubuhnya dengan handuk kimono nya, dan mengambil beberapa pakaiannya. Kini sebuah sweater berwarna putih lengan panjang dengan leher berbentuk sabrina telah melekat di tubuhnya. Pakaian itu memperlihatkan sebagian pundaknya yang polos terbuka. Kemudian diambilnya celana panjang denim nya untuk menutupi kaki jenjangnya.


Hazal tampak sedang berpikir keras di depan cermin. Memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa datang ke rumah Harun, dan mengambil hasil panen Mert. Ia menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya ke atas layaknya ekor kuda, dan menyisakan sedikit anak rambut nya di belakang lehernya. Ia memulas wajahnya dengan make-up tipis. Tak lupa ia menyemprotkan parfum kesukaannya.

__ADS_1


Jam dinding nya sudah berada di pukul tujuh, Hazal menenteng tasnya untuk turun ke lantai bawah. Ia mengambil kotak kontainernya yang ada di dapur dan meletakkannya di meja ruang tamu.


Seorang penjaga rumah masuk ke dalam rumah, pria setengah tua itu membuka pintu rumah keluarga Aksal. Tampak Hazal yang sedang berdiri memunggungi penjaga rumah itu.


"Nona Hazal, ada seseorang yang mencari anda," kata sang penjaga rumah itu menyapa anak majikannya. Pria setengah tua itupun segera undur diri dan kembali ke pos jaganya.


Hazal segera membalikkan badannya menghadap pria setengah tua itu. Di belakang punggung pria setengah tua itu, berdiri Kenan yang sudah siap menjemput Hazal. Penampilan anak Harun itu sedikit berbeda dari biasanya, jauh dari kata formal. Ia tampak lebih muda dari usianya. Ia hanya memakai kaos polos berwarna putih dipadu dengan jaket hitam dan celana jeans hitam.


Kenan berjalan menghampiri Hazal yang sedang berdiri membelakangi meja ruang tamu. Sebuah buket mawar merah ia berikan kepada kekasihnya itu. Hazal pun menerima buket bunga itu, dengan cepat Kenan mencium pipi Hazal.


"Kau sangat cantik pagi ini, sayang." Kenan menghirup aroma bunga yang berasal dari parfum Hazal.


"Kau juga sangat tampan. Aku bahkan hampir tak mengenalimu, jika kau adalah atasanku," ucap Hazal sambil mengalungkan kedua lengannya di belakang leher Kenan.


"Dan kekasih mu." Kenan menegaskan ucapan Hazal.


Meral yang sejak tadi mengintip di belakang dinding, tampak terbengong dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia bahkan tidak bisa membedakan antara kenyataan dan sandiwara. Semuanya terlihat sungguh-sungguh dan penuh perasaan.


"Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Kenan setelah Hazal melepaskan lingkaran tangannya.


"Tunggu, aku ingin mengenalkan mu pada seseorang." Hazal segera menarik tangan Kenan untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Ibu...," kata Hazal memanggil ibunya.


Meral terkejut mendengar suara Hazal yang memanggilnya.


"Ternyata Ibu di sini. Ibu kenalkan ini Kenan Fallay. Dia kekasih ku, pria yang tadi aku ceritakan." Hazal memainkan salah satu matanya untuk memberi kode kepada ibu angkatnya.


"Senang bertemu dengan anda, Nyonya Aksal," ucap Kenan yang terlihat sopan.


"Senang juga bertemu dengan mu, Kenan. Kau bisa memanggilku Bibi Meral," balas ibu angkat Hazal tersebut.


"Boleh aku membawa Hazal pergi sekarang, Bibi Meral?" tanya Kenan dengan sikap sopan nya.


"Pergilah. Semoga perjalanan kalian menyenangkan dan selamat sampai tujuan," kata Meral sambil menepuk pundak Kenan dan Hazal yang berdiri di depannya.


Sepasang kekasih itu kini telah berjalan keluar menuju pintu gerbang. Meral mengintip dari balik jendela ruang tamu.


Jadi pemuda itu adalah anak pembunuh orang tua Hazal. Seandainya kau bukan anak Harun. Aku akan sangat bahagia menerimamu menggantikan posisi Yafet di hati Hazal. Aku bisa melihat dari matamu, bagaimana kau mencintai putriku.


Mobil Kenan melaju membelah lalu lintas kota Istanbul yang masih pagi. Jalanan belum terlalu ramai pada hari Minggu ini. Kenan membawa mobilnya keluar dari kota Istanbul, sesuai dengan petunjuk yang di berikan oleh Hazal.


"Apa kau membawa makanan?" tanya Kenan yang sudah mulai lapar, karena ia belum sarapan.


Hazal segera mengambil kotak kontainernya yang ada di belakang kursi nya. Ia mengambil kotak bekal yang di susun nya berdasar waktu jam makannya. Kotak bekal berwarna kuning yang ia letakkan paling atas, untuk bekal pagi hari.


Aroma roti isi lapis daging tercium ketika Hazal mulai membuka kotak bekalnya. Perut Kenan sudah mulai menjerit. Hazal mulai menyuapi kekasihnya itu, Kenan segera membuka mulutnya lebar-lebar. Hazal mulai tertawa melihat tingkah laku Kenan dan bagaimana mulutnya sudah di penuhi oleh berbagai bumbu roti isi tersebut.

__ADS_1


Sekitar dua jam lebih perjalanan darat, mereka akhirnya sampai di sebuah perkebunan anggur milik rekan bisnis Yafet.


Sebuah perkebunan yang jauh dari kota, suasana di tempat ini masih hijau dan asri. Udaranya begitu sejuk dan bersih, jauh dari polusi.


Sepasang kekasih itu berjalan memasuki sebuah rumah yang berbentuk memanjang. Hazal mengetuk pintu rumah itu. Seorang penjaga rumah membuka dan menerima kedatangan mereka berdua. Ternyata sang pemilik kebun anggur tidak ada di rumah. Tetapi atas pesan Yafet, pemilik kebun anggur itu mengijinkan Hazal dan Kenan untuk memasuki perkebunannya.


Terik sinar matahari tidak terlalu terik, ketika mereka berjalan menyusuri kebun anggur itu. Salah seorang pekerja menemani perjalanan mereka. Buah anggur itu terlihat sudah ranum.


"Boleh aku memetik anggur ini?" tanya Kenan kepada pekerja perkebunan itu.


"Silahkan, Tuan." Pekerja itu memberikan sebuah keranjang kepada Kenan. Laki-laki itu segera memetik buah anggur yang sudah terlihat ranum.


Ia memanggil Hazal yang sudah berjalan agak jauh darinya. Putri angkat Emir itu segera menghampiri kekasihnya.


"Bukalah mulutmu." Hazal membuka mulutnya, kemudian Kenan memasukkan sebuah anggur di mulut Hazal.


"Rasanya sangat manis. Cobalah." Kali ini giliran Hazal yang memasukkan buah anggur itu ke mulut Kenan. Mereka berdua tertawa bersama-sama menikmati hasil kebun anggur itu.


Matahari sudah berada di ubun-ubun kepala mereka. Kedua anak manusia itu sudah berjalan kaki hampir tiga jam untuk mengelilingi kebun anggur itu. Tapi sekeranjang penuh buah anggur itu menghilangkan segala keletihan mereka.


"Bagaimana kalau kita duduk di bawah pohon besar itu?" Hazal menunjukkan pohon besar yang sangat rindang yang ada di depan mereka. Kelihatannya tempat itu sangat teduh.


Kenan segera menggandeng tangan Hazal untuk menuju pohon besar itu. Mereka berdua duduk berdampingan di bawah pohon tersebut memandang pemandangan hijau yang ada di depan mereka. Hanya ada hamparan rumput untuk alas duduk mereka.


Hazal membuka kotak kontainernya dan mengeluarkan bekal makan siang mereka dan buah-buahan.


"Makanlah. Semoga kau menyukai masakan ku. Aku tidak tahu seperti apa selera mu," kata Hazal sambil memberikan sekotak bekal untuk Kenan.


Kenan mulai memakan masakan Hazal, kemudian ia tersenyum lebar dan menghabiskan semua isi kotak itu.


"Sekali-kali kau bawa bekal ini untuk makan siang kita di kantor," ucap Kenan sambil tersenyum setelah seluruh masakan Hazal masuk ke dalam perutnya.


Setelah menyelesaikan makan siang mereka. Kenan dan Hazal masih duduk di bawah pohon besar itu. Angin semilir menerpa wajah dan rambut mereka.


"Kenan, masa depan apa yang ingin kau jalani bersama dengan ku?" tanya Hazal tiba-tiba memecahkan kesunyian di antara mereka.


Kenan menghembuskan napasnya dalam-dalam. Ia kemudian membaringkan dirinya di atas hamparan rumput dan menarik tangan Hazal agar berbaring di sampingnya. Ia merentangkan tangannya untuk alas kepala Hazal.


"Seandainya aku punya saudara kandung. Maka aku akan menyerahkan seluruh perusahaan Fallay kepadanya. Kemudian aku akan tinggal di perkebunan seperti ini bersama dengan wanita yang aku cintai," jawab Kenan sambil memandang wajah Hazal dengan lembut kemudian mencium kening Hazal. Ia mengusap dengan lembut pipi dan bibir merah Hazal.


"Kenan, boleh aku bertanya satu hal lagi padamu?" Hazal memiringkan tubuhnya menghadap Kenan yang sedang berbaring di sampingnya.


"Katakan saja?" Kenan melihat sebuah sarang burung yang menempel di sebuah dahan yang ada di atas kepalanya.


"Jika suatu hari nanti, aku dan ayahmu terlibat konflik yang tidak ada jalan keluarnya. Dan kau berada di tengah-tengah ayahmu dan aku. Siapa yang akan kau pilih?" tanya Hazal sambil menatap manik mata abu-abu itu dalam-dalam.


Dua pasang manik mata itu saling menatap, seakan ingin mencari sebuah kebenaran di dalam indera penglihatan itu.

__ADS_1


🔥 Bersambung ❤️


Jangan lupa Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian. Terimakasih 🙏🤗


__ADS_2