DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Perjalanan Empat Sekawan - Negosiasi Pertama


__ADS_3

Setelah kejadian perkelahian di rumah David, Yafet duduk di sofa dan mengompres luka memar yang ada di wajahnya. Ia sedikit menyeringai ketika handuk kecil yang berisi es batu itu menempel di wajahnya yang lebam. Yafet berjalan tertatih-tatih menuju wastafel yang ada di dekat kamar mandi. Dilihatnya wajahnya yang penuh dengan rona merah keunguan di sebuah cermin yang ada di atas wastafel. Pukulan Lee telah menghilangkan hampir setengah ketampanannya. Tapi laki-laki ini masih beruntung, hanya wajahnya saja yang babak belur dan sekitar tulang kering yang ada pada kakinya. Tidak seperti Lee yang mengalami luka di wajah dan beberapa bagian tubuhnya.


"Apa terasa sakit, sayang?" goda David dengan suara manjanya khas wanita. Ia menghampiri Yafet dan melihat temannya itu sedang mengompres luka pada wajahnya. Yafet hanya melihat sekilas sosok David dari cermin yang ada di depannya.


"Gila... si Jepang itu hampir membuat seluruh ketampanan mu hilang," ejek David dengan tawa renyahnya.


"Brengsek kau !! Sudah tahu teman mu ini sedang kesakitan, kau malah menertawakan ku," dengus Yafet yang melemparkan handuk kecil ke muka David. Pria tambun itu hanya tersenyum kecut merasakan handuk yang dingin itu menempel di wajahnya.


"Jika kau bawa Hazal ke sini, tentu dia akan merawat mu," timpal Jason yang melihat betapa kacaunya penampilan Yafet. Jason dan David hanya tertawa di balik punggung Yafet.


"Setidaknya pria Jepang itu lebih parah dariku, karena aku sudah menghajarnya habis-habisan," bela Yafet yang ingin menunjukkan bahwa ia lebih hebat dari Lee.


"Kau lupa? Ada perawat cantik yang akan membelai dan merawat Lee. Sedangkan dirimu? Oh No... !!! Jangan minta aku untuk merawat dirimu, sayang....," ucap David dengan tawanya yang terbahak-bahak.


"Teruslah tertawa... Aku juga tidak ingin di rawat oleh tangan kasar mu itu !!!" sarkas Yafet yang menanggapi ocehan teman-temannya itu.


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Jason yang melipat kedua tangannya di depan dadanya. Suara dan tatapan matanya mendadak serius.


Yafet membalikkan badannya ke arah mereka dan berkata dengan tegas, "Aku tetap pada pendirian ku. Aku tidak akan membiarkan dia membawa gadis itu bersama dengan kita. Jika kau... dan kau... lebih memilih Lee dan gadis itu. Oke... !!! Kita selesai sampai di sini !"


Kedua temannya itu nampak diam dan saling memandang dengan kebingungan. Kemudian Yafet berjalan meninggalkan kedua temannya dan menapaki beberapa anak tangga untuk menuju ke lantai atas dengan raut wajah yang kesal karena tidak ada jawaban dari Jason dan David. "Apa ini yang namanya setia kawan, huh?"


Setelah Yafet meninggalkan kedua temannya itu di ruang tengah, Jason dan David memikirkan cara agar kedua temannya itu bisa berdamai seperti dulu. Perpecahan malah akan membawa mereka kepada permusuhan yang semakin dalam, dan tujuan mereka untuk membantu mencari pembunuh orang tua Hazal akan semakin jauh dari titik terang.


"Kita harus bicara," kata Jason yang memulai pembicaraannya setelah beberapa menit mereka duduk dalam diam.


"Bukan kita... tapi mereka," ucap David yang menunjuk ke arah atas dan ke arah pintu keluar. Yang dimaksud adalah Yafet dan Lee.


"Kita memulai ini bersama, maka kita juga harus mengakhirinya bersama. Apakah kau setuju dengan pendapat ku?" tanya Jason yang mengulurkan tangannya kepada David.


Plaakk..... Terdengar David memukul telapak tangan Jason, "Aku setuju dengan mu, mari kita selesaikan semua kekacauan ini."


Jason membisikkan rencananya kepada David. Pria Amerika dengan postur tambun itu mendengarkan dengan serius setiap perkataan temannya. "Aku serahkan pria Turki itu padamu, jika kau tidak bisa mengatasinya, hubungi gadisnya. Aku yakin Hazal adalah kelemahannya. Tapi jika kau sampai melakukan hal itu, ganti nama mu menjadi Desi saja," ucap Jason yang menepuk pundak David dengan tawa kerasnya.


"Kurang ajar kau !! Kau menghina nama pemberian ayah ibuku !! Kita lihat saja siapa yang berhasil. Kau pikir mudah mengubah pendirian Lee? Pria Jepang itu juga sulit di taklukan, mungkin dia akan mengeluarkan jurus ninja nya," ucap David yang mengingatkan Jason.


"Jika menggunakan kekuatan otot, aku akui... aku pasti kalah darinya. Tapi aku akan mengacaukan hatinya, setidaknya dia masih punya kelemahan, dan gadis itu adalah kelemahannya saat ini," ucap Jason dengan wajah seriusnya.


"Pergilah... Kabari aku selanjutnya," kata David yang melemparkan salah satu kunci mobilnya ke arah Jason.

__ADS_1


Jason mengeluarkan salah satu mobil yang ada di garasi dan mengendarainya dengan kecepatan rendah, setelah mobil tersebut berjalan beberapa meter, ia menghubungi Lee dengan ponselnya. Setelah Lee mengirim lokasi rumah Carina, segera Jason melajukan mobilnya menuju ke rumah Carina dengan mengikuti petunjuk dari GPS yang ada di ponselnya. Di dalam perjalanan, Jason masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan bagaimana caranya ia membujuk Lee.


Suara bel rumah berbunyi, Carina yang baru saja meletakkan kotak kayu di bawah ranjang tempat tidur Max, segera berjalan keluar menuju pintu depan, tetapi Lee mencegahnya, "Biar aku saja," ujar Lee yang mendahului Carina untuk membuka pintu depan. Ia tahu siapa gerangan tamu yang datang itu. Carina pun mengikuti instruksi Lee, ia berjalan mengikuti Lee dari belakang.


"Kau sendirian?" tanya dan sapa Lee yang melihat Jason datang seorang diri.


"Memangnya kau pikir siapa yang akan datang?" tanya Jason yang membalas pertanyaan Lee dengan pertanyaan juga. Lee mendengus kesal mendengar pertanyaan Jason.


Lee memperkenalkan Carina kepada Jason. Tangan Carina gemetar ketika ia mengulurkan tangannya untuk menyambut salam perkenalan dari Jason. Tetapi perkiraannya salah, Jason malah menyambutnya dengan tersenyum ramah. Kali ini Jason ingin bermain cantik untuk menghadapi Lee.


"Ada apa kau kemari?" tanya Lee kepada Jason yang duduk di hadapannya.


"Aku ingin bicara padamu," jawab Jason yang menatap manik mata Carina. Mendengar perkataan dan sikap Jason, Carina mengerti bahwa mereka ingin bicara empat mata, gadis itu sadar diri dan hendak masuk ke kamarnya.


"Tetaplah disini !!" cegah Lee yang memegang tangan Carina. Gadis itu hanya menundukkan wajahnya ketika wajah Jason mendadak berubah menjadi dingin.


"Dia... ?" tanya Jason yang merasa keberatan jika Carina mendengar percakapan mereka.


"Jika kau merasa keberatan Carina mendengar percakapan kita, pergilah !!! Tidak ada yang perlu kita bicarakan !! Dia sudah mengetahui semuanya," ucap Lee dengan keras.


"Apa? Kau... kau menceritakan semuanya? Bagaimana jika dia mengkhianati mu dan berpihak pada ayah tirinya ?" tanya Jason yang terkejut mendengar pernyataan Lee. Jason tidak habis pikir, kenapa Lee begitu percaya pada gadis itu, skakmatt untuk dirinya. Rencana yang sudah dia buat untuk membujuk Lee hancur seketika.


"Katakan pada Yafet, jika dirinya ingin informasi tentang Max Walden, suruh dia datang kemari !!!" ucap Lee yang memandang wajah Jason dengan tajam. Lee sangat yakin, ia bisa mendesak Yafet untuk menuruti keinginannya, dan sekarang bendera kemenangan itu ada di pihaknya.


"Aku tidak ingin berbicara atau berdebat lagi dengan mu. Kau bisa keluar dari rumah ini sekarang !!" pekik Lee yang segera berdiri dan hendak masuk ke dalam.


"Lee...!!" panggil Jason tetapi orang yang di panggil nya sudah menghilang begitu saja. Hanya ada Carina yang berdiri di sudut ruangan. Jason hanya menatap sinis gadis itu dan berlalu pergi begitu saja.


Setelah kepergian Jason, Carina masuk ke dalam rumah menemui Lee. Dilihatnya pria itu sedang merebahkan dirinya di tempat tidurnya dengan tatapan mata memandang langit-langit kamarnya. Carina menyentuh lengan Lee dengan perlahan, pria itu pun menoleh ke arah Carina.


"Apa Jason sudah pergi?" tanya Lee kepada Carina.


"Ya..." jawab Carina yang duduk di tepi tempat tidurnya. Lee bangun dari posisi tidurnya dan terduduk di atas tempat tidur.


"Cepatlah kau kemasi barang-barang mu !!" perintah Lee mengejutkan Carina.


"Maksudmu ? Kita akan pergi malam ini? Bukankah kau ingin menemui Yafet?" tanya Carina yang kebingungan.


"Lakukan saja perintah ku, kita tidak tahu kapan ayah tiri mu akan datang," ucap Lee yang segera bangun dari tempat tidurnya. Sebenarnya Lee mengetahui kapan Max akan pulang, berdasarkan perhitungannya setelah membaca pesan Max yang dikirim ke ponsel Carina, seharusnya Max akan pulang besok lusa. Tetapi semua kemungkinan bisa terjadi. Tinggal di rumah Carina bagaikan memelihara bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja. Lee berdiri dan membantu Carina untuk mengemasi barang-barangnya.

__ADS_1


Ketika hendak memasukkan pakaian Lee ke dalam tas, tangan Carina memegang tangan Lee. Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Biar aku saja," Tatapan mata kedua insan itu bertemu di bawah cahaya lampu yang bersinar di dalam kamar. Terlihat jelas wajah keduanya.


"*Lee, kenapa kau menatap ku seperti itu? Please... jangan buat aku terbang tinggi lagi karena sikapmu ini."


"Carina, apa kau masih membenciku*?"


Tak ada percakapan di antara keduanya, Lee hanya berdiri melihat Carina yang sibuk memasukkan satu per satu pakaiannya. Setelah mereka mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa, Lee memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


"Apa kau tidak keberatan jika aku menginap di sini?" tanya Lee kepada Carina.


"Tinggallah di sini, dengan begitu aku bisa merawat lukamu," jawab Carina yang menutup pintu bagasi mobil dan mengajak Lee untuk masuk kembali ke rumahnya.


Hari sudah malam, ketika Jason pulang ke rumah David. Ia pulang dengan tangan kosong tanpa hasil. Jason marah kepada dirinya sendiri, dipukulnya berulang-ulang setir kemudi yang ada di depannya, sambil merutuki betapa bodoh dirinya menghadapi Lee. Sekarang pria Jepang itu sudah mempunyai kartu As yang bisa ia pakai untuk memaksakan kehendaknya. "Apa yang sudah Carina berikan pada Lee, sehingga ia seyakin itu?"


Sementara keadaan di rumah David, tidak jauh berbeda dengan kondisi yang ada di rumah Carina. Pria Amerika yang selera humornya tinggi itu sedang berusaha menasehati Yafet seperti nenek-nenek yang sedang menasehati cucu laki-laki nya. Tetapi upaya David juga sama halnya dengan Jason, mereka berdua seperti berbicara dengan tembok yang terbuat dari beton yang sangat keras. David sudah kehilangan akal, ia mencoba menghubungi Hazal, tetapi tiba-tiba terdengar suara mobil yang di kendarai Jason masuk ke rumah. David segera menuruni anak tangga untuk menuju ke lantai bawah.


"Bagaimana?" tanya David yang melihat Jason keluar dari garasi yang ada di samping rumahnya. Lee hanya menggelengkan kepalanya.


"Di mana Yafet?" tanya Jason yang segera masuk ke dalam dan di ikuti oleh David.


"Aku sudah menyerah, ia menyuruhku keluar dari kamarnya, mungkin dia sudah tidur saat ini," jawab David yang merasa tidak ada harapan untuk mendamaikan kedua temannya itu.


"Percuma... aku minta bantuan mu," kata Jason yang menepuk perut tambun David.


"Hei... jangan salahkan aku, kau sendiri juga tidak berhasil. Aku akan menelepon Hazal," ucap David yang hendak mengeluarkan ponsel nya.


"Simpan saja ponsel mu itu, apa kau tak malu... minta bantuan seorang gadis untuk menyelesaikan masalah laki-laki?" Perkataan Jason seakan menampar keras wajah David.


"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya David yang tidak tahu ia harus berbuat apa lagi.


"Aku akan menyerahkan bola panas ini ke Yafet, terserah dia akan menendang ke arah mana. Kita lihat saja besok pagi." Perkataan Jason ini membuat kepala David tambah pusing. Jason pun menepuk dada David dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.


******


Keesokan harinya....


Yafet, Jason dan David sedang duduk di meja makan menikmati sarapan pagi mereka. Jason menceritakan pertemuannya dengan Lee di rumah Carina kemarin malam. Pria itu juga menyampaikan pesan Lee, bahwa jika Yafet ingin mendapatkan informasi tentang Max Walden, ia harus menemui Lee segera. Yafet hanya menanggapi perkataan Jason dengan senyum dinginnya.


"Apa kau tak marah dengan sikap Lee yang sangat keterlaluan itu?" tanya Jason yang seakan tak percaya dengan reaksi Yafet yang hanya diam saja.

__ADS_1


"Kenapa kau diam saja? Jika kau ingin pergi menemuinya, aku akan ikut bersama mu," ucap David.


Tetapi Yafet hanya menatap tajam benda yang ada di depannya. Mata elang itu seakan hendak mencari celah untuk mencengkeram mangsanya.


__ADS_2