DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Daftar Pencarian Orang


__ADS_3

Setelah Yafet masuk ke dalam kamarnya, ia segera menghubungi Smith yang ada di New York. Ia sudah tidak sabar memberitahu temuannya itu pada teman FBI nya. Terdengar suara Smith menjawab panggilan ponselnya.


"Halo."


"Smith, ini aku Yafet."


"Ada apa kau menghubungiku? Apa ada sesuatu yang kau dapatkan di Turki?"


"Aku sudah mendapatkan bukti rekaman pengakuan Ted Baxter. Apa kau bisa membantuku untuk menangkap pembunuh itu?"


"Kirim bukti rekaman itu melalui alamat email ku. Setelah mendengar bukti itu, aku akan menghubungimu kembali."


"Aku akan segera mengirimkannya."


Sambungan telepon itu pun terputus. Yafet segera mengirimkan bukti rekaman itu ke alamat email Smith. Setelah mengirimkan bukti tersebut, ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, menunggu telepon dari Smith. Di kamar itu hanya terdengar jarum jam yang berdetak di tempatnya. Lima menit.... sepuluh menit... lima belas menit...


"Kenapa ia belum menghubungiku?" Yafet masih terus berjalan kesana kemari sambil memukulkan ponselnya di telapak tangannya.


Yafet kembali mengecek email nya, ia ingin melihat apakah Smith sudah menerima kiriman email darinya.


Drrt.....drrt..... drrtt....


Ponsel Yafet berbunyi. Segera ia mengambil ponselnya, dan menjawab panggilan dari Smith.


"Bagaimana Smith ?" tanya Yafet yang sudah berdiri di atas balkon kamarnya.


"Aku sudah mendengar bukti rekaman itu. Kerja yang bagus Yafet. Aku akan membantumu, FBI akan membuat Daftar Pencarian Orang (Buronan) tingkat universal untuk mencari Ted Baxter di seluruh dunia. Aku akan memberitahu berita terbaru dari Italia, polisi Italia sudah mengidentifikasi tersangka pembunuh Max Walden," jawab Smith yang berbicara di ruang kerjanya.


"Apa? Siapa pembunuh itu?" tanya Yafet yang penasaran.


"Dia adalah orang yang sama yang sedang kau cari," ucap Smith dengan suara datarnya.


"Ted Baxter?" Yafet mengernyitkan keningnya.


"Ya... karena itu, FBI tertarik untuk membantumu. Ted Baxter bukan saja bermasalah di Turki, tapi juga di negara lain."


"Kau benar-benar luar biasa, Smith." Yafet mengembangkan senyumannya. Ia merasa Smith memang benar-benar bisa diandalkan.


"Justru kau yang luar biasa anak muda, bukti rekaman mu bisa membantuku untuk menjebloskan Ted Baxter ke dalam penjara. Jangan lupa kau bawa bukti rekaman itu ke kepolisian Turki. Beberapa hari lagi, aku akan terbang ke Turki menemui mu."


"Aku akan menunggumu." Yafet segera menutup ponselnya.

__ADS_1


Tatapan mata elangnya memandang bulan dan bintang di langit, sebuah senyum yang menawan terlukis di wajahnya. Tidak lama lagi semuanya akan berakhir, dan dia akan memenuhi janjinya pada Hazal. Menyebut nama Hazal, laki-laki itu jadi teringat bahwa ia harus menghubungi kekasihnya itu.


"Hai, sayang." Yafet menyapa Hazal begitu melihat wajah cantik gadis itu muncul di layar ponselnya. Hatinya tenang melihat Hazal sedang ada di kamar apartemennya.


"Hai... sepertinya kau baru pulang ke rumah?" tanya Hazal yang melihat Yafet masih memakai kemejanya.


"Coba tebak, hari ini aku kemana?"


"Mana aku tahu, aku tidak menempelkan alat pencari jejak pada tubuhmu." Terlihat Hazal mengerucutkan bibirnya. Membuat Yafet ingin sekali mencium bibir merah itu, tapi apa daya jarak memisahkan mereka. Laki-laki itu hanya bisa tertawa.


"Aku akan memberitahumu, aku baru saja pulang dari rumah istri Ted."


"Apa? Apa yang kau lakukan di rumah wanita itu? Apa kau berbuat sesuatu padanya?" Mata coklat Hazal melotot, membayangkan Yafet dan wanita itu.


"Apa yang ada dalam pikiranmu, nona? Kau menyuruhku jangan berkata mesum, tapi pikiran mu sendiri yang mesum." Yafet berjalan masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.


"Aku? Aku tidak memikirkan hal yang tidak-tidak. Lalu apa yang kau lakukan di rumah wanita itu?" tanya Hazal yang mengarahkan jari telunjuknya ke wajahnya sendiri.


Yafet menceritakan awal mula ia mencari alamat yang ia dapat dari Nyonya Baxter, sampai akhirnya ia bertemu dengan istri Ted. Hazal mendengarkan cerita Yafet sambil tengkurap di tempat tidurnya. Kemudian Yafet juga menceritakan tentang kecelakaan yang terjadi pada anak Ted dan bukti rekaman yang diberikan oleh istri Ted sebagai ganti uang yang ia keluarkan untuk membayar operasi anaknya.


Seketika Hazal bangun dari tempat tidurnya, begitu mendengar Yafet berhasil menemukan bukti rekaman pengakuan Ted Baxter. "Apa yang kau katakan? Apa aku tidak salah dengar?"


"Berarti tidak lama lagi pembunuh itu akan segera tertangkap, dengan begitu arwah ayah dan ibuku akan tenang di alam sana." Kedua manik mata Hazal nampak berkaca-kaca.


"Sebentar lagi mimpi buruk mu ini akan segera berakhir, sayang."


"Aku berharap semuanya bisa cepat selesai," ujar Hazal yang meletakkan sebuah bantal di pangkuannya.


"Kau baik-baik saja di New York?"


"Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan mu?"


"Aku sangat merindukanmu, sayang...," kata Yafet dengan wajah innocent nya.


"Aku juga sangat merindukanmu, seakan waktu berputar sangat lama di New York."


Terdengar suara Meral memanggil nama Yafet. Suara ibunya membuat Yafet bangun dari tempat tidurnya.


"Ada ibu di luar, aku akan menelepon mu besok. Aku mencintaimu sayang. Bye."


"Aku juga mencintaimu, bye." Hazal tertawa melihat tingkah laku Yafet yang gugup. Pembicaraan mereka pun terputus.

__ADS_1


Yafet membuka pintu kamarnya, ibunya sudah berdiri di depan kamarnya. Yafet menyapa ibunya dengan canggung.


"Sudah selarut ini kau masih belum mandi?" tanya ibunya yang masih melihat Yafet memakai pakaian yang sama.


"Aku bukan anak kecil lagi, Bu. Mandi tengah malam tidak akan membuatku sakit." Yafet menjawab pertanyaan ibunya dengan melepaskan tawanya.


"Ya, ibu tahu kau sudah dewasa. Bahkan kau sudah punya kekasih." Meral sedang menggoda anaknya. Wanita paruh baya itu tersenyum dengan lembut, mengeluarkan aura keibuannya.


Putranya itu hanya tersenyum simpul, "Maksud ibu?"


"Ibu tadi mendengar kau mengatakan sayang kepada seseorang di ponselmu." Tatapan lembut Meral berusaha menerobos mata elang Yafet.


Yafet memegang kedua pundak ibunya dan menuntun ibunya untuk duduk di tepi tempat tidur. "Suatu hari nanti, aku akan mengenalkannya pada Ibu. Tapi saat ini aku ingin fokus mencari pembunuh orang tua Hazal."


Jawaban Yafet sedikit menenangkan hati Meral, karena wanita itu menyangka Yafet mempunyai kekasih lain, dan gadis itu bukanlah Hazal.


"Apa yang membuat Ibu datang ke kamar ku selarut ini?" Pertanyaan Yafet mengejutkan lamunan Meral. Wanita itu sampai lupa dengan tujuannya datang ke kamar Yafet.


"Bersihkan dirimu dan istirahatlah. Kau pasti sangat lelah hari ini." Meral menepuk pundak Yafet kemudian wanita itu segera keluar dari kamar putra nya.


Dua hari kemudian


Setelah Yafet memberikan bukti rekaman pengakuan Ted Baxter kepada Smith dan kepolisian Turki, berita tentang kasus pembunuhan keluarga Danner kembali menghiasi media cetak dan media elektronik di Turki dan di negara-negara lain. Terpampang juga wajah Ted Baxter sebagai tersangka kasus pembunuhan keluarga Danner dan dugaan kasus pembunuhan terhadap Max Walden, ayah tiri Carina. FBI juga menetapkan bahwa Ted Baxter adalah buronan di seluruh negara.


Tetapi berita tentang Ted Baxter ini bukanlah akhir dari segalanya. Seperti dua sisi mata uang. Di pihak keluarga Aksal, berita ini merupakan kemajuan setelah mereka menunggu lama untuk mengungkap kasus ini. Tetapi di pihak lain hal ini justru membuat berang seorang pria yang saat ini berada di sebuah rumah mewah di Turki.


Braaaakkkk.......


Terdengar suara meja di pukul oleh seseorang. Pria itu seperti kebakaran jenggotnya begitu ia menonton berita pagi ini. "Ini tidak boleh terjadi, Ted tidak boleh tertangkap. Danner.....!! Baik kau hidup ataupun mati, kau selalu membayangi hidupku !!" ujar pria itu meradang. Kemudian ia memanggil salah satu orang kepercayaannya.


"Apa Ted sudah berhasil kabur dari New York ?" tanya pria itu kepada orang di belakangnya.


"Ya Tuan. Dia berhasil keluar dari New York dengan menggunakan passport palsu. Saat ini ia berada di salah satu negara di Asia."


"Selalu awasi Ted dan keluarganya, dan cari tahu siapa yang berani membuka kasus ini kembali !!" perintah pria itu sambil melemparkan surat kabar pagi ini ke lantai.


"Baik Tuan."


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih sudah membaca novel ku ini. Jangan lupa beri tips buat Author dong 🤗 boleh kasih like, rate, komen dan vote kalian yah..... Biar Author lebih semangat nulis nya dan bisa up setiap hari 😊

__ADS_1


__ADS_2