
Ting...!
Pintu lift itu terbuka, sepasang anak manusia yang saling mencintai itu tengah berdiri saling berhadapan di sisi yang berbeda. Hazal sangat terkejut melihat Yafet berada di dalam lift, dan berdiri di hadapannya. Sedangkan Yafet merasa bahagia karena bisa menemukan Hazal, sesaat ia melihat wanita yang dicintainya itu baik-baik saja, namun kelopak matanya masih terlihat sedikit sembab.
Hazal mengurungkan niatnya untuk ke lantai bawah, ia berlari kembali menuju ke kamarnya. Yafet segera mengejar langkah kaki Hazal.
"Hazal, tunggu...!" Yafet berteriak memanggil nama wanita itu.
Hazal segera menempelkan kartu akses kamarnya dan segera membuka pintu kamarnya. Belum sempat ia menutup pintu, tubuh Yafet sudah mendorong pintu itu. Tetapi Hazal menahan dari balik pintu agar tidak terbuka.
"Hazal, aku ingin bicara dengan mu. Biarkan aku masuk," ucap Yafet yang ada di depan pintu.
"Aku tidak ingin bicara denganmu. Pergilah...!" teriak Hazal dari balik pintu.
Kekuatan mereka tidak imbang, tenaga Yafet lebih besar. Yafet mendorong pintu kamar itu lebih keras, membuat Hazal terjatuh di lantai. "Auwww...!" teriak Hazal yang memegangi salah satu lututnya yang membentur sudut meja.
Pintu kamar itupun terbuka, Yafet yang melihat Hazal tersungkur segera menghampiri wanita itu dan menggendongnya. Yafet meletakkan Hazal di atas sofa. Hazal hanya memandangi mata elang itu dengan tatapan nanar.
"Pergilah, aku tidak ingin bicara dengan mu!" seru Hazal yang membuang wajahnya ke arah lain. Tetapi manik matanya kembali memerah.
Yafet duduk di tepi sofa, menghadap Hazal, ia melihat Hazal yang memegangi salah satu lututnya. Segera ia memijat lutut Hazal dengan perlahan-lahan dan meminta maaf pada wanita itu.
Hazal membiarkan tangan kekar itu menyentuh lututnya. Tetapi kemudian ia memegang tangan kekar itu. "Aku sudah baikan, pergilah. Aku tidak ingin bicara denganmu," ucap Hazal yang meletakkan tangan Yafet di atas celana panjangnya.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin menjelaskan semua ini padamu. Kenapa aku memutuskan untuk menikahi Selina," ucap Yafet sambil memegang erat tangan Hazal.
"Karena anak itu kan? Anak dalam kandungan Selina adalah anakmu! Untuk apa kau menjelaskan itu semua! Kau sudah mengakui anak itu dan hasil tes DNA itu sudah membuktikan bahwa kau ayahnya!" seru Hazal sambil menangis.
"Bukan karena itu...," jelas Yafet yang menatap manik mata coklat yang telah berair.
Hazal melepaskan tangannya dari genggaman tangan Yafet. "Aku tidak ingin tahu dan tidak ingin mendengar pembelaan mu lagi, cukup Yafet...! Sekarang pergilah!" teriak Hazal sambil mengusap lelehan air matanya.
Yafet menyayangkan sikap keras kepala Hazal yang tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Laki-laki itupun akhirnya berdiri, tetapi sebelum ia meninggalkan Hazal ia berkata, "Baiklah, jika kau tidak ingin mendengarkan penjelasan ku, asal kau tahu... sampai kapanpun aku masih tetap mencintaimu."
Punggung tegap itu makin lama, makin menghilang, dan terdengar suara pintu di tutup. Hazal menangis sesenggukan di atas sofa. Ia memeluk erat bantal sofa yang berwarna krem itu, "Jika kau...mencintaiku, kenapa kau memilih Selina?"
Setelah keluar dari kamar Hazal, Yafet menghubungi karyawannya. "Beritahu aku jika Nona Hazal keluar dari hotel."
Satu jam setelah kepergian Yafet, Hazal dengan diam-diam keluar dari kamarnya. Sengaja ia keluar tidak melalui lobi hotel, tetapi dari tangga darurat yang menghubungkannya ke tempat parkir bawah tanah. Tempat mobilnya berada.
Ia melajukan mobil putihnya itu menuju ke rumah sakit, tempat ayah angkatnya di rawat. Sejak ayahnya sudah sadar, ia belum bertemu dengan ayahnya.
Hazal mengayunkan langkahnya menuju ke kamar ayahnya. Dari kaca jendela, ia melihat ayah dan ibunya ada di dalam kamar. Seketika ia ragu untuk masuk ke dalam, mengingat kejadian di rumah beberapa hari yang lalu, ketika ayahnya menyetujui pernikahan Yafet dan Selina.
Jari lentiknya itu terus memegang pegangan pintu, tanpa mau mendorongnya.
"Apa kau salah kamar Nona?" tanya seorang suster yang tiba-tiba ada di belakang Hazal.
__ADS_1
"Oh tidak-tidak. Aku mencari kamar Emir Aksal," jawab Hazal yang menggelengkan kepalanya.
"Kamar ini betul kamar Emir Aksal," kata suster tersebut. "Masuklah."
Dengan penuh keraguan, Hazal membuka pintu itu. Emir dan Meral melihat ke arah pintu.
"Hazal...," ucap kedua orang tua itu.
"Ayah...Ibu...," sapa Hazal.
Meral menegakkan tubuh Emir agar jelas melihat Hazal. Tubuh Emir yang terlihat lemah dan terlihat lebih kurus dari biasanya membuat Hazal sedih.
"Kemari lah...," panggil Emir yang melambaikan tangannya di depan Hazal.
Hazal yang sejak tadi hanya berdiri di dekat pintu, segera mendekati ayah angkatnya dan duduk di samping Emir.
Emir menatap wajah Hazal, betapa dia sangat merindukan putri angkatnya ini. Sudah beberapa hari, ia tidak melihatnya. Ia menepuk-nepuk punggung tangan Hazal.
"Hazal, anakku... maafkan ayahmu ini. Mungkin kau merasa bahwa ayah adalah orang yang paling jahat di dunia ini," ucap Emir yang membuka pembicaraannya.
Hazal menggelengkan kepalanya, sambil menunduk ia menangis di lengan Emir. "Ayah, maafkan aku... aku yang seharusnya minta maaf. Aku telah mengecewakanmu. Aku telah berani mencintai anak kandungmu."
Meral yang tak kuasa melihat pemandangan sedih ini segera keluar dari kamar dan menangis di depan kamar suaminya.
Emir mengusap rambut Hazal. "Semua bukanlah kesalahanmu, semuanya adalah salah ayah. Ayah yang telah menghalangi cinta kalian. Ayah yang membuat kalian tidak bisa bersatu."
"Kenapa Ayah? Apa aku sangat buruk di mata Ayah?" Pertanyaan inilah yang selalu Hazal tanyakan kepada dirinya sendiri. Tapi diabtidak tahu jawabannya. Kenapa ayah dan ibunya tidak mendukungnya?
"Hazal, jangan salahkan Yafet. Dia memilih menikah dengan Selina, bukan hanya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya pada wanita itu. Tapi... semua ini karena untuk melindungi mu," jelas Emir sambil memegang tangan Hazal.
"Apa maksud Ayah? Melindungi ku?" tanya Hazal.
Untuk beberapa detik, Emir tidak berkata apa-apa. Pria paruh baya itu menatap langit-langit kamarnya, seakan ia memandang jauh ke depan.
"Kau belum aman, nak. Hidupmu dalam bahaya, jika kau menikah dengan Yafet. Jika kalian menikah, maka identitas mu sebagai putri Danner akan terbongkar," jelas Emir.
"Jangan salahkan Yafet. Anak itu masih mencintaimu, dia juga tidak punya pilihan lain selain memutuskan hubungannya denganmu dan menikahi Selina. Andai dia tidak menghamili wanita asing itu, dia akan menunggu sampai hidupmu benar-benar aman. Tidak ada lagi orang jahat yang akan mencelakai mu."
Hazal terdiam mendengar penjelasan ayah angkatnya. Ia berusaha mencerna setiap kata-kata yang keluar dari bibir tua itu.
"Ayah tidak ingin kau dan Yafet saling membenci. Sampai kapanpun dia akan selalu melindungi mu, meskipun bukan sebagai seorang kekasih. Baginya kau adalah prioritas pertamanya," kata Emir yang mengusap air mata di wajah Hazal.
Hazal kini mengerti, Yafet mengorbankan cintanya hanya untuk melindungi dirinya. Putri angkat Emir itu mulai sedikit tersenyum.
"Sampai kapanpun aku tidak bisa membenci Yafet, Ayah. Kali ini dia berkorban, agar aku tetap hidup. Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanannya. Aku akan berusaha untuk mencari siapa dalang di balik terbunuhnya orang tuaku," ucap Hazal yang segera memeluk ayahnya.
Emir mengusap punggung Hazal, "Maafkan Ayahmu ini, nak."
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan Ayah, jika bukan karena Ayah, aku tidak akan bisa menjadi seorang putri Aksal," ucap Hazal yang masih dalam pelukan Emir.
***
Di hari yang sama, Selina sedang sibuk mempersiapkan keperluan pernikahannya yang tinggal menghitung hari.
Ia dan Jasmine sedang sibuk memilih gaun pengantin di salah satu butik ternama di Istanbul. Jasmine mengambil salah satu gaun yang berwarna putih dengan potongan leher rendah dan bagian punggung yang terbuka.
"Kurasa ini cocok untukmu," ucap Jasmine yang menempelkan gaun pengantin itu ke tubuh Selina.
"Aku akan mencobanya." Selina mengambil gaun pengantin itu dari tangan Jasmine dan membawanya ke ruang ganti.
Beberapa menit kemudian, Selina keluar dari kamar ganti dengan gaun pengantin itu.
"Wow, kau terlihat sangat cantik...dan seksi Selina. Kau akan menaklukan Yafet di malam pengantinmu nanti," puji Jasmine yang melihat gaun pengantin yang di kenakan Selina. Sebagian dadanya terlihat, dan punggungnya benar-benar terbuka tanpa penutup sama sekali. Lekuk pinggangnya terlihat dengan sempurna, tanpa sepatu hak tinggi, postur tubuhnya sudah terlihat tinggi semampai.
"Bukankah aku sudah menaklukan hatinya? Jika tidak...mana mungkin dia meninggalkan kekasihnya dan mau menikah dengan ku," seru Selina membanggakan dirinya.
"Ya, kau benar. Kali ini usahamu benar-benar berhasil. Tapi bagaimana selanjutnya?" tanya Jasmine yang membantu melepas gaun pengantin itu dari tubuh Selina.
"Aku akan pikirkan setelah aku dan Yafet resmi menikah," jawab Selina.
Selina membawa gaun pengantin kesukaannya itu ke pemilik butik. "Aku akan mengambil gaun ini."
Selina dan Jasmine keluar dari butik itu sambil membawa berbagai macam tas belanjaan. Mereka memasukkan tas belanjaan mereka ke dalam bagasi mobil.
"Apa benar Yafet tidak mengadakan pesta pernikahannya?" tanya Jasmine yang sedang mengemudikan mobilnya menuju ke apartemennya.
"Ya, karena ayahnya sedang sakit."
"Oh sayang sekali. Bukankah ini pernikahan satu-satunya putra keluarga Aksal. Bagaimana jika kau membuat pesta sendiri?" ucap Jasmine yang mencetuskan idenya.
"Apa kau lupa? Saat ini aku tinggal di negara asing. Ini bukan di Inggris, tidak ada keluarga ku di sini. Lagipula aku tidak ingin menghabiskan warisan ayahku untuk membuat pesta yang hanya di hadiri oleh keluarga Yafet saja," sanggah Selina.
Jasmine tidak melanjutkan perkataannya, karena ia tahu pernikahan sahabatnya ini hanyalah ajang balas dendam Selina kepada Yafet. Sampai kapanpun Selina akan terus mengikat hidup Yafet dengan berbagai cara.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah mampir dan baca novelku ini. Semoga kalian tidak bosan membaca tulisanku ini 😄
Jangan lupa kasih...
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar atau
__ADS_1
🤗 Vote kalian
Jika kalian menyukai novel Dangerous Love ini 😄 Terimakasih 🙏