DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Di Rumah Sakit


__ADS_3

"Emir....!" teriak Meral yang begitu melihat suaminya ambruk, jatuh terkapar di lantai. Istri Emir itu segera menghampiri suaminya, ia memeluk erat tubuh suaminya yang sudah tidak berdaya. Bayangan berpisah dengan suami tercintanya tergambar di atas kepalanya. Baru saja ia telah kehilangan kedua anaknya, di waktu yang sama ia tidak cukup kuat untuk kehilangan suaminya.


"Yafet...Hazal...Nuran...semuanya...! Tolong aku...!" teriak Meral di gelapnya malam hari ini. Suara wanita paruh baya itu berteriak dengan lirih memanggil semua penghuni rumahnya.


Di halaman depan, Yafet dan Hazal yang hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba di kejutkan oleh suara teriakan Meral.


"Yafet, tunggu...! Sepertinya itu teriakan ibu," kata Hazal yang memegang lengan Yafet. Tetapi pemuda itu tidak bergeming. "Yafet, kita harus kembali," ucap Hazal yang mengajak Yafet untuk kembali masuk ke dalam rumahnya.


Pintu besar itu terbuka, kedua anak Aksal berjalan memasuki ruang tamu, terdengar suara ibunya yang berteriak memanggil nama ayahnya dan seisi rumah. Membuat seluruh pelayan dan penjaga rumah datang berhamburan menuju ke ruang keluarga.


"Apa yang terjadi?" tanya Yafet begitu dirinya dan Hazal sudah masuk ke dalam ruang keluarga.


Tubuh ayahnya membujur kaku, tergeletak di atas lantai, tangan ibunya tengah merengkuh leher belakang dan tubuh ayahnya.


"Ibu...," kata Yafet dan Hazal bersamaan, mereka berdua menghampiri dan duduk di samping Meral.


Hazal memegang tangan ayahnya, tetapi tangan itu terasa dingin. Hazal hampir tidak bisa merasakan denyut nadi ayahnya. "Ti-tidak...A-yah...jangan pergi...," isak Hazal dengan suaranya yang terbata-bata.


Yafet segera berinisiatif menelepon dokter keluarga dan mobil ambulans. Pemuda itu mengusap lelehan air mata yang membasahi wajahnya dengan lengannya. Ia tak menyangka sikap keras kepalanya, pemberontakannya dan penolakannya akan membuat ayahnya menjadi seperti ini.


Beberapa menit kemudian dokter keluarga dan mobil ambulans pun tiba, dokter memeriksa kondisi Emir. "Kita harus segera membawa Tuan Emir ke rumah sakit, sebelum semuanya terlambat," ucap dokter yang segera memindahkan tubuh Emir ke mobil ambulans. Dalam beberapa detik mereka tersentak mendengar perkataan sang dokter.


"A-pa maksud dokter?" tanya Yafet dengan gugup, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat takut kehilangan ayahnya.


"Suamiku kenapa dokter? Dia masih hidup kan?" teriak Meral sambil mengguncang pria yang berkacamata dengan jubah putihnya.


"Ibu, tenanglah. Dokter akan segera menangani ayah," hibur Hazal yang memeluk ibunya.


"Ibu takut. Takut kehilangan ayahmu...," isak Meral di dalam pelukan Hazal. Dengan menggunakan mobil Yafet, mereka mengikuti mobil ambulans yang membawa Emir ke rumah sakit.


Bau aroma obat-obatan menyeruak di indera penciuman mereka, ketika mereka sudah tiba di rumah sakit. Dokter dan suster menyiapkan segala peralatan. Dokter memberikan efek kejut di dada Emir, tetapi pria paruh baya itu tidak bereaksi. Mesin di sampingnya hanya berbunyi bip...bip...bip....


"Siapkan ruang operasi!" perintah dokter kepada suster.


Meral, Hazal dan Yafet tampak terkejut begitu mendengar perintah dokter. Yafet segera menghampiri dokter. "Dok, sebenarnya apa yang terjadi? Ayahku masih hidupkan? Ayahku bisa diselamatkan, kan?"

__ADS_1


"Aku akan berusaha sebaik mungkin. Tuan Emir mengalami serangan jantung. Operasi jantung harus segera di lakukan untuk menyelamatkan nyawa ayahmu," jawab dokter tersebut yang segera pergi meninggalkan Yafet dan bergegas menuju ke ruang operasi.


Tangisan mereka pecah di depan ruang operasi. Meral menyandarkan kepalanya di pundak Hazal, putri angkatnya itu memeluk pundak ibunya. Kedua wanita itu sama-sama menangis. Sedangkan Yafet hatinya benar-benar hancur saat ini, ia berdiri dan memukul dinding rumah sakit. Ia tak menyangka, perlawanannya kepada ayahnya akan berakibat seperti ini.


Setelah beberapa waktu yang lalu, ia hampir kehilangan Hazal, sekarang ia melihat ayahnya terbaring tak berdaya di meja operasi. "Kenapa harus seperti ini? Kenapa?" teriaknya di koridor rumah sakit.


"Hazal, lebih baik kau temani Yafet, sebelum ia membuat keributan di rumah sakit," pinta ibunya yang di sambut anggukan kepala dari Hazal.


Hazal berjalan mendekati Yafet yang berada tidak jauh dari tempat duduknya. Kelima jarinya itu menyentuh pundak tegap kekasihnya. Pundak yang terlihat tegap dan kuat bagaikan sebuah menara yang tinggi kini terlihat rapuh dan hancur karena terpaan badai. Yafet segera memeluk Hazal begitu menyadari kehadiran wanita yang di cintai nya. Saat ini dirinya hanya memerlukan sebuah sandaran dari wanita itu.


"Menangis lah, jika itu bisa mengurangi beban mu," ucap Hazal yang merengkuh tubuh Yafet. Pria itu memeluk erat tubuh Hazal, tidak ada kata yang terucap. Tetapi pelukan itu begitu menghangatkan, membuat hati keduanya menjadi tenang, dan saling menguatkan. Tetesan air mata itu mengalir di garis bibir Meral, ketika wanita paruh baya itu melihat betapa kedua anaknya itu saling mencintai.


Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan sebagai ibu? Aku ingin melihat kedua anakku bahagia. Tapi kenapa semua itu terasa sangat sulit bagi mereka. Semoga kalian bisa memperjuangkan cinta kalian. Tapi bagaimana dengan anak yang di kandung Selina? Oh... rasanya kepalaku hampir pecah jika memikirkan semua ini.


Meral bangkit dari tempat duduknya dan melihat ke dalam ruang operasi melalui sebuah jendela yang sedikit terbuka tirai nya. "Bertahanlah Emir, jangan biarkan anak-anakmu merasa bersalah karena kepergian mu."


Setelah hampir menunggu dua jam, lampu merah itu akhirnya padam. Dokter keluar dari ruang operasi melepas masker wajahnya. Ketiga anggota keluarga Aksal segera mengerumuni dokter tersebut.


"Operasi Tuan Emir sudah berhasil, beliau sudah dipindahkan di ruang ICU sampai kondisinya kembali stabil," jelas dokter sebelum ketiga orang itu bertanya padanya. Penjelasan dokter membuat hati mereka sedikit lega, secara bergantian mereka menjaga Emir di ruang ICU.


Apa Yafet dan Hazal ada di sini? Apa mereka tahu, jika aku di rumah sakit? Apa mereka mengkhawatirkan diriku? Kenapa hanya Meral yang menemaniku?


Meral yang merasa kasur di bawahnya sedikit bergerak-gerak, mengangkat kepalanya. Dibukanya kelopak matanya dan mulai melihat suaminya sudah sadar.


"Emir... kau sudah sadar? Aku akan segera memanggil dokter!" Segera istri Emir itu menekan tombol merah yang menempel di dinding.


Beberapa waktu kemudian, dokter dan suster datang untuk memeriksa Emir. Kondisi Emir sudah membaik, hanya menunggu masa pemulihan saja, begitulah penjelasan singkat dari dokter spesialis jantung ini. Setelah dokter dan suster meninggalkan ruang kamar Emir, wajah Emir tampak gelisah dan manik matanya sedang mencari sesuatu.


"Ada apa? Apa kau mencari anak-anakmu?" tanya Meral yang mencoba memahami apa yang di rasakan oleh suaminya. Emir hanya menoleh ke arah Meral, bibir berwarna pucat itu terkatup rapat, egonya menutupi seluruh rongga mulutnya untuk mengatakan ya.


"Mereka baru saja pulang, semalam mereka menjagamu, mereka tidak jadi pergi dari rumah." Meral menjelaskan panjang lebar tanpa diminta oleh Emir. "Tanpa kau bicara, aku tahu kau mencemaskan keadaan mereka. Kau merindukan anak-anakmu, kan?" Senyum manis Meral mencoba mencairkan suasana hati dan rasa ego lelakinya ini.


"Aku akan memberitahu mereka, jika kau sudah sadar." Meral hendak berdiri dan mengambil ponselnya.


Tiba-tiba tangan Emir memegang tangan Meral. Seolah memberi isyarat, jangan.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Semalam mereka sangat mengkhawatirkan mu. Mereka menangis begitu melihatmu jatuh tergeletak dan begitu dokter mengatakan bahwa kau terkena serangan jantung. Mereka masih menyayangimu, Emir. Sampai kapanpun mereka masih menganggap mu sebagai ayah mereka," tutur Meral yang menyayangkan sikap suaminya.


Pria paruh baya itu masih dalam sikap diamnya, tidak bergeming setelah mendengar perkataan istrinya. Meral memberikan segelas air putih kepada Emir. Suasana kembali menjadi hening untuk beberapa menit.


"Aku... ingin bi-bicara de-dengan Ya...fet," pinta Emir tiba-tiba. Tak ada jawaban dari bibir Meral, bukan istrinya itu tidak mendengar apa yang di perintahkan kepadanya. Hanya saja wanita itu terlalu khawatir jika ayah dan anak itu akan membicarakan masalah yang sama, dan berakibat buruk pada kesehatan suaminya.


"Meral...," kata Emir dengan suara lirih di balik selang oksigen yang menempel di kedua lubang hidungnya.


"Emir..., apa kau ingin membicarakan masalah kemarin?" tanya Meral sambil membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh suaminya.


"Ya...."


"Lebih baik kalian berbicara setelah kau keluar dari rumah sakit, kau baru saja di operasi."


"Tidak, Meral. A...aku harus membicarakan ini...se-sekarang. Selina hanya...hanya memberi waktu kita 2x24 jam. Besok...adalah ha...hari terakhir kita memberikan ke...keputusan," kata Emir dengan suaranya yang terbata-bata. "Aku tidak tahu...berapa lama lagi...aku ada di sini."


Meral menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya.


"Ku...ku-mohon, Me...ral panggil Yafet. Se...sebelum semuanya ter-lambat."


Dengan terpaksa Meral mengabulkan permintaan suaminya. Wanita itu menghubungi Yafet dan memberitahu putranya bahwa ayahnya ingin berbicara dengannya.


"Itu berarti ayah sudah sadar, Ibu?" tanya Yafet dengan perasaan gembiranya.


"Ya. Cepatlah ke rumah sakit," ucap Meral yang segera menutup ponselnya.


❤️ Bersambung ❤️


**Maaf dua hari kemarin gak sempat up...


Hari ini aku up lagi dengan bab baru, semoga kalian masih menantikan kelanjutan ceritaku ini 🤗


Mulai Bab 84 sampai entah bab berapa, keseruan cerita ini di mulai.....siapin tisu yang suka baper 😭 dan aku untuk yang suka action nya, yuk main tebak-tebakan di bab selanjutnya...


Jangan lupa kasih like, komen, vote atau rate bintang lima 🤗 terimakasih 🙏🥰**

__ADS_1


__ADS_2