
Menjelang senja di kota New York, terdengar suara musik romantis di dalam sebuah mobil sport hitam yang di kendarai oleh Hazal. Putri angkat keluarga Aksal ini sedang berada di jalan raya untuk membelah lalu lintas kota New York.
Hazal memarkirkan mobilnya di depan restoran cepat saji, tempat Yafet bekerja paruh waktu. Setiap sore setelah selesai kuliah, Hazal selalu menjemput kekasihnya. Gadis berambut coklat itu turun dari mobilnya, dan memasuki restoran yang terkenal dengan menu ayam goreng nya.
Pandangan nya mencari sosok kekasihnya di antara puluhan orang yang ada di restoran tersebut. Tiba-tiba pundak Hazal di tepuk oleh seseorang.
"Siapa yang kau cari nona cantik?" tanya Yafet yang memegang pundak Hazal.
Hazal membalikkan tubuhnya, dan dia menyambut kekasihnya itu dengan senyum manisnya. "Aku sedang mencari mu," jawab Hazal yang mencubit perut Yafet. Pria itu meringis mendapat cubitan kecil dari Hazal.
Yafet menggenggam erat tangan Hazal dan mengajak nya untuk duduk di salah satu kursi di restoran tersebut.
"Tunggu aku disini," pinta Yafet yang menarik sebuah kursi untuk Hazal duduki.
Hazal menunggu Yafet yang berjalan ke arah dapur restoran. Tak beberapa lama kemudian, Yafet membawa sebuah nampan berwarna coklat, pria itu berjalan ke arah Hazal. Yafet meletakkan empat potong ayam goreng di atas meja Hazal, dua bungkus kentang goreng ukuran medium, dua bungkus burger, dua minuman dingin. Tak lupa dengan saos spicy kesukaan Hazal.
"Makanlah...ini untukmu," kata Yafet yang segera duduk di depan Hazal.
"Wow...ini banyak sekali," seru Hazal yang masih memandangi makanan yang ada di depan nya.
"Kau tau...aku mendapatkan semua makanan ini gratis," bisik Yafet yang memajukan wajahnya.
"Kau pasti telah merayu manager mu, sehingga ia memberikan makanan ini secara gratis," ucap Hazal dengan memicingkan matanya.
"Bukan hanya merayu, tapi aku juga sudah mengajaknya berkencan," balas Yafet yang membuat wajah Hazal merah padam.
"Beraninya kau !?!?" pekik Hazal yang menatap tajam Yafet. Tatapan mata Hazal seperti seekor singa betina yang hendak menerkam mangsa di depan nya karena telah mengusik anaknya.
"Kau cemburu?" tanya Yafet sambil menahan tawanya. "Bukankah kau sendiri yang menebak bahwa semua makanan ini adalah pemberian manager ku?" tanya Yafet yang memainkan matanya di depan Hazal dan mulai memakan ayam goreng nya.
Dengan cepat Hazal menepuk punggung tangan Yafet, "Kenapa kau makan ayam goreng ku?"
"Ini ayam goreng ku," sahut Yafet.
"Kau bilang tadi, kalau semua makanan ini untuk ku," seru Hazal.
"Tapi aku yang berjuang untuk mendapatkan makanan ini," balas Yafet yang mengambil kentang goreng di depannya.
"Kau curang !?!?!" kata Hazal dengan kesal.
"Setidaknya kau harus menghargai kerja keras kekasih mu ini, dengan membagi makananmu, jika kau makan semuanya, aku tidak akan kuat menggendong mu lagi," ucap Yafet dengan tawa dan lirikan matanya. Hazal mendengus kesal melihat sikap Yafet, kemudian gadis itu mulai memakan ayam gorengnya.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua keluar dari restoran tersebut dan berjalan menuju ke mobil mereka.
"Berikan kunci mobilnya pada ku," ucap Yafet dengan menengadah kan tangan kanannya di depan Hazal. Segera Hazal memberikan kunci mobilnya kepada Yafet. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah merasakan kembali lalu lintas yang sangat padat di kota New York.
"Apa sudah ada kabar dari Smith?" tanya Yafet di balik kemudinya.
"Belum," sahut Hazal. "Aku akan coba menghubungi nya." ucap Hazal. Segera gadis itu mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas kuliahnya. Dia mencari kartu nama Smith yang ia simpan di dalam dompetnya. Sebelum Hazal berhasil menemukan kartu nama tersebut, tiba-tiba ponsel nya berbunyi.
"Halo,' jawab Hazal dengan bahasa Inggrisnya.
"Hazal, ini aku Smith Lloyd. Bisakah kau menemui aku di apartemen ku pukul delapan malam?" tanya Smith di seberang.
"Ya...aku bisa. Kirimkan lokasi apartemen mu, Smith." jawab Hazal di balik ponsel nya.
__ADS_1
"Baiklah...aku segera mengirim lokasi apartemen ku," ucap Smith dan kemudian menutup sambungan ponsel nya.
"Telepon dari Smith?" tanya Yafet dari balik kemudinya.
"Iya....Dia ingin bertemu dengan ku di apartemen nya pukul delapan malam." jawab Hazal.
"Aku akan menemanimu." ucap Yafet yang tidak membiarkan Hazal pergi seorang diri.
******
Pukul delapan malam, Hazal dan Yafet sudah berada di depan apartemen Smith. Bukan hanya mereka berdua yang diundang Smith untuk datang ke apartemen nya, ternyata di sana sudah ada ketiga teman Yafet yang lain.
"Aku mengundang mereka, karena kata David, mereka juga ingin membantu memecahkan kasus ini," jelas Smith yang menjawab pertanyaan di wajah Yafet.
"Sudah lulus kuliah, bukan nya bekerja tetapi kalian lebih suka menjadi detektif," kata Yafet kepada ketiga teman nya, dan mereka pun terkekeh mendengar perkataan Yafet. Karena perkataan pria itu seperti nasihat seorang ayah kepada anak nya.
Sebelum Smith memulai penjelasan nya, dia mematikan lampu ruangan yang ada di ruang apartemen nya. Kemudian dia menyalakan sebuah layar proyektor yang menghadap ke sebuah dinding putih di ruangan tersebut. Smith menjelaskan secara detail kronologis tragedi Keluarga Danner. Ada beberapa foto mobil milik Erkan Danner yang terguling, foto garis putih yang berbentuk tubuh manusia yang menjelaskan bahwa di tempat itu Ayla dan Hazal Danner di tembak dan foto garis putih yang menjelaskan posisi mobil Erkan terguling.
"Smith, bagaimana kau bisa mendapatkan foto-foto ini?" tanya Hazal yang menyela penjelasan agen FBI itu.
"Itu sangat mudah bagi ku, Hazal. Karena ini adalah pekerjaan ku." jelas Smith yang masih menimbulkan tanda tanya.
Di layar proyektor itu ada foto jejak sepatu dengan garis dan bentuk yang sama. Smith menduga ini adalah sepatu yang di kenakan oleh pembunuh itu. Layar proyektor mati, dan Smith menyalakan lampu ruang apartemen nya. Kemudian pria itu meletakkan setumpuk lembar kertas di atas meja yang ada di hadapannya.
"Ini adalah identitas dari orang-orang asing yang datang ke Swiss dua belas tahun silam, tepat nya tiga hari sebelum kejadian tersebut dan tiga hari sesudah kejadian tersebut. Aku mendapatkan informasi ini dari kedutaan Swiss, sengaja aku tidak mencari secara khusus warga negara Turki yang sedang berlibur ke Swiss, karena penyelidikan ini masih bersifat abu-abu," kata Smith kepada kelima anak muda itu.
"Wow...." seru mereka bersamaan. Kelima anak muda itu terkejut karena ternyata penyelidikan Smith bisa sampai sejauh ini.
"Menurut David, kalian berlima berasal dari negara yang berbeda. Hanya Yafet dan Hazal yang berasal dari satu negara. Setelah ini kalian akan menetap di mana?" tanya Smith kepada mereka berlima.
"Aku akan pergi ke Australia Minggu depan, kakak ku meminta ku untuk tinggal di sana,"
"Aku akan menetap di New York, mencari keberuntungan ku di sini," seru Jason.
"Dua Minggu lagi aku akan pulang ke Turki," jawab Yafet. Hazal terkejut mendengar jawaban Yafet, karena kekasihnya itu belum membicarakan tentang tanggal kepulangan nya dengan dirinya.
"Aku akan tetap tinggal di New York, untuk meneruskan kuliah ku sampai 4 atau 5 tahun lagi," giliran Hazal yang berbicara.
"Oke....baiklah anak muda. Karena kalian berniat untuk membantu, maka aku akan memberikan pekerjaan rumah untuk kalian." seru Smith yang membagikan beberapa lembar kertas kepada mereka.
Smith membaginya berdasarkan lokasi yang akan mereka tinggali. David memegang lokasi di benua Eropa, Lee memegang lokasi di benua Australia, Jason dan Hazal memegang lokasi di benua Amerika, Yafet memegang lokasi di benua Asia. Mereka memperhatikan setiap foto yang tercetak di kertas tersebut.
"Lalu apa yang harus kami lakukan dengan kertas-kertas ini?" tanya Lee kepada Smith.
"Cari tau apa waktu itu mereka ada di lokasi kejadian, apa hubungan mereka dengan keluarga Danner dan satu lagi....apakah mereka bisa berbahasa Turki," Smith memberi penjelasan.
"Setelah kalian mendapatkan informasi mengenai orang-orang tersebut, beritahu aku melalui email, maka aku akan mendapatkan beberapa nama yang bisa kita selidiki lebih lanjut." ucap Smith yang melanjutkan perkataannya.
Kelima anak muda itupun menganggukkan kepalanya, tanda bahwa mereka mengerti tentang tugas mereka.
"Kau lihat, kita seperti detektif Conan saat ini?" ucap David.
"Itu buku bacaan favorit ku waktu umurku 10 tahun," sahut Yafet.
"Hei.... Kenapa tidak ada foto wanita di kertas ini?" tanya Lee dengan lelucon nya. David segera melemparkan bantal yang ada di belakang punggungnya ke arah Lee. "Pembunuh orang tua Hazal itu seorang pria, brengsek," umpat David kepada teman Jepangnya itu.
__ADS_1
"Jika pembunuh nya wanita, kirim saja Lee untuk mendekatinya," ejek Jason yang di sambut dengan tawa keras teman-temannya.
"Lihat Hazal, mereka tidak serius untuk membantumu," rengek Lee dengan mendekap sebuah bantal di tubuhnya.
"Yafet, kau siap menitipkan Hazal pada ku?" tanya Jason dengan raut wajah sedikit serius.
"Rasakan dulu tinjuku ini," sahut Yafet yang menunjukkan kepalan tangan nya. Merekapun tertawa mendengar reaksi Yafet. Pria itu sangat posesif sekali kepada Hazal.
Setelah bersenda gurau, mereka pun pulang ke tempat mereka masing-masing.
*****
"Yafet, kenapa kau tidak memberitahu ku jika kau akan pulang dua Minggu lagi?" tanya Hazal ketika mereka berdua sudah masuk ke ruang apartemen Yafet.
"Tadi siang, Ayah dan Ibu menelepon ku. Ayah menyuruhku untuk pulang Minggu depan, tetapi aku menolak nya, akhirnya aku menceritakan tentang Smith, dan Ayah memberiku batas waktu dua Minggu untuk menemukan pembunuh itu, atau kalau tidak....Ayah yang akan datang ke sini untuk menjemput ku," jelas Yafet yang sedang berjalan ke kamarnya.
"Apa? Dua Minggu untuk mencari pembunuh itu?" tanya Hazal yang hampir tak percaya dengan tantangan yang diberikan oleh Ayahnya. Gadis itu berjalan di belakang Yafet.
"Hazal, saat ini kau fokuslah dengan kuliahmu, berikan kertas bagian mu pada ku. Selama dua Minggu ini, aku akan mencari orang itu di seluruh penjuru Amerika," ucap Yafet yang memegang kedua pundak Hazal dan memandang wajah Hazal dengan serius.
"Baiklah...jika itu mau mu," ucap Hazal.
Yafet mengambil kertas yang ada di tangan Hazal dan membaginya berdasarkan rute terdekat dengan New York.
"Kau tak keberatan jika dua Minggu ini kau akan sendirian di apartemen?" tanya Yafet kepada kekasihnya itu.
"Tidak bisakah aku ikut bersama mu?" tanya Hazal yang mengalungkan kedua tangan nya ke perut Yafet.
"Bagaimana dengan kuliahmu? Kau masih mahasiswa baru, tidak baik kau bolos kuliah untuk waktu yang lama." ucap Yafet sambil memeluk tubuh Hazal dan mengusap punggung gadis itu.
"Baiklah....mungkin aku juga harus belajar mandiri di sini, karena setelah dua Minggu ini, kau akan pergi meninggalkan ku untuk pulang ke Turki," cicit Hazal di dalam dekapan pelukan Yafet.
Hazal segera naik ke tempat tidur, dan menarik selimut nya. Mata coklatnya masih memandang Yafet yang ada di depan nya.
"Ada apa?" tanya Yafet kepada gadisnya itu.
Hazal tersenyum manis dan menggelengkan kepalanya. Tapi tatapan matanya tidak lepas dari wajah Yafet.
"Aku tau yang kau mau, kau ingin aku menemani mu tidur malam ini?" tanya Yafet yang masih berdiri di depan Hazal.
Hazal menganggukkan kepalanya, tersenyum malu dengan wajah merona nya. Yafet segera mematikan lampu kamarnya, hanya ada cahaya lampu dari luar dan sinar rembulan yang menerangi wajah mereka. Yafet merebahkan dirinya di samping Hazal, dan memeluk Hazal dengan erat.
"Tidurlah, sayang." ucap Yafet dengan mencium kening Hazal.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah mampir dan meluangkan waktu untuk baca tulisan novel ku ini. Aku berharap kalian menyukainya, dan jangan lupa untuk selalu kasih...
🤗 Like
🤗 Rate
🤗 Komentar dan
🤗 Vote kalian
__ADS_1
Terimakasih 🙏🤗🙏